
"Kim, ini sudah larut, apa kamu tidak pulang?" Divia mulai curiga karena sedari tadi Kim tidak juga bersiap untuk pergi padahal ini sudah sangat malam. Apalagi sekarang Kim malah memakai baju tidurnya bukan lagi kemeja dan berjalan ke kamar Divia.
"Menurutmu?"
"Kim, jangan macam-macam ya!" terlihat wajah divia sudah begitu khawatir. Tapi pria itu malah bersikap biasa saja, ia segera berjalan dan naik ke atas tempat tidur.
"Kim_!" Divia benar-benar mulai kesal sekarang.
"Vi, aku lelah jadi biarkan aku tidur!" dengan santainya Kim menarik selimut yang berada di bawah kakinya dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga pinggang.
"Kamu tidak boleh tidur di situ."
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh." Divia berusaha menarik selimut itu kemudian menarik tubuh Kim agar turun dari tempat tidur. Kim berusaha keras untuk mempertahankan posisinya begitupun dengan selimut yang ia kenakan.
Mereka malah tampak romantis di balik selimut yang sama, saling menarik selimut dan merebut tempat tidur.
Tapi tiba-tiba ponsel Divia berdering membuat Divia dan Kim sama-sama menoleh ke arah ponsel Divia.
"Mommy!"
Melihat ada nama mommy di sana, Divia menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, "Hussst, diam jangan mengeluarkan suara apapun, mengerti!?"
Kim menggeser jarinya di depan bibir seolah tengah mengunci bibirnya.
Setelah memastikan Kim melakukan apa yang di perintahkan olehnya, Divia segara menggeser tombol terima hingga wajah mommy nya memenuhi layar ponselnya.
"Hallo mom!"
"Hallo sayang, bagaimana kabar kamu?"
"Vi baik, mom." tapi yang dibuat kira salah, Kim memang diam tapi tiba-tiba ia memeluk pinggang Divia membuat Divia terkejut.
"Kim, jangan macam-macam ya!" bisik Divia sambil mengalihkan kamera ke tempat lain.
"Vi!"
"Iya mom, Vi di sini!"
"Daddy kamu bilang kamu sudah mulai magang ya?"
"Iya mom, besok Vi sudah mulai kerja."
"Tapi suasananya nyaman kan?"
Tangan Kim kini mulai bermain di pinggang dan lengan Divia membuat Divia geli, ia berusaha untuk menepis tangan Kim sambil mempertahankan senyumnya di depan kamera.
"Nyaman kok mom!"
"Kamu kenapa, ada masalah ya?"
__ADS_1
"Enggak kok mom!"
"Wajahmu terlihat seperti itu."
"Ini mam, tadi Vi lihat tikus!"
"Kok bisa, kata ayah Rendi tempat tinggal kamu besar, bagaimana ada tikus?"
"Iya mom, mungkin tikus nyasar!"
Kim kembali berulah, ia bahkan menciumi lengan Divia.
"Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan minta penjaga buat ngusir tikus."
"Iya pasti Moms!"
"Oh iya, mommy cuma mau ngasih kabar kalau Daddy kamu sudah mau mengirim seseorang untuk melanjutkan pekerjaan ayah Rendi."
Plakkkkk
Tiba-tiba tangan Divia benar-benar memukul wajah Kim hingga mengenai hidung mancung Kim karena terlalu terkejut.
"Aughhhh!"
"Suara apa Vi, tadi?"
"Oh itu, tv mom. Vi lagi nonton tv."
"Enggak kok Moms, Vi sendiri. Lihat!" Divia segera membalik kameranya dan memperlihatkan seisi rumah karena kini Kim yang masih terjerembab di bawah tempat tidur belum beranjak dari sana. Ia masih mengusap hidung dan bokongnya yang sakit.
"Kapan mom orangnya datang?"
"Mungkin lusa sampai!"
"Hahhh?"
"Kenapa? Ada masalah?"
"Tidak kok mom, cuma mendadak saja, udah dulu ya mom Vi mau kerjakan tugas Vi dulu, bye mom. I love you!"
"Love you too!"
Akhirnya sambungan telpon terputus juga. Divia segara melotot pada Kim yang sedari tadi menggodanya.
"Kim, kamu sengaja ya!"
"Aku kan juga ingin bicara sama calon mertua!"
"Nggak!"
"Jahat banget!" Kim segera merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal kepala.
__ADS_1
"Kamu yang jahat!"
Divia tidak peduli jika Kim tidur di sampingnya saat ini. Ia percaya pria itu tidak akan melakukan apapun padanya.
Plekkk
Tapi tiba-tiba saat matanya mulai terpejam, sebuah lengan melingkar di perutnya.
"Kim!?"
"Aku cuma ingin memelukmu saja, seperti ini!" Kim malah mengeratkan pelukannya.
...***...
"Aku akan mengantarmu!"
Divia menatap mobil Kim yang terlihat begitu menonjol.
"Jangan dong, bagaimana mereka akan berpikir tentang aku. Lihatlah mobilmu?"
"Memang kenapa dengan mobilku?"
"Ini sangat mewah dan menonjol."
"Aku akan mengantarmu dengan taksi!"
"Yang benar saja!?"
Divia tidak percaya dan ternyata ia salah. Kim keluar lagi dari mobil dan memesan sebuah taksi.
"Masuklah!" perintah Kim saat taksi itu datang. Mereka pun akhirnya duduk di bangku belakang.
"Lalu bagaimana mobilmu?"
"Memang siapa yang akan berani membawa mobilku?!"
Sombong sekali ...
"Jalan pak!"
Taksi pun mulai berjalan meninggalkan apartemen dan menuju ke tempat magang Divia.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1