Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Sahabat terbaik


__ADS_3

Ersya memilih beberapa daging yang berkualitas.


"Ersya!"


Seseorang memanggilnya membuatnya menolehkan kepalanya.


"Fe ...., Ngapain?" tanya Ersya pada wanita yang tengah hamil itu.


"Lagi cari baju!"


"Fe gue serius!"


Lalu Ersya menoleh pada putri kecilnya, "Sayang, sama tante Fe!"


"Celamat ciang tante! Tante hamil ya?" tanya Divia sambil menunjuk perut Felic yang belum terlalu besar itu.


Felic pun tersenyum dan menunduk mengusap pipi Divia,


"Iya sayang, apa Iyya mau pegang?"


"Iya, Iyya mau pegang!" ucap nya dengan begitu bersemangat.


"Pegangnya pelan aja ya sayang!" ucap Ersya memperingatkan.


"Iya mom!"


Divia pun mengusap perut Felic, sesekali menempelkan telinganya pada perut itu,


"Apa adek bayi nya bica menangis di dalam?"


Ersya maupun Felic tertawa mendengar pertanyaan polos Divia.


"Belum sayang!"


Divia pun kembali mengusap perut Felic lalu beralih pada perut rata Ersya,


"Ada apa sayang?" tanya Ersya.


"Mom nanti peyut mom juga akan becal cepelti peyut tante Felic kan?"


Ersya dan Felic saling berpandangan. Wajah Ersya seketika mencelus, ia juga ingin perutnya bisa besar seperti perut Felic, tapi ia begitu takut menerima kenyataan jika mungkin dia tidak akan pernah bisa mengabulkan permintaan Divia.


Felic sepertinya tahu arti tatapan Ersya, ia pun menunduk mengusap pipi Divia,


"Iyya sayang, bagaimana kalau sekarang kita beli es krim, tante haus banget!"


"Tapi Iyya belum celecai belanjanya!" ucap Divia sambil menatap mommy nya.


"Nggak pa pa sayang, mom sudah selesai! Iyya ikut sama tante Fe dulu ya, biar mom memilih beberapa sayur lagi dan menyusul kalian!"


"Baik mom!"


Felic pun mengajak Divia pergi ke kedai es krim yang ada di depan super market itu.


Ersya masih terdiam di tempatnya, tapi sudah matanya yang kering tiba-tiba berair. Hatinya terlalu perih saat di ingatkan tentang anak.


Hiks hiks hiks ...


Ia beberapa kali memukul dadanya yang sesak, mencoba mengendalikan emosinya. Ia berusaha keras untuk menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. Untung di lorong itu sepi hanya ada dirinya jadi dia bisa menangis sepuasnya.


Setelah puas menangis, Ersya pun segera mengusap air matanya dengan tissue yang ia ambil dari tasnya dan menggerak-gerakkan bibirnya agar bisa kembali tersenyum dengan natural. Ia tidak mau sampai Divia tahu kalai dia baru saja menangis.

__ADS_1


Ersya segera berjalan menuju ke kasir, membiarkan petugas kasir itu menghitung barang-barang belanjaannya.


"Semua lima ratus ribu nyonya!"


"Baiklah, sebentar ya!"


Ersya mengeluarkan dompet nya, hampir saja menyerahkan kartu gajinya tapi segera ia urungkan. Ia teringat betapa marahnya pria itu saat ia menggunakan uang gajinya.


Ini saja lah ....


Ia mengeluarkan kartu yang harus di gunakan untuk kebutuhan dirinya dan Divia. Petugas kasir pun menggesekkan kartu itu pada mesin.


Setelah selesai dengan urusan pembayaran, sopir yang mengantarnya sudah stand by membawakan barang-barang belanjaannya ke dalam mobil.


"Saya ke kedai es krim dulu ya pak!"


"Baik nyonya!"


Ersya segera menyusul Divia dan Felic. Ia duduk di kursi yang masih kosong itu,


"Mom kenapa lama cekali?"


"Maaf ya sayang tadi antriannya lama! Gimana, mana es krim mom?"


"Kata tante Fe, nanti caja kalau mom kembali!"


"Baiklah, ini uang nya dan Iyya bisa memesankan untuk mom!" ucap Ersya sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.


"Ciap mom!"


Divia segera turun dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke penjual es krim.


Ersya menoleh pada sahabatnya itu dan tersenyum tipis, "Nggak pa pa Fe!"


"Jangan sudah harus memeriksakan diri Sya, siapa tahu yang di katakan orang-orang itu salah Sya!"


"Kalau benar?"


"Kita tidak akan tahu sebelum memeriksakannya Sya!"


"Gue belum sanggup menerima semua kenyataannya Fe, gue terlalu takut!"


Felic menggenggam tangan sahabatnya itu, ia berusaha untuk menguatkan sahabatnya dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja,


"Sya ..., gue cuma mau lo bungkam semua mulut orang-orang yang udah jahat banget sama lo!"


Hehhhhhh


Ersya menghela nafasnya yang begitu berat, seakan-akan ia ingin mengeluarkan semua kegundahannya itu.


"Terimakasih ya Fe, lo udah selalu ada buat gue!"


"Sama-sama Sya! Lo juga baik banget sama gue!" ucap Felic lalu ia melanjutkannya kembali,


"Oh iya Sya, gue kemarin lihat lo di infotainment. Emang benar rumah lo di hancurin?"


"Iya Fe, gue gedek banget rasanya sama tuh orang!"


"Siapa? Rizal apa pak Div?"


"Div! Lo tahu kan dia udah buang-buang uang tiga ratus juga! Dia kira daun kali tiga ratus juta!"

__ADS_1


Felic hanya tersenyum, dia saja yang sudah satu tahun menikah juga belum tahu dengan jalan pikiran para pria itu.


"Mom ...., ini es krimnya!" kedatangan Divia menghentikan percakapan mereka.


"Terimakasih sayang!"


"Cama-cama mom!"


Setelah menyerahkan satu cup es krim kepada mommy nya, Divia pun kembali duduk.


"Oh iya Fe, lo sendirian?"


Felic menggelengkan kepalanya,"Enggak gue sama Wilson!"


"Trus Wilson nya di mana sekarang?"


"Belanja!"


"Kok dia yang belanja sih?"


"Kan Lo tahu gue nggak bisa masak! Mana tahu bahan masakan!?"


"Makanya belajar masak, udah mau jadi ibu juga!"


"Tante Fe nggak bica macak ya?" tanya Divia yang ternyata memperhatikan pembicaraan mereka.


"Iya sayang!" jawab Felic.


"Padahal daddy Iyya cenang banget cama macakan mom!"


"Benarkan?" tanya Felic sambil tersenyum pada sahabatnya itu. Ia begitu senang mendengar hal itu, setidaknya ada alasan kenapa Ersya harus bertahan.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, Felic pun berpamitan untuk pulang dulu. Ia tidak bisa lama-lama pergi dari rumah karena suaminya memintanya untuk cepat pulang.


Kini mereka sudah kembali berada di dalam mobil dan perjalanan pulang.


"Mom!"


"Iya?"


"Tante Felic baik ya mom!?"


"Iya sayang, tante Felic itu sahabat mom sejak kecil, dia baik banget sama mom. Nanti mom juga mau Iyya punya sahabat yang sebaik Tante Felic yang tidak hanya mendukung Iyya saat senang saja tapi saay Iyya susah juga!"


"Iya ...., Iyya mau yang cepelti tante Felic!" ucap Divia sambil mendongakkan kepalanya hingga rambut nya yang di kuncir memanjang ke belakang.


"Mom doakan yang terbaik buat kamu!"


Ersya mengecup kening putri kecilnya itu.


Setelah sepuluh menit akhirnya mereka sampai juga di rumah, setelah menemani Divia tidur siang, Ersya pun segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2