
Divia begitu kesepian semenjak Ersya di rumah sakit, apa lagi ada Ellen di rumah mereka membuat Divia begitu tersiksa.
"Pagi sayang!" sapa Ellen. Tiba-tiba Ellen ikut duduk dan mengambil selembar roti yang belum di olesi selai.
Divia begitu malas menjawab sapaan dari Ellen, ia terus melanjutkan mengunyah roti ya g sudah berada di ambang mulutnya.
Ellen menghentikan kegiatannya dan menatap Divia,
Hehhh.
Terdengar helaan nafas dari Ellen dengan wajah kesalnya.
"Kamu nggak pernah di ajari sopan santun ya sama mom's kamu yang sok cantik itu, kalau di sapa itu jawab dong cantik!"
Kali ini Divia menghentikan makannya dan menatap kesal pada Ellen, ia tidak suka wanita di depannya itu menjelek-jelekkan mom's nya.
"Tante jangan jelek-jelekin mom's ya, Iyya nggak suka!'
"Nggak jelek-jelekin sayang, buktinya emang gitu, Oma kamu aja nggak suka banget sama mom's kamu! mending Tante kemana-mana!"
Dasar penyihir jahat ....
"Kenapa menatap tante seperti itu? Tante ngomong benar loh! Dari pada Divia ke sekolah, mending hari ini bolos aja, ikut Tante! kita ke mall beli apa aja yang Divia mau, gimana?"
Ellen berusaha untuk membujuk Divia, rencananya adalah mendapatkan hati Divia sebelum Div. Ia tahu kelemahan Div adalah Divia, apapun yang Divia mau pasti Div lakuin termasuk menikah dengannya.
Apa iya bolos saja ....., batin Divia. seperti ya dia sedang mempertimbangkan sesuatu, sepertinya itu tawaran yang sangat bagus. Tapi Daddy ya sangat tidak suka kalau Divia bolos tanpa sebab yang jelas.
Saat Divia sedang bingung mempertimbangkannya, dari arah depan terlihat Rangga menghampiri mereka.
"Selamat pagi nona Ellen, anda di sini?" tanyanya terkejut karena melihat Ellen di tempat Divia.
"Good morning Rangga, saya di sini atas persetujuan Tante Aruni!"
"Apa pak Div tahu tentang ini?" tanya Rangga lagi.
"Saya rasa bukan hak kamu deh ngurusin masalah kami!" ucap Ellen kesal.
Rangga menyadari kekesalan Ellen, ia sedang malas untuk berdebat pagi-pagi. Lagi pula mungkin nyonya Aruni sudah meminta ijin pada Div, pikirnya.
"Maaf nona!"
Rangga pun beralih pada Divia yang terlihat sibuk memakan rotinya.
__ADS_1
"Selamat pagi Divia!"
Tapi sepertinya Divia sedang tidak fokus, ia seperti tidak mendengar sapaan Rangga. Ada yang sedang di pikirkan oleh gadis kecil itu.
Melihat Divia yang hanya diam, Rangga pun menoleh kepada Ellen kembali,
"Ada apa dengan Divia?"
Ellen tersenyum, ia merasa rencananya mulai berhasil untuk mengambil hati Divia,
"Divia pingin jalan-jalan sama aku, gimana boleh ya sekali ini saja? lagian kasihan kalau suruh sekolah. Nggak ada mom's nya, biar aku yang jagain dia, I'm happy to be able to help them !"
Rangga mengerutkan keningnya lalu duduk di depan Divia dengan menggeser satu bangku kosong.
"Divia!?" sapanya lagi dan kali ini Divia menoleh padanya.
"Iya om Langga!?"
"Apa Divia mau bolos? Divia nggak sayang bolos, kan mom's sama Daddy nggak suka!"
Divia berpikir sejenak lalu menatap ke arah Ellen seperti meminta pendapat sama Ellen. Tapi belum sampai Ellen membuka kembali mulutnya, Rangga dengan cepat menarik kepala Divia agar menatapnya dengan cara menakup kedua pipinya.
"Divia yakin mau bolos? Padahal hari ini om Rangga bakal anter Divia buat jengukin mom's!"
"Iya! Daddy sendiri yang bilang, om suruh antar kamu jengukin mom's sepulang sekolah!"
"Iyya mau sekolah!" ucap Divia dengan begitu bersemangat hingga ia turun dari duduknya.
"Ya sudah kalau gitu Divia ambil tasnya dulu ya, om tunggu di sini!"
"Siap om!"
Gadis kecil itu berlari cepat menuju ke kamarnya untuk mengambil tasnya.
Setelah Divia meninggalkan mereka, Rangga pun kembali berdiri dan menatap Ellen yang terlihat kesal.
"Maaf nona Ellen, saya rasa pak Div tidak akan suka jika ada peraturan baru di rumah ini, bolos sekolah adalah kesalahan besar menurut pak Div dan Bu Ersya, jadi lain kali sebaiknya nona tidak meminta Divia untuk bolos lagi! Masih ada banyak cara jika nona ingin menjaga Divia, misal dengan membantunya mengerjakan PR selama Bu Ersya di rumah sakit!"
Ellen semakin kesal saja, baginya Rangga bukan siapa-siapa yang pantas untuk menasihatinya. Tapi saat ia hendak membalas perkataan Rangga keburu Divia kembali.
"Ayo om, Iyya sudah siap!"
"Baiklah, pamit dulu sama bibi Ellen!"
__ADS_1
Divia pun meraih tangan Ellen dan mencium punggung tangannya.
"Kami pergi dulu nona, semoga hari anda menyenangkan!"
Rangga dan Divia pun meninggalkan Ellen yang sedang kesal.
Syytttt ...
Umpatnya sambil memukul meja makan sedikit keras dan duduk dengan begitu kesal.
"Sial! Kurang ajar sekali Rangga, berani-beraninya menasihatimu, pesuruh saja bagi banget!"
...🌺🌺🌺...
Siang ini Rangga menepati janjinya, ia membawa Divia ke rumah sakit untuk bertemu mom's Echa.
Gadis kecil itu begitu sengat dan bersemangat, terlihat ia terus menarik tangan Rangga agar berjalan lebih cepat lagi. Selain mom's nya ia juga ingin melihat adek bayinya.
Hingga mereka berhenti di depan pintu sebuah kamar, Rangga menghentikan langkahnya dan menatap Divia,
"Divia, sepertinya mom's Echa akan terkejut dengan kedatangan Divia. Divia siap memberi kejutan sama mom's?"
"Siap om!"
"Baiklah, om ketuk pintu dulu ya!"
Rangga pun menggeser tubuh Divia agar bersembunyi di belakangnya dengan mengetukkan jari-jarinya ke pintu.
tok tok tok
Terdengar sahutan dari dalam yang meminta mereka untuk masuk.
...Aku suka dengan perhatianmu, hingga aku lupa caranya untuk merasakan sakit karena kamu bahkan tidak membiarkanku merasakan yang namanya sakit...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1