
Kedatangan Ersya langsung menjadi
pusat perhatian beberapa orang yang mungkin memang sudah mengenal Ersya karena
sebagian teman Rizal juga teman Ersya. Mereka dulu sekolah di sekolah yang
sama.
"Zal, bukankah dia Ersya?"
tanya salah satu teman Rizal.
"Iya ...!" jawab Rizal
singkat.
Beberapa yang tidak mengenalnya pun
akhirnya menoleh pada Ersya dan Rangga.
"Memang mereka siapa?” tanya
salah satu temannya yang memang belum mengenal Ersya.
"Dia itu mantan istri Rizal,
iya kan Zal! Dulu adik kelas kita!"
"Benarkah? Wahhh ...., cepet
banget ya move on nya!"
Tisya begitu kesal karena sedari
tadi yang menjadi pusat perhatian teman-teman Rizal malah Ersya bukan dirinya
sebagai pasangan baru untuk Rizal.
Siapa sih sebenarnya yang sudah
menjadi pasangannya????
Tisya pun akhirnya memperhatikan wajah
pria yang bersama Ersya.
“Bukankah itu Rangga, mas?’ tanya
Tisya pada Rizal.
Rizal yang tidak menyadarinya sedari
tadi segera memperhatikan pria yang bersama mantan istrinya itu. Setelah yakin
ia pun mengangguk.
“Memang siapa Rangga?" tanya
teman-temannya lagi.
"Dia kan sepupumu yang beberapa
waktu lalu baru pulang dari luar negri?" tanya salah satu dari mereka yang
mengenal Rangga.
“Apa lo tahu tentang hubungan
mereka? Apa jangan-jangan selama ini mereka punya hubungan gelap dan lo nggak
tahu?”
Bukannya menjawab, Rizal malah
terlihat mengepalkan tangannya. Ia cukup terbakar dengan ucapan teman-temannya.
Jika benar apa yang di katakan oleh teman-temannya, itu berarti Ersya telah
mengkhianatinya begitupun dnegan sepupunya.
“Aku rasa memang mereka sudah punya
hubungan sejak dulu!”ucap Tisya kesal.
"Dia emang cantik sih Zal,
apalagi bodinya seksi banget, pantes aja sepupu lo juga menginginkan mantan
istri lo, kalau saja gue belum punya bini gue juga mau …!”
Ingin rasanya merobek mulut temannya
itu, tangannya sudah mengepal sempurna. rahangnya mengeras, ingin sekali
memukulnya.
Tisya yang menyadari jika
tunangannya itu sudah mulai terpancing segera menghentikan pembicaraan mereka.
“Sudah lah jangan ngomongin mereka,
bikin kesel aja!” ucap Tisya, ia segara melingkarkan tangannya kembali pada
lengan Rizal.
"Mas ...., kita hampiri mereka
ya!" bisik Tisya dan Rizal pun mengangguk.
“Teman-teman, kita ke sana dulu ya
…!” ucap Rizal dan teman-temannya mengangguk.
Sebelum Tisya dan Rizal menghampiri
mereka, sepasang suami istri sudah lebih dulu
menghampiri mereka. Wajah dua orang
itu juga sangat terkejut karena Rangga menggandengkan seorang wanita.
“Abi …!” Sapa kedua orang tua
Rangga,
Rangga segera menoleh ke sumber
suara,“Ma …, pa …!”
Ersya pun juga melakukan hal yang
sama, “Ma?’ tanyanya pada Rangga.
“Mereka orang tua ku!”
Ersya semakin terkejut saja, karena
merea sebelumnya sudah saling kenal. Dua orang itu adalah om dan tantenya
Rizal, “Orang tua? Jadi?”
__ADS_1
Ersya tidak kalah terkejutnya. Ia
tidak menyangka jika kedua orang tua Rangga juga datang di sana dan yang paling
mengejutkan ternyata mereka adalah om dan tantenya Rizal, jadi sudah bisa di
tebak jika Rangga dan Rizal sepupuan,
Kenapa
aku bisa sampai tidak tahu ….
Ersya hanya bisa terus melotot pada
Rangga.
Felic pun juga terkejut, ia yang
masih berdiri tidak jauh dari Ersya segera hampir saja mendekat.
"Kenapa bi Moi dan paman Beni
ke sini?" gumam Felic.
“Ga …, kenapa bisa kayak gini,
kenapa lo nggak bilang dari awal?” bisik Ersya.
“Maaf Sya, tapi mereka juga di
undang!” ucap Rangga dengan santainya.
“Ya jelas lah, mereka om dan
tantenya mas Rizal!” gumam Ersya Ersya hanya bisa tersenyum pada kedua orang
tuan Rangga.
“Ini siapa Bi?’ tanya bi Moi, ibu
Rangga. Sepertinya ia lupa dengan Ersya, sedikit menguntungkan bagi Ersya.
“Ma, pa …, kenalkan ini Ersya!”
“Sepertinya kita pernah bertemu
ya?!” tanya ayah Beni sambil memperhatikan wajah Ersya.
"Dimana yah?" tanya sang
istri.
"Sebentar, ayah ingat-ingat
dulu ...!"
Felic yang melihat hal itu semakin
cemas saja, "Kenapa jadi begini!" gumamnya lagi.
“nyonya …, sebaiknya anda duduk dulu
sekarang, ini sudah lebih dari setengah jam anda berdiri!”
"tapi gimana sama Ersya?"
tanya Felic mengkhawatirkan sahabatnya itu
Ersya yang mendengarnya ucapan Felic
dan Wilson segera menoleh padanya, Ia juga memberi tahukan hal yang sama pada
“Iya Fe …, benar apa yang di katakan
Wilson!"
"Tapi Sya!"
"Aku tidak pa pa Fe, kamu duduk
saja di sana, biar aku sama Rangga!”
“Baiklah …, tapi kamu nggak pa pa
kan?”
“Nggak pa pa!”
Felic pun di bantu Wilson duduk di
salah satu kursi yang cukup jauh dengan Ersya tapi masih bisa mengawasi Ersya
di sana.
Rizal dan Tisya mempercepat
langkahnya saat melihat orang tau Rangga juga mendekati mereka. Ia ingin tahu
apa yang sedang di bicarakan, apa benar yang di katakan teman-teman nya jika
Ersya dan Rangga memang sudah punya hubungan sejak lama.
"Mas ...., tunggu!" keluh
Tisya saat langkah Rizal begitu cepat.
"Maaf sayang ...., tapi aku
harus menghampiri mereka!"
"Iya tunggu ...., sepatuku
tinggi banget mas ....!"
Akhirnya terpaksa Rizal menunggu
tunangannya itu, ia menggandeng tangannya agar bisa berjalan lebih cepat.
“Rangga!” panggilnya saat sampai di
dekat mereka. Rangga pun menoleh ke sumber suara begitupun dengan kedua orang
tuanya.
“Om .... , tante …! Ada apa?” tanya
Rizal berbasa-basi sambil menatap Ersya.
"Ini loh Zal ...., Abi ini kok
tiba-tiba datang sama cewek, om dan tante kan jadi penasaran ...., padahal kan
kemarin-kemarin masih nangisin Felic!" ucap mamanya Rangga.
Rizal pun kemudian menatap Rangga
dan Ersya bersamaan.
“Kalian kenapa bisa datang berdua?
Apa yang aku duga selama ini benar? Apa kalian memiliki hubungan istimewa?”
__ADS_1
tanya Rizal.
“Jika iya kenapa memangnya mas, mas
Rizal juga sudah bertunangan, seharusnya itu tidak menjadi masalah kan?” ucap
Rangga.
“itu artinya Ersya selingkuh dari
aku!” Rizal tidak terima karena merasa di selingkuhi.
"Apa masalahnya denganmu, ada
hubungan atau tidak bukan urusan kamu lagi kan!" ucap Ersya kesal.
"Kamu ..., heh ..., kamu!"
Rizal kesal dengan cara Ersya memanggilnya, biasanya Ersya selalu memanggilnya
dengan panggilan mas, dan sekarang terdengar begitu asing dengan panggilan
'kamu'.
"Kenapa? Masih sakit sakit ya?
Gimana rasanya tiba-tiba jadi orang asing dalam sekejab?" tanya Ersya
kesal, ia sebenarnya sangat berusaha menahan agar suaranya tidak sampai
bergetar.
"Jaga mulut kamu ya ...., bukan
karena mas Rizal masih suka sama kamu ya, ini mas Rizal tanya karena kamu
datang sama sepupunya jadi jangan kepedean deh ....!" ucap Tisya yang
tidak mau kalah, ia juga tidak mau sampai Rizal terbawa perasaan.
"Jawab pertanyaan ku
tadi!" ucap Rizal sambil menarik tangan Ersya dengan begitu keras tapi
Rangga segera menepisnya.
"Lepas mas ...., jangan kasar
sama perempuan!" ucap Rangga.
"Apa kalian punya
hubungan?" tanya Rizal lagi.
“Itu bukan menjadi urusan mas Rizal
lagi kan, Ersya sudah tidak punya hubungan apa pun lagi dengan mas Rizal! Dia
bebas mau berhubungan dengan siapapun!”
"Kamu jangan kurang ajar ya!"
ucap Rizal kesal, terlihat sekali jika ia belum rela jika Ersya mendapatkan
pengganti dirinya.
"Kalian kenapa kok jadi debat kayak gini sih, kayak sedang memperebutkan
perempuan saja!" ucap papa Rangga yang dari tadi hanya diam menyaksikan
perdebatan putra dan keponakannya itu.
"Aku bukannya kurang ajar mas,
aku ngomong yang sebenarnya, seharusnya mas Rizal ini sadar! Ersya bukan istri
mas Rizal lagi!" ucap Rangga yang tidak kalah kesalnya.
"Apa sih sebenarnya
permasalahan kalian? Nanti kita bisa bicarakan di rumah setelah acara ini
selesai kan!" ucap papa Rangga lagi mencoba melerai perdebatan mereka.
"Gini om ...., biar Tisya yang
jelasin ya om, Ersya ini sebenarnya mantan istrinya mas Rizal!"
"Mantan istri?"
“Astaga mas …., kelihatannya mantan
istri kamu ini begitu kebingungan ya cuma buat nunjukin kalau dia udah bisa
move on dari kamu hingga ngajak sepupumu! Kayak nggak ada pria lain aja...!”
“Jaga mulut kamu ya, sebelum aku
sobek-sobek mulut busuk mu itu!” ucap Ersya kesal.
“Auuuggggghhhh ...., takut ....!
Kamu nggak sadar ya sekarang di mana? ini acara aku, harusnya kamu yang
hati-hati dan tetap jaga sikap kalau mau tetap di sini!”
“Ah …, iya ayah! Sekarang aku ingat!
Ersya ini mantan istri Rizal kan …? Saat itu Abi masih ada di luar negri untuk
belajar!” ucap mamanya Rangga setelah sadar, ia sedari tadi diam ternyata
sedang mengingat-ingat wajah Ersya.
“Sudahlah ma ...!” Ayah Rangga pun
akhirnya juga ikut memperhatikan Ersya, "Jangan memperkeruh suasana!"
"Tapi pa ini nggak benar!"
ucap mamanya Rangga, “Ah iya …, kenapa aku bisa lupa? Mungkin karena kita hanya
bertemu sekali di pesta pernikahan kalian itu!”
Ersya hanya bisa terdiam, ia tidak
menyangka jika keputusannya untuk mengajak Rangga adalah salah, ia malah
terjebak dalam masalah baru. Padahal Rangga sudah beberapa kali
mengingatkannya, tapi dia tetap tidak peduli.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1