
"Semoga cepat sembuh, saya pergi dulu!"
Ternyata ucapan itu yang sedari tadi di tunggu-tunggu oleh Ersya,
"Iya Bu, terimakasih sudah mau menjengukku ke sini!"
Nyonya Ratih tersenyum, senyumnya begitu anggun.
Beda banget sama mama Aruni, kalau mama Aruni bawaannya pengen nyakar aja ...., batin Ersya sambil mengiringi kepergian nyonya Ratih.
Div pun mengantar nyonya Ratih hingga ke depan.
"Jaga istrimu baik-baik!" ucap nyonya Ratih sambil menepuk bahu Div.
"Pasti Bu!"
"Ingat Div, musuh itu bukan hanya seseorang yang melawanmu dengan senjata, musuh yang berbahaya adalah musuh yang membuatmu kalah sebelum berperang!"
"Terimakasih atas nasehat ibu!"
Div menatap kepergian nyonya Ratih, matanya masih menatap kepada wanita luar biasa itu tapi pikirannya sudah jatuh pada ucapan terakhir ibunya itu.
Ibu sepertinya tahu sesuatu ....
Walaupun baru beberapa tahun mereka benar-benar dekat, tapi selama itu sudah cukup untuk membuatnya mengenal siapa wanita yang baru saja pergi. Ia bahkan tidak bisa menandingi instingnya yang begitu tajam terhadap banyak hal. Mungkin karena tempaan beberapa puluh tahun silam sudah cukup membuatnya menjadi wanita hebat.
Hehhhh
Div hanya bisa menghela nafas, ia tidak bisa mengabaikan ucapan nyonya Ratih tapi ia juga tidak mau terlihat cemas di depan istrinya.
Div pun kembali masuk dan terlihat sang istri masih sibuk membaca daftar yang tadi di berikan oleh nyonya Ratih.
Ersya mendongakkan kepalanya saat melihat Div datang.
"Mas ini serius?" tanyanya sambil mengacungkan kertas itu seolah ingin menunjukkannya pada Div.
"Ya serius!"
"Memang Ara dulu pas hamil si kembar juga begini amat?"
"Tanya aja sama dia, bentar lagi juga datang!"
"Mereka mau datang?" tanya Ersya lagi dan Div menganggukkan kepalanya.
Tok tok tok
Baru saja di bicarakan, pintu sudah di ketuk saja. Div dan Ersya otomatis langsung menatap ke arah pintu.
"Mungkin itu mereka!" ucap Ersya tersenyum senang.
__ADS_1
Ceklek
Seketika wajah Ersya berubah muram saat melihat siapa yang datang.
Waduhhhh kenapa yang datang malah mama ...., batin Ersya. Pasti mama mertuanya itu akan berbuat masalah lagi pikirnya.
"Div!!!!"
Nyonya Aruni dengan cepat memeluk putranya itu,
"Apanya sayang yang sakit?" ucapnya sambil memeriksa sang putra.
"Ma, I'm fine, okay! Ersya yang sakit!"
Nyonya Aruni pun menatap ke arah Ersya sebentar dan kembali lagi pada Div.
"Ini tangan kamu, bagaimana bisa bilang baik-baik saja!" ucap nyonya Aruni sambil mengusap tangan Div yang di perban.
"Div tidak pa pa, mam! I'm okey ...!"
Nyonya Aruni pun kembali memperhatikan Ersya dan mulai mendekatinya.
Div sudah siaga di samping Ersya jika sampai mamanya berbuat macam-macam pada Ersya.
"Kamu kan pasti biang keladinya? I didn't like you, sejak pertama bertemu!" ucap nyonya Aruni sambil menunjuk ke arah Ersya dengan wajah kesalnya.
Nyonya Aruni pun menatap Div, seolah-olah dia belum tahu.
"Kamu yakin?"
"Dokter yang mengatakannya!"
Ersya sedari tadi hanya sibuk melihat bagaimana mertuanya terus marah-marah tanpa sebab.
"Are you okey mom's?" tanya Ersya dengan wajah lucu.
Sepertinya dia sengaja ....., batin nyonya Aruni.
"Syukurlah kalau dia hamil, aku kira akan seperti yang orang-orang katakan, ohhh ternyata bisa hamil juga!" ucap nyonya Aruni dengan nada tidak mengenakkan.
"Sekarang mama boleh pulang deh, nggak usah buat ribut di sini, Div nggak suka!" ucap Div dengan wajah yang terlihat kesal.
"Kamu nggak hargai banget sih Div, ini mama kandung kamu loh, mama jauh-jauh datang ke sini cuma buat nengokin kamu!"
"Mama sendiri yang buat Div seperti itu, jadi please ma, cukup ributnya di lanjut di rumah saja!"
"Baiklah, mama pulang!"
Nyonya Aruni pun benar-benar pergi dari kamar Ersya,
__ADS_1
Hehhh
Ersya menghela nafas lega, leganya kali ini berbeda dengan leganya yang tadi.
Kalau ada nyonya Ratih, ia hanya takut jika melakukan kesalahan kalau nyonya Aruni ia hanya takut tidak bisa mengontrol emosinya.
"Mama bikin kesal ya, maaf ya!" ucap Div sambil mengusap kepala Ersya.
"Aman!"
Mendengar jawaban Ersya, Div pun menatap istrinya itu,
"Aman kenapa?"
"Nggak Sampek perang aku nya sama mama!" ucap Ersya sambil menarik bibirnya ke atas.
"Kamu luar biasa!"
"Mas, tapi masih ada satu lagi! Apa iya sebanyak ini pantangannya?"
"Iya!"
"Ini ada dua puluh lima point' larangan dan dua puluh lima point perintah, semuanya aku yang berlawanan sama aku mas!"
"Nggak pa pa! Nanti aku akan menyiapkan pelayan khusus yang akan siap mengingatkan kamu semuanya!"
Ini yakin? Kalau ada pelayan khusus berarti aku tambah nggak boleh ngapa-ngapain dong ...?
"Mas, aku bisa setres kalau kayak gini!"
"Hanya sembilan bulan!"
"Lama mas!"
"Nggak akan terasa lama!"
Akhirnya Ersya hanya bisa menyerah. Ia tidak mungkin banyak alasan lagi kalau tidak mau suaminya mencetuskan hal-hal baru lagi.
...Ada banyak hal yang sudah membuatku berubah, kamu salah satunya kamu. Cintamu telah mengubahku menjadi wanita yang lebih kuat...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1