
"Div, kamu sendiri? Mana Ellen?" tanya nyonya Aruni saat melihat putranya menghampiri mereka sendiri tanpa wanita yang sedang ia usahakan untuk menjadi istri putranya.
Div hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kok bisa nggak tahu sih!" protes nyonya Aruni.
"Dia sudah besar kali ma, tahu kan jalan buat ke sini!"
"Kamu ini keterlaluan sekali sama Ellen, dia itu_!" ucap nyonya Aruni dan Div segera memotongnya.
"Dia itu cuma bagian dari masa lalu Div ma, ya sudah lah ma nggak usah di buat ribet!"
Div segera menarik tangan Ersya keluar dari toko itu meninggalkan mamanya, ia sudah terlalu lama meninggalkan putrinya sendiri.
"Mas, mama gimana?" tanya Ersya yang sudah semakin menjauh dari mamanya.
Div kembali menghentikan langkahnya, ia menoleh pada istrinya itu,
"Memang mama masih kecil yang harus perlu di urus, dia sudah besar dan Divia lebih butuh kita!"
Melihat wajah suaminya yang begitu kesal, Ersya tidak berani membantah lagi. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara Ellen dan suaminya itu.
"Ya maaf, aku kan cuma nanya tadi!"
"Kalau nggak penting nggak usah banyak tanya!"
Div kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya tetap dengan tangan yang menggenggam erat tangan Ersya.
Nyonya Aruni berniat untuk mencari Ellen, saat ia mengedarkan pandangannya untuk menemukan wanita itu ponselnya berdering.
"Mungkin ini Ellen!"
Aruni dengan cepat merogoh tasnya dan mencari benda pipih itu, setelah berhasil mengeluarkannya bibirnya melengkung. Benar yang baru saja dipikirkannya, itu benar dari Ellen.
"Hallo Ellen, kamu di mana? Tante cariin kamu loh!"
"Maaf Tante, Ellen harus pulang duluan!" ucap dari seberang sana dengan suara serak.
"Ellen, kamu kenapa? Kamu nggak lagi nangis kan?"
"Nggak pa pa Tante, Tante jangan khawatir! Udah ya Tan!"
Ellen mematikan secara sepihak sambungan telpon itu, nyonya Aruni kembali menjauhkan beda pipih itu dari daun telinganya.
__ADS_1
"Kok di matiin sih, dia beneran nggak pa pa?" gumamnya sambil mengingat kembali mood putranya yang berantakan tadi saat menghampiri mereka tanpa Ellen.
"Sebenarnya ada apa ya?"
...πππ...
Ellen terlihat beberapa kali menghapus air matanya. Ia sudah duduk di bangku taman, hatinya sangat sakit sekarang dan sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Semua pengorbanannya saat ini terasa begitu sia-sia, ia bahkan rela kembali ke Indonesia hanya demi menemui pria yang baru saja menorehkan luka yang begitu besar di hatinya.
Ia tidak masalah jika pria itu adalah pria Casanova, ia tidak masalah setiap hari melihat pria itu bermesraan dengan wanita-wanita penghibur itu asalkan dia adalah tempatnya kembali.
Tapi kali ini berbeda, saingannya bukan wanita-wanita penghibur yang sama sekali tidak punya tempat di hati pria itu, tapi saingannya adalah istri sah yang punya ikatan yang sempurna dengan pria itu.
Ingin rasanya ia meminta haknya kembali, tapi hak yang mana? Hak yang sebelumnya memang belum pernah ia dapatkan, hak yang mungkin tidak akan pernah dia dapatkan lagi.
Kehidupan pria itu sudah jauh berbeda, dulu saat bertemu dengannya peluk dan cium adalah hal biasa tapi semenjak ia kembali ke Indonesia, jangankan mencium memeluknya saja tidak.
"Istri ...., istri ....., istri ...., persetan dengan kata istri, I hate all the relationships you have right now, I hateβ¦β¦!β teriak Ellen dengan raungan kesedihannya.
"If you can be as brave as me, I can be even more than this Div (Jika kamu bisa Setega ini sama aku, aku juga dapat lebih tega dari ini Div)!"
Ellen tidak bisa menerimanya dengan mudah segala yang di lakukan oleh Div padanya. Ia terlalu cinta dengan pria yang sudah menempati hatinya bertahun-tahun lamanya itu.
...ππππ...
Akhir pekan yang melelahkan, suasana jalan-jalan yang jauh dari perspektif Ersya dan Divia.
Kini Ersya sudah kembali dari mencuci wajahnya. Ia mengelap wajahnya dengan handuk kecil di tangannya. Suaminya sudah berada di atas tempat tidur dengan tap di tangannya.
Sebelum naik ke atas tempat tidur, Ersya lebih dulu memakai krim malam, ia memilih duduk di depan meja rias, mengoleskan benda berwarna putih itu ke wajahnya.
Sesekali terlihat Ersya menatap pantulan suaminya dari cermin, tangannya memang sedang memegang tap tapi terlihat matanya sedang tidak fokus. Ada hal lain yang sedang ia pikirkan sepertinya.
Apa dia sedang memikirkan Ellen ???? Aku jadi kepikiran sama kata-kata mama ....
Entah kenapa kata mama mertuanya begitu menggangu pikirannya. Ingi sebenarnya melupakannya saja dan membiarkan semuanya seperti sebelumnya tanpa ada Ellen. Tapi ternyata otak dan hatinya sedang tidak singkron.
Sial, ia mengumpat pada dirinya sendiri. Ia menyalahkan dirinya yang jadi suka baper gara-gara perkataan mertuanya.
Dengan cepat dia merapikan kembali krim malamnya dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang siap di bawa ke mana-mana. Ia meletakkan handuk kecilnya di sandaran kursi dan segera menghampiri suaminya itu, perlahan naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping suaminya. Ia mensejajarkan duduknya yang bersandar pada sandaran tempat tidur.
Div yang menyadari kedatangan Ersya segera menoleh, "Sudah selesai?"
__ADS_1
"Dari tadi!"
Mendengar ucapan Ersya yang terkesan singkat dan terkesan tidak mengenakkan segera meletakkan tab nya.
"Ada apa?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
"Yakin mau tahu aja atau mau tau banget?" tanya Ersya yang juga menoleh padanya.
Isssttttt, Div berdesis. Memang terkesan seperti sebuah candaan, tapi di balik candaan itu ada pertanyaan yang sangat penting yang ingin Ersya tanyakan dan ini menyangkut kelanjutan hidup mereka.
"Masih mau becanda atau langsung pada intinya?" tanya Div yang tiba-tiba menarik pinggang Ersya hingga membuat mereka begitu dekat. Bibir Div sudah sulit untuk di kondisikan saat ini.
"Massss! Sabar bentar dong!" Ersya mendorong wajah Div agar menjauh.
"Ada apa sih?" tanya Div kesal dan melepaskan tubuh istrinya itu.
"Kamu cinta nggak sama aku?"
Div terdiam mendengar pertanyaan dari Ersya. Untuk pertama kalinya ia mendengar pertanyaan semacam itu, hanya dia yang berani menanyakan hal itu.
"Memang apa pentingnya?"
Hehhh, dia keterlaluan ....., Ersya cukup kesal dengan jawaban santai suaminya.
"Kamu pikir hubungan nggak perlu penegasan apa!" ucap Ersya kesal.
"Kamu!?"
Div terkejut dengan kata kamu, ia merasa sudah sangat asing dengan kata itu. Ia.lebih bersahabat dengan panggilan mas dari istrinya itu.
"Mas aja nggak suka kalau aku panggil kamu, sesekali bilang cinta apa susahnya coba!"
Ersya memilih untuk berbalik dan menarik selimutnya.
...Aku terlalu lemah tanpamu, maka kuatkan aku dengan pengakuanmu. Aku bukan siapa-siapa tanpamu, maka jadikan aku ratu di hatimu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ **tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading π₯°π₯°π₯°π₯°**...