
Belum sampai dua minggu,
mereka memutuskan untuk pulang karena beralasan jika Iyya tidak bisa di tinggal
terlalu lama.
Sekretaris Revan sudah
menunggu mereka di depan gedung hotel.
“Kita ke rumah paman
Roy!” ucap Div setalah masuk dan duduk di samping Ersya. Ersya menjadi begitu
banyak barang bawaannya gara-gara Div.
“Baik pak!”
Sekretaris Revan
meminta sopir untuk mulai menjalankan mobilnya. Sesekali terlihat sekretaris
Revan melihat ke belakang melalui cermin kecil yang berada di kaca depan.
Sepertinya tidak
terjadi sesuatu ….
Ersya dan div tidak saling bicara sejak dari dalam
hotel. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ersya memilih memainkan
ponsel barunya, ponsel yang ini jauh lebih bagus dari ponsel sebelumnya.
Sedangkan Div memilih
segera memeriksa pekerjaannya dari layar tab yang di bawakan oleh sekretaris
Revan. Ia sudah dua hari di asingkan dari berbagai pekerjaan, banyak sekali
pekerjaannya yang tertinggal.
Akhirnya mobil itu
sampai juga di depan rumah paman Roy.
“Turunlah …!” ucap Div
membuat Ersya mengerutkan keningnya.
Maksudnya …
Jika memerintah itu
berarti, hanya dirinya yang akan turun, lalu Div akan kemana lagi? Bukankah
tadi alasannya untuk pulang dari hotel lebih cepat karena rindu dengan Iyya.
“Saya harus ke kantor
dulu, nanti akan aku jemput! Kalau tidak sempat saya akan meminta Rangga untuk
menjemput kalian!”
“Baiklah!”
Ersya pun segera turun
dari dalam mobil saat sekretaris Revan membukakan pintu mobil untuknya.
“Terimakasih pak
Revan!”
“Sama-sama bu!”
Ersya pun segera masuk
ke halaman rumah paman Roy saat mobil Div sudah melaju meninggalkannya. Ia
merasa sangat asing dengan rumah itu, masih dua kali ini ia mengunjungi rumah
itu. Seandainya putri dalam rumah itu yang menjadi ibu dari Iyya masih hidup
mungkin bermimpi masuk rumah itu tidak akan pernah ada.
Hehhhhhh
Beberapa kali Ersya
menghela nafas, ia mulai menempelkan punggung tangannya di daun pintu yang
tertutup itu. Toko juga terlihat sepi, apa mungkin penghuninya sedang pergi.
“Mom Echa …!” teriakan
yang begitu ia rindukan, Ersya dengan cepat membalik badannya dan benar saja
__ADS_1
Iyya sedang berlari menghampirinya.
“Sayang …, mommy
kangen!”
“Iyya juga!”
Ersya memeluk dan
mencium Iyya seperti putrinya sendiri. Di belakang Iyya, dua orang itu sedang
berjalan menghampiri mereka. Ersya segera berdiri dan menggenggam tangan Iyya.
“Selamat siang om ,
tante!” sapa Ersya.
Sepertinya paman Roy
dan bu Dewi barus aja mengajak Iyya jalan-jalan, terlihat dari tentengan yang
di bawa oleh bu Dewi sebuah tempat bekal.
“Nak Ersya, kok sudah
pulang?” tanya paman Roy.
“Iya om, sebenarnya
sangat sulit meninggalkan Iyya!”
“Padahal kami berharap
Iyya bisa tinggal di sini lebih lama lagi!”ucap bu Dewi, ia benar-benar senang
bisa dekat dengan cucu kandungnya itu. Sudah begitu lama moment bisa
bermanja-manja dengan cucunya ia rindukan, Div memang jarang memperbolehkan
Iyya menginap di rumah orang lain, dia benar-benar daddy yang sangat posesif.
“maafkan saya!” entah
kenapa sekarang Ersya jadi merasa bersalah, ia merasa sudah merebut cucu mereka
padahal dan bukan siapa-siapa Iyya, tapi pria itu malah mempercayakan putrinya
padanya.
“Tidak pa pa, ayo
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu segera mendekati pintu
membuat Ersya bergeser sedikit menjauh dari pintu dan membiarkan paman Roy
leluasa untuk membuka pintu.
“Ayo masuk!” ucapnya
lagi setelah pintu terbuka.
Mereka masuk dan duduk
di sofa, Iyya terlihat begitu merindukan Ersya sampai ia tidak mau lepas dari
mommy nya.
“Iyya main dulu ya sama
bibi, nenek mau bicara sama mom nya Iyya!” ucap bu Dewi.
“iya nek!”
Iyya akhirnya bermain
dengan asisten rumah itu, kini tinggal Ersya, paman Roy dan bu dewi. Sudah ada
tiga gelas the yang menemani obrolan mereka.
“Om …, tante maaf jika
kehadiran saya di hidup Iyya membuat om sama tante tidak nyaman!” ucap Ersya menyesal.
“Tidak nak, bukan
seperti itu! Kami senang karena Iyya sekarang sudah ada yang menjaga! Kami
hanya sedikit merasa iri saja dengan kamu, kamu begitu dekat dengan Iyya tapi
kami tidak punya waktu seperti waktu yang kalian miliki!” ucap bu Dewi, padahal
obat rindu pada putrinya hanya Divia.
“Saya janji akan lebih
sering mengajak Iyya ke sini! Saya memang hanya bisa menyayangi Iyya tapi saya
__ADS_1
tidak berhak menghalangi kasih sayang kalian pada Iyya. Mau bagaimanapun kalian
adalah kakek dan nenek Iyya!”
“terimakasih atas
pengertian mu, om sama tante hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian!”
“Mom …!” panggil Iyya,
dia berjalan mendekati Ersya dan memeluk tubuh Ersya.
“Ada apa sayang?” tanya
Ersya, sepertinya Iyya sangat mengantuk karena sudah waktunya Iyya untuk tidur
siang.
“mom …, Iyya mengantuk!”
keluhnya dengan mata yang berair,
“Iyya mau tidur ya?”
tanya Ersya lagi dan Iyya pun mengangguk beberapa kali tanpa mau melepaskan
tubuh Ersya.
“Kamu tidurkan Iyya
dulu ya, buar tante antar ke kamar bunda nya Iyya!” ucap bu Dewi. Dan Ersya pun
mengangguk. Ia segera menggendong tubuh Iyya mengikuti bu Dewi. Hingga mereka
sampai di depan sebuah kamar.
Bu Dewi membukakan
pintu, sebuah kamar yang terlihat begitu rapi. Kamar khas anak muda bernuansa
merah jambu.
“Kalian istirahatlah!”
ucap bu Dewi.
“terimakasih tante!”
Bu Dewi menganggukkan
kepalanya dengan senyum yang begitu lembut ,mengusap pundak Ersya, mencoba
memberitahu jika dia senang jika Ersya nyaman di rumah itu.
Walaupun dia masih
punya dua putri, Ara dan Nadin. Tapi tetap saja, kehadiran Davina tidak bisa di
gantikan oleh siapapun.
Bu Dewi pun
meninggalkan Ersya dan Iyya. Ia menutup kembali pintu kamar itu dari luar.
Ersya segera membawa Iyya ke tempat tidur. Iyya sudah benar-benar mengantuk, ia
hanya sebentar mengusap kepala Iyya saja, gadis kecil itu sudah tertidur pulas.
“Mom merindukanmu sayang
…, kenapa kamu seperti candu bagi mommy!
Kita tidak pernah kenal
sebelumnya, tapi tiba-tiba kamu hadir seperti sebuah mimpi indah yang tidak
ingin aku akhiri,
Bagi dunia, mungkin
kamu adalah seorang anak yang tidak beribu, tetapi tahukan kamu sayang, bagi
mom Echa kamu adalah dunianya mom!
Tetaplah tersenyum bahagia seperti saat ini sayang!”
Ersya mengecup kening
gadis kecil yang terlelap itu, begitu dalam. Seakan masih belum percaya ada
peri kecil seperti Iyya dalam hidupnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰