
Bukannya menanggapi dengan
serius ucapan Ersya, pria itu malah tersenyum dan menatap ke arah Ersya yang
menggebu-gebu.
“Ya kita nikah!”
Seakan perkara nikah
adalah permainan anak perempuan yang hari ini nikah dan besok bertengkar lalu
ganti pasangan.
“Pernikahan bukan
permainan boneka Barbie Iyya, kamu seharusnya tahu itu, usiamu tidak muda lagi.
Bahkan usiamu hampir kepala empat masih juga suka main-main!”
Rasanya ingin sekali
mengeluarkan jurusnya dan membuat pria itu babak belur olehnya, tapi sepertinya
Ersya begitu menahannya agar tidak kelepasan dan tidak terjadi pertumpahan
darah.
Kedua tangan Ersya
sudah mengepal sempurna, ingin sekali menonjok hidung mancungnya. Walaupun usia
mereka bertaut hampir sepuluh tahun tapi wajah baby face Div membuatnya tampak
lebih muda bahkan jika di bandingkan Agra, wajah Div terlihat lebih muda.
He …., hehhhhhh
Div menghela nafas, ia
bangun dari duduknya dan menghampiri Ersya yang berdiri. Ia berjalan mengitari Ersya yang masih berdiri tenang di tempatnya.
“Bukankah seharusnya
kau senang karena bisa menikah denganku? Kamu bisa menjadi nyonya Pradivta, dan
menjadi nyonya rumah ini!” ucap Div dan langkahnya berhenti saat ia tepat berada di depan Ersya. Begitu dekat, hanya sekitar lima senti saja jarak
mereka, saat Ersya hendak mundur, Div dengan sigap menahan pinggangnya, lengan
kekarnya sekarang sudah melingkar di pinggang ramping Ersya. Sekarang tidak ada
jarak lagi.
“lepaskan!” ucap Ersya
dengan penuh penekanan.
“Kalau tidak saya
lepaskan?”
“Jangan membuatku marah
ya!” ancam Ersya.
“Bukankah sedari tadi
kamu sudah marah?” ucap Div dengan senyum smirt nya. Ia sengaja ingin memancing
kemarahan Ersya. Ingin melihat sejauh mana wanita itu bisa marah.
“Jangan di pikir dengan
melakukan ini aku bisa luluh ya!”
“bukankah seharusnya kamu senang karena kita bisa melanjutkan rencana kita, kamu terbebas dari manta suami kamu itu dan aku, sebenarnya ini tidak begitu penting untukku.
Jika sampai pernikahan ini tidak segera terlaksana, pasti nanti kamu yang akan
menjadi bulan-bulanan para pencari berita, sedangkan aku hanya akan duduk manis
dan menyaksikan!”
“kenapa bisa seperti
itu?”
“Yah itulah hidup, aku
punya banyak pengawal. Jika aku tidak suka aku bisa memerintahkan pengawalku
untuk mengusir mereka, itu perkara yang sangat mudah buka! Kalau kamu …?”
“kenapa kamu malah
menyudutkan aku?”
“Aku bukan menyudutkan,
aku hanya sedang mencari solusi terbaik. Lagi pula apa bedanya kita menikah
atau tidak, kehidupan kita akan tetap seperti ini. Lagian aku juga tidak butuh anak dari kamu dan kamu juga membutuhkan Iyya sebagai anak yang menghibur kesendirianmu
kan? Bukankah itu impas?”
Ersya terdiam, ia
seperti sedang memikirkan sesuatu. Menikah begitu cepat membuatnya cukup sulit.
__ADS_1
Apalagi dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai. Jika yang mencintai saja
bisa berhianat apalagi yang tanpa cinta.
Srekkkkk
Tiba-tiba Div
mengeratkan kembali pelukannya hingga membuat jarak merak semakin terkikis. Bahkan kini Ersya bisa merasakan nafas yang menyapu wajahnya.
“Apa apaan nih?” Ersya
terlihat begitu panik, ia berusaha keras untuk melepaskan pelukan Div tapi percuma, sekuat apapun dia tetap saja tidak bisa mengalahkan tenaga seorang
pria.
“Apa mau tes Drive dulu?”
tanya Div membuat Ersya mengerutkan keningnya padahal bibir Div sudah begitu
dekat dengan bibirnya.
“Maksudnya?”
“Kita bisa mencobanya
sekarang, punyaku masih siap untuk di ajak perang!”
Sekarang Ersya tahu apa
yang di maksud, membuatnya bergidik ngeri.
Jlekkkkk
“Aughhhh …!”
Ersya menginjak kaki
Div dengan begitu keras hingga membuat Div melepaskan pelukannya dan beralih
memegangi kakinya yang telanjang begitu nyeri karena injakan dari Ersya.
Ersya tersenyum puas,
“Gila nih anak, sakit
tahu …!” keluh div sambil mencari tempat duduk, ia benar-benar kesakitan
gara-gara ulah Ersya. Kaki Ersya masih memakai sandal tinggi, walaupun
kelihatanya ringan tapi jika mengenai kaki telanjang tetap saja sakitnya kerasa.
“Rasain …, makanya
jangan macam-macam sama gue! Enak aja mau tes drive tes drive, emang gue mobil
apa yang bisa di coba trus di tinggalkan saat nggak cocok, nggak semudah itu
menang lotre.
“Dasar korban
telenovela …!”
“Biarin dari pada kamu,
korban perasaan!”
“Terserah lah, intinya
kamu harus setuju menikah minggu depan!”
“Yahhh yahhhh …., kok
maksa sih!?” ucap Ersya yang ikutan duduk.
“Nggak usah duduk
deket-deket, ketiban sial deket sama kamu!” ucap Div dan berhasil membuat Ersya
kembali berdiri.
Issstttt ….., Ersya
hanya bisa menyebirkan bibirnya menatap Div. ia kesal sekaligus pengen ketawa,
ternyata wajah pria itu tidak kalah menggemaskannya di bandingkan dengan Iyya. Mungkin
Iyya nurun dari bapaknya.
“Deket sama gue katanya
ketiban sial, tapi mau nikahnya sama gue, dasar plin plan!”
Div segera menguasai
sofa nya, menselonjorkan kakinya yang ngilu dan merentangkan tangannya agar
Ersya lebih menjauh lagi.
“Nikah nggak harus
deket-deket, jadi tetap di jarak aman, sudah saya bilang kan jarak amannya
berapa?!”
Padahal gue udah nglanggar banyak banget …, nggak nyadar aja dia ….
“Aku sadar kamu banyak
__ADS_1
melanggar, Cuma memang dasarnya aja aku orang baik jadi nggak aku permasalahin!”
“Baik…, bilang-bilang,
ilang tuh kebaikannya!” gumam Ersya.
“Udah kan, nggak perlu
ada yang di debatin lagi! Pergi sana ke kamar kamu!”
Issst ….,Ersya segera
keluar dari kamar itu dengan kesal. Ia menutup pintu itu dengan begitu keras
hingga membuat si pemilik kamar terkejut.
“Kasar banget jadi
cewek!” gumam Div.
Ersya segera masuk ke
dalam kamarnya, ia terus mondar-mandir di lama kamarnya. Alamat mala mini Ersya tidak bisa tidur, bagaimana dia akan tidur jika kasusnya di pernikahan pertamanya
saja belum selesai dan sekarang tiba-tiba sudah mau di hadapkan dengan
pernikahan selanjutnya lagi.
“Ya Allah …, punya
kesalahan apa gue di masa lalu …! Papa …., mama …., Ersya harus apa sekarang?”
Ia menjatuhkan tubuhnya
di atas tempat tidur, bingung harus melakukan apa. Banyak sekali yang harus ia
urus dan sekarang di tambah pernikahan tiba-tibanya.
“Felic …., iya …,
mungkin Fe punya saran!”
Ersya pun kembali
bangun, ia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan.
^^^Fe udah tidur belum?^^^
Udah …, kenapa?
^^^Udah kok bisa balas^^^
^^^pesan sih?^^^
Kebangun gara-gara
pesan dari lo, ada apa?
^^^Gue bingung Fe^^^
Kalau bingung coba
putar baju lo
^^^Memang kenapa baju gue?^^^
Siapa tahu kebalik
^^^Fe …, gue serius ya,^^^
^^^jangan di ajak becanda^^^
Iya iya gue juga
serius, ada apa?
^^^Tiba-tiba Div^^^
^^^mengumumkan pernihan Fe, minggu depan lagi, gua kudu gimana?^^^
Kalau menurut lo itu
terbaik ya nikah aja nggak pa pa Sya, lagi pula lo juga jadi punya hak sama Divia
^^^Gitu ya Fe?^^^
Iya kalau menurut gue,
jadi lo punya alasan buat sayang sama Divia
^^^Makasih ya Fe sarannya,^^^
^^^udah lo tidur lagi aja^^^
Nggak bisa tidur
gara-gara lo
Akhirnya saling balsa
pesan itu uterus berlanjut hingga mereka saling tertidur sendiri-sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰