
Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa kamu sangat spesial di hidupku. Dan satu-satunya alasan kenapa aku sangat mencintaimu adalah karena kamu, aku bisa menjadi diriku sendiri.
Div sedang sibuk dengan pekerjaannya, sesekali matanya mengawasi istrinya yang sedang tiduran di ranjang pasiennya.
Ini untuk pertama kalinya ia merasakan lengkapnya sebagai seorang daddy. Menunggui istri yang sedang hamil, sungguh pengalaman yang menurut Div perlu di nikmati.
"Jangan terus main ponsel, tidurlah!" ucapnya memperingati istrinya yang sedari tadi terus bermain dengan ponselnya.
"Mas, aku capek terus tidur!" keluh Ersya karena sepanjang hari suaminya tidak mengijinkan dirinya untuk turun dari tempat tidur. "Mau telpon Divia, dia pasti juga belum pulang sekolah!"
Div yang merasa kasihan dengan istrinya pun meninggalkan pekerjaannya dan mendekati istrinya. Seperti sebelum-sebelumnya ia pasti selalu duduk di tempat tidur Ersya.
"Mau aku pijitin kakinya?"
Ersya menarik cepat kakinya, "Enggak!"
"Tadi katanya capek?"
Ehhh, aku salah ngomong ya tadi?! Ersya malah bingung sendiri, ia tidak bisa sembarang berbicara pada suaminya itu, artinya bisa beda dengan pemahamannya.
"Enggak, bukan gitu maksudku, maksudku itu aku bosan!" ucap Ersya dengan lebih hati-hati.
"Ada televisi di sini, mau aku nyalakan tv nya? Atau kamu mau yang lain?"
"Aku mau jalan-jalan! Ke taman aja nggak pa pa deh mas!"
Div berpikir sejenak lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar ya!"
"Mau kemana?" tanya Ersya yang melihat suaminya seperti buru-buru pergi.
"Tunggu sebentar!"
Div pun keluar dari kamar Ersya meninggalkan Ersya yang masih sangat bingung.
Hehhhh
Ersya menghela nafas melihat kelakuan suaminya.
"Untung aku orangnya sabar!"
Ersya melanjutkan bermain ponsel. Ia tidak bisa chat sahabatnya sembarangan sekarang. Sahabatnya itu sekarang sudah menjadi mama muda, pasti sedang ribet-ribet nya ngurusin baby Zoe.
Beberapa menit kemudian Div datang dengan membawa sebuah kursi roda membuat Ersya tercengang.
__ADS_1
"Kenapa bawa kursi roda mas?"
"Katanya mau jalan-jalan ke taman, kita pakek ini!" ucapnya sambil menunjukkan kursi rodanya, "Jangan khawatir, ini sudah bersih dan steril!"
"Bukan gitu mas, aku kan bisa jalan!"
"Tapi aku nggak bolehin kamu jalan!"
"Tapi massss!"
"Mau pakek kursi roda atau nggak usah kemana-mana sekalian?"
Akhirnya Ersya hanya bisa menyerah. Ia tidak mungkin berdebat dengan suaminya yang super keras kepala.
Div pun segera mengangkat tubuh Ersya dan mendudukkannya di atas kursi roda.
Div mendorong kursi roda Ersya ke taman yang ada di rumah sakit, memang masih panas tapi banyak pohon membuat udara tetap sejuk.
"Ahhh akhirnya, keluar juga dari sini!" gumam Ersya sambil meregangkan tangannya.
"Baru juga dua hari, kayak udah dua tahun aja gayanya!"
"Mau gimana mas, mas Div tahu sendiri kan gimana aku, dan tiba-tiba suruh diam aja! Mana bisa!"
"Iya!"
Div pun kembali mendorong kursi rodanya dan berhenti tepat di bawah pohon, di sebuah bangku panjang. Div mengunci roda kursi roda Ersya dan ia pun duduk di depannya.
"Suka?" tanya Div sambil mengusap kepala Ersya dan menyisihkan anak rambutnya.
"Suka! Terimakasih ya mas, ku sudah mencintai aku banyak dan buaanyak!" ucap Ersya sambil mengalungkan lengannya di leher Div.
Div pun mendekatkan wajahnya dan menyatukan ujung hidung mereka,
"Aku yang berterimakasih sama kamu, karena kamu Divia selamat sampai sekarang dan untuk kedua kalinya kamu akan menghadirkan malaikat di hidupku!"
"Divia memang ingin sembuh mas, bukan aku!"
"Jadi kamu lupa dengan wanita hamil yang sudah kamu tolong enam tahun lalu?"
Ersya mengerutkan keningnya, "Siapa?" terlihat jika Ersya sedang mengingat-ingat.
"Kamu sudah menyelamatkannya bahkan sebelum Divia lahir ke dunia!"
"Jadi maksudnya, wanita hamil waktu itu? Mamanya Divia?"
__ADS_1
"Iya!"
"Pantas aku ngerasa nggak asing pas lihat foto mamanya Divia di rumah paman Roy! Jadi Divia anak yang tangisnya pertama kali aku yang mendengarnya, anak perempuan yang pertama kali berada dalam pelukanku?"
"Iya!"
Ersya benar-benar tidak menyangka jika takdir ternyata mempertemukan mereka dalam cerita yang lebih indah.
"Jangan menangis dong, sayang!" ucap Div sambil mengusap air mata Ersya.
Tapi tiba-tiba Ersya tersenyum, "Aku mau kamu panggil aku terus seperti itu!"
Div mengerutkan keningnya, "Apa?"
"Sayang!"
Div membulatkan matanya, Dia benar-benar tidak tahu moment haru ....
"Jangan ngelunjak ya!"
"Ini yang mau anak kita mas!" ucap Ersya sambil mengusap perutnya yang masih rata, "Dia kayaknya seneng kalau kamu panggil aku sayang, pokoknya aku mau setiap mau tidur dan bangun tidur di panggil sayang!"
"Baiklah!"
"Yang ikhlas dong mas!"
"Iya, sayang!"
"Nah gitu dong, manis banget!" ucap Ersya sambil menakup kedua pipi suaminya dan Div hanya bisa pasrah.
Baiklah lakukan apa aja, asal anak kita senang ....,
"Bikin aku jatuh cinta lagi aja!" ucap Ersya dengan santainya. Tapi ternyata yang mendengarnya sepertinya sedang tidak baik-baik saja, jantungnya semoga tidak berpindah dari tempatnya karena baru saja mendapatkan ungkapan cinta dari istrinya.
...Aku tidak perlu kamu yang sempurna, karena cintamu sudah cukup untuk menjadikanmu sempurna di hidupku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1