Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Demi Iyya


__ADS_3

Belum sampai dua minggu,


mereka memutuskan untuk pulang karena beralasan jika Iyya tidak bisa di tinggal


terlalu lama.


Sekretaris Revan sudah


menunggu mereka di depan gedung hotel.


“Kita ke rumah paman


Roy!” ucap Div setalah masuk dan duduk di samping Ersya. Ersya menjadi begitu


banyak barang bawaannya gara-gara Div.


“Baik pak!”


Sekretaris Revan


meminta sopir untuk mulai menjalankan mobilnya. Sesekali terlihat sekretaris


Revan melihat ke belakang melalui cermin kecil yang berada di kaca depan.


Sepertinya tidak


terjadi sesuatu ….


Ersya  dan div tidak saling bicara sejak dari dalam


hotel. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ersya memilih memainkan


ponsel barunya, ponsel yang ini jauh lebih bagus dari ponsel sebelumnya.


Sedangkan Div memilih


segera memeriksa pekerjaannya dari layar tab yang di bawakan oleh sekretaris


Revan. Ia sudah dua hari di asingkan dari berbagai pekerjaan, banyak sekali


pekerjaannya yang tertinggal.


Akhirnya mobil itu


sampai juga di depan rumah paman Roy.


“Turunlah …!” ucap Div


membuat Ersya mengerutkan keningnya.


Maksudnya …


Jika memerintah itu


berarti, hanya dirinya yang akan turun, lalu Div akan kemana lagi? Bukankah


tadi alasannya untuk pulang dari hotel lebih cepat karena rindu dengan Iyya.


“Saya harus ke kantor


dulu, nanti akan aku jemput! Kalau tidak sempat saya akan meminta Rangga untuk


menjemput kalian!”


“Baiklah!”


Ersya pun segera turun


dari dalam mobil saat sekretaris Revan membukakan pintu mobil untuknya.


“Terimakasih pak


Revan!”


“Sama-sama bu!”


Ersya pun segera masuk


ke halaman rumah paman Roy saat mobil Div sudah melaju meninggalkannya. Ia


merasa sangat asing dengan rumah itu, masih dua kali ini ia mengunjungi rumah


itu. Seandainya putri dalam rumah itu yang menjadi ibu dari Iyya masih hidup


mungkin bermimpi masuk rumah itu tidak akan pernah ada.


Hehhhhhh


Beberapa kali Ersya


menghela nafas, ia mulai menempelkan punggung tangannya di daun pintu yang


tertutup itu. Toko juga terlihat sepi, apa mungkin penghuninya sedang pergi.


“Mom Echa …!” teriakan


yang begitu ia rindukan, Ersya dengan cepat membalik badannya dan benar saja

__ADS_1


Iyya sedang berlari menghampirinya.


“Sayang …, mommy


kangen!”


“Iyya juga!”


Ersya memeluk dan


mencium Iyya seperti putrinya sendiri. Di belakang Iyya, dua orang itu sedang


berjalan menghampiri mereka. Ersya segera berdiri dan menggenggam tangan Iyya.


“Selamat siang om ,


tante!” sapa Ersya.


Sepertinya paman Roy


dan bu Dewi barus aja mengajak Iyya jalan-jalan, terlihat dari tentengan yang


di bawa oleh bu Dewi sebuah tempat bekal.


“Nak Ersya, kok sudah


pulang?” tanya paman Roy.


“Iya om, sebenarnya


sangat sulit meninggalkan Iyya!”


“Padahal kami berharap


Iyya bisa tinggal di sini lebih lama lagi!”ucap bu Dewi, ia benar-benar senang


bisa dekat dengan cucu kandungnya itu. Sudah begitu lama moment bisa


bermanja-manja dengan cucunya ia rindukan, Div memang jarang memperbolehkan


Iyya menginap di rumah orang lain, dia benar-benar daddy yang sangat posesif.


“maafkan saya!” entah


kenapa sekarang Ersya jadi merasa bersalah, ia merasa sudah merebut cucu mereka


padahal dan bukan siapa-siapa Iyya, tapi pria itu malah mempercayakan putrinya


padanya.


“Tidak pa pa, ayo


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu segera mendekati pintu


membuat Ersya bergeser sedikit menjauh dari pintu dan membiarkan paman Roy


leluasa untuk membuka pintu.


“Ayo masuk!” ucapnya


lagi setelah pintu terbuka.


Mereka masuk dan duduk


di sofa, Iyya terlihat begitu merindukan Ersya sampai ia tidak mau lepas dari


mommy nya.


“Iyya main dulu ya sama


bibi, nenek mau bicara sama mom nya Iyya!” ucap bu Dewi.


“iya nek!”


Iyya akhirnya bermain


dengan asisten rumah itu, kini tinggal Ersya, paman Roy dan bu dewi. Sudah ada


tiga gelas the yang menemani obrolan mereka.


“Om …, tante maaf jika


kehadiran saya di hidup Iyya membuat om sama tante tidak nyaman!” ucap Ersya menyesal.


“Tidak nak, bukan


seperti itu! Kami senang karena Iyya sekarang sudah ada yang menjaga! Kami


hanya sedikit merasa iri saja dengan kamu, kamu begitu dekat dengan Iyya tapi


kami tidak punya waktu seperti waktu yang kalian miliki!” ucap bu Dewi, padahal


obat rindu pada putrinya hanya Divia.


“Saya janji akan lebih


sering mengajak Iyya ke sini! Saya memang hanya bisa menyayangi Iyya tapi saya

__ADS_1


tidak berhak menghalangi kasih sayang kalian pada Iyya. Mau bagaimanapun kalian


adalah kakek dan nenek Iyya!”


“terimakasih atas


pengertian mu, om sama tante hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian!”


“Mom …!” panggil Iyya,


dia berjalan mendekati Ersya dan memeluk tubuh Ersya.


“Ada apa sayang?” tanya


Ersya, sepertinya Iyya sangat mengantuk karena sudah waktunya Iyya untuk tidur


siang.


“mom …, Iyya mengantuk!”


keluhnya dengan mata yang berair,


“Iyya mau tidur ya?”


tanya Ersya lagi dan Iyya pun mengangguk beberapa kali tanpa mau melepaskan


tubuh Ersya.


“Kamu tidurkan Iyya


dulu ya, buar tante antar ke kamar bunda nya Iyya!” ucap bu Dewi. Dan Ersya pun


mengangguk. Ia segera menggendong tubuh Iyya mengikuti bu Dewi. Hingga mereka


sampai di depan sebuah kamar.


Bu Dewi membukakan


pintu, sebuah kamar yang terlihat begitu rapi. Kamar khas anak muda bernuansa


merah jambu.


“Kalian istirahatlah!”


ucap bu Dewi.


“terimakasih tante!”


Bu Dewi menganggukkan


kepalanya dengan senyum yang begitu lembut ,mengusap pundak Ersya, mencoba


memberitahu jika dia senang jika Ersya nyaman di rumah itu.


Walaupun dia masih


punya dua putri, Ara dan Nadin. Tapi tetap saja, kehadiran Davina tidak bisa di


gantikan oleh siapapun.


Bu Dewi pun


meninggalkan Ersya dan Iyya. Ia menutup kembali pintu kamar itu dari luar.


Ersya segera membawa Iyya ke tempat tidur. Iyya sudah benar-benar mengantuk, ia


hanya sebentar mengusap kepala Iyya saja, gadis kecil itu sudah tertidur pulas.


“Mom merindukanmu sayang


…, kenapa kamu seperti candu bagi mommy!


Kita tidak pernah kenal


sebelumnya, tapi tiba-tiba kamu hadir seperti sebuah mimpi indah yang tidak


ingin aku akhiri,


Bagi dunia, mungkin


kamu adalah seorang anak yang tidak beribu, tetapi tahukan kamu sayang, bagi


mom Echa  kamu adalah dunianya mom!


Tetaplah tersenyum bahagia seperti saat ini sayang!”


Ersya mengecup kening


gadis kecil yang terlelap itu, begitu dalam. Seakan masih belum percaya ada


peri kecil seperti Iyya dalam hidupnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2