
“Bisa-bisanya dia
membuatku marah, dia mau membuatku cemburu dengan datang dengan tuan Divta! Siapa
yang tidak tahu laki-laki itu!”
Gerutu seorang pria di
ruang kerjanya, ia begitu marah hingga ruangan itu hancur berantakan,
berkas-berkas berserakan di lantai.
“Aku harus melakukan
sesuatu untuk memberi pelajaran pada Ersya, dia salah sudah membuatku marah! Memang
dia pikir dia siapa?!”
Pria itu pun segera
menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Hallo!”
“…..”
“Bagaimana perkembangan
tentang pembagian harta gono gini itu?”
“….”
“Jadi saya boleh
mekakukan hal itu?”
“….”
“Baiklah kalukan, aku
mau rumah itu kosong!”
Pria itu pun segera
meletakkan kembali ponselnya saat sambungan telpon telah terputus. Ia tersenyum
penuh arti,merasa puas karena sudah bisa membalas setimpal dengan kekecewaan
yang ia dapat. Tapi ia lupa jika sudah membuat wanita itu jauh lebih kecewa
dari apa yang ia dapat malam itu.
***
Saat Iyya sudah
tertidur, perlahan Ersya melepaskan tangan Iyya yang sedari tadi memegang
tangannya. Ia tidak mungkin ikut tidur walaupun matanya sebenarnya juga begitu
lengket minta di pejamkan. Selama dua hari di rumah sakit ia tidak bisa tidur
dengan pulas apalagi melihat wajah tertekan sahabatnya. Ia tidak enak dnegan
suster dan pelayan yang menungguinya.
“Maaf, aku bingung
harus melakukan apa! Bolehkan saya masak untuk Iyya?” tanya Ersya saat sudah
bisa turun dari tempat tidur dan menghampiri suster dan pelayan itu.
“Boleh nyonya, tapi
makanan nona Iyya tidak boleh sembarang nyonya!”
“Saya akan hati-hati,
boleh ya?”
“Silahkan nyonya!”
Pelayan itu pun
mengantar Ersya hingga ke dapur, ia jiga menunjukkan bahan-bahan makanan apa
saja yang boleh di makan oleh Iyya dan tidak boleh di makan.
Ersya pun membuatkan
makanan sehat untuk Iyya dengan arahan koki khusus yang di peruntukkan melayani
setiap makanan Iyya.
Entah berapa banyak
pelayan di rumah itu, di setiap ruangan ada pelayan yang berbeda. Bahkan pelayan
yang tadi mengantarnya ke dapur sudah menghilang entah ke mana. Ersya harus
__ADS_1
bertemu dengan pelayan lainnya yang bertugas di dapur, terutama koki yang
selalu stanby di dapur selama dua puluh empat jam karena Divta selalu pulang
malam dan tidak jarang minta makan dengan menu yang berbeda-beda, belum lagi
jika pria itu melanjutkan bekerjja di rumah hingga dini hari, bisa sampai dua
kali Divta meminta makan dan itu pun dengan menu yang berbeda. Maka tidak heran
jika di rumah itu saja ada beberapa koki professional dengan sift yang berbeda.
Pelayan yang membantu
pekerjaan koki sibuk untuk menjelaskan semua tentang orang yang tinggal di
rumah utama, walaupun besar tapi rumah utama itu hanya di tinggali oleh dua
orang yaitu putri kecil yang di perlakukan seperti princess dan juga daddy nya.
Tapi jika siang hari,
banyak sekali pelayan yang lalu lalang dengan pekerjaannya masing-masing.
“Trus kaliantidurnya di
mana?” tranya Ersya yang semakin penasaran.
“Kami tidur di rumah
belakang!”
“Jadi di sini ada rumah
belakang?”
“Iya nyonya!”
Semua pelayan di rumah
itu sudah tahu gossip mengenai Ersya dan tuan besarnya itu. Merteka juga
pecinta infotaiment apalagi jika menyangkut bosnya.tidak heran jika orang-orang
di rumah itu begitu menghormati Ersya.
Iyya terbangun saat
Ersya tidak berada di dekatnya, gadis kecil itu mengedarkan pandangannya ke
seluruh penjuru ruang kamarnya tapi yang ia temui hanya encus dan pelayan yang
Encus yang menyadari
jika Iyya bangun, dia pun segera mendekat dan duduk di sampinnya.
“Nona Iyya sudah
bangun!”
Dimana? Tiba-tiba saja
Iyya menangis dan duduk, ia tidak menemukan mom Eca di sampingnya. Hanya seperti
mimpi indah dana akan hilang saat ia terbangun.
“Nona Iyya kenapa
menagis?”
“Iyya mimpi indah
Encus, ia di bacakan dngeng cama mom Iyya! Iyya nyesel bangun …, hiks hiks hiks
…!” gadis kecil it uterus merengek dan memeluk susternya.
Suster itu tersenyum, “Siapa
bilang Cuma mimpi?!”
Ucapan encus berhasil
membuat Iyya melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, ia mendongakkan
kepalanya menantap encus.
“Iyya nggak mimpi?”
“Iya, nona Iyya! Mom nona
Iyya sedang memasak untuk nona Iyya!”
Eketika Iyya tersenyum,
“Benalkah?” dan encus menganggukkan kepalanya dengan begitu pasti.
“Iyya mau cama mom!”
Dengan cepat Iyya turun
__ADS_1
dari atas tempat tidur dan menarik tangan encus. Ia begitu senang hingga ingin
cepat-cepat kembali bertemu dengan momnya.
“Mommm ….!” Panggil Iyya
sambil terus berlari.
Ersya yang sednag
menyiapkan makanan untuk Iyya dan juga Divta makan malam, segera menoleh pada
Iyya yang sednag ebrlari ke arahnya.
“Iyya!”
Sepertinya gadis kecil
itu punya kebiasaan baru, memeluk Ersya setiap kali bertemu dengannya. Ersya pun segera mengangkat tubuh Iyya dan
mendudukkannya dia ats meja dapur.
“Iyya sudah bangun?”
tanya Ersya dan Iyya pun mengangguk.
‘kenapa cepat sekali
bangunnya?”
“Kalena Iyya pengen
cepat belmain cama mom!”
“Ya sudah kalau gitu
kita bermain sebentar, mandi lalu makan malam, bagaimana?”
“Iyya nanti mau
mandinya di mandiin cama mom!”
“Siap sayang! Tapi janji
dulu, Iyya nggak boleh lari-lari!”
“Mom cama cepelti paman
doktel!” ucap Iyya sambil mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua
tangannya di depan dada.
“Iya dong sayang, mom,
daddy, paman dokter, encus, semua sayang sama Iyya! Iyya sayang kan sama daddy?”
tanya Ersya dan Iyya pun mengangguk.
“Kalau Iyya sayang sama
daddy, berarti Iyya harus nurut sama daddy dan mom Eca, mengerti?”
“Iya …, tapi mom tidak
akan pergi kan?”
Esya hanya bisa
tersenyum, ia bukan siapa-siapa yang bisa tinggal. Ia hanya sesuatu yang tidak
berada pada tempatnya dan cepat atau lambat harus kembali ke tempatnya.
Ersya kembali melepas
afronnya setelah makannannya sudah siap. Ia mengajak Iyya bermain sebentar lalu
memandikan Iyya.
“Iyya mau main ail cama
mom!”
“Jangan sayang, nanti
baju mom basah, mom Eca kan nggak punya baju ganti di sini!”
“Pakai baju Iyya aja
mom!”
Ersya tertawa mendengar
kepolosan Iyya, “mana bisa seperti itu, mana muat sayang!”
“Tapi badan mom kecil
tidak cepelti punya daddy!”
“Dia kekar sekali ya?”
__ADS_1
tanya Ersya dan dengan semangat Iyya menganggukkan kepalanya.