
"Ya udah aku mau cerita nih!" Divia benar-benar tidak sabar ingin segera bercerita pada Yura.
Yura pun segera mencari posisi yang paling baik untuk mendengarkan cerita Divia,
"Apa?" Yura bahkan sampai mendekatkan tubuhnya agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan di bicarakan oleh temannya itu.
"Ayahku mau datang ke sini!" ucap Divia dengan wajah tegangnya.
"Ke kampus?"
"Bukan_, Maksudnya mau datang ke Korea karena ada urusan pekerjaan."
"Trus masalahnya apa?"
"Masalahnya_, kalau sampai ayah tahu aku tinggal satu rumah dengan Kim, bisa di bawa pulang paksa aku ke indo." Divia masih menunjukkan wajah tegangnya membuat Yura ikut tegang mendengarnya.
"Serius banget masalah kamu!" tentu itu masalah serius bagi Divia, mereka masih harus menempuh pendidikan selama satu setengah tahun lagi.
Tapi tiba-tiba wajah tegang Divia berubah menjadi senyum,
"Tapi jangan khawatir_!"
Hal itu membuat Yura bingung, "Kok jadi nggak boleh khawatir sih!?"
Divia dengan penuh semangat menggenggam kedua tangan Yura masih dengan senyumnya,
"Soalnya pagi-pagi sekali, Kim sudah kasih solusi sama aku!"
"Solusi?" Yura sampai memiringkan kepalanya. Pasalnya saat solusi itu datang, saatnya dia mengalami kemalangan karena Lee meninggalkannya di pinggir jalan.
Pasti ini ada hubungannya nih sama mr Lee yang nurunin aku di pinggir jalan ....
"Iya_, dia tiba-tiba ngirim nenek ke luar negri buat jalan-jalan sekaligus ikut terapi selama dua Minggu!"
Mendengar hal itu, Yura benar-benar ikut senang. Ia seakan melupakan kekesalannya pagi ini, membayangkan betapa menggemaskannya wajah tampan Mr Kim yang dingin dan berubah menjadi begitu hangat,
"Ya ampun ...., sweettt banget Mr Kim!"
Hehhhhh ...., tapi ia kembali teringat dengan dinginnya Mr Lee yang tidak bisa sehangat Mr Kim membuatnya iri, "Sayang sekretarisnya nggak gitu!" gumamnya kemudian tapi masih bisa di dengar oleh Divia.
"Siapa?" Divia memastikan apa yang ia dengar itu benar.
"Mr Lee!"
Divia berbalik mengerutkan keningnya penasaran dengan kelanjutan cerita Yura, "Kenapa dengannya?" tanyanya penasaran.
"Dia sungguh pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui!"
"Kenapa?"
"Kamu tahu kemarin, dia minta aku buat milihin belanjaan semua tentang kamu, yang kamu sukai dan yang nggak kamu sukai!"
"Jadi maksudnya yang bantu belanja Lee kemarin kamu?"
"Iya!"
__ADS_1
"Termasuk cincin ini?" Divia menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya,
"Hmmm!" Yura menganggukkan kepalanya dengan pasti, "Dan kamu tahu berapa harganya?"
Divia menggelengkan kepalanya pura-pura tidak tahu, walaupun dengan melihat sekali saja ia sudah langsung tahu berapa kisaran harga cincin yang tengah di pakai saat ini.
"Itu seharga satu mobil, Vi! Gila kan tuh. Kalau di hitung-hitung habis belanjaan kemarin bisa buat hidup satu keluargaku selama satu tahun, dan di dingin itu tinggal tunjuk aja!" Yura tampak kembali mengingat bagaimana mereka belanja kemarin, Lee dengan entengnya hanya terus menunjuk barang-barang yang di tunjuk oleh Yura.
Andai semua itu dia lakukan untukku ....., ehhhh kebayang gimana rasanya jadi Cinderella.....
Divia hanya tersenyum mendengar betapa Yura sangat memuji benda-benda yang sudah mereka beli kemarin.
Hehhhhh ....
Tapi tiba-tiba Divia menghela nafas begitu dalam. Ia masih memikirkan ucapan Kim saat di mobil tadi, membayangkan Kim akan melamarnya di depan sang ayah membuatnya khawatir.
Bagaimana bisa seperti itu ...., memang dia punya stok nyawa berapa????
Divia tidak bisa membayangkan kalau sampai ayah Rendi membuat masalah dengan Kim belum lagi jika ia harus berhadapan dengan Daddy nya juga.
Perbincangan mereka akhirnya harus terhenti karena dosen masuk ke dalam kelas.
***
Kuliah berakhir_, Divia masih saja memikirkan nasibnya jika sampai Kim benar-benar nekat dan mengutarakan maksudnya kepada ayah Rendi,
"Hari ini mau ke mana?" tanya Divia setelah sadar mereka sudah hampir mencapai gerbang kampus.
"Aku harus kerja Vi!"
"Maaf_, lain waktu saja ya. Aku benar-benar harus lembur hari ini!"
"Baiklah, tak apa!"
"Ya udah aku pergi ya, sampai jumpa besok!"
Divia segera melambaikan tangannya saat Yura mulai berlari saat melihat sebuah bus berhenti di depan kampus.
Sebenarnya hari ini ia ingin pergi sebentar ke perpustakaan untuk mencari referensi tugasnya, tapi sepertinya masih baik tidak berpihak padanya, Kim sudah menunggunya di bahu jalan dengan kaca mata hitamnya seperti biasa.
Sebenarnya Divia sudah melarang Kim agar tidak menjemputnya. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini pria itu suka sekali meninggalkan pekerjaannya demi menjemput atau mengantarnya.
Divia pun dengan cepat berlari ke arah Kim, dan berhenti tepat di depan pria tampan itu. Keberadaan di kampus pasti akan menjadi makanan empuk bagi para pencari berita.
"Kim, bukankah tadi saya sudah bilang kalau_!"
Tiba-tiba jari telunjuk Kim sudah menempel di bibirnya membuat ucapan Divia terhenti.
"Bisa diam dan masuk saja!?" ucap Kim tanpa melepas kaca mata hitamnya.
Walaupun dengan kesal, akhirnya divia masuk ke dalam mobil. Ia tidak mau keberadaan mereka berdua akan berbuntut panjang.
"Kita mau ke mana?" tanya Divia sambil memakai sabuk pengamannya. Ia tidak mau sampai di ledek Kim lagi gara-gara tidak bisa memakai sabuk pengaman.
Kim yang sudah hampir menjalankan mobilnya kembali ia urungkan dan memilih untuk menoleh pada Divia, menatapnya dengan tatapan yang sedikit lebih hangat sekarang,
__ADS_1
"Bukankah tadi pagi aku sudah mengatakannya!?"
"Tapi kan aku bisa kembali tinggal di kontrakan lama!"
"Pilihannya hanya dua_, jadi pilih yang pertama atau ke dua?"
"Hehhhh, kamu yang nggak tahu betapa mengerikannya ayahku. Kalau dia marah bahkan dia bisa membekukan gunung berapi sekalipun!"
"Benarkah?"
"Iya, nggak percaya banget!" Divia tidak bisa membantah lagi.
"Kamu yang nggak percaya, menurutku aku seserius apa?"
"Hahhh?"
"Bahkan niatku lebih serius dari gunung berapi sekalipun, kalau kamu katakan iya saat ini juga aku akan ke Indonesia untuk melamar kamu!"
Serius banget dia, aku jadi takut .....
Setelah mendapat jawaban dari Kim membuat Divia hanya bisa menelan Salivanya yang begitu susah payah ia coba telan.
Akhirnya mobil Kim pun mulai melaju, sesekali tampak ia sedang melakukan panggilan kepada seseorang, sepertinya orang yang sedang bicara padanya adalah Lee.
"Jika kamu sibuk, aku bisa melihatnya sendiri!" ternyata ucapan Divia berhasil membuat Kim menghentikan percakapannya di telpon. "Aku akan memperlihatkannya nanti padamu!"
Kim menatap Divia sebentar lalu kembali pada panggilannya,
"Kita lanjut nanti, langsung temui saya di sana!" setelah mengatakan hal itu, Kim pun melepas aerophone nya tanpa sambungan telpon juga sudah berakhir.
Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah apartemen yang cukup berkelas, Divia sudah bisa menebak berapa harga apartemen itu.
"Kim, bukankah ini berlebihan?"
"Jika membiarkanmu tinggal di tempat yang tidak aman itu baru bisa di katakan berlebihan!"
"Berlebihan dari mananya_!"
"Kos lamamu tidak begitu aman, di sini ada cctv, ada penjaga juga!"
"Tapi aku tidak memerlukan semua ini!"
Kim tiba-tiba menarik pinggang Divia hingga membuat jarak mereka begitu dekat,
"Kim kenapa, malu di lihat orang!" beberapa pasang mata memang terlihat menatap mereka.
"Tapi aku butuh!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...