
Grekkkk
Tiba-tiba pintu mobil di sampingnya terbuka,
"Mau di apain?"
"Nggak! Tadi cuma becanda, sungguh!"
"Turun!" perintah Div lagi.
"Iya! Bawel!" keluh Ersya.
Dengan berat hati Ersya pun turun dari mobil, ia berjalan di belakang Div dan Divia.
Ini rumah sakit yang bukan biasanya mereka kunjungi, Div sengaja ke rumah sakit itu karena jaraknya yang paling dekat dengannya saat itu.
Div berhenti di depan meja resepsionis, ia harus mencari dokter yang jadwalnya kosong hari ini.
"Kalian tunggu dulu di sini, dan aku akan bertanya pada resepsionis!"
Ersya dan Divia pun menganggukkan kepalanya, bersama-sama.
Saat di berbicara dengan resepsionis, Ersya mengajak Divia untuk duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari Div.
Sesekali masih terdengar celotehan dari Divia, dia bahkan semenjak tadi tidak berhenti bercerita walaupun yang di ceritakan hampir semuanya sama dan entah sudah di ulang beberapa kali tapi Ersya seolah tidak bosan mendengarkan cerita Divia. Bahkan ia tidak pernah berhenti tertawa saat Divia menceritakan kisah yang menurutnya lucu dan itu sudah puluhan kali ia ceritakan.
Hingga akhirnya Div kembali menghampiri mereka,
"Gimana mas?" tanya Ersya yang sudah berdiri.
"Ada satu dokter yang saat ini sedang menangani satu pasien, jadi tidak pa pa ya menunggu sebentar?"
Hahhh, padahal aku inginnya semua jadwal dokter hari ini padat, jadi nggak perlu di periksa. ..., orang cuma mabuk kendaraan!!!! Sekarang aja sudah baik-baik saja ...
"Iya!" jawab Ersya lemah.
Ersya pun mengikuti langkah suaminya sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan mungil Divia.
Hingga mereka sampai juga di depan sebuah ruangan, ruang dokter Melvin.
"Dokternya cowok? Kamu nggak pa pa mas aku di periksa sama dokter cowok?"
Ersya sedang mencari-cari alasan agar Div tidak jadi membawanya ke dokter.
"Aku akan menemanimu terus!"
"Lalu Divia?"
"Dia tahu apa yang akan dia lakukan!"
__ADS_1
"Apa?"
Div mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Maaf pak, sedikit terlambat!"
"Kamu terlambat lima menit!"
"Saya salah pak!"
"Lupakan! Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Tahu pak!"
"Bagus!"
Ersya masih bingung, bisa-bisanya Rangga tiba-tiba muncul di sana, kapan suaminya itu menghubungi pria itu?
"Mas, kok ada Rangga sih di sini?"
"Sengaja!"
Div pun beralih menatap Divia, "Sayang, sama om Rangga sampai Daddy selesai menemani mommy periksa ya!"
"Iyya nggak boleh masuk ya dad?"
"Nggak boleh sayang, kan ini bukan pemeriksaan kamu!"
"Iyya, Daddy mohon! Kali ini aja ya, sama om Rangga sampai selesai, nanti gabung sama mom sama Daddy lagi!"
"Baiklah!"
Walaupun kecewa, tapi tetap saja Divia tidak bisa membatah ucapan daddy-nya.
Rangga pun mengajak Divia jalan-jalan sementara Div menunggui Ersya periksa kesehatan.
Mereka harus menunggu sampai pasien dokter itu keluar dari ruangan itu,
"Duduk di sana saja!" ajak Div sambil menunjuk sebuah bangku yang ada di depan ruangan itu,
"Sebentar!"
Div menarik tangan Ersya agar tidak duduk dulu,
"Apalagi sih mas?" protesnya.
"Biar aku bersihkan dulu!"
Div mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya dan mengelap tempat duduk yang akan di duduki oleh Ersya.
__ADS_1
"Mas apa-apaan sihhh!?" protesnya lagi melihat kelakuan suaminya.
"Jangan protes, sekarang duduklah!"
Div menekan bahu Ersya agar duduk dan Ersya tidak protes lagi.
Ersya melihat sekeliling, matanya menajam sempurna saat melihat beberapa poster yang terpajang dan memenuhi dinding.
"Mas, kamu nggak salah?"
Div menoleh ke arah Ersya, "Ada apa sih, mengagetkan saja?"
"Kamu tahu kan ini artinya dokter apa?"
"Apa?"
"Dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau di singkat obgyn atau SpOG, artinya dokter apa?"
"Tahu, dokter kandungan kan?"
"Ngapain ngajak aku ke sini sih mas?"
"Dokter apa aja juga bisa kan meriksa segala macam, lagian aku kan cuma pengen memeriksakan masalah gizi kamu dan dokter kandungan pasti juga tahu masalah itu!"
"Mas ....., jangan aneh-aneh deh!"
"Nggak anehhh, cuma di sini yang kosong! Kalau aku harus puter balik dan cari rumah sakit lainnya pasti juga kamu nya nggak mau, jadi nggak usah protes!"
Ersya hanya bisa menggelengkan kepalanya kesal dan beberapa kali menghela nafas, ia benar-benar kadang tidak bisa mengerti cara berpikir suaminya itu yang terbilang ekstrim.
Ceklek
Pintu yang sedari tadi tertutup akhirnya terbuka juga, seorang dokter dan seorang wanita keluar dari dalam ruangan itu.
Div dan Ersya segera berdiri, tapi mereka begitu terkejut saat melihat siapa wanita yang keluar bersama dengan dokter itu.
"Ellen?"
Ellen pun sepertinya sama terkejutnya saat melihat Div dan Ersya di sana, wajahnya seketika pucat melihat mereka.
Bersambung
...Aku hanya ingin menjadi satu-satunya, tapi bisakah aku tetap menjadi satu-satunya? Tidak apa aku di katakan egois, asal kamu hanya milikku, hanya aku...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...