
Kim segera berdiri dan menarik kembali tangan Divia,
"Ehhhhh ....!?"
Dia suka sekali menarik tanganku ...., Divia hanya bisa menggerutu dalam hati sambil menatap punggung datar pria itu.
Mereka sampai juga di sebuah rumah makan, untuk pertama kalinya mereka menikmati makanan berdua saja, hanya berdua tanpa Lee dan Dee.
"Apa hari ini aku sedang melakukan kesalahan?" tanya Divia tiba-tiba membuat pria itu menghentikan mengunyahnya dengan sumpit yang masih berada di mulut,
"Kenapa berpikir seperti itu?"
"Tidak pa pa," Divia kembali menyuapkan makanan di mulutnya, ia sekarang sudah mulai terbiasa memakan makanan Korea, "Dia begitu manis hari ini." gumam Divia tapi masih bisa di dengar oleh Kim dan pria dingin itu hanya tersenyum tipis tapi segera ia menormalkan kembali bibirnya agar tidak terlihat kalau dia sedang tersenyum sekarang.
Aku juga tidak tahu dengan diriku, apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku. Aku hanya merasa nyaman berada di dekatnya ....
...***...
Entah sejak kapan tapi yang pasti pria menyebalkan itu jadi terlihat aneh beberapa hari ini, Divia bahkan tidak menemukan pria dingin dan aneh itu lagi di diri Kim.
"Hari ini cerah sekali!?" ucap Kim sambil menatap wajah Divia yang baru saja mengantar Dee ke tempat daycare nya.
Divia menatap ke langit, ia merasa hati ini sedikit mendung, bahkan sesekali terlihat di titik-titik hujan di sana,
"Apa kamu salah membaca cuaca hari ini, jalanan masih basah loh!?"
"Bukan langitnya, tapi kamu!"
Divia sampai melototkan matanya tidak percaya, ia menatap pria itu dengan tatapan yang tidak percaya,
"Apa kau sedang merayuku?"
"Lupakan!?" Kim yang menyadari ucapannya begitu garing segera menjalankan mobilnya.
"Kim, aku serius tanya!?"
"Lupakan saja!?"
Kebiasaan ...., Divia yang kesal pun memilih untuk mengalihkan tatapannya ke jalanan.
"Nanti aku jemput!?" ucap Kim sebelum Divia keluar dari mobil membuat Divia menghentikan dirinya sendiri dan kembali menatap Kim,
"Tapi_!?"
"Aku akan menjemputmu!!" ucap Kim sambil mengusap kepala Divia membuat Divia terpaku di tempatnya, "Turunlah!"
Divia sama sekali tidak mendapatkan penjelasan, ia segera turun dari mobil itu dan melambaikan tangannya.
"Dorrrr!?" teriakan seseorang membuatnya terkejut.
"Astaga Yura, kau mengagetkanku!"
__ADS_1
"Kayaknya semakin lancar saja sama Mr Kim!?" ledeknya membuat Divia berlalu begitu saja.
Yura langsung berlari menyusul Divia yang sudah berjalan lebih dulu, "Kalian serasi tahu, jika terjadi kisah percintaan juga nggak pa pa kan!?"
"Lupakan Yura, dia itu terlalu dingin. Aku nggak suka sama pria seperti dia, aku lebih suka sama pria yang seperti mereka!" Divia menunjuk segerombolan mahasiswa yang tengah bercanda gurau dengan teman-temannya. Mahasiswa biasa yang bukan berasal dari keluarga sepertinya.
"Mereka hanya mahasiswa biasa yang mengerjakan pekerjaan paruh waktu di rumah makan atau di minimarket!?"
"Memang kenapa dengan hal itu, aku suka!?" Divia kembali berjalan seolah tidak peduli dengan pendapat Yura.
...***...
Persis seperti janji Kim tadi, ia kembali menjemput Divia di kampusnya,
Dia benar-benar datang, memang kurang kerjaan banget sih dia ....., Divia berjalan malas menghampiri pria yang tengah berdiri di samping mobil dengan kaca mata hitamnya itu.
"Masuklah!?"
Hah dia bukan hanya menjemputku dan sekarang membukakan pintu mobil untukku ....
"Kim, kamu kesambet ya?"
"Menurutmu?"
Dia benar-benar tidak peka, keluh Kim dalam hati, ia sudah mempersiapkan semuanya untuk melakukannya ini tapi gadis yang telah membuat hatinya goyah itu malah bersikap bodoh membuatnya salah tingkah sendiri.
"Ini sungguh bukan Kim yang aku kenal kan!?"
"Mau masuk atau tetap di sini, ada hal yang lebih penting dari ini yang harus kita bicarakan!" terpaksa Kim harus menggunakan alasan lain agar Divia tidak semakin curiga padanya.
"Masuk!?" tiba-tiba wajah dingin itu kembali muncul membuat Divia tidak bisa berkutik kembali. Ia pun akhirnya menurut dan masuk begitu saja tanpa berdebat lagi.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, tapi mereka hanya saling diam.
Apa aku harus mengatakan dengan terus terang? Tapi apa dia mudah mengerti? Otaknya tidak begitu bagus ...., Kim sedang bermonolong dengan dirinya sendiri. Melihat sikap Divia, ia tidak yakin akan berhasil. Sesekali ia melirik ke arah Divia melalui kaca kecil yang menggantung di depan, tapi Divia tampak tidak penasaran dengan apa yang ingin ia katakan.
"Kim, kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Divia begitu sadar mobil yang ia tumpangi berhenti di depan rumah sakit,
"Hari ini nenek pulang, jadi kita harus menjemputnya!?"
"Menjemputnya, ahhh aku kan belum siap!?" Divia tampak segera merapikan rambut dan bajunya, tapi tiba-tiba Kim sudah mendekat saja, hingga begitu dekat dengan wajahnya.
Apa-apaan dia, jangan bilang kalau dia mau cium aku lagi ....
"Kamu sudah cantik begitu saja!?" ucap Kim lalu menjauhkan tubuhnya dan turun dari mobil begitu saja, seolah tidak peduli dengan keadaan jantung wanita yang tengah berdetak bak baru saja lari maraton,
"Dia apa-apaan tadi!?"
Tuk tuk tuk
Tiba-tiba kaca mobil di sebelahnya di ketuk dari luar, saat Divia menoleh ternyata ada Kim di sana,
__ADS_1
Kenapa dia jadi ada di mana-mana sih .....
Divia pun segera membuka pintu mobilnya, "Ada apa?"
"Mau turun atau tetap di situ?"
"Ya turun lah!?" Divia membuka cepat pintu mobil itu membuat pria yang belum bersiap-siap menghindar itu mengaduh kesakitan karena tuturnya harus terbentur pintu mobil,
Sukurin .....
Divia hanya tersenyum dan berlalu begitu saja tanpa berniat menolong Kim.
"Aughhhh, dia benar-benar ya!?" beruntung ia tidak bersama Lee, jika ada pria itu pasti dia sudah menertawakannya.
Kim pun segera menormalkan kembali tubuhnya saat sadar semua menatap ke arahnya, ia membetulkan jas dan berjalan dengan pasti menyusul Divia.
Lain kali aku pasti tidak akan mengampunimu ....., batin Kim kesal.
Saat Divia sampai di ruangan itu ternyata di sana sudah ada Lee dan Dee,
"Dee!?"
"Eomma!?" Dee segera berlari menghampiri Divia yang masih berdiri di depan pintu bersama Kim.
"Kamu di sini?"
"Iya, eomma! Hari ini nenek keluar dari rumah sakit, nenek akan tinggal sama kita juga eomma!?"
Tinggal sama kita, itu tandanya kita maksudku aku dan Kim akan mulai berperan sebagai sepasang kekasih ....,
Tiba-tiba tangan Kim sudah merangkul bahunya hingga tubuh mereka begitu dekat,
"Iya Vi, nenek akan ikut sama kita, iya kan Dee?"
"Iya, appa benar!?" terlihat Dee begitu kegirangan.
Wanita tua itu juga tampak tersenyum dari ranjangnya. Ia sudah duduk dengan baju rapi siap untuk pulang, Divia segera mendekatinya,
"Nek, nenek sudah benar-benar sembuh?"
"Iya, semangat hidup nenek seakan kembali setelah melihat kamu sayang. Nenek benar-benar tidak sabar melihat bayi dari kalian!?"
Bayi ...., ini benar-benar bukan budaya di Indonesia. Mana bisa punya bayi dulu sebelum menikah ...
Tapi Divia takut jika mengutarakan hal ini. Melihat sang nenek begitu bersemangat dengan memikirkan soal bayi saja, sudah membuatnya takut membuat kecewa wanita tua itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...