
Ersya sudah berada di dalam mobil, ia begitu menikmati kebebasannya hari ini. Pergi tanpa sopir di depannya, ia bisa ke manapun yang ia mau.
"Ahhhhh ...., rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini!"
Beberapa kali tampak tangannya ia keluarkan dari jendela, lain kali ia pasti akan mengajak putrinya juga.
"Kemana ya sekarang?" gumamnya, ia merasa bingung sendiri mau kemana, pasalnya semenjak menikah ia tidak pernah pergi sendiri tanpa Divia.
Ia melihat ada pedagang mie ayam langganannya di pinggir jalan, sudah lama sekali tidak memakannya.
Dengan cepat ia meminggirkan mobilnya, memarkir tepat di samping kedai mie ayam langganannya itu.
"Mas, mie ayamnya ya!" ucap Ersya.
"Di bungkus atau di makan di sini?"
Kayaknya kalau di bungkus enak deh makan saja Divia ....
Ersya tersenyum dan mengacungkan dua jarinya, "Di bungkus dua ya mas!"
"Siap mbak!"
Sambil menunggu pesanannya jadi, ia pun memilih untuk duduk di kursi kayu panjang yang sepertinya sengaja di sediakan oleh mas penjual mie ayam.
Walaupun ia melihat para surusahan Div sedang mengawasinya dari dalam mobil yang juga terparkir tidak jauh dari tempatnya, tetap saja ia berusaha untuk cuek.
Ersya memainkan ponselnya yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya, begitu banyak pesan masuk dan ada sepuluh pesan dari suaminya.
//Jangan ngebut nyetirnya, aku tidak mau sampai mobilnya lecet//
Membaca pesan ancaman dari suaminya itu ia hanya tersenyum lalu kembali membaca yang ada di bawahnya,
//Nanti cepat pulang, aku akan pulang cepat hari ini, awas kalau aku pulang kamu belum pulang//
Lagi-lagi sebuah ancaman,
"Benar-benar pemimpin yang diktaktor!" gumam Ersya sambil mengecap kan bibir nya. Lalu tangannya kembali mencroll ke bawah dan semua isi pesannya hanya sama, ancaman. Ia berharap ada kata romantis yang keluar dari bibir suaminya tapi jelas tidak mungkin.
Ia kembali menutup pesan dari suaminya, lalu ia melihat ada satu pesan masuk, dan baru saja masuk dari nomor baru.
"Siapa?"
Ia membuka pesan itu dan seketika raut wajahnya berubah kesal, "Nenek sihir!"
//Jemput aku di depan Plazza sekarang, mamanya Divta//
"Kenapa lagi nih nenek sihir!" gumam Ersya. Ia pun segera menyimpan kembali ponselnya dan berdiri menghampiri mas penjual mie ayam.
"Sudah mas pesanan saya?"
"Sudah mbak bentar ya!"
Terlihat penjual mie ayam itu memasukkan dua bungkus strefon ke dalam kantong plastik.
"Semuanya dua puluh ribu mbak!"
__ADS_1
Ersya pun mengeluarkan uangnya, ia sudah sempat mengambil uangnya di ATM tadi sebelum ke rumah nyonya Ratih.
"Terimakasih ya mas!"
Ersya segera masuk ke dalam mobil, ia harus menjemput mama mertuanya. Walaupun malas ia tidak bisa berbuat banyak, setiap kali dekat dengan mama mertuanya pasti selalu ada drama yang mengiringi.
Setelah lima menit akhirnya ia sampai juga di tempat yang di tunjukkan mama mertuanya, tampak nyonya Aruni sudah berdiri di depan dengan tangan yang membawa beberapa paper bag.
Ersya segera menghentikan mobilnya tepat di depan mama mertuanya itu, ia berencana untuk tidak turun. Ersya menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada wanita itu,
"Ma ...., ayo naik!"
Wanita itu membuka kaca mata hitamnya, "Nggak sopan sekali sebagian menantu, turun dan bantu saya memasukkan barang belanjaan saya!"
Hehhh, Ersya menghela nafas. Ia pun harus mengalah kali ini, ia segera turun dan menghampiri mama mertuanya.
"Mana ma!"
Ersya mengambil semua paper bag itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ayo ma!" ajak Ersya tapi wanita itu bergeming di tempatnya.
"Ada apa lagi sih ma?"
"Yang sopan dong, bukakan pintu mobilnya!"
Hehhh, lagi-lagi Ersya hanya bisa menghela nafas kesal tapi menahannya.
"Silahkan ma!" ucap Ersya yang di buat semanis mungkin sambil membukakan pintu mobil.
Tiba tiba-tiba sebuah mobil juga berhenti tepat di belakang mobil Etsya membuat mereka berdua menoleh ke mobil itu.
"Tante Aruni!"
Ersya menoleh pada mama mertuanya yang tertegun tidak percaya. Tapi satu detik kemudian saat ia mengingat siapa yang memanggil namanya sudut bibirnya tiba-tiba tertarik dan menampakkan senyum bahagianya,
"Apa ini saya tidak salah?" ucap nyonya Aruni yang masih tidak percaya.
Ersya beberapa kali menatap wanita yang sekarang turun dari mobil dan menghampiri mereka. Ia memeluk nyonya Aruni, tampak ada keakraban di masa lalu.
"Tante, seneng deh ketemu Tante!" ucap wanita itu lagi saat sudah melepas pelukannya. Nyonya Aruni nampak begitu ragu untuk membalas pelukannya.
"Kamu_?"
"Ini aku Tante, masak lupa? Aku Ellen!"
Ellen ....
Ersya hanya bisa membatin, nama itu tidak asing baginya. Ia teringat dengan nama yang itu tapi di mana, siapa yang mengatakannya?
"Ya ampun Ellen, kamu sekarang cantik sekali, Tante Sampek nggak ngenalin loh!" nyonya Aruni kembali memeluk wanita bernama Ellen.
"Terimakasih Tante!"
"Kamu dari mana aja selama ini?"
__ADS_1
"Ellen pindah di Paris sudah lama sekali Tante, Ellen juga ketemu sama Div di sana!"
Mas Divta kenal? Ersya berusaha keras untuk mengingatnya dan akhirnya ia menemukannya, Rendi pernah membicarakan wanita yang bernama Ellen ini.
Iya ...., di kulkas itu ....
"Ya ampun, Tante seneng banget bisa ketemu kamu setelah sekian lama!"
"Ellen juga seneng! Bagaimana kabar Tante?"
"Seperti yang kamu lihat sekarang!"
"Tante mau ke mana nih?"
"Sebenarnya tadi Tante mau pulang!"
"Bagaimana kalau kita ngobrol di mana gitu Tante, lama nggak ketemu kangen banget sama Tante!"
"Baiklah, kebetulan Tante juga nggak kali sibuk!"
"Naik mobilku aja ya Tante!"
Nyonya Aruni tersenyum, lalu mereka pun meninggalkan Ersya begitu saja menuju mobil wanita bernama Ellen itu. Ellen membukakan pintu mobil untuk nyonya Aruni. setelah memastikan nyonya Aruni benar-benar masuk, Ellen pun segera berlari memutari mobil dan hendak masuk ke dalam mobil. Tapi sejenak ia berhenti di samping pintu itu dan menatap Ersya dengan tatapan penuh tanya.
Tidak lama dan ia pun kembali melanjutkannya, masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintu ya.
Dari luar, Ersya bisa melihat bagaimana mertua dan wanita bernama Ellen itu tertawa lepas.
Mobil itu melaju melewati mobil Ersya begitu saja.
"Hehhhh ...., dasar nenek sihir!"
Tukkkkkk
"Aughhhh ....., aughhhh .....!" Ersya terpincang sendiri gara-gara ulahnya, karena terlalu kesal ia sampai menendang body mobilnya, ia lupa kalau saat ini kakinya hanya ia lindungi dengan sendal.
"Nyonya ...., nyonya tidak pa pa?"
Pertanyaan seseorang tiba-tiba menyadarkannya, ia lupa kalau sebenarnya dia tidak benar-benar sendiri. Ia segera menurunkan kakinya yang tadi sempat ia angkat karena sakit dan pura-pura biasa saja,
"Ahhh, aku ...! Aku tidak pa pa! Tadi hanya akting! Ya sudah kalian kembali ke mobil kalian dan saya juga!" ucap Ersya sambil membuka mobilnya dengan cepat dan masuk meninggalkan bodyguard nya itu.
...Belajar dari kesalahan bukan hal yang bodoh, yang bodoh itu merasa bebas dari kesalahan di masa lalu dan mengulang kesalahan yang sama di masa depan...
...~ ...
...Move on bukan berarti tidak menghargai masa lalu, tapi menciptakan kisah baru dengan belajar dari masa lalu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰