Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (29. Menghindar)


__ADS_3

...Sejauh apapun kita menghindar, Jika memang dia di takdirkan untuk kita maka jika sudah waktunya maka kita akan di pertemukan pada orang yang sama di waktu dan kesempatan yang sama pula....


...🌺🌺🌺...


Tidak seperti biasanya yang terkesan begitu bahagia, pagi ini Kim terlihat begitu murung. Ia bahkan sesekali meluapkan kemarahannya pada beberapa karyawannya.


Lee yang mendapatkan pengaduan atas tingkah Kim jadi ikut terganggu, beberapa pekerjaan juga sangat tidak baik.


Lee pun memutuskan untuk menemui Mr Kim di ruangannya,


Tok tok tok


Walaupun tidak ada sahutan dari dalam, Lee tidak ambil pusing, ia tahu pria itu berada di dalam.


Kim dan Lee sudah kenal cukup lama, tidak canggung baginya membahas masalah pribadi atasannya itu.


"Selamat siang Mr Kim!" sapa Lee tapi pria yang tampak murung dan tengah memainkan bolpoinnya itu memilih tetap asik dengan dunianya.


"Kim!?" kalo ini Lee tidak membubuhkan embel-embel Mr di depan panggilannya. Ia ingin membuat Kim bercerita padanya. Mereka tidak hanya kenal setahun dua tahun. Sudah banyak waktu yang mereka lalui bersama bahkan jika Kim sedang membutuhkan teman untuk bertukar pendapat atau teman untuk nongkrong, Lee yang selalu menemani. Oleh karena itu bukan hal yang aneh jika sampai terdengar rumor tentang kedekatan mereka. Bahkan selama ini mereka sama sekali tidak pernah memperkenalkan seorang wanita pun ke publik hal itu semakin mempertegas rumor itu karena memang di setiap kesempatan mereka selalu terlihat bersama.


"Beraninya kau!" tiba-tiba bolpoin di tangan Kim melayang begitu saja beruntung Lee dengan cepat bisa menghindar sehingga tidak mengenai wajahnya.


Takkkk


Bolpoin itu mendarat sempurna pada pintu yang ada di belakang Lee.


Lee tidak mengindahkan kemarahan Kim, ia memilih duduk di depan meja Kim,


"Jadi begitu ya kalau orang sedang jatuh cinta?"


"Jangan omong kosong!"


"Ya mau bagaimana, aku mendapat Adian seisi kantor. Memang apa lagi yang bisa saya lakukan selain mencari solusinya!"


"Memang mereka mengadu apa?"


"Banyak, hari ini suasana hati bos sedang tidak bersahabat. Itu salah satunya, ada apa? Ada hubungannya dengan nona Vi?"


Hehhhh ......


Terdengar helaan nafas kasar dari Kim, ia memang paling tidak bisa menghindar dari bercerita pada Lee.


Kim pun mulai menceritakan semuanya,


"Aku merasa selalu bahagia saat berada di dekatnya, aku kesal saat jauh, aku menunggu saat pulang kerja agar segera bisa bertemu dengannya, hanya membayangkan wajahnya, mendengar namanya sudah cukup membuat jantungku tidak karuhan, kamu tahu itu kan!"


"Iya, lalu masalahnya di mana?"


"Kemarin aku kira hari yang tepat untuk menyatakan semuanya, aku tahu ini terlalu singkat apalagi pertemuan kita karena itu!" Kim tidak mau lagi membahas tentang pengkhianatan yang di lakukan oleh Lyla.


"Lalu?"


"Lalu aku menyatakan perasaanku padanya?"


"Apa kamu sudah yakin dia juga cinta sama kamu?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Lee, Mr Kim terdiam. Ia memang tidak pernah tahu bagaimana perasaan Divia. Tapi ia hanya ingin Divia tahu jika dirinya saat ini begitu mencintai gadis itu.


"Aku tidak tahu!"


"Sekarang aku tahu kesalahanmu!"


"Apa?"


"kamu terlalu buru-buru, menurutmu seorang gadis akan mudah untuk menerima orang baru?" Lee memberi jeda pada ucapannya, "Enggak! Ya walaupun aku tidak pernah berpacaran salama ini tapi jika masalah cinta-cintaan aku tahu. Gadis itu harus di dekati pelan-pelan!"


"Maksudnya?"


"Buat dia nyaman, ambil hatinya. Perlahan tapi pasti, jadikan dia seperti ratu dalam hidup kamu atau kalau perlu hadirkan orang ke tiga untuk mengetes seberapa cinta dia padamu!'


"Begitu ya?"


"Ya, dan untuk saran terakhir kamu bisa lakukan belakangan saja!"


"Baiklah aku mengerti!" sekarang Kim sudah terlihat kembali tersenyum. Ia akan melakukan seperti yang di katakan oleh Lee, ia juga mencari banyak hal di internet sebagai referensinya.


"Bukankah sekarang jadwalnya pulang kuliah?" Kim melihat ke arah jam tangannya dan benar saja. Ini jadwalnya pulang kuliah. Kim pun segara bangkit dari duduknya dan memakai kembali jas yang sedari tadi menggantung di kursi putarnya.


"Mau ke mana?" Lee yang melihat Kim pergi segera menghentikannya.


"Menjadikannya seperti ratu!"


"Tapi setengah jam lagi ada meeting!"


"Kamu bisa kan melakukannya untukku!?" Kim mengedipkan matanya lalu pergi.


Divia tengah didik di taman dengan kepala yang ia sandarkan di atas meja, ia benar-benar merasa tidak enak saat Kim mendiamkannya.


"Minumlah, galau banget hari ini!" Yura sudah kembali dengan membawa teh kemasan untuk Divia.


"Nggak tahu nih pusing!"


"Sakit?"


"Enggak!"


"Trus kenapa?"


Divia pun menegakkan duduknya, mulai meminum teh kemasannya,


"Pagi ini Kim mendiamkanku, sebenarnya sejak semalam!"


"Kenapa? Kemarin terlihat baik-baik saja!"


"Dia menyatakan cinta padaku!"


"Lalu?"


"Ya lalu aku tidak mau menjawabnya, kamu tahu kan kami baru kenal beberapa Minggu ini dan dia baru saja patah hati, bagaimana kalau aku cuma di jadikan pelariannya?"


"Ya ampun, dia itu cowok paling keren di sini, dia sukses, kaya, bagaimana bisa kamu menolaknya, walaupun jadi istri ke lima aku akan sangat siap!"

__ADS_1


Hehhhh ....., bahkan Daddy ku lebih segalanya dari dia, tapi bukankah ini terlalu cepat?


Divia tidak mempermasalahkan apapun, jika pun Kim hanya pemuda biasa jika dia ingin jatuh cinta padanya, dia pasti akan cinta tapi ini, ia bahkan tidak yakin dengan perasaan Kim, apalagi dengan dirinya.


Tiba-tiba Yura hampir saja tersedak,


"Kamu kenapa Yura?" Divia menjadi panik olehnya.


"Kamu yakin si tampan itu mendiamkanmu?"


"Iya!"


"Lalu kenapa dia di sini?"


Kebetulan mereka duduk berhadapan, sehingga ia tidak tahu apa yang ada di depan Yura, di belakang dirinya.


Divia pun segera menoleh ke belakang dan ternyata Kim sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Kim!?"


Dengan cepat Divia berdiri dari duduknya dan memutar badan agar bisa melihat dengan jelas kedatangan Kim.


"Aku datang untuk menjemputmu!"


"Aku?" Divia sampai menunjuk dirinya sendiri tidak percaya dan Kim menganggukkan kepalanya, Yura hanya bisa menggigit sedotannya, ingin menyentuh pria yang ada di depannya tapi takut berhadapan dengannya.


Bahkan jika kecoak hinggap di pipinya sudah pasti akan terjatuh, wajahnya benar-benar seperti rembulan, bersinar ....


"Tapi aku akan pergi dengan Yura, iya kan Yura?"


Karena terlalu mengagumi wajah pria di depannya ia hanya bisa mengangukkan kepalanya tanpa sadar Divia sedang menanyakan apa padanya,


"Ayo Yura, kita pergi!"


Divia segera menarik tangan Yura meninggalkan Kim sendiri.


Meskipun mereka sudah sangat jauh, tapi tetap saja Yura tidak bisa beralih dari wajah Kim.


Setalah sangat jauh, barulah Yura menyadari,


"Ehhh tunggu, kita mau ke mana?"


"Kemana aja asal tidak dengan Kim!"


Divia pun mengajak Yura naik bus, ia juga tidak tahu akan pergi ke mana sekarang. Tapi yang pasti hari ini ia ingin menghindar dari Kim.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2