
“Bismillahirrahmanirrahim
… !”
Ersya bisa mendengar
lirih, pria di sampingnya itu mengikuti ucapan pak penghulu. Semua kamera sudah
menyala siap mengabadikan moment luar biasa ini. Bahkan para pencari berita
yang di undang khusus adalah para wartawan dengan lisensi yang sudah cukup
bagus.
Divta juga mulai
memegang mikrofon di tangannya, ia bersiap mendengarkan perintah dari pak
penghulu. Ini pengalaman pertamanya menikah sedangkan Ersya ini untuk yang ke
dua kalinya.
“Sudah siap?” tanya pak penghulu.
“Sudah!” jawab Divta mantap.
Pak penghulu mengulurkan tangannya, tanpa ragu Div menjabatnya. Walaupun pernikahan yang ia rencanakan adalah pernikahan demi Iyya dan tanpa cinta, tapi entah kenapa ia merasakan jantungnya
terus berdegup
kencang walaupun ia sudah berulang kali menenangkannya. Wanita di sampingnya seperti punya magnet tersendiri
hingga membuatnya merasa seperti ada keterikatan.
Dengan microphone yang sudah
berada di tangannya, suaranya mampu didengar oleh ratusan tamu yang datang. Pak
penghulu melafalkan beberapa doa sebelum memulai ijab qabul.
“Pradivta Anugra Putra!”
Suara nyaring keluar dari pengeras suara yang menggema di seluruh ruang yang luas itu.
Ternyata hal yang sama juga di
rasakan oleh Ersya, walaupun ini bukan yang pertama tapi tetap saja, jantung Ersya semakin berpacu dengan begitu keras. Rasanya seperti melakukan lari
maraton mengelilingi monas sepuluh kali.
“saya!” Divta langsung menyahutnya, entah sudah berapa kali ia belajar semalam agar hari ini lancar, tapi ternya
suasana belajar dengan suasana sebenarnya berbeda jauh.
“Saya nikah dan kawinkan engkau dengan Erisya putri binti Pramuja dengan mas kawin uang tunai sebesar lima
ratus juta di bayar tunai!”
“saya terima nikah dan kawinnya
Erisya putri binti Pramuja dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Dengan sekali tarikan nafas Div menyelesaikan Qobulnya.
“Saaaahhhhhh …!”
Seruan tamu yang hadir menjadikan Ersya sah menjadi istri Div, Divia yang paling bersemangat di antara semua yang hadir, ia sampai turun dari pangkuan bu Dewi dan berlari memeluk Ersya.
“Iyya cenang, mo Eca benal-benal
jadi mom nya Iyya!”
Ersya segera memeluk Iyya dan
menciumnya, tangisannya terurai, ia benar-benar bersyukur dengan hadirnya Iyya
di hidupnya. Iyya seperti pelita dalam gelap, memberi warna dan penawar setiap
kesedihannya.
Setelah acara ijab qabul, acara di
hentikan beberapa jam untuk istirahat karena di lanjutkan dengan resepsi,
Ersya dan Divta kini sudah kembali ke kamar, tapi kali ini mereka berada di kamar yang sama.
__ADS_1
Tamu yang di undang pagi dengan tamu yang di undang sore berbeda, jika pagi lebih kepada kerabat atau teman-teman dekat saja sedangkan malamnya lebih ke rekan-rekan bisnis dan orang-orang penting lainnya seperti pejabat dan sebagainya.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar, Div segera melepas jas dan kemejanya membuat Ersya yang duduk di depan meja rias melotot dan dengan cepat menoleh.
“Apa yang kamu lakukan?” teriak
Ersya.
Karena teriakan Ersya membuat Div sadar jika memang dia tidak sendiri di dalam kamar itu. Ia menghentikan kegiatannya hingga kemeja yang hampir terlepas itu menggantung di lengan.
“Ada apa sih?”
“Jangan buka baju di sini!”
“Apa salahnya sih?”
“Apa salahnya sihhhh …!” Ersya
menirukan ucapan Div, ia segera berdiri dan menghampiri pria yang baru saja resmi menyandang status sebagai suaminya itu,
“Yang salah itu kamu, ngapain buka buka baju di depan aku?”
Ersya segera mendorong tubuh Div menuju ke kamar mandi, tapi div kembali menghentikan langkahnya dan menoleh
pada wanita itu.
“Eh …, kayaknya kamu deh yang aneh!”
“kenapa?”
“lepas!” Div pun menyingkirkan
tangan Ersya dari tubuhnya dan kembali berbalik, “Kita sudah menikah, itu berarti kamu istriku! Jadi nggak masalah kalau kamu lihat tubuhku!”
“Jangan macam-macam ya, atau mau aku tonjok nih …!” Ersya sudah menunjukkan kepalan tangannya.
“Isssttttt …!”
Div berdesis, wanita di depannya
bukan wanita yang lemah. Ia juga tidak mungkin membalas pukulan seorang wanita.
Akhirnya pria itu memilih menyerah dan masuk ke dalam kamar mandi.
masih ada waktu dua jam untuknya istirahat sebelum kembali di rias.
Tidak berapa lama Div sudah keluar dengan celana pendek dan kaos tanpa lengannya, tubuhnya juga tampak segar
sepertinya pria itu baru saja mandi.
“Ahhhh …, segarnya!”
Pria itu segera menuju ke tempat
tidur, ia semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak karena harus menghafal ijab qabulnya. Ia merebahkan tubuhnya begitu saja memenuhi tempat tidur yang berukuran king size itu.
Ersya pun mengambil bajunya yang berada di koper, dan gantian masuk ke kamar mandi, ia juga harus mandi karena
tubuhnya terasa lengket.
Ia melepas gaun pertamanya dan mandi, mengganti bajunya dengan baju baby doll rumahan.
Setelah ia kembali keluar, ia bisa
melihat pria itu sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Ersya mendekati pria itu, ia penasaran apakah pria itu sudah benar-benar tidur atau hanya
pura-pura tidur.
Tangannya ia gunakan untuk menyanggah tubuhnya tepat di samping tubuh Div sedangkan tangan kirinya ia gerak-gerakkan
di atas mata Div.
“Dia sudah tidur!” gumamnya, tapi tiba-tiba Div bergerak hingga membuat tangan yang menjadi penyanggah tubuhnya terlepas, tubuh Ersya menimpa tubuh Div.
“Ups …!”
Sepertinya pria itu terlalu lelah
hingga tidak terbangun walaupun tertimpa tubuh Ersya. Tapi saat Ersya hendak
bangun tiba-tiba tangan Div melingkar sempurna di tubuh Ersya, dan membalik
tubuhnya hingga tubuh Ersya sebagian tertindih tubuhnya, sepertinya ia
__ADS_1
menganggap tubuh Ersya seperti guling saja.
Aduhhh gimana nih …., batin Ersya, ia berusaha lepas dari
pelukan Div tapi tidak bisa.
Ceklek
Tiba-tiba pintu yang memang tidak di kunci itu terbuka, ada bu Dewi dan Iyya di sama membuat Ersya melotot sempurna.
“Ehhh maaf maaf …, lanjutkan saja tidak pa pa!” ucap bu Dewi lalu menutup kembali pintunya.
“Oma …, kenapa tidak jadi?” tanya Iyya yang bingung karena ia sedari tadi ingin menemui mom nya tapi omanya malah
mengajaknya keluar lagi.
“Begini, Iyya pengen punya adik bayi nggak?” tanya bu dewi dan dengan cepat Iyya menganggukkan kepalanya.
“Iyya mau!”
“kalau mau, berarti nanti Iyya nggak boleh ganggu mommy Ersya sama daddy Div dulu ya, nanti pulang sama oma setelah
acara ini, bilang sama daddy kalau Iyya mau menginap di rumah oma, gimana?”
Iyya terlihat berpikir dan akhirnya
tersenyum, “Iya …, Iyya mau oma!”
“Anak pintar!”
Bu Dewi dan Iyya pun kembali ke
kamar mereka, ia lupa jika mereka masih muda pasti hasratnya juga masih
menggebu-gebu. Tidak peduli berapa waktu yang ada tetap saja melakukannya.
Di kamar itu, Ersya yang begitu
terkejut segera mendorong tubuh Div dengan begitu keras.
Dug .
“Aughhhh …!” terdengar keluh
kesakitan dari pria itu membuat Ersya menutup mulutnya. Ia segera turun dari
tempat tidur sebelum Div bangun dari lantai.
Ersya pura-pura tidak tahu dan masa bodo, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Div bangun sambil mengusap
pantatnya, sepertinya pantatnya yang terbentur ke lantai, ia menatap Ersya bingung dan beralih menatap ke tempat tidur.
“Ada apa?” tanya Ersya.
“Kenapa aku bisa terjatuh?”
“Ya mana aku tahu, aku ke sini
gara-gara denger kamu jatuh!”
“Perasaan ada yang dorong!”
“Masak??? Mimpi kali!”
“Apa iya …, mungkin aku terlalu
capek!”
Div pun memilih berjalan ke kamar mandi, rasa ngantuknya sudah hilang gara-gara jatuh. Lagi pula setengah jam lagi
orang-orang WO akan datang dan merias mereka.
Ha ha ha ha ….
Ersya sampai terpingkal-pingkal
melihat betapa bodohnya pria jenius itu saat bangun tidur. Ia sampai harus memegangi perutnya karena kram, ia juga menutup mulutnya agar suara tawanya tidak sampai terdengar hingga ke kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1
Maaf ya lupa undangannya jadi nggak kirim undangan deh