
Mobil mereka sudah mulai berjalan, jalannya tidka terlalu ramai mungkin karena bukan jadwalnya orang-orang berangkat atau pulang kerja.
Sepanjang jalan, Div sibuk membujuk sang istri, ia menempelkan dagunya di bahu Ersya dan sesekali menciumnya.
"Sudah dong ngambeknya, aku kan tadi cuma becanda!"
Ersya sebenarnya ingin tertawa, tapi masih sangat ia tahan. Ia ingin melihat seberapa besar usaha sang suami untuk meluluhkan hatinya.
"Nggak gitu lagi deh, gini deh! Kamu mau apa agar mau maafin aku?"
Pertanyaan itu yang sedari tadi ia tunggu, seperti ada lampu menyala di atas otaknya.
Ersya perlahan membalik badannya dan menatap suaminya, suaminya itu masih terus mengeratkan lengan kekarnya di pinggang Ersya.
"Yakin nih apa saja?" Div menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ersya.
"Baiklah, karena aku baik, jadi aku mau makan_!"
"Jangan aneh-aneh deh!" Div sudah langsung bisa menebaknya. Ia langsung menarik tangannya dan melipatkan di depan dada, lebih baik ngambek dari pada minta yang aneh-aneh.
"Kok gitu sih, tadi katanya iya, aku minta apa aja boleh!"
"Sudah berubah pikiran!"
"Curang!" Ersya kembali membuang muka kesal. Ia benar-benar tidak berhasil membujuk suaminya.
Emak sama anak sama, posesif banget ...., bunda Ratih, turunkan titahmu ...
Ersya hanya bisa mengingat beberapa aturan yang di berikan oleh nyonya Ratih padanya dan suaminya benar-benar melakukannya tanpa ada kurangnya.
Hingga akhirnya mereka pun sampai juga di rumah. Sekretaris Revan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Ersya dan Div.
"Silahkan pak!"
Div menoleh ke arah istrinya, "Masih mau ngambek aja, yakin nggak ingin cepat ketemu sama Divia?"
Mendengar pertanyaan Div, Ersya pun perlahan menoleh ke suaminya. Div segera turun dan mengulurkan tangannya membantu Ersya untuk turun.
Ersya yang tadi ngambek tiba-tiba tersenyum senang bisa menghirup udara rumahnya.
"Akhirnya mas!"
"Seneng banget!"
Beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan mereka.
"Pak, ada sesuatu yang belum saya katakan sama bapak!" sekretaris revan tampak bingung untuk mengatakannya.
"Nanti saja, sekalian ambil berkas di ruang kerjaku!"
"Tapi_!"
Div tidak mempedulikan ucapan sekretaris Revan, ia memilih untuk menggandeng tangan Ersya. Div dan Ersya berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Rasanya lamaaaa banget nggak di rumah!" Ersya benar-benar bersyukur bisa kembali ke rumah yang sudah memberinya cinta yang utuh. Walaupun masih satu tahun menikah, tapi Ersya merasa memang ini rumahnya, rumah yang ada kebahagiaan di dalamnya bukan hanya sekedar hunian.
tuk tuk tuk
Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai membuat langkah Div dan Ersya terhenti, awalnya mereka mengira jika itu hanya nyonya Aruni tapi saat mereka menoleh ke sumber suara, ternyata ada wanita lain.
"Ellen?" Div begitu terkejut.
"Selamat datang Div, Ersya!"
"Nona Ellen kenapa di sini?" Ersya juga lebih terkejut.
Div pun kemudian menoleh pada sekretaris Revan, tidak biasanya sekretaris Revan menyembunyikan sesuatu darinya. Tidak ada yang mengatakan apapun darinya,
"Itu yang sedari tadi ingin aku katakan sama pak Div!"
Hehhhh ....
Div benar-benar tidak suka yang seperti ini,
"Kita pergi!" Div menarik kembali tangan Ersya, mengajaknya untuk pergi saja. Masalah rumah, ia masih punya apartemen dan juga hotel, tidak masalah baginya tinggal di manapun.
Tapi Ersya menahan tangan Div, "Enggak!"
"Kenapa?"
"Ini rumah ku, rumah kita! Tidak bisa dong kita pergi dari rumah. Nona Ellen hanya tamu di sini dan aku nyonyanya!"
Div membenarkan apa yang dikatakan oleh Ersya, tapi ia tidak mungkin membiarkan orang lain menyakiti istrinya. Sudah cukup sang mama yang menyusahkan istrinya, tidak lagi di tambah Ellen.
Nyonya Aruni pun berjalan mendekati putranya,
"Div, kasihan Ellen! Dia sakit, dia juga tidak berani mengatakan sama papanya, kalau sampai dia bilang yang sebenarnya sama papanya, bukankah kamu yang kena?" nyonya Aruni terus membujuk Div agar mengijinkan Ellen tinggal di rumah itu.
"Mama benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya mengambil keputusan sendiri tanpa tanya sama Ersya, boleh atau tidak!"
"Memang dia siapa?"
"Ersya istriku ma, dia nyonya di rumah ini!"
Ellen pun langsung memasang wajah sedih dan tersakiti, ia berjalan mendekati Ersya dan Div.
"Maafkan aku jika kedatanganku ternyata sangat menyusahkan kalian, aku benar-benar minta maaf! Kalau kalian keberatan aku akan pergi dari sini!"
Ellen pun hendak beranjak, tapi tiba-tiba ia memegangi perutnya.
"Aughhhhh!" tubuhnya limbung, untung tangan kekar Div berhasil menangkap tubuhnya hingga tidak sampai jatuh ke lantai.
"Ellen, kamu tidak pa pa?" Div jadi merasa khawatir dengan wanita itu.
"Tidak pa pa, ini sudah biasa!"
Dasar muka dua, Ersya melihatnya kesal. Apalagi suaminya mulai terpancing dengan sandiwara Ellen.
__ADS_1
Ini tidak bisa di biarkan, gue harus melakukan sesuatu! Bukan jamannya langsung pukul mundur, gue harus susun strategi!
"Nggak pa pa mas, nona Ellen tinggal di sini sementara waktu sampai pengobatannya selesai!"
Ellen menoleh ke arah nyonya Aruni, terlihat ada senyum tipis di sana. Ersya tahu walaupun tidak jelas, wanita itu bukan kesakitan tapi tersenyum.
Lo salah cari lawan, kadal kok di kadalin, kadal lokal lebih licik ...
"Kamu yakin?" Div masih ragu, sebenarnya masih ada pilihan lain selain membiarkan Ellen tinggal di rumah mereka, ia bisa mengirim Ellen di vila miliknya bersama sang mama dan mengirim dokter juga untuk menjaga Ellen satu kali dua puluh empat jam.
"Iya mas!" Ersya mengerlingkan matanya dengan begitu yakin. Kalau istrinya saat ini tidak sedang hamil mungkin ia tidak akan secemas ini, tapi ini keadaannya lain. Ia bisa percaya dengan istrinya tapi tidak dengan dua orang yang sekarang ada di hadapannya.
"Mas, tidak pa pa!"
"Baiklah aku setuju!"
Ersya tersenyum saat melihat dari arah lain, Divia berlari menghampiri mereka.
"Mom's!"
"Iyya!"
Div langsung menahan tubuh Divia saat sudah hampir memeluk mom's nya dan langsung mendapat tatapan protes dari keduanya.
"Ada apa sih dad?"
"Jangan keras-keras peluknya, ada dedek bayi!"
Issstttttt
Ersya dan Divia begitu kompak, mereka pun mengabaikan sang Daddy dan kembali berpelukan.
"Ya sudah kalian ke kamar dulu, Daddy mau bicara sama Oma dulu!"
"Baik Dad!"
Divia mengajak Ersya untuk meninggalkan mereka, tapi mata Div benar-benar tidak bisa lepas dari pengawasannya terhadap sang istri.
"Pelang saja jalannya!"
Ersya dan Divia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kembali pada Div.
Setelah memastikan jika Ersya dan Divia masuk ke dalam kamar, kini Div kembali fokus pada Ellen dan nyonya Aruni.
"Saya mengijinkan kalian tinggal di sini karena Ersya, dia pemilik rumah ini sekarang bukan saya atau mama! Jadi jika nanti terjadi apa-apa sama Ersya karena kalian, makan jangan salahkan saya kalau saya akan berbuat lebih pada kalian!"
...Saat seorang pria menikah, maka nyonya di rumahnya bukan lagi sang ibu, tapi sang istri. Dalam satu rumah hanya boleh ada satu nyonya rumah yang mengatur semua keperluan rumah dan itu sang istri...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...