Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Terkuak sudah


__ADS_3

Liam belas menit setelah Div menghubungi Ellen, wanita itu akhirnya datang wajahnya terlihat begitu terkejut melihat ada mobil polisi yang ikut terparkir bersama mobil pribadi Div dan Ersya.


"Tante, Div, ini ada apa? Kenapa ad polisi juga di sini?" Ellen terlihat mengabsen setiap yang ada di sana tapi ia malah mendapat tatapan kesal dari Ersya.


Wanita dengan perut buncit itu begitu kesal dengan kedatangan wanita itu walaupun datangnya karena di undang oleh sang suami.


"Duduklah!" pinta Div membuat wanita bertubuh jenjang dengan high heels itu segera duduk tepat di samping nyonya Aruni.


"Jadi ini nona Ellen?" polisi bertanya padanya.


"Iya!" jawabnya terlihat santai walaupun sebenarnya dalam hati sedang begitu was was.


"Ini kami membawa surat penangkapan kepada anda!" salah satu polisi mengeluarkan sebuah surat dan di serahkan pada Ellen.


"Tunggu dulu, atas dasar apa kalian menangkap saya?" Ellen menatap nyonya Aruni, sepertinya sedang meminta penjelasan sedangkan yang di mintai penjelasan sama-sama masih terlihat membaca situasi yang ia sendiri tidak tahu apakah dia aman atau akan bernasib sama dengan Ellen.


"Div_?" kali ini beralih pada Div yang masih duduk tenang di kursinya.


"Tunjukkan alasannya pak polisi!" perintah Div kemudian.


"Anda telah melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur!"


Mendengar penjelasan polisi kali ini Ellen beralih menatap Divia yang terlihat ketakutan di dalam pelukan Ersya.


Ersya yang baru mengerti pun terlihat sekali kalau dia juga sangat terkejut,


"Ini maksudnya apa pak?" tanya Ersya, ia menatap.putrinya mencoba mencari jawaban di wajah ketakutan putrinya.


"Jangan ngaco deh pak, pasti ini berdasarkan laporan anak itu, anak itu sangat tidak menyukaiku di sini, dia pasti ingin aku pergi dari sini makanya membuat laporan palsu."


"Tapi kamu bukan hanya berdasarkan laporan saja nona Ellen. Kami juga punya buktinya. Tunjukkan buktinya!" pinta salah satu polisi yang terlibat seperti atasannya pada polisi yang lebih muda.


"Siap pak!" anak buahnya itu pun segera mengeluarkan ponselnya, ia segera menunjukkan video kekerasan yang di lakukan pada Divia, di kamar Divia dan di mobil.


Ersya yang melihatnya terlihat sekali sedang terguncang sekarang, air matanya mampu terbendung membuat Div seketika khawatir. Ia pun menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan sang istri dan memeluknya bersama dengan sang putri.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, semua akan segera berakhir!"


Plakkkk


Sulit di percaya, sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Ellen membuat tubuh Elle. terhuyung dan kembali jatuh ke sofa yang ada di belakangnya. Hal itu membuat Div dan Ersya tertarik untuk melihat siapa yang sedang menamparnya.


"Mama!"


Iya, nyonya Aruni menampar wajah Ellen dengan penuh kemarahan.


"Aku nyesal kerja sama sama kamu, mau bagaimana pun Divia adalah cucu saya, tidak selayaknya kamu menyiksanya seperti itu!" nyonya Aruni terlihat begitu marah.


Apa mama benar-benar marah pada Ellen atau hanya akting saja? terbesit sebuah pertanyaan di hati Div dengan apa yang di lakukan oleh mamanya.


Ersya pun demikian, dia masih meragukan apa yang di lakukan mama mertuanya.


"Sabar nyonya!" polisi itu memperingatkan nyonya Aruni yang marah.


"Wanita ini sudah menyakiti cucu saya, saya harus diam saja! Saya memang bukan Oma yang baik, tapi saya juga tidak rela kalau cucu saya di sakiti!"


"Bagaimana aku percaya kalau nyatanya ada buktinya!"


Div dan Ersya hanya menyaksikan dua wanita yang berkolaborasi itu sedang bertengkar.


"Sayang, Divia masuk ke dalam saja ya, ini tidak baik!" pintu Div agar Divia tidak menyaksikan yang tidak seharusnya di lihat.


Div memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk mengantar Divia ke kamar.


Div masih terus memeluk istrinya berharap tidak akan berpengaruh pada kandungan sang istri.


"Mari ikut saya ke kantor polisi nonna Ellen, nona Ellen nanti bisa melakukan pembelaan di sana!"


"Tidak bisa, saya memang bersalah tapi di sini Div yang paling bersalah! Jadi tangkap dia juga!" Ellen menunjuk ke arah Div.


"Ellen, kamu jangan keterlaluan ya, putraku tidak salah apa-apa, jangan macam-macam kamu!" nyonya Aruni terlihat tidak begitu suka dengan tuduhan Ellen.

__ADS_1


"Tante jangan sok suci deh, Tante juga ikut terlibat untuk mengusir Ersya dari rumah ini!"


Mendengar penuturan Ellen, nyonya Aruni terdiam. Jika di bilang salah, nyonya Aruni juga salah dan mungkinjuga akan terseret ke penjara bersama Ellen.


"Ini pak polisi, saya punya bukti kalau Div pernah memperkosa saya!" Ellen menunjukkan sebuah video lama.


"Ellen, jangan keterlaluan kamu!" Div benar-benar kesal dengan ulah wanita ular itu, jelas-jelas dulu mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.


"Tapi ini buktinya!"


Ersya terpancing untuk melihat apa yang ada dalam video itu, memang benar terlihat Div sedang menarik baju Ellen dan menjatuhkannya di atas tempat tidur lalu menindihnya, tapi video itu terpotong.


Hukkkk hukkkk hukkk


Tiba-tiba Ersya merasa sangat mual melihat video itu, sakit memang saat melihat suaminya berhubungan dengan wanita lain walaupun itu hanya masa lalu.


"Sayang ...., sayang kamu tidak pa pa?" Div terlihat begitu khawatir dengan keadaan Ersya.


"Jangan khawatir mas, aku tidak pa pa! Aku ke toilet dulu!"


Ersya segera berlari meninggalkan mereka dan menuju ke toilet.


Hoeks hoeks hoeks


Ia mengeluarkan semua isi perutnya dan tiba- tiba menangis. Kesal dan sakit menyeruak dalam dadanya, ingin membuang semuanya tapi tidak bisa. Ia ingin kembali saat tidak melihat video itu tapi tetap saja tidak bisa, bayangan Div suaminya menciumi wanita itu membuatnya muak.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2