Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Ya kita nikah!


__ADS_3

Bukannya menanggapi dengan


serius ucapan Ersya, pria itu malah tersenyum dan menatap ke arah Ersya yang


menggebu-gebu.


“Ya kita nikah!”


Seakan perkara nikah


adalah permainan anak perempuan yang hari ini nikah dan besok bertengkar lalu


ganti pasangan.


“Pernikahan bukan


permainan boneka Barbie Iyya, kamu seharusnya tahu itu, usiamu tidak muda lagi.


Bahkan usiamu hampir kepala empat masih juga suka main-main!”


Rasanya ingin sekali


mengeluarkan jurusnya dan membuat pria itu babak belur olehnya, tapi sepertinya


Ersya begitu menahannya agar tidak kelepasan dan tidak terjadi pertumpahan


darah.


Kedua tangan Ersya


sudah mengepal sempurna, ingin sekali menonjok hidung mancungnya. Walaupun usia


mereka bertaut hampir sepuluh tahun tapi wajah baby face Div membuatnya tampak


lebih muda bahkan jika di bandingkan Agra, wajah Div terlihat lebih muda.


He …., hehhhhhh


Div menghela nafas, ia


bangun dari duduknya dan menghampiri Ersya yang berdiri. Ia berjalan mengitari Ersya yang masih berdiri tenang di tempatnya.


“Bukankah seharusnya


kau senang karena bisa menikah denganku? Kamu bisa menjadi nyonya Pradivta, dan


menjadi nyonya rumah ini!” ucap Div dan langkahnya berhenti saat ia tepat berada di depan Ersya. Begitu dekat, hanya sekitar lima senti saja jarak


mereka, saat Ersya hendak mundur, Div dengan sigap menahan pinggangnya, lengan


kekarnya sekarang sudah melingkar di pinggang ramping Ersya. Sekarang tidak ada


jarak lagi.


“lepaskan!” ucap Ersya


dengan penuh penekanan.


“Kalau tidak saya


lepaskan?”


“Jangan membuatku marah


ya!” ancam Ersya.


“Bukankah sedari tadi


kamu sudah marah?” ucap Div dengan senyum smirt nya. Ia sengaja ingin memancing


kemarahan Ersya. Ingin melihat sejauh mana wanita itu bisa marah.


“Jangan di pikir dengan


melakukan ini aku bisa luluh ya!”


“bukankah seharusnya kamu senang karena kita bisa melanjutkan rencana kita, kamu terbebas dari manta suami kamu itu dan aku, sebenarnya ini tidak begitu penting untukku.


Jika sampai pernikahan ini tidak segera terlaksana, pasti nanti kamu yang akan


menjadi bulan-bulanan para pencari berita, sedangkan aku hanya akan duduk manis


dan menyaksikan!”


“kenapa bisa seperti


itu?”


“Yah itulah hidup, aku


punya banyak pengawal. Jika aku tidak suka aku bisa memerintahkan pengawalku


untuk mengusir mereka, itu perkara yang sangat mudah buka! Kalau kamu …?”


“kenapa kamu malah


menyudutkan aku?”


“Aku bukan menyudutkan,


aku hanya sedang mencari solusi terbaik. Lagi pula apa bedanya kita menikah


atau tidak, kehidupan kita akan tetap seperti ini. Lagian aku juga tidak butuh anak dari kamu dan kamu juga membutuhkan Iyya sebagai anak yang menghibur kesendirianmu


kan? Bukankah itu impas?”


Ersya terdiam, ia


seperti sedang memikirkan sesuatu. Menikah begitu cepat membuatnya cukup sulit.

__ADS_1


Apalagi dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai. Jika yang mencintai saja


bisa berhianat apalagi yang tanpa cinta.


Srekkkkk


Tiba-tiba Div


mengeratkan kembali pelukannya hingga membuat jarak merak semakin terkikis. Bahkan kini Ersya bisa merasakan nafas yang menyapu wajahnya.


“Apa apaan nih?” Ersya


terlihat begitu panik, ia berusaha keras untuk melepaskan pelukan Div tapi percuma, sekuat apapun dia tetap saja tidak bisa mengalahkan tenaga seorang


pria.


“Apa mau tes Drive dulu?”


tanya Div membuat Ersya mengerutkan keningnya padahal bibir Div sudah begitu


dekat dengan bibirnya.


“Maksudnya?”


“Kita bisa mencobanya


sekarang, punyaku masih siap untuk di ajak perang!”


Sekarang Ersya tahu apa


yang di maksud, membuatnya bergidik ngeri.


Jlekkkkk


“Aughhhh …!”


Ersya menginjak kaki


Div dengan begitu keras hingga membuat Div melepaskan pelukannya dan beralih


memegangi kakinya yang telanjang begitu nyeri karena injakan dari Ersya.


Ersya tersenyum puas,


“Gila nih anak, sakit


tahu …!” keluh div sambil mencari tempat duduk, ia benar-benar kesakitan


gara-gara ulah Ersya. Kaki Ersya masih memakai sandal tinggi, walaupun


kelihatanya ringan tapi jika mengenai kaki telanjang tetap saja sakitnya kerasa.


“Rasain …, makanya


jangan macam-macam sama gue! Enak aja mau tes drive tes drive, emang gue mobil


apa yang bisa di coba trus di tinggalkan saat nggak cocok, nggak semudah itu


menang lotre.


“Dasar korban


telenovela …!”


“Biarin dari pada kamu,


korban perasaan!”


“Terserah lah, intinya


kamu harus setuju menikah minggu depan!”


“Yahhh yahhhh …., kok


maksa sih!?” ucap Ersya yang ikutan duduk.


“Nggak usah duduk


deket-deket, ketiban sial deket sama kamu!” ucap Div dan berhasil membuat Ersya


kembali berdiri.


Issstttt ….., Ersya


hanya bisa menyebirkan bibirnya menatap Div. ia kesal sekaligus pengen ketawa,


ternyata wajah pria itu tidak kalah menggemaskannya di bandingkan dengan Iyya. Mungkin


Iyya nurun dari bapaknya.


“Deket sama gue katanya


ketiban sial, tapi mau nikahnya sama gue, dasar plin plan!”


Div segera menguasai


sofa nya, menselonjorkan kakinya yang ngilu dan merentangkan tangannya agar


Ersya lebih menjauh lagi.


“Nikah nggak harus


deket-deket, jadi tetap di jarak aman, sudah saya bilang kan jarak amannya


berapa?!”


Padahal gue udah nglanggar banyak banget …, nggak nyadar aja dia ….


“Aku sadar kamu banyak

__ADS_1


melanggar, Cuma memang dasarnya aja aku orang baik jadi nggak aku permasalahin!”


“Baik…, bilang-bilang,


ilang tuh kebaikannya!” gumam Ersya.


“Udah kan, nggak perlu


ada yang di debatin lagi! Pergi sana ke kamar kamu!”


Issst ….,Ersya segera


keluar dari kamar itu dengan kesal. Ia menutup pintu itu dengan begitu keras


hingga membuat si pemilik kamar terkejut.


“Kasar banget jadi


cewek!” gumam Div.


Ersya segera masuk ke


dalam kamarnya, ia terus mondar-mandir di lama kamarnya. Alamat mala mini Ersya tidak bisa tidur, bagaimana dia akan tidur jika kasusnya di pernikahan pertamanya


saja belum selesai dan sekarang tiba-tiba sudah mau di hadapkan dengan


pernikahan selanjutnya lagi.


“Ya Allah …, punya


kesalahan apa gue di masa lalu …! Papa …., mama …., Ersya harus apa sekarang?”


Ia menjatuhkan tubuhnya


di atas tempat tidur, bingung harus melakukan apa. Banyak sekali yang harus ia


urus dan sekarang di tambah pernikahan tiba-tibanya.


“Felic …., iya …,


mungkin Fe punya saran!”


Ersya pun kembali


bangun, ia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan.


^^^Fe udah tidur belum?^^^


Udah …, kenapa?


^^^Udah kok bisa balas^^^


^^^pesan sih?^^^


Kebangun gara-gara


pesan dari lo, ada apa?


^^^Gue bingung Fe^^^


Kalau bingung coba


putar baju lo


^^^Memang kenapa baju gue?^^^


Siapa tahu kebalik


^^^Fe …, gue serius ya,^^^


^^^jangan di ajak becanda^^^


Iya iya gue juga


serius, ada apa?


^^^Tiba-tiba Div^^^


^^^mengumumkan pernihan Fe, minggu depan lagi, gua kudu gimana?^^^


Kalau menurut lo itu


terbaik ya nikah aja nggak pa pa Sya, lagi pula lo juga jadi punya hak sama Divia


^^^Gitu ya Fe?^^^


Iya kalau menurut gue,


jadi lo punya alasan buat sayang sama Divia


^^^Makasih ya Fe sarannya,^^^


^^^udah lo tidur lagi aja^^^


Nggak bisa tidur


gara-gara lo


Akhirnya saling balsa


pesan itu uterus berlanjut hingga mereka saling tertidur sendiri-sendiri.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2