
Hari ini adalah hari persidangan keputusan, setelah hari ini Ersya resmi menyandang status sebagai janda tanpa anak. Sedikit menyedihkan memang kedengarannya tapi siapa yang tidak mengenal Ersya, wanita itu tetap dengan senyum tipisnya.
Ketegarannya bahkan mengalahkan kerasnya batu karang, ombak yang datang dan mendorongnya
tidak akan mampu merobohkannya.
“Aku bukan orang yang kuat, tapi aku sedang berusaha untuk menjadi wanita kuat. Terlalu lemah membuatku terlihat bodoh!”
Langkah sepatu Ersya yang berbentur dengan lantai menimbulkan suara yang menggema di
lorong masuk gedung persidangan, bahkan setiap orang bisa melihat tidak ada
keraguan di langkah kaki nya.
Tapi siapa tahu beberapa meter ke depan langkahnya melambat saat matanya melihat
langkah lain pria yang pernah mencintainya selama sepuluh tahun. Yang membuatnya melemah adalah wanita yang bersamanya, tangan mereka seperti
perangko.
“Aku kira kamu tidak punya keberanian untuk datang!” ucap Rizal yang juga menghentikan
langkahnya saat mereka berada di jarak hanya satu meter saja dan tepat di depan pintu masuk persidangan.
“Aku pasti datang, aku juga tidak sabar untuk sampai di posisi ini!” ucap Ersya
dengan begitu tegasnya.
Ersya pun meninggalkan mereka begitu saja, ia memasuki ruang sidah. Semuanya sudah
menunggu kedatangan mereka untuk melakukan tanda tangan.
Sidang sudah berlangsung beberapa kali dan waktu yang cukup panjang. Dan sudah cukup
untuk membuat hati seorang istri terluka begitu dalam.
***
Rangga tahu sekarang alasan kenapa saat itu Ersya hampir saja tertabrak mobil saat pria yang sudah menikahi temannya selama hampir empat tahun itu mengumumkan status barunya dan juga membawa seseorang untuk di kenalkan dengan keluarga
besarnya.
“Mas Rizal, saya ingin bicara!” ucap Rangga pada pria yang berstatus sepupunya itu.
Awalnya ia tidak tahu jika Ersya ternyata adalah istri dari sepupunya Karen ia sudah lama di luar negri untuk menempuh pendidikan, saat ia tahu ternyata hubungan itu telah hancur. Dan yang paling membuat Rangga begitu menyesal adalah sepupunya sendiri yang membuat gara-gara dalam pernikahan mereka.
Kini Rangga dan Rizal pun sudah berada di balkon, meninggalkan keluarga besarnya. Pertemuan keluarga besar seperti ini sudah sangat biasa di lakukan dua bulan sekali.
“Ada apa?” tanya Rizal.
‘Mas Rizal serius cerai sama Ersya?”
__ADS_1
‘Kenapa? Apa kau mau memacarinya?”
“Mas Rizal ini bicara apa! Jangan ngaco mas!”
“Aku tahu kamu dekat dengan mantan istriku itu, beberapa kali aku sempat melihat
kalian berdekatan, kalian juga terlihat akrab, atau memang jangan-jangan kalian
punya hubungan yang special!”
“Cukup mas Rizal, saya di sini bukan mau cari ribut ya mas! Jangan suka melimpahkan kesalahan kepada orang lain! aku sama Ersya itu berteman sejak SMP, mas Rizal juga tahu hal itu! Seharusnya kata-kata itu mengarah pada mas Rizal, dengan membawa gadis itu ke sini, sama artinya mas Rizal membuktikan pada semua orang jika mas Rizal lah yang salah dalam hal ini …!”
“Saya menikah bukan cuma buat kesenangan, kalau kita nikah tapi tidak punya-punya anak buat apa pernikahan di lanjutkan!”
“Itu hanya alasan klise saja buat mas Rizal! Sudah lah mas jika ingin mengakhirinya, akhiri saja dnegan baik-baik, jangan membuat orang yang pernah kita cintai itu buruk di mata orang lain!”
“Terserah kamu saja!”
Rizal pun mengambil sesuatu di saku jasnya, sebuah undangan,
“Aku titip ini untuk Ersya dan Felic!”
Rangga tampak begitu terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini, bisa-bisanya sepupunya itu benar-benar tidak punya hati seperti itu. Jelas-jelas di dalam
undangan itu tertera sebuah nama yang bisa membuat wanita yang telah di tinggalkannya itu akan sangat terluka. Mana sanggup ia menyerahkannya.
“Kau benar-benar ya …!”
“Terserah tapi ini permintaan Tisya! Semoga kamu menghargai keputusanku!”
undangan pertunangan, kau ini manusia atau apa sih mas!”
“Terserah apa yang ingin kau katakan, tapi ini sudah bulat keputusanku!”
Rizal pun meninggalkan Rangga begitu saja, Rangga masih begitu kesal dengan beberapa
kali memukul pagar pembatas balkon itu.
***
Hari ini Rangga harus menemui seseorang yang mungkin bisa memberi pertimbangan atas
bisa di sampaikan nya undangan itu atau tidak. Ia tidak mungkin langsung menyerahkannya pada Ersya, tapi untuk menyerahkannya pada Felic tidak mungkin karena semenjak Felic menikah, ia begitu sulit untuk menemuinya, bahkan setelah kejadian waktu
itu saat Felic benar-benar melepaskannya membuatnya menyerah dengan perasaannya.
Ia datang ke rumah sakit tempat suami Felic bekerja. Ia sengaja menunggu pulang kerja agar waktunya tidak terlalu lama.
Tepat saat ia keluar dari mobilnya hendak menuju ke gedung rumah sakit itu, seseorang yang sedang ia tunggu berjalan ke arah parkiran rumah sakit. Rangga pun segera menghampiri pria itu.
“Dokter …!” sapanya membuat langkah pria itu
__ADS_1
terhenti dan berbalik pada Rangga. Rangga dengan cepat berjalan ke arah pria
yang berprofesi sebagai dokter itu.
“Rangga …!” ucap pria itu yang memang sudah
mengenali Rangga. Tapi perkenalan mereka tidak begitu berkesan karena mereka
mencintai wanita yang sama.
“Maaf mengganggumu, bisa kita bicara sebentar!” ucap Rangga kemudian.
“Ada apa?” tanya pria itu karena marak tidak begitu dekat hingga ada yang harus di
bicarakan.
“Sebenarnya saya ada urusan sedikit dengan Felic, mau nyerahin ini saja sekalian nitip sama
Ersya! Dia sulit sekali aku hubungi, dia juga tidak menjawab pesanku!” ucap
Rangga sambil meyerahkan dua lembar undangan pertunangan,
“Baiklah …! Sudah kan?” pria itu terlihat sekali jika tidak menyukai Rangga, bisa di bayangkan bagaimana cemburunya pria itu saat istrinya menemui mantan pacarnya.
“Terimakasih karena bersedia memberikan pada mereka!” ucap Rangga.
“Kenapa yang punya Ersya tidak kamu berikan sendiri? Kenapa harus melalui Felic?!” ucap
pria itu saat menyadari jika pria di depannya itu juga temannya wanita yang bernama Ersya, seharusnya bukan hal yang sulit untuk menyerahkan sendiri.
“Felic yang paling tahu, undangan ini sebenarnya pantas untuk di berikan pada Ersya
atau tidak!”
Rangga pun berdiri dan meninggalkan pria yang berprofesi sebagai dokter masih terbengong
dengan ucapan Rangga, ia kembali menatap undangan itu, bukan undangan pernikahan
tapi undangan pertunangan.
Spesial visual Rangga
Bersambung
...jika ingin mengakhirinya, akhiri saja dnegan baik-baik, jangan membuat orang yang pernah kita cintai itu buruk di mata orang lain...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰