Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Luka yang besar


__ADS_3

Kedatangan Rendi menjadi angin segar di rumah itu, kini Ellen tidak bisa berkutik lagi, bukti yang di kumpulkan oleh Rendi sudah cukup untuk menyeret Ellen ke jeruji besi.


"Baiklah nona Ellen, bukti-bukti sudah cukup jadi sekarang mohon kerjasamanya."


Saat polisi akan mengajaknya pergi, Ellen tiba-tiba bersimpuh di kaki Div dan Ersya,


"Div sungguh aku tidak berbohong padamu, aku benar-benar keguguran saat itu bukan sengaja menggugurkan kandunganku, percayalah, Exsel berbohong di sini!"


Exsel adalah pria asing yang di bawa Rendi, dulu dia adalah sopir pribadi Ellen. Div tidak pernah tahu kalau pria itu juga menjadi simpanan Ellen.


"Terimakasih saja hukuman kamu dan jangan ganggu keluargaku lagi!"


"Aku beneran mencintaimu Div, sungguh!"


"Kamu hanya terobsesi padaku jadi pergilah!"


Melihat Div sama sekali tidak mengindahkannya, Ellen pun kembali berdiri kali ini dengan tatapan begitu kesal, ia mengacungkan jari telunjuknya di depan Ersya dan Div,


"Hanya kali ini saja aku akan memohon Div, dengarkan aku papa aku pasti tidak akan terima, dia bisa melakukan apapun untuk putrinya, ingat itu!"


"Mari nona Ellen!" ucap polisi sambil menarik tangan Ellen tapi Ellen menghempaskannya dengan begitu kasar,


"I can walk on my own, so stop pulling my hand!"ucapnya dengan penuh emosi lalu menatap Ersya dengan tatapan kebencian.


Ersya yang tidak terima pun segera berdiri,


"Saya sudah cukup ya dari tadi diam, kalau bukan karena saya sedang hamil saya pasti sudah mengajak anda berkelahi, dan ini_"


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Ellen membuat wanita itu memegangi pipinya yang memerah, tangan Ersya sekarang bergetar karenanya,


"Anggap itu hukuman dari untuk apa yang kamu lakukan pada Divia!"


Plak


Lagi, Ersya mendaratkan tamparan yang ke dua di pipi kanan Ellen,


"Ini untuk luka yang kau buat di hati Divia ku!"


Plak


Lagi, untuk ketiga kalinya kembali di pipi kiri Ellen,


"Ini untuk sakit yang sudah kau buat di tubuh putriku!"

__ADS_1


Saat tangannya sudah hampir mendarat yang ke empat kali, ellen menahan tangan Ersya dan menghempaskannya dengan kasar hingga tubuh Ersya terhuyung, untunglah Div dengan sigap menangkap tubuh sang istri.


Div begitu marah sekarang karena sekali lagi Ellen menyakiti istrinya, Setelah memastikan Ersya tidak akan jatuh lagi kali ini Div menarik kasar tangan Ellen hingga tubuh Ellen begitu dekat dengannya,


"Hanya sekali ini dan untuk selanjutnya jika kamu masih berani menyakiti istri dan putriku, aku tidak akan membiarkanku hidup tenang! Remember that!"


Div pun menghempaskan tubuh Ellen dengan begitu kasar bahkan lebih kasar dari apa yang di lakukan Ellen terhadap Ersya.


"Bawa dia ke kantor polisi pak!"


"Baik, kami permisi!"


Rendi pun meminta anak buahnya untuk mengikuti mobil polisi dari belakang buat jaga-jaga jika ada yang berusaha untuk membebaskannya di jalan sedangkan Rendi sendiri masih ada yang ingin dia bicarakan pada Div mengenai langkah selanjutnya.


Nyonya Aruni yang merasa sudah Tidka berkepentingan pun segera meninggalkan ruangan itu dan bersembunyi di kamarnya.


Ia segera pergi ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bayangan kembali masuk kedalam jeruji besi membuatnya begitu ketakutan.


Sedangkan Ersya, yang masih menumpahkan air matanya segera teringat dengan Divia,


"Mas, aku menyusul Divia dulu ya!"


Div pun mengangukkan kepalanya, sebenarnya ingin segera berkumpul dengan keluarganya tapi masih ada Rendi di sana,


Ersya berjalan cepat menghampiri kamar Divia, gadis kecil itu sedang duduk dia tas tempat tidurnya di temani baby sitter nya.


Ersya dengan perut yang sudah mulai buncit itu pun segera duduk di depan putri kecilnya yang malang itu,


"Sayang, peluk mom's dong!"


Divia pun dengan cepat berhambur memeluk mom's nya, anak usia tujuh tahun itu sudah mulai bisa membedakan mana yang salah dan aman yang benar.


Tangisnya semakin kejer dalam pelukan ibu sambungnya itu, seakan menemukan sandaran ternyamannya.


Ersya membiarkan putrinya yang sedang menumpahkan air matanya itu.


Di ruang tamu, sepertinya Rendi memahami perasaan Div saat ini. Ia pun memilih berpamitan daripada membicarakan rencana selanjutnya,


"Aku akan pulang dulu, besok saja aku akan datang ke kantor untuk membicarakan rencana selanjutnya, salam untuk Divia, aku akan menemuinya besok!"


"Iya!"


Rendi menepuk bahu Div sebelum benar-benar meninggalkan Div.


Saat Rendi sudah berjalan sekitar tiga langkah Div kembali bicara,

__ADS_1


"Terimakasih ya Rend!"


Rendi menoleh dan tersenyum,


"Aku melakukan demi Divia, dia juga putriku!"


"Kau pasti berpikiran sama denganku, aku Daddy yang gagal kan?"


Rendi menggelengkan kepalanya, "Memang berat menjadi orang tua, mungkin suatu saat aku yang akan merasa gagal lebih dari bang Div, dan saat itu aku hanya bisa meminta saran Abang untuk membantuku!"


Div tersenyum mendengarkan ucapan Rendi, memang benar menjadi orang tua itu tidak mudah. Saat kita merasa sudah menjadi orang tua yang begitu perfect ternyata itu bukan yang di inginkan anak-anak kita.


Setelah sepeninggal Rendi, Div pun segera menghampiri putri dan istrinya, tapi dia hanya memilih berdiri di ambang pintu, ia menyaksikan keharuan yang terjadi pada putri dan istrinya. Melihat Divia yang menangis tersedu di dalam pelukan ibu sambungnya.


Sesekali Div pun ikut mengusap sudut matanya yang mulai berair.


Setelah memastikan Divia berhenti menangis, Ersya pun segera melepas pelukannya dan menatap sang putri,


"Sayang, mom's pengen lihat boleh ya?" tanyanya pada sang putri, ia berjanji tidak akan memaksa jika putrinya tidak bersedia memperlihatkan lukanya.


"Mom's jangan sedih ya!" ucap Divia dengan polosnya dan Ersya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Divia pun mulai membuat bajunya, meninggalkan kaos dalamnya saja hingga terlihat begitu banyak luka lebam di dalam tubuhnya.


Ersya tidak bisa memenuhi janjinya pada Divia, ia menangis sejadi-jadinya, bahkan ia sampai menjatuhkan tubuhnya ke samping tempat tidur, rasanya seluruh persendiannya tiba-tiba terasa lemah tak berdaya, air matanya juga tidak bisa berhenti mengalir.


Kali ini Div tidak bisa membiarkan ini terjadi, Ersya juag harus memikirkan anak dalam kandungannya, ia tidak boleh sedih berlebih saat ini.


Div pun segera memeluk tubuh Ersya, mencoba menenangkan istrinya dengan caranya walaupun saat ini dirinya juga sedang teriris,


"Jangan menangis sayang, kamu harus kuat, jika kamu lemah Divia pasti juga akan lemah, kamu kekuatan bagi Divia, dia selama ini bisa menahan sakit karena ada kamu, kamu kekuatannya, jangan menyakiti dirimu sendiri, sayang!"


"Wanita itu benar-benar tidak punya hati, teganya dia menyakiti putriku seperti itu, dia benar-benar tidak punya hati!" rancau Ersya dalam pelukan Div.


Melihat Ersya yang mungkin tidak akan bisa tenang dalam waktu singkat, Div pun meminta pelayan untuk memanggil dokter kandungan Ersya.


Sampai dokter datang pun Ersya masih histeris, Divia pun ikut menenangkannya tapi setiap kali melihat Divia, Ersya malah semakin menangis, Dokter pun memberikan suntikan penenang untuk Ersya agar bisa tidur sementara waktu.


Kejadian hari ini benar-benar berhasil membuat psikis Ersya terguncang, apalagi saat melihat tubuh Divia yang penuh luka.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @ tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2