Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Menjenguk Fe di rumah sakit


__ADS_3

“Rangga


!” gumam Felic, ia pun segera meletakkan ponselnya begitu saja. Matanya


langsung tertuju pada pria itu.


Rangga


pun berjalan mendekati Felic, ia berdiri tepat di samping Ersya, “Fe …,


bagaimana keadaanmu?’ tanya Rangga.


“Sudah


lebih baik!”


“Syukurlah


kalau begitu!”


Ersya


yang sedari tadi melihatb suasana yang menjadi tidak begitu enak itu pun


memilih untuk mundur dan membeiarkan metreka untuk bicara,


“Gue


mau lihat-lihat dulu ya …, kalian ngobrol aja, anggap kalau gue nggak ada …!”


ucap Ersya lalu memilih berkeliling ruangan yang sangat luas itu. Bahkan


ruangan itu bukan seprti rumah sakit lebih mirip seperti apartemen mewah atau


hotel berbintang.


“Sya__!”


cegah Felic tapi Ersya menggelengkan kepalanya.


“Gue


cuma di situ!” ucap Ersya sambil menunjuk ruangan lain di ruangan itu. Ia ingin


tahu ada ruang apa saja di dalamnya.


Walaupun


sudah menjauh tapi Ersya masih bisa mendengarkan pembicaraan mereka, ia bisa


mendengar bagaimana Rangga masih sangatb mempedulikan Felic walaupun ia tahu


jika Felic sudah menikah dengan orang lain.


Setelah


cukup lama membiarkan Rangga dan Felic bicara, tiba-tiba pintu kembali terbuka,


seseorang menghampiri mereka.


“Hgrremmmmm


…! Selamat sore!” sapa pria itu, dia adalah suami Felic. Ersya yang melihat


kedatangannya segera bertindak. Ia takut sampai suami sahabatnya itu salah faham


jika dia tidak bersama dengan Felic.


Ersya


pun segera mendekat pada dokter Frans, senyum dokter Frans memang isa


mengalihkan dunia siapapun termasuk Ersya.


“Sore


dokter!” sapa Ersya menyambut sapaan dokter Frans. Dokter Frans


mendekatkanntubuhnya pada Felic dan mencium kening  Felic.


“Frans!”


Felic terlihat begitu terkejut karena tiba-tiba saja suaminya itu menjadi


sangat manis. Ersya pun ikut syok, ia sampai menutup mulutnya yang tidak


sengaja membulat sempurna.


“Bagaimana


keadaanmu sayang?” tanya dokter Frans pada Felic membuat Felic terkejut dengan


ucapan suaminya yang terkesan di buat-buat.


Dokter


Frans beralih menatap Rangga, pria yang pernah di cintai oleh istrinya dan


mungkin masih sangat di cintai, Ersya yang melihat itu segera mencolek


sahabatnya itu yang juga sedang terkejut.


Bakal ada perang dunia nih kayaknya


…, kayaknya nggak tepat deh gue ngajak Rangga ke sini …., batin


Ersya.


“lama


tidak bertemu, Rangga! Bagaimana kabar anda?” tanya dokter Frans dengan nada


formalnya.


“Saya


baik!” jawab Rangga dengan wajah piasnya.


“Tapi

__ADS_1


saya rasa akan lebih baik jika anda tidak terlalu dekat dnegan istri saya!”


ucap dokter Frans.


Rangga


merasa tidak terima dengan ucapan dokter Frans, “Dokter …, atau siapapun kamu,


sebelumnya saya tidak mengenal anda tapi saya begitumengenal Felic lebih dari


anda. Saat ini status Felic memang istri anda tapi bukan berarti anda berhak


atas appun terhadap Felic!”


Melihat


pembicaraan mereka semakin panas, Ersya mun segera menyuruh sahabatnya itu


untuk melerai dua pria yang seang ribut memperebutkan sahabatnya itu.


“Fe


…, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, seperrtinya suasananya menjadi tidak


enak!” ucap Rangga.


Ersya


sebenarnya masih ingin di sana, tapi ia tadi nebeng sama Rangga. Ia harus


bareng rangga agar pulangnya tidak jalan kaki.


“Fe


…, gue ikut Rangga ya, nggak bawa mobil sendiri soalnya!” ucap Ersya, “semoga


cepat sembuh ya!”


Ersya


pun segera mengejar Rangga yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan Felic.


Langkah Rangga terlalu lebar sehingga ia sulit untuk mengimbangi langkahnya.


“Ga


…, Ga …., tunggu!” dengan begitu kesulitan Ersya mengejar langkah Rangga.


Akhirnya Rangga berhenti juga di depan pintu lift.


Ersya


pun berhenti tepat di samping Rangga. “Lo apa apaan sih …, main cabut aja …!”


Rangga


yang terlanjur kesal tidak mempedulikan ocehan Ersya. Ia memilih untuk tetap


diam dan masuk ke dalam lift saat pintu lift erbuka. Ersya pun mengikuti


langkah Rangga.


Mereka


gelap.


“Ga


…, jangan marah aja dong!” ucap Ersya.


“Aku


nggak marah …!”


“Nggak


marah kok diam aja sih?”


“lagi


males bicara aja!”


“Jangan


males dong …!”


“Ihhh


kenapa lo cerewet banget sih!?”


“Udah


dari sononya …, gue lapar!”ucap Ersya sambil memegangi perutnya, “Kitamakan


dulu ya!”


“Kebiasaan


ya kamu ini …!”


Mereka


pun masuk ke dalam mobil, dan mobil pun mulai melaju meninggalkan lapangan


parkir itu dengan di bantu oleh petugas parkir.


Sepanjang


perjalan menuju ke tempat makan, Ersya terus saja mengoceh. Ia memang tidak


punya teman untuk di ajak bicara di rumahnya. Hanya ada dia dan suaminya dan


juga asisten rumah tangga, itu pun hanya datang pagi dan sore hari untuk


bersih-bersih saja.


“Mau


makan apa?” tanya Rangga.

__ADS_1


“Apa


aja boleh lah …!”


Rangga


pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di sana ada banyak tenda penjual


berbagai makanan.


“Kita


makan lalapan saja!” ucap Rangga saat mereka sudah turun. Mereka memilih untuk


masuk ke tenda dengan tulisan lalapan. Ada berbagai macam lalapan di sana mulai


dari lalapan terong, ayam, bebek, puyuh, lele, jeroan.


Rangga


pun mengajak duduk Ersya di tikar yang di gelar di pinggir pinggir taman itu.


“Lo


mau makan apa?” tanya Rangga.


“Gue


mau jeroan aja deh!”


Rangga


pun kembali berdiri dan menyebutkan pesanannya, Rangga memilih lele sebagai


menu makan malamnya, tidak lupa Rangga juga memesan minumannya, dua gelas teh


hangat.


Tidak


berapa lama, makanan mereka pun datang. Mereka segera mencuci tangannya dan


makan menggunakan tangan.


“Oh


iya Ga, gue ampir lupa! Gimana keadaan Iyya? Apa dia sudah sehat? Maaf ya


kemarin gue buru-buru!”


“Kenapa


memangnya nanyain Iyya?” tanya Rangga.


“Nggak


kenapa-napa! Hanya saja, Iyya itu anak yang begitu manis, jadi kangen sama Iyya!”


“Kok


bisa samaan sih!”


“Samaan?


Maksudnya samaan sama lo?”


“Nggak


…, samaan sama Iyya …! Iyya begitu sadar langsung nanyai lo, dia smapai nangis


ngajakin nyariin lo! Gue sampek bingun, apa bagusnya lo sih?!”


“Ye


…, enak aja …, gini-gini gue berhati tulus! Ahhhh …., gue jadi nyesel, kenapa


nggak nunggu Iyya sadar sih …!”


“Lo


emang bener pernah marah-marah di depan Iyya?” tanya Rangga bingung.


“Nggak


tahu …, gue lupa …!”


Mereka


pun menyelesaikan makannya sambil terus mengobrol membicarakan banyak hal. Bahkan


sekarang Ersya tahu jika Rangga ebkerja di gedung yang atapnya selalu di


jadikan tempatnya menyendiri.


“Sudah


kan? Sekarang kemana lagi?” tanya Rangga.


“Sudah


…., sudah kenang, jadi bisa langsung pulang!”


Mereka


pun segera kembali ke mobilnya, masuk ke dalam mobil dan Rangga pun mulai


menghidupkan mesin mobilnya.


Mobil


melaju memejah hirup pikuk jalanan yang sangat padat.


 


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya, kasih vote juga yang banyak biar tambah semangat


follow ig aku juga ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading


__ADS_2