
Sepanjang perjalanan, Ersya masih
saja terus merancau, ia juga bergalayut manja pada pria itu.
"Mas Rizal ...., ah bukan kamu
bukan mas Rizal! Kenapa bibir kamu seksi sekali?!" ucap Ersya sambil mengusap-usap
bibir tebal pria itu.
"Astaga ...., dia benar-benar
menguji kesabaran ku!" gumam pria itu, dia sebagai pria normal pasti
tergoda saat di gerayangi seperti itu.
Anak buah pria itu hanya bisa
menahan senyum melihat betapa paniknya pria itu saat ia bingung harus
menghindar bagaimana apalagi beberapa kali Ersya meninggalkan ciuman di
bibirnya.
"Dia benar-benar agresif ....!"
Setelah perjalanan panjang yang
menguji kesabaran pria itu akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah
yang tidak besar tapi terlihat begitu asri dengan banyaknya bunga di halaman.
"Cari kunci rumahnya di tas
itu!” perintah pria itu pada anak buahnya saat sudah membawa Ersya turun dari
dalam mobilnya.
“Baik tuan!”
Anak buahnya segera mengambil tas
Ersya yang masih tertinggal di bangku belakang mobil mereka. Ia mencari benda yang
di sebut sebuah kunci itu.
"Apa wanita ini cuma tinggal
sendiri, kenapa rumahnya gelap sekali?" tanya pria itu saat melihat rumah
itu masih sangat gelap. Bahkan lampu depan rumah itu pun belum di nyalakan.
"Ketemu apa belum?" tanya
Pria itu yang merasakan tangannya sudah sangat kebas karena terlalu lama
membopong Ersya, apa lagi Ersya terus saja menggelayut pada pria itu.
"Sudah tuan!"
"Cepetan buka!"
"Baik tuan!"
Anak buah pria itu pun segera
memasukkan kunci itu satu persatu ke dalam lubang kunci. Kunci yang lebih dari
sepuluh macam itu tentu sulit untuk menemukan yang pas.
Ceklek
Akhirnya pintu terbuka juga
"Silahkan tuan!" ucap anak
buahnya, pria itu pun membawa tubuh Ersya ke dalam rumah yang masih begitu
gelap itu.
"Cari tombol lampunya!"
"Baik tuan!"
Setelah menemukan apa yang di cari,
akhirnya lampu mulai menyala saru per satu hingga rumah itu menjadi terang,
rumah kecil yang rapi dan khas seorang wanita dengan banyaknya bunga di hidup
dan juga bunga plastik yang menjadi pajangan di setiap sudut ruangan.
"Silahkan tuan!" ucap anak
buahnya saat membukakan pintu sebuah kamar untuk mereka.
“Tunggulah di luar, saya tidak akan
lama!” ucap pria itu saat ia dengan entengnya membopong tubuh Ersya ke dalam
kamar.
"Baik tuan!"
Setelah anak buahnya meninggalkan
mereka, pria itu segera menidurkan Ersya di tempat tidur, di rumah itu hanya
ada dua kamar. Ia memilih kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.
Pria itu menidurkan Ersya di atas
tempat tidurnya.
"Ahhhh ...., dia benar-benar
menyusahkan!" ucap pria itu sambil menggerak-gerakkan ototnya yang terasa
kaku.
Ia menyelimuti tubuh Ersya hingga
sebatas leher, "Cantik ....!" gumamnya saat memperhatikan wajah
Ersya.
Tanpa terasa tangannya terulur
begitu saja untuk menyingkirkan anak rambut Ersya yang menutupi sebagian
wajahnya.
"Sepertinya dia sangat
tertekan!" ucapnya sambil memperhatikan wajah Ersya yang terlihat sekali
jika wanita itu sedang menutupi luka yang begitu besar.
Pria itu pun sebelum meninggalkan
kamar itu memilih untuk melihat-lihat sekeliling kamar itu dan memperhatikan
kamar itu, ada foto pernikahan Ersya terpajang di di dinding begitu besar.
“Jadi dia sudah menikah! Lalu di
mana suaminya? Apa pria yang bernama Rizal itu suaminya? Apa mungkin dia di
campak kan oleh suaminya? Mengenaskan sekali hidupnya ....!" ucap pria itu
sambil terus memperhatikan foto itu. Melihat dengan seksama pria yang ada dalam
foto itu.
__ADS_1
Setelah memastikan jika Ersya
baik-baik saja. Pria itu pun hendak beranjak dari duduknya meninggalkan Ersya,
tapi dengan cepat tangan Ersya malah melingkar di pinggang pria itu.
"Jangan pergi ...., jangan
tinggalkan aku ....!"
"Sial ....!" umpat pria itu.
"Mas ...., jangan pergi ....!
Jangan pergi ....!"
Mendengarkan rancauan Ersya, membuat
pria itu merasa tidak tega. Tapi setan yang tiba-tiba berbisik padanya saat ia
melihat bibir Ersya yang merah merona dengan sedikit basah terlihat begitu
menggoda.
Pria itu pun mendekatkan bibirnya
pada Ersya, ia begitu tertarik dengan bibir mungil itu, begitu menggoda.
"Hoekkks .....!"
Sebuah muntahan keluar dari mulut
Esya begitu saja hingga mengenai kemeja dan jas pria itu. Dengan cepat pria itu
pun berdiri dan menjauh dari ranjang Ersya.
"Aaaaa ...., sial .....!"
umpat pria itu yang terlihat begitu jijik dengan muntahan yang mengenai kemeja
dan jasnya.
"Eghhhhh ....!" pria itu
terus menutup hidungnya dan melepas jas dan kemejanya.
"Dia benar-benar menyusahkan
ku!"" umpat pria itu dengan begitu kesal, ia kini sudah bertelanjang
dada. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa muntahan itu.
Pria itu keluar rumah untuk
menghampiri anak buahnya.
"Tuan ...!"
"Ambilkan bajuku di mobil,
jangan berpikir macam-macam, wanita itu memuntahkan seluruh isi perutnya ke
bajuku!"
"Baik tuan!"
Anak buahnya kembali ke mobil dengan
mengambil sebuah kaos berwarna putih dan menyerahkan kembali pada tuannya.
Pria itu kembali masuk ke dalam
kamar itu setelah memakai kaosnya, ia memperhatikan Ersya, sisa-sisa muntahan
itu masih ada di bibir dan baju Ersya.
"Kenapa juga aku harus peduli
Tapi saat memperhatikan lagi, ia
jadi merasa tidak tega, ia juga tidak mungkin meminta anak buahnya untuk
membersihkannya.
"Kalau dia masuk angin, ahhhh
aku lagi yang kena!"
Akhirnya pria itu pun kembali
mendekat pada Ersya, ia mengelap bibir Ersya dan kemeja Ersya.
"Ini aku terpaksa ya ....,
nggak maksud ya ....!" ucap pria itu sambil melepaskan kemeja yang di
kenakan oleh Ersya hingga menyisakan kaos ketat melekat di tubuhnya dengan bahu
terbuka.
"Tuan ....!" tiba-tiba
anak buahnya memanggil membuatnya dengan cepat menutup tubuh Ersya dengan
selimut.
"Apa?" tanya pria itu
sambil menoleh pada anak buahnya.
"Nona Divia tidak mau tidur
sebelum tuan pulang!"
"Astaga ...., aku hampir lupa!
Tunggu sebentar biar aku selesiakan ini dulu!” ucap Divta.
“Baik tuan!”
Setelah anak buahnya pergi, Divta
kembali melihat kaos yang di kenakan oleh Ersya juga basah.
“Ahhhh bagaimana ini?”
Ia tidak mungkin melepas kaos itu
juga, tapi sepertinya wanita di depannya tidak akan nyaman dengan kaos basah
dan lengket itu. Divta pun terpaksa melepaskannya juga hingga menyisakan bra
berwarna merah menutupi gundukan itu.
Setelah itu Divta segera menutup
tubuh Ersya dengan selimut dan meninggalkannya di kamar sendiri. Divta
menghampiri anak buahnya.
Ayo kita pulang!"
"Lalu bagaimana dengan nona
itu, tuan?"
"Kita kunci saja dari luar!
Sepertinya dia tinggal sendiri!"
"Baik tuan!"
Mereka pun meninggalkan rumah itu dan
__ADS_1
mengunci kembali rumah Ersya dari luar.
"Berhenti dulu!" ucapnya
saat sampai di depan pos satpam. Divta pun keluar dari mobil dengan membawa
kunci rumah Ersya.
"Selamat malam pak!"
"Selamat malam!" sahut
pria yang berpakaian satpam.
"Saya mau nitip kunci rumah
dengan nomor 16A ya pak, tolong besok pagi bapak buka dan tunggu sampai
pemiliknya keluar rumah!"
"Anda siapa?"
"Saya temannya!" ucap pria
itu dan kemudian merogoh saku celananya mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan
dan menyerahkan pada pak satpam itu.
"Ini untuk bapak ngopi!"
"Terimakasih, tuan!"
"Sama-sama, terimakasih atas
bantuannya!"
"Baik tuan!"
Pria itu pun kembali ke dalam
mobilnya dan meninggalkan area komplek perumahan Ersya.
“Nggak bisa minum aja, sok-sokan
minum. Bikin repot aja!” gumam pria itu saat mengingat betapa polosnya Ersya
tadi.
“Ini sudah sangat malam, Iyya masih
menunggu, kasihan sekali gadis kecil ku!” gumamnya lagi saat melihat jam tangan
yang melingkar di lengannya, sudah hampir tengah malam dan putri kecilnya belum
tidur gara-gara menunggunya pulang.
Sesampai di rumah, kedatangannya
langsung di sambut oleh sang putri, putri kecilnya segera memeluknya.
“Dad…, tenapa puyangnya telambat
lagi?” ucap gadis kecil itu dalam gendongan sang daddy.
“Maaf sayang, tadi dady banyak
kerjaan! Maaf ya, princess daddy kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam!”
ucap pria itu sambil meninggalkan beberapa kecupan di wajah gadis kecilnya.
"Iiiiih ....., dad! Daddy bau
....!" keluh gadis kecil itu saat mencium bau yang menyengat dari bibir
daddy nya.
"Maafkan daddy sayang, tadi
daddy cuma minum sedikit! Selebihnya di habiskan oleh wanita sinting itu!"
"Wanita cinting ciapa yang dad
macut?" tanya gadis kecil itu sambil berkacak pinggang dan berdiri di atas
tempat tidurnya.
"Nggak tahu sayang, daddy
ketemunya nggak sengaja!"
"Apa dia calon mammy Iyya
...!"
"Bukan sayang! Daddy saja tidak
mengenalnya bagaimana bisa jadi calon mammy buat Iyya ...!"
"Iyya nggak cuka kalau dad
minum, kata ayah lendi itu tidak baik, dad!" keluh Divia.
"Maaf deh ...., daddy janji
nggak akan minum lagi, janji!" ucap pria itu dengan mengacungkan jari
kelingkingnya.
"Janji ....?"
"Janji sayang ....!"
Akhirnya gadis kecil itu menautkan
jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya.
“Iyya nggak bica tidul kalau tidak
di bacakan celita cama, dad Div!”
“Baiklah, princess dad yang paling
cantik, ayo sekarang biar Dad yang bacakan dongen untuk princess ya!” ucap pria
itu sambil tidur di samping putri kecilnya itu, menutup tubuh kecil putrinya
dengan selimut tebal bermotif frozen.
"Iyya mau daddy ceritakan
tentang apa?"
"Iyya mau celita tentang putli
calju!"
"Baiklah ....!"
Akhirnya pria itu pun menceritakan
kisah tentang putri salju menemukan pangerannya. Hingga tanpa terasa ia iku
tertidur di samping putri kecilnya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1