
"Benarkah? Bukan karena kamu ingin membalas atas apa yang saya lakukan kemarin!"
Ternyata dia sadar juga kalau salah ...., batin Yura.
"Astaga Mr Lee, kurang kerjaan banget sih saya! Ya udah kalau Mr Lee nggak mau turun, saya akan turun sendiri. Tapi nanti jangan salahkan saya kalau saya mengatakan hal ini pada Mr Kim!" sebenarnya Yura hanya ingin membuat pria di sampingnya merasa bersalah padanya.
Yura pun segara turun, ia juga tidak berharap pria dingin itu akan ikut turun karena mengharapkan Lee menuruti kata-kata nya adalah mustahil.
Tapi ternyata ia salah, Lee menyusulnya di belakangnya,
"Baiklah, kita kemana sekarang?" tanya Lee yang sudah berdiri di sampingnya sambil membawa tas belanjaan.
Yura yang terkejut seketika tersenyum tipis lalu menoleh pada Lee,
"Kita ke toko buah!" ucapnya sambil berjalan dengan pasti menuju toko buah langganan orang tuanya.
Lee pun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti kemana Yura pergi.
Setelah sampai di toko buah yang di maksud, Yura segera memilih beberapa buah yang sebenarnya ia sukai sendiri karena ia tidak tahu buah apa saja yang di sukai oleh Divia.
Mungkin Vi juga akan suka ini nanti ...., batinnya sambil memasukkan beberapa buah ke dalam kantong belanjaan.
Hingga akhirnya kantong belanjaan itu benar-benar penuh, dan Lee tidak keberatan untuk membawanya.
Sebenarnya dia baik juga ....
Tapi baru saja ia memuji pria itu dalam hati, tiba-tiba kantong belanjaan itu sudah berpindah ke tangannya setelah selesai melakukan pembayaran.
"Ini!?"
Ini maksudnya apa ....,
Yura dengan cepat menyerahkan kembali kantong belanjaan yang cukup besar itu pada Lee membuat Lee mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Lee terlihat enggan menerimanya tapi ia juga tidak mungkin membiarkan belajaannya jatuh berantakan.
"Ya seharusnya Mr Lee yang bawa karena Mr seorang laki-laki!"
"Jangan mengerjai saya!" Lee kembali merasa curiga pada Yura.
"Siapa yang mengerjai Mr Lee, coba deh lihat semua pria yang menemani wanita berbelanja mereka akan membawakan barang belanjaannya!"
Lee pun akhirnya melihat sekitarnya, dan benar saja terlihat setiap pria membawa belanjaan sedangkan wanitanya memilih-milih belanjaan.
"Hehhh, baiklah!" Lee pun akhirnya tidak lagi mengeluh.
Yura tersenyum puas sekarang, akhirnya ia bisa berbalik mengerjai pria dingin itu,
"Sekarang apa lagi?" tanya Lee dengan enggan, tangannya sudah mulai pegal dengan kantong belanjaan yang penuh itu.
"Sudah dapat semua, sebaiknya segera kembali saja!"
"Itu jauh lebih baik!"
Akhirnya Lee bisa bernafas lega sekarang, ia tidak harus membawa lebih banyak lagi belanjaan.
Mereka pun segera menuju ke mobil kembali,
__ADS_1
"Sudah selesai kan?" tanya Lee saat Yura hendak masuk ke dalam mobil.
"Maksudnya?"
"Jadi saya akan kembali ke apartemen nona Vi sendiri, silahkan nona Yura naik bus. Lagi pula di sana sudah ada Mr Kim, jadi keberadaan nona Yura tidak di perlukan lagi!"
"Hahhh?" baru saja Yura terkejut dengan ucapan Lee, pria itu sudah menyerahkan tasnya dan selembar uang,
"Ini cukup kan untuk naik bus pulang?"
Tapi belum sampai Yura menjawab, Lee sudah lebih dulu menutup pintu mobilnya dan menghidupkan mesinnya membuat Yura terpaksa sedikit mundur.
Mobil melaju dengan cepat meninggalkannya sendiri dengan tas dan selembar uang dari Lee,
"Hahhh, yang benar saja!?"
"Dia benar-benar menyebalkan!" Yura hanya bisa berteriak sambil memukulkan tangannya ke udara, meluapkan semua kekesalannya pada pria itu.
"Keterlaluan, awas aja kalau kita ketemu lagi, aku akan membalasnya dengan yang lebih kejam! Lebih kejam!!!!" teriak Yura hingga membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya menoleh padanya. Tapi Yura tidak peduli karena ia sudah terlalu kesal dengan Lee.
***
Akhirnya Lee sampai juga di apartemen Divia, tapi tanpa Yura.
"Apa yang kamu dapat?" tanya Kim dan Lee pun menunjukkan sekatong besar kantong belanjaan.
Lee pun tanpa di perintah langsung menunjuk ke dapur untuk menyimpan semuanya,
"Segera tebus obatnya, saya harap kamu akan kembali dengan cepat!"
"Katakan saja semuanya baik-baik saja, katakan juga aku akan menghubunginya nanti!"
"Baik Mr!"
Seperti perintah Mr Kim, Lee pun kembali pergi untuk melanjutkan tugasnya.
Karena Divia tidak di perbolehkan keluar kamar oleh Kim, akhirnya ia tidak tahu kalau ternyata Yura di tinggal di pasar.
Setelah bicara dengan Lee, Kim pun kembali ke kamar Divia,
"Sendiri?" tanya Divia saat tidak melihat siapapun bersama Kim.
"Hmmm! Apa kamu butuh Lee?"
"Bukan, Yura?"
"Yura sudah pulang!"
"Kata siapa?"
"Kata Lee!"
Yura pulang tanpa berpamitan denganku? Divia yang merasa curiga pun mencari letak ponselnya.
"Kim, bisa ambilkan ponselku!" pinta Divia saat melihat ponselnya berada di meja samping sofa.
"Untuk?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengirim pesan pada Yura!"
"Baiklah!"
Kim pun kembali berdiri dan mengambil ponsel Divia, "Hanya mengirim pesan pada yura, setelah itu istirahat!"
"Iya!"
Dia lebih protektif di banding Daddy ...
Divia pun segera mengetikkan pesan pada Yura.
//Yura, kamu di mana?//
Baru beberapa detik terkirim dan Yura sudah langsung membacanya, dan terlihat tengah mengetikkan sesuatu, tapi terlihat begitu panjang karena terus mengetik belum juga di kirim.
"Belum selesai?" tanya Kim, ia khawatir Divia akan bermain dengan ponselnya dan tidak segera istirahat.
"Bentar lagi, Yura masih ingin memberi jawaban."
Dan benar saja, setelah beberapa menit, notif pesan masuk.
//Aku sudah pulang, kamu tahu kenapa aku pulang? si dingin dan cuek itu, maksudku Lee, dia meninggalkanku sendiri di pasar dengan hanya meninggalkan selembar uang untuk naik bus. Keterlaluan sekali kan dia, benar-benar. Pokoknya lihat saja, aku tidak akan mengampuninya nanti, beraninya dia berbuat tidak adil padaku. Dan kamu Vi, harus membantuku jangan mentang-mentang dia bawahan Mr Kim dan kamu akan membelanya, pokoknya aku akan bikin perhitungan sama dia//
Membaca pesan dari Yura yang panjang lebar, Divia tidak berhenti tersenyum. Hal itu membuat Kim heran, ia sampai memicingkan matanya,
"Apa ada yang lucu?"
"Hmm!" Divia mengangukkan kepalanya.
"Apa?"
"Nih!?" Divia segera menunjukkan pesan Yura pada Kim.
Tapi ternyata ekspresi Kim biasa saja tidak seperti ekspetasinya,
"Apanya yang lucu?"
"Ya ampun, Kim! Ini lucu, sungguh!"
Kim malah terlihat mengangkat sebelah alisnya,
Dasar batu ....
Divia memilih menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia bingung harus melakukan apa sekarang, padahal ia sudah berjanji pada ayahnya untuk berkunjung tapi Kim tidak juga terlihat tanda-tanda akan meninggalkannya.
Aku harus apa sekarang ....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰 🥰 🥰...
__ADS_1