Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
memasak untuk Iyya


__ADS_3

“Bisa-bisanya dia


membuatku marah, dia mau membuatku cemburu dengan datang dengan tuan Divta! Siapa


yang tidak tahu laki-laki itu!”


Gerutu seorang pria di


ruang kerjanya, ia begitu marah hingga ruangan itu hancur berantakan,


berkas-berkas berserakan di lantai.


“Aku harus melakukan


sesuatu untuk memberi pelajaran pada Ersya, dia salah sudah membuatku marah! Memang


dia pikir dia siapa?!”


Pria itu pun segera


menghubungi seseorang melalui ponselnya.


“Hallo!”


“…..”


“Bagaimana perkembangan


tentang pembagian harta gono gini itu?”


“….”


“Jadi saya boleh


mekakukan hal itu?”


“….”


“Baiklah kalukan, aku


mau rumah itu kosong!”


Pria itu pun segera


meletakkan kembali ponselnya saat sambungan telpon telah terputus. Ia tersenyum


penuh arti,merasa puas karena sudah bisa membalas setimpal dengan kekecewaan


yang ia dapat. Tapi ia lupa jika sudah membuat wanita itu jauh lebih kecewa


dari apa yang ia dapat malam itu.


***


Saat Iyya sudah


tertidur, perlahan Ersya melepaskan tangan Iyya yang sedari tadi memegang


tangannya. Ia tidak mungkin ikut tidur walaupun matanya sebenarnya juga begitu


lengket minta di pejamkan. Selama dua hari di rumah sakit ia tidak bisa tidur


dengan pulas apalagi melihat wajah tertekan sahabatnya. Ia tidak enak dnegan


suster dan pelayan yang menungguinya.


“Maaf, aku bingung


harus melakukan apa! Bolehkan saya masak untuk Iyya?” tanya Ersya saat sudah


bisa turun dari tempat tidur dan menghampiri suster dan pelayan itu.


“Boleh nyonya, tapi


makanan nona Iyya tidak boleh sembarang nyonya!”


“Saya akan hati-hati,


boleh ya?”


“Silahkan nyonya!”


Pelayan itu pun


mengantar Ersya hingga ke dapur, ia jiga menunjukkan bahan-bahan makanan apa


saja yang boleh di makan oleh Iyya dan tidak boleh di makan.


Ersya pun membuatkan


makanan sehat untuk Iyya dengan arahan koki khusus yang di peruntukkan melayani


setiap makanan Iyya.


Entah berapa banyak


pelayan di rumah itu, di setiap ruangan ada pelayan yang berbeda. Bahkan pelayan


yang tadi mengantarnya ke dapur sudah menghilang entah ke mana. Ersya harus

__ADS_1


bertemu dengan pelayan lainnya yang bertugas di dapur, terutama koki yang


selalu stanby di dapur selama dua puluh empat jam karena Divta selalu pulang


malam dan tidak jarang minta makan dengan menu yang berbeda-beda, belum lagi


jika pria itu melanjutkan bekerjja di rumah hingga dini hari, bisa sampai dua


kali Divta meminta makan dan itu pun dengan menu yang berbeda. Maka tidak heran


jika di rumah itu saja ada beberapa koki professional dengan sift yang berbeda.


Pelayan yang membantu


pekerjaan koki sibuk untuk menjelaskan semua tentang orang yang tinggal di


rumah utama, walaupun besar tapi rumah utama itu hanya di tinggali oleh dua


orang yaitu putri kecil yang di perlakukan seperti princess dan juga daddy nya.


Tapi jika siang hari,


banyak sekali pelayan yang lalu lalang dengan pekerjaannya masing-masing.


“Trus kaliantidurnya di


mana?” tranya Ersya yang semakin penasaran.


“Kami tidur di rumah


belakang!”


“Jadi di sini ada rumah


belakang?”


“Iya nyonya!”


Semua pelayan di rumah


itu sudah tahu gossip mengenai Ersya dan tuan besarnya itu. Merteka juga


pecinta infotaiment apalagi jika menyangkut bosnya.tidak heran jika orang-orang


di rumah itu begitu menghormati Ersya.


Iyya terbangun saat


Ersya tidak berada di dekatnya, gadis kecil itu mengedarkan pandangannya ke


seluruh penjuru ruang kamarnya tapi yang ia temui hanya encus dan pelayan yang


Encus yang menyadari


jika Iyya bangun, dia pun segera mendekat dan duduk di sampinnya.


“Nona Iyya sudah


bangun!”


Dimana? Tiba-tiba saja


Iyya menangis dan duduk, ia tidak menemukan mom Eca di sampingnya. Hanya seperti


mimpi indah dana akan hilang saat ia terbangun.


“Nona Iyya kenapa


menagis?”


“Iyya mimpi indah


Encus, ia di bacakan dngeng cama mom Iyya! Iyya nyesel bangun …, hiks hiks hiks


…!” gadis kecil it uterus merengek dan memeluk susternya.


Suster itu tersenyum, “Siapa


bilang Cuma mimpi?!”


Ucapan encus berhasil


membuat Iyya melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, ia mendongakkan


kepalanya menantap encus.


“Iyya nggak mimpi?”


“Iya, nona Iyya! Mom nona


Iyya sedang memasak untuk nona Iyya!”


Eketika Iyya tersenyum,


“Benalkah?” dan encus menganggukkan kepalanya dengan begitu pasti.


“Iyya mau cama mom!”


Dengan cepat Iyya turun

__ADS_1


dari atas tempat tidur dan menarik tangan encus. Ia begitu senang hingga ingin


cepat-cepat kembali bertemu dengan momnya.


“Mommm ….!” Panggil Iyya


sambil terus berlari.


Ersya yang sednag


menyiapkan makanan untuk Iyya dan juga Divta makan malam, segera menoleh pada


Iyya yang sednag ebrlari ke arahnya.


“Iyya!”


Sepertinya gadis kecil


itu punya kebiasaan baru, memeluk Ersya setiap kali bertemu dengannya.  Ersya pun segera mengangkat tubuh Iyya dan


mendudukkannya dia ats meja dapur.


“Iyya sudah bangun?”


tanya Ersya dan Iyya pun mengangguk.


‘kenapa cepat sekali


bangunnya?”


“Kalena Iyya pengen


cepat belmain cama mom!”


“Ya sudah kalau gitu


kita bermain sebentar, mandi lalu makan malam, bagaimana?”


“Iyya nanti mau


mandinya di mandiin cama mom!”


“Siap sayang! Tapi janji


dulu, Iyya nggak boleh lari-lari!”


“Mom cama cepelti paman


doktel!” ucap Iyya sambil mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua


tangannya di depan dada.


“Iya dong sayang, mom,


daddy, paman dokter, encus, semua sayang sama Iyya! Iyya sayang kan sama daddy?”


tanya Ersya dan Iyya pun mengangguk.


“Kalau Iyya sayang sama


daddy, berarti Iyya harus nurut sama daddy  dan mom Eca, mengerti?”


“Iya …, tapi mom tidak


akan pergi kan?”


Esya hanya bisa


tersenyum, ia bukan siapa-siapa yang bisa tinggal. Ia hanya sesuatu yang tidak


berada pada tempatnya dan cepat atau lambat harus kembali ke tempatnya.


Ersya kembali melepas


afronnya setelah makannannya sudah siap. Ia mengajak Iyya bermain sebentar lalu


memandikan Iyya.


“Iyya mau main ail cama


mom!”


“Jangan sayang, nanti


baju mom basah, mom Eca kan nggak punya baju ganti di sini!”


“Pakai baju Iyya aja


mom!”


Ersya tertawa mendengar


kepolosan Iyya, “mana bisa seperti itu, mana muat sayang!”


“Tapi badan mom kecil


tidak cepelti punya daddy!”


“Dia kekar sekali ya?”

__ADS_1


tanya Ersya dan dengan semangat Iyya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2