
Sepanjang jalan Rangga terus menggerutu, pagi-pagi pria itu sudah berhasil merusak mood nya. Hingga matanya tiba-tiba fokus pada sosok yang akhir-akhir ini tanpa sengaja berseliweran di hidupnya tanpa ia undang.
"Gadis itu lagi, sedang apa dia di sini?" Rangga sedang bermonolog dengan dirinya sendiri. Walaupun sebenarnya enggan untuk memperhatikan tapi entah kenapa rasa penasarannya lebih besar dari rasa enggannya.
Rangga memilih memelankan laju mobilnya dan berjalan lambat di samping gadis itu, membuat gadis itu menoleh pada mobil rangga dan sesekali menghentikan langkahnya.
Rangga pun akhirnya menurunkan kaca mobil, dia melambaikan tangannya pada gadis yang bernama Zea itu,
"Hai, selamat pagi!"
"Bisa tidak untuk tidak mempedulikan saya, bersikaplah selayaknya orang yang tidak saling kenal!"
"Kalau nggak bisa?"
"Harus di usahakan!"
Zea kembali berjalan, dan lagi-lagi Rangga mengikutinya dengan mobilnya.
"Mau ke mana sih?"
"Bukan urusan kamu, pergilah sebelum orang-orang melihatmu!"
"Memang kenapa kalau melihatku?"
"Sudah lupakan!" Zea memiliki kembali berjalan dan Rangga masih tetap sama, ternyata Rangga lebih keras kepala dari Zea.
Tin tin tin
Suara klakson mobil di belakang Rangga ternyata sudah saling bersahutan.
"Rangga, go_!"
"Ayolah, sebelum semua orang meneriaki kita, masuklah atau aku tidak akan menjalankan mobilku!" Rangga sudah membuka pintu mobil agar Zea masuk.
Zea menoleh pada mobil-mobil yang ada di belakangnya, dan ternyata mereka sudah mulai terpancing amarah. Pagi memang saat yang sibuk untuk berangkat kerja, sudah pasti mereka akan segera keluar tanduk kalau sampai mobil Rangga tidak juga berjalan.
Akhirnya Zea pun ikut masuk bersama Rangga, Rangga tersenyum senang dan kembali melajukan mobilnya. Zea begitu penasaran kenapa pria yang bahkan tidak ia kenal dan hanya mengetahui namanya itu terus memaksanya naik.
Zea pun kembali menoleh pada Rangga yang fokus menyetir,
Dia sengaja memperlambat laju mobilnya,
Seharusnya untuk sampai di minimarket tidak butuh waktu sepuluh menit, tapi jika Rangga menjalankan mobilnya seperti ini bisa sampai lima belas menit untuk sampai,
"Ada apa?"
__ADS_1
Rangga hanya melirik ke arah Zea dan tersenyum,
"Tidak pa pa, hanya ingin memberi tumpangan saja! Tapi ngomong-ngomong kamu juga tinggal di sekitar sini juga? Aku kok nggak pernah lihat kamu ya?" katanya tidak tertarik, tapi ternyata Rangga malah terlihat begitu penasaran dengan gadis itu.
Hehhh
Zea menghela nafas, ia berharap pria itu tidak salah bicara,
"Perlu aku jawab!?"
Kali ini Rangga menoleh sebentar lalu kembali fokus pada jalanan yang memang terlihat ramai,
"Ya sebagai tetangga yang baik, wajib dong menjawab. Apalagi kamu pendatang baru, harus ijin sama yang sudah lama tinggal!"
"Nggak penting!" Zea memilih membuang muka dan menatap ke luar mobil, melihat sibuknya beberapa orang yang lalu lalang, ada yang jalan kaki, naik sepeda ada juga yang baik sepeda motor, para pedagang kaki lima yang mulai membuka lapaknya tapi juga ada yang membongkar lapaknya karena sudah berjualan dari subuh.
"Itu sangat penting, ada di undang-undang nya." Rangga ternyata masih tidak mau kalah. Ia masih mencari alasan yang jelas untuk membuat Zea buka mulut.
"Dasar keras kepala!" tapi sepertinya Zea memilih untuk tidak mempedulikan ucapan Rangga.
"Sama!"
Akhirnya mereka sampai juga di ujung gang, Rangga kembali menoleh pada Zea saat mobil mulai melambat dan berhenti.
"Di sini saja!" Zea membuka pintu mobilnya tapi Rangga dengan cepat menahan tangan Zea.
"Kenapa pegang-pegang sih!?" kali ini Zea benar-benar kesal karena Rangga memegang tangannya tanpa ijin.
Rangga hanya tersenyum, ia memiringkan kepalanya,
"Nggak ngomong apa gitu?"
Zea mengerutkan keningnya tidak faham dengan yang di maksud Rangga.
"Aku sudah memberimu tumpangan!"
Issstttt ...., Zea benar-benar tidak tahu terbuat dari apa mental pria yang ada di sebelahnya.
"Terimakasih!" jawab Zea sangat tidak ikhlas dengan nada ketusnya.
"Yang ikhlas dong!" protes Rangga.
Zea pun terpaksa mengatur bibirnya agar bisa tersenyum dengan ramah, "Terimakasih!"
Walaupun sudah mengucapkan terimakasih, tapi Rangga tidak juga melepaskan tangan Zea.
__ADS_1
"Lepaskan, sudah kan terimakasihnya, ada apa lagi?"
"Dan lagi!" Rangga tampak berpikir.
"Apa lagi?"
"Nanti kalau pria kemarin menemuimu nggak usah di tanggapi!"
"Bodo!" kali ini Zea mengibaskan tangan Rangga dan berlalu begitu saja. Rangga masih menatap punggung gadis itu hingga masuk ke pelataran minimarket.
"Dia tidak tahu seperti apa mas Rizal!"
Hehhhh
Setelah Zea tak terlihat lagi, Rangga pun kembali melajukan mobilnya, kali masuk di jalan utama, jalan yang jauh lebih lebar dari gang rumahnya yang hanya bisa untuk berpapasan dua mobil saja.
...🍂🍂🍂...
Di belahan bumi lainnya, kamar itu terlihat berantakan karena semalam tiga manusia harus tidur dalam satu tempat tidur dan saat bangun maka keributan akan segera terjadi,
"Ayolah Iyya, Daddy sudah kesiangan!"
"Daddy pakek kamar mandi Iyya pokoknya!" teriak dari dalam kamar mandi dan mom's nya hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya ayah dan anak itu hanya meributkan soal kamar mandi.
"Daddy nggak bisa mandi di kamar mandi kamu, sabun Daddy di dalam, sampo Daddy juga!"
"Pakek sampo Iyya!" teriak lagi dari dalam.
"Ya sudahlah mas, ngalah aja!" Ersya yang memang tidak di ijinkan untuk melakukan apapun oleh suaminya hanya bisa menjadi penengah.
"Ya sudahlah!" pria dewasa itu pun keluar dari kamar dan menuju kamar Divia untuk mandi di sana, dan benar sama hanya ada sabun dan sampo anak-anak yang bisa ia pakai.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Div pun kembali ke kamarnya dan melihat putrinya itu sudah rapi dengan seragamnya di bantu oleh mom's Ersya.
...Banyak hal yang terlihat buruk, tapi sebenarnya itu begitu baik untuk kita jika kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda....
bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1