Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mengerjaiku


__ADS_3

Koki itu menyerahkan sebuah nampan berisi sepiring spaghetti dan juga susu hangat.


Ersya pun segera membawa nampan itu ke kamar daddy Div.


Langkahnya terhenti tepat di depan kamar yang pintunya tidak tertutup sempurna. Hanya tujuh puluh lima persen dan ia bila melihat apa yang di lakukan orang di dalam kamar itu.


Dia pikir dunia akan kiamat besok sampai lupa tidur ....., batin Ersya, ia pun menggeser pintu itu menggunakan lututnya memberi decitan kecil di engsel pintu.


"Kenapa lama sekali, ini sudah lebih dari sepuluh menit!?" gerutu pria itu dengan wajah kesalnya tanpa menoleh kepada siapa yang masuk ke kamar itu.


Emang dia pikir dia siapa beraninya menyiksa orang lain ....


Ersya memilih untuk tetap diam di tempatnya tanpa menyahuti ucapannya.


Pria yang duduk membelakangi pintu masuk itu tetap dengan posisinya, tapi saat tidak juga mendapat sahutan dari yang di ajak bicara ia pun segera berdiri dan ....


Brakkkkk


Sebuah gebrakan tangan mendarat ke meja hingga membuat barang-barang di atasnya terlonjak lalu menoleh,


"Kamu?"


Tanpa Div terkejut melihat yang datang bukan para pelayan itu. Ersya pun melangkahkan kakinya mendekati Div.


"Kenapa? Kaget gue yang datang?"


Ersya terus berjalan tanpa rasa takut dan meletakkan nampan itu di meja depan Div. Div sedari tadi hanya terdiam dan melihat arah kemana Ersya pergi.


Setelah meletakkan nampan itu, Ersya berhenti tepat berhadapan dengan pria yang berstatus suaminya itu.


"Makanannya sudah siap!"


"Kenapa kamu yang mengantar?"


"Kenapa? Apa bedanya? Aku juga bekerja kan di sini? Jadi selamat makan tuan Div!"


Div begitu kesal dengan ucapan terakhir Ersya. Saat Ersya hendak menggeser tubuhnya meninggalkan tempat itu tiba-tiba ....


Srekkkkk


Tubuhnya di tarik oleh Div hingga kini berada di antara tubuh Div dan meja. Tangan Div berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya.


Div mendekatkan tubuhnya hingga Ersya mencondongkan tubuhnya ke belakang.


"Mau ngapain?" tanya Ersya begitu gugup.


"Mau memberi pelajaran pada wanita yang sudah berani kurang ajar padaku!"


"Mak_sudnya?"


Div semakin mencondongkan tubuhnya ke tubuh Ersya hingga kini posisi punggung Ersya hampir menyentuh meja, untuk ia meletakan nampan itu di sisi yang lain jadi tidak sampai terkena tubuhnya.


Ersya memejamkan matanya saat nafas pria itu bisa menyentuh bibirnya.


"Jangan macam-macam ya!"


Div tersenyum smirtt, dia tidak mengatakan apapun. Tapi matanya sibuk mengamati wajah cantik di depannya apalagi dengan rambut yang di ikat asal dan di tekuk ke atas, menampilkan leher jenjangnya.


Kenapa dia begitu menggodaku, apa istimewanya ....? batin Div. Rasanya nalurinya ingin sekali menyentuh wanita di depannya. Bibirnya yang seksi sesekali wanita itu tampak menggigitnya.


Tidak .....

__ADS_1


Srekkkk


Tiba-tiba Div menjauhkan tubuhnya dari Ersya, ia membalik badan dan mencoba menenangkan detak jantungnya.


Ersya yang merasakan tubuhnya tidak lagi berada di dalam kungkungan Div perlahan membuka matanya, dan benar Div sudah duduk di tempatnya.


Ersya pun segera menjauh dari meja itu.


"Kau sengaja menakuti ku ya?"


Div memicingkan matanya, "Kenapa? Menyesal karena aku tidak melakukan apa-apa padamu?"


Chhhhh, dia pikir dia siapa sampai gue mengharapkan sentuhan darinya ....


Ersya menatap kesal, ia pun memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Div.


Div mulai menyantap makanannya, sedangkan Ersya mengamati kamar itu. Cukup besar, jauh lebih besar dari kamarnya.


"Kenapa? Suka sama kamar saya?" tanya Div yang melihat Ersya sibuk mengamati kamar itu. Dia pikir dulu rumah suami Felic adalah satu-satunya rumah istana. Tapi ternyata di sini ia juga seperti berada di dalam istana.


"Iya, tapi tidak orangnya!"


Mendengar jawaban dari Ersya, Div pun menghentikan makannya, ia mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya menyatu.


"Kenapa? Sukanya sama Rangga?"


Ersya memicingkan matanya,


"Kenapa bawa-bawa Rangga, jangan bilang apa yang di katakan Rangga benar ya?"


"Memang apa yang di katakan Rangga?"


Div mencebirkan bibirnya lalu kembali melanjutkan makannya dan kembali melanjutkan makannya.


Ersya memilih berdiri, "Aku kembali ke kamar!"


"Jangan harap bisa kembali ke kamar sebelum saya selesai makan!"


"Kenapa?"


"Ya karena kamu sudah dengan lancangnya meminta mereka untuk tidur dan menggantikannya, jadi kamu yang harus membereskan ini semua kembali!"


"Kok gitu sih?"


Div hanya mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan makannya sambil mengerjakan pekerjaannya dan sesekali menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


Mana ngantuk lagi ...., dia malah enak-enakan makan sambil kerja, memang aku robot apa ...., batin Ersya, matanya sudah ingin kembali di pejamkan, ini sudah jam dua.


"Kenapa trus berdiri di situ, nggak capek?"


"Katanya nggak boleh pergi?!"


"Siapa yang nyuruh kamu pergi, di situ ada kursi, kenapa nggak duduk?"


Hehhhh


Ersya menghela nafas lalu duduk dengan begitu kasar hingga menimbulkan suara yang kerasa.


"Awas saja kalau sampai kursi ku rusak ya!"


"Bawel!"

__ADS_1


Begitu lama Div sibuk dengan pekerjaannya dan sesekali menyesap coklat hangatnya. Spaghetti di piringnya sudah habis, ia mendongakkan kepalanya melihat jam dinding, sudah pukul empat pagi.


Lalu matanya kembali melihat ke arah Ersya yang sudah berpindah ke sofa, entah sejak kapan wanita itu berpindah ke sana.


Dia tidur ....


Div pun menutup semua berkas yang ada di atas mejanya lalu perlahan berjalan mendekati Ersya yang tertidur pulas dengan posisi meringkuk.


"Cepat sekali dia tidurnya!" gumamnya pelan. Ia pun berjongkok di depan Ersya, tangannya mengusap wajah itu hendak membangunkannya.


Kemudian ingatannya kembali pada saat pertama kali mereka bertemu. Saat Ersya tanpa sengaja meminum minumannya.


"Wajahnya sudah tidak selusuh dulu!"


Div jadi tidak tega untuk membangunkannya, ia pun kembali berdiri lalu menyusupkan lengannya ke bawah paha dan punggung Ersya. Hanya dengan sekali hentakan saja tubuh itu sudah berpindah ke dalam dekapannya.


Div membawa tubuh Ersya ke tempat tidurnya, menidurkannya di sana dan menyelimutinya.


Ia memilih untuk tidur sejenak di sofa untuk mengistirahatkan matanya.


🍀🍀🍀


Matahari sudah masuk melakui celah-celah jendela lebar yang ada di dalam kamar itu, wanita itu tampak begitu menikmati tidurnya.


Si pemilik kamar sepertinya tidak merasa terganggu dengan kehadiran wanita itu, ia tetap dengan santainya berolah raga di samping tempat tidur itu. Ia melakukan gerakan-gerakan ringan seperti push up dan sit up, dan angkat beban ringan.


Wanita di atas tempat tidur itu mulai menggerakkan tubuhnya, mengedipkan matanya perlahan. Dan di depannya ia sudah di suguhi oleh yang hot, pria tampan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.


Masih mimpi ya ..., kenapa dia tampan sekali kalau seperti itu ..., Hahhh gara-gara begadang, mimpi ku pun ikut ngaco ...., batin Ersya sambil terus tersenyum menatap Div yang sedang berolah raga.


Ehhh tapi ...., kenapa mataku terbuka kalau mimpi ...?


Setelah menyadari kalau ini bukan mimpi, Ersya pun dengan cepat terlonjak bangun hingga berada dalam posisi duduk.


"Aku di sini?"


Div yang melihat Ersya bangun hanya tersenyum. Ersya memperhatikan bajunya yang masih utuh.


"Belum terjadi apa-apa, mungkin besok!" ucap Div sambil tersenyum menggoda membuat Ersya melotot.


"Sekarang jam berapa?"


"Setengah tujuh!"


"Apa?" Ersya begitu terkejut, "Divia!?"


"Dia sudah siap di meja makan!"


Hehhhhh


Ersya bisa bernafas lega sambil mengusap dadanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2