Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kepulangan keluarga kecil Div


__ADS_3

Akhirnya Div keluar juga, Ersya memegangi dadanya lega. Dengan cepat Ersya menutup pintu kamarnya dan berdiri membelakangi pintu, mengusap dadanya lega.


“Ahhhh , aku kira dia tidak suka. Aku terlanjur memasukkan kaosnya ke dalam koper lagi!”


Ersya mengedarkan pandangannya, mencoba menerka apa yang harus ia lakukan selanjutnya, kayaknya karena terlalu syok membuatnya bingung. Setelah tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia menghela nafas.


Hehhh, dengan cepat Ersya kembali membuka kopernya dan mencari-cari kaos yang sama dengan yang di pakai Div. seingatnya ia meletakkannya di bagian bawah sendiri koper itu, ia harus mengeluarkan semua isi koper agar bisa mengambil kaos bertuliskan mom miliknya.


Setelah memberantakkan lagi isi kopernya, akhirnya ketemu juga yang di cari,


“Ahhhh, akhirnya ketemu juga!”


Ersya segera mengganti bajunya dengan kaos yang saman dengan yang di pakai oleh Div yang di padukan dengan celana kombor warna hitam miliknya, setelah merapikan penampilannya, ia dengan cepat merapikan kembali baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper yang sama.


Hehhh, helaan nafas terdengar lagi menandakan kalau dia sudah selesai dan bisa cepat-cepat menyusul putri dan suaminya.


***


Ersya menarik kopernya keluar dari kamar, seorang pengawal menghadang langkahnya. Sepertinya pengawal itu di minta Div untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja.


“Biar saya bawakan kopernya ke mobil nyonya!” ucap pengawal itu sambil meminta kopernya.


“Baiklah, terimakasih!”


Ersya menyerahkan koper itu dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan suami dan putrinya.


Ia menarik sudut bibirnya saat menatap ke arah ruang tunggu, terlihat beberapa kali pria yang duduk bersama gadis kecil itu mengawati jam tangannya, wajahnya juga terlihat begitu khawatir. Ia pun segera bergegas menyusul suami dan putrinya.


Langkahnya begitu cepat dan sedikit berlari hingga sepatu hak tingginya menimbulkan pantulan suara yang berbenturan dengan lantai. Ia sudah sangat lama, sudah satu jam ia di dalam kamar pasti mereka mengkhawatirkannya.


Dan benar saja, Div sudah siap-siap berdiri dari duduknya untuk menyusul dirinya, tapi langkahnya terhenti saat melihat istrinya sudah tersenyum dengan santainya dan berdiri di depannya. Wajahnya seketika. berubah lega sekaligus kesal.


“Kemana aja, kenapa lama sekali?”


“Maaf mas, tadi aku kebelet makanya lama, dari pada


kebeletnya di pesawat kan nggak lucu!”


"Kamu benar-benar ya!" gerutu Div dan segera menyambar jaket dan juga putrinya ke dalam gendongannya.


"Ayo kita pulang, untung pesawatnya belum berangkat!" gerutu Div sambil terus berjalan, Ersya hanya bisa diam sambil mengikuti langkah suaminya itu.


Divia yang wajahnya menghadap ke belakang tersenyum pada mommynya itu,


“Daddy udah cemas cekali tadi mom!” ucap Divia membuat Div menghentikan langkahnya, untung Ersya mempunyai reflek yang tinggi hingga ia tidak sampai menabrak tubuh suaminya.


Ersya tersenyum dan segera berjalan di depan suaminya, ia menatap kearah suaminya, seolah ingin menayakan kebenarannya.


“Tidak ! siapa juga yang kayak gitu. Aku hanya takut saja, nanti ketinggalan pesawat, sayang uangnya kalau harus beli tiket baru gara-gara kamu!”


“Issssttttt …, tinggal ngomong iya aja susah banget!” gerutunya dan dia langsung berjalan mendahului suaminya.


Divia yang melihat kebodohan daddy-nya hanya bisa menepuk keningnya dan menggelengkan kepalanya,


"Daddy ...., benar-benar menyebalkan!" keluh Divia.


"Memang apa yang aku lakukan? Daddy mengatakan yang sebenarnya!" ucap Div yang bingung sendiri saat Ersya malah marah padanya,


Bukankah seharusnya aku yang marah ...., benar-benar ...

__ADS_1


...🍂🍂🍂🍂...


Setelah memastikan pernikahan Tisya dan Wilson berlalu barulah Div mengajak keluarga kecilnya untuk kembali pulang, pekerjaan


sudah menyambutnya di sana.


Setelah turun dari pesawat, Div tidak langsung pulang. ia meminta pengawal untuk mengawal Ersya dan Divia pulang ke rumah sementara dirinya harus segera ke tempat meeting dan menyelesaikan proyeknya yang sudah tertunda selama tiga hari di Bali.


"Loh ...., kenapa mobilnya beda sih?" tanya Ersya saat melihat mobil yang terparkir di depan bandar udara ada dua, dan dua-duanya milik mereka. Ia ingat betul dengan stiker yang tertempel di body mobil.


Div memakai kembali kaca mata hitamnya,


“Kalian pulang dulu tidak pa pa kan?” tanya Div sambil mengusap pipi Divia.


"Mau ke mana?"


Div tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, jadi males untuk pergi ke kantor. Seandainya dia tidak teringat dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk dia pasti akan memilih untuk pulang dan mengurung istrinya di dalam kamar seharian ini.


Sial, umpatnya dan dia hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Aku harus meeting!"


"Ooooh!" terlihat sekali wajah kecewa dari Ersya tapi dia juga tidak bisa memaksa suaminya untuk ikut dengannya pulang, suaminya seorang CEO perusahaan besar, pasti banyak sekali pekerjaannya.


"Tapi masak pakek baju itu? Bukan baju resmi?" tanya Ersya lagi saat melihat penampilan santai suaminya itu, apalagi dengan kaos yang di kenakan.


“Hmmm!”


Div malah terlihat begitu santai, "Ini jauh lebih nyaman, mommy!"


Ucapan Div berhasil membuat Ersya tersipu, ia sampai tidak bisa menyembunyikan burat senyumnya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Ersya membuat wanita itu terdiam di tempatnya tidak percaya. Sejak kapan pria ini jadi pintar mengekspesikan perasaannya .....


"Aku berangkat ya! Tunggu aku di rumah!" bisik Div dan Ersya hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia terlalu terkejut dengan perlakuan manis dari suaminya.


Div segera masuk ke dalam mobil yang ada di depan, melambaikan tangannya saat mobilnya akan berjalan. Setelah mobil yang di tumpangi Div, Ersya segera mengajak Divia untuk masuk ke dalam mobil yang tepat berada di depannya.


"Daddy manis cekayi ya mom!" ucap Divia saat mereka sudah duduk di dalam mobil, sepertinya ia menyadari rona bahagia dari mommynya itu.


"Sayang ....!" wajah Ersya bertambah bersemu merah di buatnya.


...🍂🍂🍂🍂...


Div segera turun dari mobil, memakai jaket arminya tanpa mengganti kaosnya dengan kemeja. Tapi sepertinya Div terlihat begitu bangga memamerkan kaos barunya dengan identitas dirinya,”Daddy”


Langkahnya begitu pasti memasuki ruang meeting. Semua peserta meeting sudah berkumpul, ada sekitar dua puluh orang di sana dengan bagian yang berbeda-beda.


“Maaf membuat kalian menunggu!” ucap Div pada


peserta meeting, kedatangannya dengan penampilan baru yang lebih fresh berhasil menjadi pusat perhatian. Pria yang selalu tampil kaku dengan jas dan kemeja resmi lengkap dengan dasi dan sepatu hitam tiba-tiba datang dengan jaket armi yang di


padukan dengan kaos, dan sepatu kasual.


“Pak Div tambah ganteng aja ya semenjak punya istri!” bisik saja satu peserta meeting yang perempuan pada teman yang ada di sampingnya.


“Iya benar, lihat tulisan kaosnya 'Daddy’ ohhh …, sweet banget!” teman sebelahnya menimpali.

__ADS_1


“benar-benar suami idaman!”


Beberapa peserta meeting saling berbisik membicarakan perubahan yang cukup drastis dari atasanya itu. bahkan semenjak menikah, Div jadi murah senyum dan tidak marah-marah.


Meeting berlangsung hingga empat jam, mereka bahkan


menyelinginya dengan makan siang yang di pesankan langsung dari restauran A&A milik Ara dan Agra.


Akhirnya meeting selesai tepat am dua siang, satu persatu peserta meeting meninggalkan ruangan meeting.


“Besok kita bisa langsung ke lokasi !” ucap Div sambil berjalan meninggalkan lokasi meeting dan di ikuti oleh Rangga dan


sekretaris Revan.


“Baik pak, kami juga sudah menyiapkan semuanya!”


ucap sekretaris Revan.


“Bagus!”


Hingga akhinya mereka sampai juga di samping mobil, Div berencana setelah meeting langsung pulang tanpa melakukan pekerjaan lainnya.


“Silahkan tuan!”


“Terimakasih!”


Div mengurungkan niatnya untuk masuk saat teringat sesuatu,


“Tunggu sebentar!”


“Iya pak ada apa?”


“Ada oleh-oleh untuk kalian dari istri saya!”


Div memasukkan kembali tubuhnya ke dalam mobil,


tangannya meraih sesuatu di bangku belakang. Dua buah paper bag dengan warna


yang berbeda dan ada namanya di sana.


“Ini untuk kalian berdua!”


“Terimakasih pak!” ucap Rangga dan sekretaris Revan


bersamaan.


...Seandainya aku bukan siapa-siapa di dunia ini, biasakan aku tetap jadi raja di hati kamu dan aku tetap akan bisa mengangkat kepalaku saat tidak ada siapapun yang mempedulikan ku karena aku punya kamu, permaisuriku...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan


...♥️ like ...


...💌 komentar...


...vote ...


...Kasih hadiah juga ya 🍮🌹...

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2