Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mabuk


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Ersya masih


saja terus merancau, ia juga bergalayut manja pada pria itu.


"Mas Rizal ...., ah bukan kamu


bukan mas Rizal! Kenapa bibir kamu seksi sekali?!" ucap Ersya sambil mengusap-usap


bibir tebal pria itu.


"Astaga ...., dia benar-benar


menguji kesabaran ku!" gumam pria itu, dia sebagai pria normal pasti


tergoda saat di gerayangi seperti itu.


Anak buah pria itu hanya bisa


menahan senyum melihat betapa paniknya pria itu saat ia bingung harus


menghindar bagaimana apalagi beberapa kali Ersya meninggalkan ciuman di


bibirnya.


"Dia benar-benar agresif ....!"


Setelah perjalanan panjang yang


menguji kesabaran pria itu akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah


yang tidak besar tapi terlihat begitu asri dengan banyaknya bunga di halaman.


"Cari kunci rumahnya di tas


itu!” perintah pria itu pada anak buahnya saat sudah membawa Ersya turun dari


dalam mobilnya.


“Baik tuan!”


Anak buahnya segera mengambil tas


Ersya yang masih tertinggal di bangku belakang mobil mereka. Ia mencari benda yang


di sebut sebuah kunci itu.


"Apa wanita ini cuma tinggal


sendiri, kenapa rumahnya gelap sekali?" tanya pria itu saat melihat rumah


itu masih sangat gelap. Bahkan lampu depan rumah itu pun belum di nyalakan.


"Ketemu apa belum?" tanya


Pria itu yang merasakan tangannya sudah sangat kebas karena terlalu lama


membopong Ersya, apa lagi Ersya terus saja menggelayut pada pria itu.


"Sudah tuan!"


"Cepetan buka!"


"Baik tuan!"


Anak buah pria itu pun segera


memasukkan kunci itu satu persatu ke dalam lubang kunci. Kunci yang lebih dari


sepuluh macam itu tentu sulit untuk menemukan yang pas.


Ceklek


Akhirnya pintu terbuka juga


"Silahkan tuan!" ucap anak


buahnya, pria itu pun membawa tubuh Ersya ke dalam rumah yang masih begitu


gelap itu.


"Cari tombol lampunya!"


"Baik tuan!"


Setelah menemukan apa yang di cari,


akhirnya lampu mulai menyala saru per satu hingga rumah itu menjadi terang,


rumah kecil yang rapi dan khas seorang wanita dengan banyaknya bunga di hidup


dan juga bunga plastik yang menjadi pajangan di setiap sudut ruangan.


"Silahkan tuan!" ucap anak


buahnya saat membukakan pintu sebuah kamar untuk mereka.


“Tunggulah di luar, saya tidak akan


lama!” ucap pria itu saat ia dengan entengnya membopong tubuh Ersya ke dalam


kamar.


"Baik tuan!"


Setelah anak buahnya meninggalkan


mereka, pria itu segera menidurkan Ersya di tempat tidur, di rumah itu hanya


ada dua kamar. Ia memilih kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.


Pria itu menidurkan Ersya di atas


tempat tidurnya.


"Ahhhh ...., dia benar-benar


menyusahkan!" ucap pria itu sambil menggerak-gerakkan ototnya yang terasa


kaku.


Ia menyelimuti tubuh Ersya hingga


sebatas leher, "Cantik ....!" gumamnya saat memperhatikan wajah


Ersya.


Tanpa terasa tangannya terulur


begitu saja untuk menyingkirkan anak rambut Ersya yang menutupi sebagian


wajahnya.


"Sepertinya dia sangat


tertekan!" ucapnya sambil memperhatikan wajah Ersya yang terlihat sekali


jika wanita itu sedang menutupi luka yang begitu besar.


Pria itu pun sebelum meninggalkan


kamar itu memilih untuk melihat-lihat sekeliling kamar itu dan memperhatikan


kamar itu, ada foto pernikahan Ersya terpajang di di dinding begitu besar.


“Jadi dia sudah menikah! Lalu di


mana suaminya? Apa pria yang bernama Rizal itu suaminya? Apa mungkin dia di


campak kan oleh suaminya? Mengenaskan sekali hidupnya ....!" ucap pria itu


sambil terus memperhatikan foto itu. Melihat dengan seksama pria yang ada dalam


foto itu.

__ADS_1


Setelah memastikan jika Ersya


baik-baik saja. Pria itu pun hendak beranjak dari duduknya meninggalkan Ersya,


tapi dengan cepat tangan Ersya malah melingkar di pinggang pria itu.


"Jangan pergi ...., jangan


tinggalkan aku ....!"


"Sial ....!" umpat pria itu.


"Mas ...., jangan pergi ....!


Jangan pergi ....!"


Mendengarkan rancauan Ersya, membuat


pria itu merasa tidak tega. Tapi setan yang tiba-tiba berbisik padanya saat ia


melihat bibir Ersya yang merah merona dengan sedikit basah terlihat begitu


menggoda.


Pria itu pun mendekatkan bibirnya


pada Ersya, ia begitu tertarik dengan bibir mungil itu, begitu menggoda.


"Hoekkks .....!"


Sebuah muntahan keluar dari mulut


Esya begitu saja hingga mengenai kemeja dan jas pria itu. Dengan cepat pria itu


pun berdiri dan menjauh dari ranjang Ersya.


"Aaaaa ...., sial .....!"


umpat pria itu yang terlihat begitu jijik dengan muntahan yang mengenai kemeja


dan jasnya.


"Eghhhhh ....!" pria itu


terus menutup hidungnya dan melepas jas dan kemejanya.


"Dia benar-benar menyusahkan


ku!"" umpat pria itu dengan begitu kesal, ia kini sudah bertelanjang


dada. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa muntahan itu.


Pria itu keluar rumah untuk


menghampiri anak buahnya.


"Tuan ...!"


"Ambilkan bajuku di mobil,


jangan berpikir macam-macam, wanita itu memuntahkan seluruh isi perutnya ke


bajuku!"


"Baik tuan!"


Anak buahnya kembali ke mobil dengan


mengambil sebuah kaos berwarna putih dan menyerahkan kembali pada tuannya.


Pria itu kembali masuk ke dalam


kamar itu setelah memakai kaosnya, ia memperhatikan Ersya, sisa-sisa muntahan


itu masih ada di bibir dan baju Ersya.


"Kenapa juga aku harus peduli


Tapi saat memperhatikan lagi, ia


jadi merasa tidak tega, ia juga tidak mungkin meminta anak buahnya untuk


membersihkannya.


"Kalau dia masuk angin, ahhhh


aku lagi yang kena!"


Akhirnya pria itu pun kembali


mendekat pada Ersya, ia mengelap bibir Ersya dan kemeja Ersya.


"Ini aku terpaksa ya ....,


nggak maksud ya ....!" ucap pria itu sambil melepaskan kemeja yang di


kenakan oleh Ersya hingga menyisakan kaos ketat melekat di tubuhnya dengan bahu


terbuka.


"Tuan ....!" tiba-tiba


anak buahnya memanggil membuatnya dengan cepat menutup tubuh Ersya dengan


selimut.


"Apa?" tanya pria itu


sambil menoleh pada anak buahnya.


"Nona Divia tidak mau tidur


sebelum tuan pulang!"


"Astaga ...., aku hampir lupa!


Tunggu sebentar biar aku selesiakan ini dulu!” ucap Divta.


“Baik tuan!”


Setelah anak buahnya pergi, Divta


kembali melihat kaos yang di kenakan oleh Ersya juga basah.


“Ahhhh bagaimana ini?”


Ia tidak mungkin melepas kaos itu


juga, tapi sepertinya wanita di depannya tidak akan nyaman dengan kaos basah


dan lengket itu. Divta pun terpaksa melepaskannya juga hingga menyisakan bra


berwarna merah menutupi gundukan itu.


Setelah itu Divta segera menutup


tubuh Ersya dengan selimut dan meninggalkannya di kamar sendiri. Divta


menghampiri anak buahnya.


 Ayo kita pulang!"


"Lalu bagaimana dengan nona


itu, tuan?"


"Kita kunci saja dari luar!


Sepertinya dia tinggal sendiri!"


"Baik tuan!"


Mereka pun meninggalkan rumah itu dan

__ADS_1


mengunci kembali rumah Ersya dari luar.


"Berhenti dulu!" ucapnya


saat sampai di depan pos satpam. Divta pun keluar dari mobil dengan membawa


kunci rumah Ersya.


"Selamat malam pak!"


"Selamat malam!" sahut


pria yang berpakaian satpam.


"Saya mau nitip kunci rumah


dengan nomor 16A ya pak, tolong besok pagi bapak buka dan tunggu sampai


pemiliknya keluar rumah!"


"Anda siapa?"


"Saya temannya!" ucap pria


itu dan kemudian merogoh saku celananya mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan


dan menyerahkan pada pak satpam itu.


"Ini untuk bapak ngopi!"


"Terimakasih, tuan!"


"Sama-sama, terimakasih atas


bantuannya!"


"Baik tuan!"


Pria itu pun kembali ke dalam


mobilnya dan meninggalkan area komplek perumahan Ersya.


“Nggak bisa minum aja, sok-sokan


minum. Bikin repot aja!” gumam pria itu saat mengingat betapa polosnya Ersya


tadi.


“Ini sudah sangat malam, Iyya masih


menunggu, kasihan sekali gadis kecil ku!” gumamnya lagi saat melihat jam tangan


yang melingkar di lengannya, sudah hampir tengah malam dan putri kecilnya belum


tidur gara-gara menunggunya pulang.


Sesampai di rumah, kedatangannya


langsung di sambut oleh sang putri, putri kecilnya segera memeluknya.


“Dad…, tenapa puyangnya telambat


lagi?” ucap gadis kecil itu dalam gendongan sang daddy.


“Maaf sayang, tadi dady banyak


kerjaan! Maaf ya, princess daddy kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam!”


ucap pria itu sambil meninggalkan beberapa kecupan di wajah gadis kecilnya.


"Iiiiih ....., dad! Daddy bau


....!" keluh gadis kecil itu saat mencium bau yang menyengat dari bibir


daddy nya.


"Maafkan daddy sayang, tadi


daddy cuma minum sedikit! Selebihnya di habiskan oleh wanita sinting itu!"


"Wanita cinting ciapa yang dad


macut?" tanya gadis kecil itu sambil berkacak pinggang dan berdiri di atas


tempat tidurnya.


"Nggak tahu sayang, daddy


ketemunya nggak sengaja!"


"Apa dia calon mammy Iyya


...!"


"Bukan sayang! Daddy saja tidak


mengenalnya bagaimana bisa jadi calon mammy buat Iyya ...!"


"Iyya nggak cuka kalau dad


minum, kata ayah lendi itu tidak baik, dad!" keluh Divia.


"Maaf deh ...., daddy janji


nggak akan minum lagi, janji!" ucap pria itu dengan mengacungkan jari


kelingkingnya.


"Janji ....?"


"Janji sayang ....!"


Akhirnya gadis kecil itu menautkan


jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya.


“Iyya nggak bica tidul kalau tidak


di bacakan celita cama, dad Div!”


“Baiklah, princess dad yang paling


cantik, ayo sekarang biar Dad yang bacakan dongen untuk princess ya!” ucap pria


itu sambil tidur di samping putri kecilnya itu, menutup tubuh kecil putrinya


dengan selimut tebal bermotif frozen.


"Iyya mau daddy ceritakan


tentang apa?"


"Iyya mau celita tentang putli


calju!"


"Baiklah ....!"


Akhirnya pria itu pun menceritakan


kisah tentang putri salju menemukan pangerannya. Hingga tanpa terasa ia iku


tertidur di samping putri kecilnya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2