
Ersya kali ini memacu mobilnya lebih cepat. Ia ingin segera sampai saja di rumah, rasa ingin bebasnya seketika hilang berubah menjadi rasa penasaran.
Hingga akhirnya hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah. Tanpa memarkir mobilnya terlebih dahulu dia segera keluar, tapi saat sampai di depan pintu ia kembali teringat sesuatu,
Mie ayam ku .....
Rasa laparnya ternyata mengingatkannya.
Ia pun kembali menghampiri mobilnya sebelum para penjaga memarkirkan mobilnya. Walaupun ini mobilnya, tetap saja jika berhadapan dengan suaminya mobilnya pun dia tidak punya hak untuk menyetir sendiri tanpa seijinnya.
Saat mengambil mie ayamnya, ia menoleh ke bangku belakang ada begitu banyak paper bag ,
"Biarin aja lah, yang punya juga nggak peduli!" gumamnya lalu ia melenggang begitu saja meninggalkan mobilnya.
"Selamat datang nyonya!"
Kepala pelayan sudah siap membukakan pintu untuknya dengan menunduk memberi hormat bersama beberapa pelayan lainnya.
"Divia sudah pulang?"
"Sudah nyonya, nona Divia sedang ada di ruang makan hendak makan siang!"
Ersya tersenyum, benar-benar kebetulan dia juga sangat lapar. Ersya mengangkat kantong plastiknya dan mencium aroma mie ayam yang keluar dari dalam kantong, "Ya sudah biar aku yang menemaninya makan siang!"
"Tapi maaf nyonya, tuan melarang membawa sembarangan makanan masuk ke dalam rumah!" ucap kepala pelayan menghadang langkah Ersya.
Ahhhh iya, kenapa aku bisa lupa ....
"Siapa bilang ini makanan sembarang, ini dari ibu Ratih! Tadi saya ke sana dan saya di kasih ini!"
"Maaf nyonya atas ketidak Tahuan saya!"
"Ya sudah lah tidak pa pa, sekarang menyingkirkan biarkan kami makan dengan tenang dan kalian tidak perlu menunggui kami di ruang makan!"
"Baik nyonya! Maaf!" ucap kepala pelayan sambil menyingkir dari hadapan Ersya.
Ersya segera menuju ke dapur menghampiri putri kecilnya itu,
"Hallo sayang!"
Divia yang baru saja akan mulai makan kembali meletakkan sendoknya, "Mom ....!"
"Bentar ya, mom mau ikut makan siang sama Iyya!"
Divia menganggukkan kepalanya dan Ersya pun segera ke dapur untuk mengambil sendok dan garpu begitupun dengan dua buah mangkuk.
Ersya menuangkan sekalian dua porsi mie ayam itu ke dalam mangkuk lalu kembali menghoiri Divia,
__ADS_1
Ersya meletakkan mangkuknya di atas meja dan ikut duduk bersama putrinya,
"Mom, itu mie apa?"
Ersya menoleh pada putrinya lalu tersenyum, ia mengamati sekitar dan syukurnya kepala pelayan tidak mengikutinya ke dapur,
"Ini namanya mie ayam!" bisiknya agar tidak ada yang mendengar. "Iyya mau?"
Divia menganggukkan kepalanya cepat lalu menjauhkan piringnya, "Iyya mau!" ucap Divia dengan suara nyaring.
"Hustttt!" Ersya segera menempelkan jarinya ke bibirnya sendiri agar putri kecilnya itu tidak membuat kegaduhan agar kepala pelayan tidak curiga.
"Ayo makanlah, tapi jangan berisik!" ucap Ersya memperingatkan putrinya itu dan Divia mengangguk cepat.
Ersya segera menggeser mangkuk satunya dan juga sebuah sendok dan garpu,
"Selamat makan!"
Mereka memakan mie ayamnya dengan sangat lahap tanpa ada yang curiga kalau makanan itu adalah makanan dari luar, hingga suara kepala pelayan membuat mereka saling berpandangan panik,
"Tuan Div datang!"
Aba-aba itu menandakan kalau kali ini suaminya sudah berada di pintu depan, kepala pelayan sedang memberi aba-aba pada pelayan lain untuk membukakan pintu.
"Bagaimana mom?"
Tepat saat Ersya kembali lagi menghampiri Divia, Div sampai di ruang makan.
"Selamat siang sayang!" sapa Div pada putrinya lalu mencium kening putrinya itu dan beralih ke kening Ersya.
Tas Div sudah bersama dengan kepala pelayan, ia mengendurkan dasinya lalu melihat piring Divia yang masih terisi penuh makanan,
"Sayang kenapa makanannya belum dimakan?"
"Cudah, iya kan mom?" tanya Divia pada Ersya dan Ersya hanya menganggukkan kepalanya.
Div segera menutup hidungnya saat Divia bicara, ia mencium bau yang berbeda, ini bukan makanan Divia yang biasanya, "Kamu baru makan apa sayang?"
"Tidak, bukan dad! Tadi Iyya cuma makan ini!" ucap Divia sambil menunjuk dua potong cumi yang sebenarnya belum tersentuh olehnya sama sekali.
Div beralih menatap Ersya, "Benarkah?" tanyanya.
"Iya benar, masak sih nggak percaya!"
"Kamu juga?" tanya Div yang juga mencium aroma yang sama dari mulut istrinya.
"Iya, kan makanan kita sama!"
__ADS_1
"Baiklah, aku juga lapar! Aku mau makan, ambilkan makanan untukku!" perintah Div yang ikut duduk bersama Divia, "Ayo sayang cepat habiskan makananmu dan segera tidur siang!"
Ersya yang mendapat perintah suaminya segera berdiri, sedangkan Divia tampak bingung. Ia tidak mungkin menghamburkan makanan itu lagi saat ini perutnya sudah terisi walaupun belum habis. ia masih ingin menghambiskan makanan yang baru saja ia makan tadi.
Ersya yang berada di belakang Div hanya memberi isyarat dari gerak bibirnya, "Makan aja sayang!" ucapnya tanpa mengeluarkan suara sambil menganggukkan kepalanya.
Ia segera kembali ke dapur dan membuatkan makan siang untuk suaminya itu dan sesekali menyantap mie ayamnya yang belum habis. Agar aman ia pun segera mencuci mangkuknya.
Setelah lima belas menit, Ersya kembali menghampiri Div dan meletakkan sepiring nasi bersama sayur dan lauk pauknya.
"Di makan mas!"
Ternyata Divia sudah menghabiskan makanannya, "Mom ..., dad ...., Iyya ke kamal duyu ya!"
"Iya sayang, jangan lupa cuci tangan dan kaki dulu sebelum tidur ya!"
"Ciao mom!"
Divia pun segera turun dari tempat duduknya di bantu Div.
Kini di ruang makan itu tinggal Di dan Ersya. Ersya tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sedang makan. Lagi pula ada yang ingi dia bicarakan dengan suaminya.
"Kenapa pulangnya siang mas, katanya tadi hari ini akan sangat sibuk?" tanya Ersya tapi Div malah merogoh saku celananya lalu membuka aplikasi WhatsApp dan menunjukkan pesannya yang sama sekali tidak di jawab oleh Ersya.
Div kembali meletakkan ponselnya ke atas meja lalu melanjutkan makannya, sebenarnya bukan cuma itu masalahnya tapi ucapan sekretaris Revan cukup membuat pikirannya terganggu.
"Itu tadi ya mas ...., itu tadi aku nggak sengaja, sungguh!"
Div kembali menghentikan makannya dan menatap istrinya itu,
"Apa gunanya punya hp kalau nggak di pakek buat balas pesan!"
"Ya aku kan nggak selalu pegang mas, biasanya juga di dalam tas!"
"Awas saja kalau setelah ini, setiap aku kirim pesan tidak kamu balas!" ancam Div.
"Iya maaf!"
...Harga diri seorang suami terletak pada istrinya, lalu bagaimana jika kebahagiaan seorang istri terganggu, bukankah terluka juga harga diri seorang suami. Bahkan jika kamu sedang terluka maka terobati sudah luka itu karena senyum istrimu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ Tri.ani5249
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰🥰