
"Duduklah."
Divia terpaksa kembali duduk, Apa boleh buat, kepalang tanggung juga ....
Meraka pun duduk dalam posisi yang cukup jauh. Meja makan berbentuk oval itu dan mereka berada di masing ujung meja.
Kim terus menatap Divia membuat Divia salah tingkah di buatnya,
"Apa ada yang salah denganku?" Divia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, "Apa kau sedang mengingat sesuatu?" tanya Divia lagi.
"Apa telah terjadi sesuatu semalam?"
"Sesuatu?"
"Iya, misalnya sesuatu yang_!"
"Enggak!" dengan cepat Divia memotong ucapan Kim, ia tidak mau sampai pria itu mengingatnya, jika masih bertanya itu tandanya dia tidak mengingatnya ....
"Tidak terjadi apapun semalam, aku hanya membantu Lee membawamu ke kamar saja, cukup!"
"Kemudian?"
"Ya kemudian aku kembali ke kamarku, aku tidur dan kamu juga tidur."
Syukurlah berarti semalam tidak terjadi apa-apa, mungkin itu hanya ilusi saja ....
Tapi saat ia menatap bibir divia, rasa yang selama itu kembali menari-nari, ia bahkan tidak kuasa menelan Salivanya sendiri.
"Makanlah!"
"Baiklah, temani aku makan setelah ini ada yang ingin aku bicarakan serius sama kamu!"
"Aku juga!" lagi pula tadi Divia juga belum sempat sarapan.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama, tapi tetap saja arah tatapan Kim tidak bisa beralih dari bibir divia, apalagi saat Divia mengunyah makanan atau sebuah saus menempel di bibirnya dan dengan sengaja Divia menjilatnya.
Kim, apa yang sedang kamu pikirkan ...., Kim sampai memukul kepalanya tanpa sadar, hal ini membuat Divia bingung dan segera menghampiri Kim,
"Kim, kamu kenapa?"
Bibir itu ...., Kim merasa Divia bicara terlalu dekat hingga bibir itu terlihat begitu dekat darinya.
"Kim_!"
Beruntung akal sehatnya segera menyadarkannya, seandainya saja akal sehatnya tidak segera kembali mungkin ia akan ******* kembali bibir itu.
"Tidak pa pa, kembalilah ke tempatmu!?"
Dia aneh sekali ....., Divia terlihat bingung sambil berjalan kembali ke tempatnya.
"Aku ingin bicara!"
"Aku ingin bicara!"
Mereka berbicara bersamaan membuat Meraka kembali saling diam untuk beberapa saat,
"Baiklah kamu dulu!?" Kim mengalah dan memberikan kesempatan pertamanya pada Divia.
"Baik, jadi aku mau protes!"
"Protes?" Kim terlihat bingung karena Divia mengacungkan ponselnya, sedangkan ia menyerahkan ponsel milik Divia tanpa berkurang atau lecet sedikitpun.
__ADS_1
"Iya. Aku protes karena kamu sudah berani bicara macam-macam pada mommy ku jadi kamu harus tanggung jawab menjelaskan pada mommy bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa!"
"Kalau masalah itu, seharusnya kamu berterimakasih padaku. Dengan apa yang di ketahui mommy kamu itu akan membuat mommy kamu tidak mencemaskan kamu lagi meskipun tinggal jauh dari mereka!"
"Tapi tetap saja itu merugikan aku, mereka mengira kita punya hubungan. Bagaimana kalau tiba-tiba kita di suruh nikah gara-gara tinggal satu rumah!?"
"Bagus dong, jadi aku nggak perlu repot-repot."
"Maksudnya?"
"Ya aku nggak perlu repot-repot buat jelaskan pada mereka tentang rencana baruku ini!?"
"Rencana baru? Tunggu, tunggu ...., maksudnya apa nih?"
"Seperti yang baru saja ingin aku bicarakan. Ini tentang rencana baru, jadi aku butuh kamu buat jadi calon istri pura-pura aku!"
"Tunggu, tunggu ...., aku masih belum faham nih. Calon istri yang bagaimana ini?" Divia terlihat mulai khawatir, ia bisa saja keluar dari semua kerumitan ini dengan membeli laptop baru lalu mengerjakan ulang desainnya, tapi entah kenapa ia malah memilih terjebak semakin dalam.
"Nenek sedang sakit keras sekarang, dan dia memintaku untuk membawa calon istri. Dan kamu tahu sendiri kan jika aku_!"
Tiba-tiba Divia tertawa mendengarkan ucapan Kim. Ia teringat dengan apa yang ia ucapkan pada Lee semalam.
"Kenapa menertawakanku?"
"Ya karena aku tahu alasannya!?"
"Kamu jangan meledekku." sedangkan Kim fahamnya Divia sedang menertawakannya karena ia di putuskan oleh kekasihnya di depan matanya.
Memang sudah ya kalau gay cari cewek, sampai pengasuh anaknya aja mau di ajakin bersandiwara ...., tapi aneh banget bisa Sampek brojol Dee ....
"Bagaimana, kamu setuju kan?"
"Kalau aku setuju, apa untungnya buat aku?"
"Hanya itu?"
"Bagaimana kalau aku akan membantumu menyelesaikan desain yang masih semrawut itu?"
"Enak aja semrawut!?"
"Ya mau bagaimana lagi, memang tidak ada estetik-estetiknya sama sekali."
Tega sekali dia menghinaku, itu hasil kerja kerasku ..., Divia melirik Kim kesal.
Tapi jika dia benar bisa bantu, kenapa aku harus menolaknya. Satu Minggu bukan waktu yang panjang untuk menyelesaikan semua itu ...
"Bagaimana?"
"Baiklah aku setuju!"
"Bagus!"
Kim pun segera berdiri dari duduknya dan menarik tangan Divia,
"Ehhh, mau ke mana?"
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Lalu Dee?"
"Lee yang akan menjemputnya." Kim bahkan bicara tanpa beban, Divia hanya bisa pasrah saat Kim membawanya begitu saja.
__ADS_1
Mereka menuju ke rumah sakit yang menjadi tempat di mana nenek Kim di rawat,
Tok tok tok
Kim mengetuk pintu itu lalu perlahan membukanya, terlihat sang nenek sedang duduk santai sambil membaca buku,
"Kim!?"
Bibirnya langsung tersenyum saat melihat ada orang lain di belakang Kim,
"Selamat pagi Nek!" sapa Divia sambil melambaikan tangannya.
"Kesinilah nak!" Nenek Kim segera menepuk tempat kosong yang ada di samping tempat tidurnya. Divia menatap ke arah Kim untuk meminta persetujuannya dan Kim mengangukkan kepalanya setuju.
Divia pun perlahan berjalan mendekati nenek Kim, ia duduk di tempat yang di tunjuk sang nenek,
"Siapa nama kamu nak?"
"Divia Nek!"
"Kamu cantik sekali, kamu bukan orang Korea ya?"
"Hemmm, saya orang Indonesia!" Divia dengan bangga mengenalkan asal usulnya.
"Kebetulan sekali. ibunya Kim juga dari Indonesia!?"
"Benarkah?" Divia benar-benar surprize, ia tidak menyangka jika Kim juga keturunan indo pasalnya wajahnya begitu Korea.
"Jadi Kim tidak pernah cerita padamu?" Divia pun menggelengkan kepalanya dengan pasti.
"Memang dasar anak itu."
"Nek_!" Kim protes saat sang nenek menyalahkannya.
"Kim sini mendekatlah!"
Akhirnya Kim yang sebelumnya berdiri di samping kaki sang nenek kini berjalan mendekat,
"Nenek nggak mau tahu, pokoknya kalau berdua harus segera buat bayi untuk nenek!?" ucap nenek sambil menyatukan tangan Kim dan Divia.
"Bayi?"
"Iya, menikah urusan belakangan. Asal kalian punya bayi kalian pasti tidak akan terpisahkan!"
Ini tidak ada di perjanjian kan? Divia hanya bisa tersenyum kaku sambil menatap Kim.
"Nenek pasti akan segera sembuh, masalah Dee, kalian jangan khawatir. Nanti saat nenek keluar dari rumah sakit, nenek akan ikut menginap di rumah kalian."
"Menginap Nek?" ternyata Kim tidak kalah terkejutnya.
"Iya, bukankah itu ide bagus?"
"Iya, bagus!?" terlihat wajah pasrah dari Kim, ia bahkan tidak berani melawan neneknya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...