
Sebenarnya Divta masih belum siap untuk bertemu dengan nyonya Ratih, ibu keduanya.
Sudah pasti ia akan menanyainya banyak hal. Sekarang pasti anak buahnya sudah gencar gencarnya mencari tahu soal Ersya.
Divta masih duduk di ruang kerjanya, sesekali ia memutar empat puluh lima derajat kursinya dan kembali lagi ke posisi semula, itu untuk beberapa kali. Tangannya sibuk memainkan bolpoin di tangannya.
Kemudian ia mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja, mulai membuka laman berita hari ini.
Matanya seketika membelalak sempurna.
"Buseeetttt, segini santernya berita tentangku!"
Setiap berita yang ia buka, hampir semuanya memberitakan tentang dirinya yang memperkenalkan seorang wanita sebagai calon istrinya. Apalagi kejadian tadi siang di rumah sakit tambah memperkuat berita itu.
Bahkan diketahui Pradivta Anugra putra membawa putrinya juga, bisa jadi wanita yang di perkenalkan sebagai calon istrinya adalah ibu kandung putrinya
Di ketahui baru-baru ini ternyata wanita itu adalah seorang janda, ia resmi bercerai sekitar tujuh bulan yang lalu.
Bisa jadi ini lah alasan mereka bercerai, COE finityGroup itu menjadi orang ke tiga dalam pernikahan wanita yang belum di ketahui namanya itu.
Beberapa sumber memilih bungkam mengenai identitas wanita cantik itu.
Di ketahui wanita cantik itu bekerja di salah satu bank swasta dengan posisi cervis center. Bukan posisi yang tinggi untuk bisa berdampingan dengan pemilik kerajaan bisnis finityGroup.
Mungkin pihak finityGroup memang sengaja menyembunyikan identitas wanita cantik itu seperti istri presiden direktur finity group, walaupun sudah menikah hampir delapan tahun, tapi mereka tetap menutupi identitas istrinya.
Pihak bank pun melakukan aksi bungkamnya saat di tanya tentang identitas wanita itu.
"Berita macam apa ini?!" gerutunya, ia kembali meletakkan ponselnya.
Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.
Ia juga was-was dengan semua pemberitaan itu, apalagi ini menyangkut reputasi finityGroup. Pihaknya memang bisa menarik semua berita itu, tapi semua orang sudah terlanjur membacanya. Orang-orangnya hanya bisa menghentikan pemberitaan itu tapi tidak mungkin menarik kembali berita yang terlanjur beredar.
"Tuan!"
Seseorang menyadarkan Divta, ia segera membuka matanya. Ia tahu suara siapa itu.
"Ada apa?"
Sekretaris Revan sedang berdiri di depan mejanya.
"Nona Divia beberapa kali menelpon anda, nona meminta anda untuk segera pulang dan makan malam bersama!"
"Sekarang jam berapa?"
"Sudah jam tujuh malam tuan!"
"Astaga kenapa aku bisa lupa sihh?!"
Gerutunya, ia pun segera bangun dari duduknya dan menyambar jas yang sedari tadi ia gantung fi sandaran kursinya.
"Kita pulang sekarang!"
"Baik tuan!"
Saat memakai kembali jasnya, ia baru teringat jika niatnya untuk mengembalikan ponsel wanita itu belum terlaksana.
Ia merogoh saku jasnya kembali dan memastikan ponsel itu masih berada di sana.
Setelah melewati pintu lift, Div pun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang sedangkan sekretaris Revan di depan bersama sopir.
Divta kembali mengambil ponsel dengan warna pink itu dan menghidupkan nya.
Dia tidak mengunci ponselnya, teledor sekali wanita itu ......
__ADS_1
Divta akhirnya tertarik untuk melihat-lihat isi ponsel itu, mencari sesuatu yang menarik.
Ia melihat banyak sekali telpon dan messenger dari beberapa orang.
kantor
kantor
kantor
kantor
kantor
Puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab dari kantor.
Memang dia sudah bolos berapa hari sih, sampai begitu banyak orang kantor yang menghubunginya ....
Divta beralih dari menu WhatsApp, ia mencari menu galery.
Bibir Divta sesekali tertarik ke atas saat melihat fose fose lucu dari wanita yang gambarnya begitu banyak di dalam ponsel itu.
Ponsel butut gini, isinya cuma gambar dia, memang ni ponsel cuma fungsi buat nyimpen foto ....
Divta terus menscroll ke bawah layar ponselnya hingga ia menemukan beberapa foto mesra wanita itu dengan mantan suaminya.
Gini mau move on ...., foto aja masih di simpen ....
Divta pun berinisiatif untuk menghapus foto wanita itu bersama mantan.
Setelah puas melihat-lihat foto, Divta jadi kepikiran untuk melihat sosial pribadi milik wanita itu, ia membuka aplikasi Ig.
Divta melihat daftar feed unggahan wanita pemilik hp yang sedang ia pegang.
Kenapa gayanya gitu banget ....,
Diam-diam ia ingin tahu apa keseharian wanita yang telah membuat putrinya begitu sayang dengannya.
Akhirnya mobil pun memasuki pintu gerbang tinggi itu, hingga berhenti di depan pintu utama.
"Kamu boleh pulang sekarang!" ucap Divta sebelum turun dari mobilnya.
"Baik tuan!"
Sekretaris Revan pun membukakan pintu mobil untuk Divta dan berpamitan untuk pulang.
Divta pun segera masuk ke dalam rumah, kedatangannya langsung di sambut oleh pelukan Iyya. Yang berbeda kali ini, di belakang Iyya bukan encus atau pelayan tapi seorang wanita cantik dengan rambut di ikat tinggi dan di tekut.
Dia terlihat cantik ....., batin Divta sambil terus menatap Ersya.
Ersya yang terus di tatap jadi salah tingkah sendiri, ia sampai harus mengusap tengkuknya walaupun sebenarnya tidak ada masalah.
Kenapa dia menatapku terus? Memang ada yangs salah ....
Penampilannya yang natural tanpa make up itu berhasil membuat Divta terkesima di buatnya.
"Dad ...., dad ...., are you okey ?" tanya Iyya dengan suara kidal khas anak kecil itu.
Hal itu membuat Divta tersadar, ia pun segera mengalihkan tatapannya dari wanita yang berdiri di depannya yang hanya berjarak dua meter itu ke putri kecilnya.
Ia segera berjongkok dan memeluk putrinya.
"Dad merindukanmu sayang!"
"Daddy bohong, dad celalu puyang mayam!"
__ADS_1
"Maaf sayang, tadi daddy sibuk sekali!"
"Baiklah Iyya maafkan kalena hayi ini ada mom Eca, dad tau mom Eca cudah macak buat kita!"
"Benarkah? Baiklah bagaimana kalau kita segera makan saja!"
"Yeee, kita makan!"
Divta segera menggendong putrinya itu dan berjalan melewati Ersya begitu saja menuju ke rumah makan.
Ersya pun akhirnya ikut berjalan di belakangnya.
Divta mendudukkan Iyya di kursinya dan ia pun ikut duduk di depan putrinya itu.
"Mau daddy ambilkan makanan apa?"
"Iyya maunya di ambilkan cama mom Eca!"
Ersya pun tersenyum melihat wajah kesal Divta, pria itu terlihat cemburu dengan wanita yang baru saja di kenal oleh putrinya itu.
Ersya yang masih berdiri di samping Iyya pun segera duduk, ia mengambilkan piring dan makanan untuk Iyya.
"Segini cukup sayang?" tanya Ersya dan Iyya pun menganggukkan kepalanya, senyum tidak pernah lepas dari bibir gadis kecil itu.
Saat Iyya hendak menyendokkan makanan ke mulutnya, Divta segera mencegahnya.
"Tunggu!"
Bersambung
...Dia bukan siapa-siapa, tapi dia begitu berarti untuk putri ku, tidak peduli apapun nanti aku akan mencoba menerimanya...
NB :
Assalamualaikum para pembaca setia keluarga besar finityGroup group.
Ada berita bagus nih .....
Mau tahu aja atau mau tahu banget?
Aku kasih tahu ya
Kisah sekuel MBMH sudah launching.
Seperti janji saya beberapa bulan lalu, saya akan menulis di sana sekalian, dengan judul yang sama, jangan khawatir di awal kisahnya aku kasih cover mereka
The Twins
langsung buka aja di my bos is my hero
Scroll ke bawah dan bisa langsung di baca di sana.
Kenapa nggak di buat cerita baru?
karena berdasarkan koment kalian kemarin pada banyak yang milih di lanjut di situ saja.
Sekian dan terimakasih
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰