Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
PoV Div 2


__ADS_3

Tidak berapa lama pelayan datang menghampiri kami, dan keterlaluannya ternyata dia, pria dingin ini benar-benar hanya memesan dua gelas minuman dingin.


"Silahkan minumannya!" senyum manis dari pelayan tidak mampu membuang rasa kesalnya pada pria yang duduk tenang di depanku itu.


Bahkan pria itu sama sekali tidak membalas senyuman pelayan yang mengantar minuman, terpaksa aku yang harus melakukannya.


Setelah memastikan pelayan itu pergi meninggalkan kami, aku pun memilih untuk kembali buka suara, rasanya tidak sabar menunggu pria dingin ini bicara, aku meninggalkan istri dan anakku di rumah sendiri.


(Sendiri apanya, para pembaca juga akan protes, pengawal dan pelayan sejibeng nggak di anggap)


"Ayolah, jangan membuang waktuku!"


Rendi melirikku sebentar lalu kembali fokus pada berkas yang ada di depannya,


"Minumlah dulu, saya tidak mau nanti bang Divta tidak konsentrasi dengan apa yang akan saya katakan!"


Ya ampun, benar-benar nih orang. Heran aku bagaimana caranya Agra bisa tahan bertahun-tahun sama orang seperti ini. Gayanya singing banget, menyebalkan sekali.Untung aku orangnya sabar, tidak mudah emosi. Awas saja kalau dia mempermainkan ku, ya walau aku tahu dia buka orang yang suka mempermainkan.


"Terserah lah!" aku pun mengambil gelas milikku, es kopi begitu segar mengalir di tenggorokanku. Aku harus punya tambahan sabar untuk menghadapinya.


Ku lirik pria itu sudah mulai menata berkasnya pada tempat-tempat yang berbeda, sepertinya sudah siap untuk bicara.


"Saya akan melakukan apapun demi Divia!"


"Aku tahu, tidak usah di bahas! Kau ini membuatku merasa seperti Daddy yang nggak berhasil saja!"


"Saya mohon jangan potong dulu pembicaraan saya!" wajahnya terlihat serius, dia memang selalu serius seperti itu sih. Sudah menjadi rahasia umum.


"Rend, Rend ...., ayolah jangan bertele-tele!"

__ADS_1


"Saya mencoba mempersingkat waktu, bang!" matanya melayangkan protes padaku tapi dengan nada dinginnya. Aku cuma berdoa supaya anakku nanti tidak ada yang menurun sifatnya dari dia gara-gara aku sering membencinya.


"Lanjutkan!" aku memperbaiki dudukku agar tegak.


Rendi terlihat bersiap untuk kembali bicara, "Apapun yang terjadi dengan Divia, saya tidak akan tinggal diam_!"


"Iya, aku tahu! Memang kamu pikir aku akan diam saja!" protesku lagi, aku daddynya, jadi jelas aku yang lebih berhak atas apa yang terjadi dengan Divia.


"Bang, biarkan saya bicara dulu, jangan memotong!"


Mau gimana tidak memotong, rasanya kesal sekali kalau dia merasa lebih berhak atas Divia di bandingkan aku.


"Iya_, iya_! Baperan banget jadi orang!"


"Abang yang gitu!" suara Rendi sedikit meninggi, aku menatap pria dingin itu, memastikan yang berbicara seperti benar-benar Rendi. Seumur-umur aku tidak pernah mendengar pria itu bicara penuh ekspresi seperti itu.


"Nggak usah di bahas, saya lanjutkan!"


"Manggak!" aku bergaya seperti orang Sunda padahal aku sama sekali bukan keturunan Sunda.


Rendi pun menunjukkan beberapa berkas, "Ini adalah beberapa berkas palsu yang di tunjukkan oleh Ellen dan ini adalah berkas yang asli!"


Rendi dan Ellen sudah kenal dekat dulu, walaupun memang aku yang keterlaluan. Aku bukan pria baik dulu, seorang Casanova. Sudah menjadi rahasia umum, Ellen juga tahu. Dia teman satu kampus denganku tapi pernah menjalin kerja sama dengan Rendi di salah satu cabang finitygroup yang ada di Prancis.


Ellen tahu jika aku tidak bisa stay dengan satu wanita, tapi dia memintaku untuk tetap menjadikan salah satu wanitanya. Aku pria normal atau mungkin lebih dari normal, jika seorang wanita menyuguhkan tubuhnya apa lagi Ellen dengan bodynya yang bisa di bilang perfect, siapa yang tidak akan tergoda.


Aku pun mengambil berkas yang sedari tadi sibuk di tata oleh Rendi, sekilas terlihat sama tapi saat di baca di dalamnya jelas jauh berbeda. Ini laporan medis Ellen. Dan wanita itu dalam salah satu berkasnya yang aku yakini itu yang asli sudah di nyatakan sembuh total. Tapi di bekas lainya menyatakan jika dia masih dalam masa menunggu penanganan hingga kondisinya stabil, aku yakin itu berkas yang palsu.


"Seharusnya berkas ini sudah cukup kan untuk mengusir wanita itu?" pertanyaan Rendi mengalihkan ku dari berkas yang ada di tanganku.

__ADS_1


"Tidak semudah itu!"


"Apalagi?"


"Perusahaan kita terlibat kerja sama dengan perusahaan ayahnya Ellen. Jika sampai Ellen menyebarkan bukti jika aku pria yang sudah menghamilinya dan membuat kehilangan bayinya, jelas itu akan berpengaruh besar terhadap finitygroup!"


"Tapi ini masalahnya ada Divia di dalam rumah itu dan bang Divta malah memasukkan ular di dalamnya setiap saat bisa mematuk Divia. Kalau bang Divta tidak bisa mengusir Ellen, biar Divia tinggal bersama saya dan Nadin. Saya yakin Nadin juga tidak akan keberatan!"


"Enak aja!" aku langsung berdiri dari dudukku, jelas aku kesal dengan ucapan pria dingin ini. Aku yakin Ersya juga tidak akan setuju, dia bisa memenggalku hidup-hidup kalau tahu putrinya aku titipkan pada Rendi.


"Aku bawa berkasmu, tidak sampai satu Minggu aku akan mengusir wanita ular itu!" janjiku sambil berdiri begitu saja meninggalkannya, aku tahu bukan hanya aku yang akan bertindak. Bisa jadi Rendi yang akan bertindak lebih dulu, aku tahu seprotektif apa pria itu jika berhubungan dengan keluarga kami, bahkan jika harus menukar dengan nyawanya dia akan melakukannya.


Saat aku selesai memakai sepatuku, aku kembali berbalik pada pria dingin itu,


"Terimakasih traktirannya, lain kali aku akan mentraktirmu!" ucapku lalu berjalan menjauh darinya. Aku tahu pria itu masih diam di tempatnya.


Kelihatannya saja dia tapi sejatinya dia sedang merencanakan sesuatu untuk menunggu traktiran dariku.


Aku tidak mau berlama-lama, membuat waktu percuma itu benar-benar melelahkan. Tapi baiklah berkas yang ada di tanganku saat ini sudah cukup membuktikan aku tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk itu.


Udara semakin dingin saat aku melajukan mobilku, rintik hujan mengenai kaca mobil depan, langit pun sudah mulai gelap, mungkin aku akan sampai di rumah tepat saat makan malam.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2