
Entah mengapa Kim sama sekali tidak merasa keberatan dengan ide sang nenek, ia lebih suka jika Divia yang menjadi pacar pura-pura nya dari pada orang lain.
"Kamu serius?" untuk kesekian kalinya Divia bertanya, mereka masih di dalam mobil dan Kim bahkan tanpa suara hanya mengangguk.
"Kamu tahu kan aku_?"
"Hmmm!?"
Dia benar-benar keterlaluan, kenapa aku harus selalu terjebak dalam situasi ini .....,
"Pulanglah, aku akan mengantarmu pulang!"
"Terserah aku!?" Divia yang sudah terlanjur kesal tidak ingin setuju dengan apapun yang di usulkan oleh Kim.
Tapi pria dingin itu tiba-tiba tersenyum dan menoleh ke samping, ke arah Divia,
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke kantor saja? Karena hari ini aku masih ada meeting penting!?"
Belum sampai Divia melontarkan penolakannya, tiba-tiba mobil sudah berbalik saja,
"Ehhhh, ehhhh, aku kan nggak bilang setuju!?"
"Sudah terlambat!"
Mereka pun akhirnya turun dari mobil, Divia hanya bisa pasrah mengikuti pria dingin itu di belakangnya,
"Selamat siang Mr!"
"Selamat siang!"
Untuk pertama kalinya Mr Kim menjawab sapaan karyawan bahkan dia juga tersenyum.
"Ahhh, apa aku tidak sedang bermimpi, Presdir jawab sapaan dariku!?"
"Dariku juga."
"Dia juga tersenyum tadi."
Menjadi hal yang luar biasa bisa melihat senyum dari Mr Kim.
"Wanita yang bersamanya?"
"Aku pernah melihatnya, sepertinya dia yang datang waktu itu bersama tuan muda."
"Apa iya, dia calon istri Presdir Kim?"
"Mungkin."
"Ahhhh, aku jadi patah hati!"
Meskipun orang yang di bicarakan itu sudah masuk ke dalam ruangannya, tapi kasak-kusuk itu masih menyebar ke seluruh penjuru kantor.
"Aku pulang saja." membayangkan akan sangat bosan di tempat itu, Divia hampir memilih pergi tapi Kim segera mencegahnya.
"Tenang saja, kamu tidak akan bosan di sini."
"Maksudnya?"
Kim segera menarik kedua bahu Divia, menuntunnya ke arah kursi kebesarannya, kursi yang berada di balik meja kerjanya, "Duduk di sini dan pelajari ini."
Pria itu meletakkan setumpuk buku di depannya, "Ini apa?" Divia tampak bingung dengan buku-buku itu.
Kim mendekatkan kepalanya pada Divia hingga membuat Divia sedikit memundurkan kepalanya,
Kenapa dia jadi suka dekat-dekat gini sih ...., atau jangan-jangan efek ciuman tadi malam ya ...
Benar saja, memang saat ini Kim tengah memandangi bibir divia, ia ingin meyakinkan sekali lagi apa benar semalam hanya mimpi,
__ADS_1
Bibirnya terlalu manis ...., ia tersenyum dan mengusap bibir divia membuat tubuh Divia semakin terpaku saja.
"Jika ingin tugas kuliahmu segera selesai, pelajari ini. Semua buku ini membahas materi dan contoh-contoh desain grafis!"
Tiba-tiba Lee masuk dan menyaksikan adegan yang hampir ciuman itu,
"Ups, maaf! saya akan keluar lagi!" Lee pun kembali berbalik,
"Tunggu!" teriakan Kim berhasil membuat Lee terdiam di tempatnya, ternyata Kim sudah menjauhkan tubuhnya dari Divia, kini ia berjalan mendekati Lee sambil membetulkan jasnya yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.
"Segera mulai meetingnya!?"
"Baik Mr!?"
Mereka berdua pun keluar meninggalkan Divia yang masih terpaku sendiri.
"Hahhh, hahhh, hahhh, yang benar saja. Apa yang baru saja terjadi? Hampir saja aku kehabisan nafas gara-gara ini!" Divia memegangi letak jantungnya yang berdetak begitu keras hingga sepertinya telinganya saat ini bisa mendengar detak jantungnya itu.
Di ruang meeting terlihat Kim yang malah tidak fokus dengan meeting, meskipun saat ini dirinya berada di dalam ruangan itu tapi pikirannya sedang melayang entah ke mana.
"Mr, Mr, bagaimana menurut anda?" Lee segera menyenggol lengan Mr Kim yang menyadari pria itu sedang memikirkan hal lain.
"Ahhh iya, saya setuju! Asalkan ini menguntungkan perusahaan, jalankan proyek yang ini."
"Lalu bagaimana dengan dampaknya?"
"Kita akan mengatasinya lebih cepat!"
Akhirnya setelah dua jam meeting pun berakhir, seperti biasa Lee selalu mengikuti Kim di belakangnya,
"Apa Mr punya masalah serius? Maksud saya, anda tidak terlalu fokus tadi di ruang meeting!"
Kim tiba-tiba menghentikan langkahnya, beruntung Lee mempunya rem cakram jadi tidak sampai menabrak pria di depannya itu,
"Lee, apa semalam aku begitu mabuk?"
"Iya, apa kamu yang melepas jas ku?"
Lee hanya menggelengkan kepalanya,
"Sepatuku?"
Lagi Lee menggelengkan kepalanya,
"Dasiku?"
Dan kembali Lee hanya menggelengkan kepalanya,
"Atau kancing bajuku?"
"Tidak Mr, saya hanya mengantar anda sampai di kamar di bantu nona Vi, setelah itu saya berpamitan untuk pergi karena masih harus ke rumah sakit!"
Jadi yang melakukan semuanya Vi? Berarti adegan semalam benar?
"Mr, apa ada masalah?"
"Tidak!" Kim menggelengkan kepalanya, "Aku akan kembali ke ruangan, tolong jemput Dee dan katakan padanya Vi tidak bisa menjemput hari ini!"
"Baik Mr!"
Kim pun kembali berjalan meninggalkan Lee, ia langsung menuju ke ruangannya dan ingin bertanya langsung pada Divia.
Tapi saat ia membuka pintu, terbatas gadis itu malah sedang tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang berada di atas meja dengan buku-buku yang berserakan di depannya,
"Bisa-bisanya dia tidur dalam posisi seperti ini!"
Kim pun mendekati Divia, ia merapikan semua buku-buku itu dan mengangkat tubuh Divia membawanya ke sofa.
__ADS_1
Sepertinya karena terlalu capek hingga Divia sampai Tidka terbangun meskipun telah di pindahkan, Kim melepas jasnya dan menyelimutkan pada tubuh Divia.
Tapi kemudian ia terpancing untuk kembali berjongkok di samping Divia, menatap wajah Divia yang tengah tertidur pulas itu,
Apa benar semalam kita ciuman? Bibir itu rasanya begitu nyata ....
Entah mendapatkan keberanian dari mana hingga tangannya terulur begitu saja menyentuh bibir itu, tapi buru-buru ia tarik saat Divia mulai menggerakkan tubuhnya, perlahan mata Divia terbuka dan begitu terkejut melihat Kim sudah berada di depannya,
"Kamu?" Divia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi dadanya,
"Enak tidurnya?"
"Kamu sudah kembali? Sudah lama?"
"Menurutmu!?" Kim berdiri lalu menarik jasnya yang berada di dalam dekapan Divia,
"Aughhh!"
"Mau terus mendekap jas milikku?" tanya Kim sambil memicingkan matanya,
"Tidak!"
"Ya sudah lepaskan!?"
Divia pun segera melepaskan jas itu dan bangun dari tidurnya. Kim berjalan kembali menuju ke mejanya,
"Bagaimana, sudah menemukan sesuatu yang kamu cari?"
"Kamu juga kuliah desain ya?" bukannya menjawab pertanyaan Kim, Divia malah tertarik untuk bertanya,
"Bukan!?"
"Kenapa bisa punya buku sebanyak itu?"
"Aku suka desain, semua jenis desain!?"
"Trus kuliahnya?"
"Di bisnis!?"
"Kenapa?"
"Karena aku butuh ilmunya untuk mengelola perusahaan!?"
Benar juga ya, dia kan seorang pemimpin di sini, sudah pasti butuh ilmu bisnis yang mumpuni ....
"Aku lapar, kita makan!?"
Divia baru sadar, ini sudah jam dua siang. Seharusnya Dee sudah pulang satu jam yang lalu,
"Dee!?"
"Lee sudah menjemputnya!?"
Kim segera berdiri dan menarik kembali tangan Divia,
"Ehhhhh ....!?"
Dia suka sekali menarik tanganku ...., Divia hanya bisa menggerutu dalam hati sambil menatap punggung datar pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...