Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Jangan ambil mom Echa


__ADS_3

"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Div yang sudah memakai sabuk pengamannya, terlihat Divia sedang asik bermain mainan barunya yang di belikan oleh sang kakek.


Ersya tidak langsung menjawab pertanyaan Div, ia memilih untuk menoleh terlebih dahulu kepada putri kecilnya yang sedang duduk di belakang,


"Iyya, jika mom mampir ke suatu tempat sebentar, apa Iyya tidak keberatan?"


Mendengar pertanyaan Ersya yang malah balik bertanya pada putrinya itu membuat Div mendengus kesal,


Licik sekali dia .....,


Div pun memilih berjalan mobilnya dan fokus pada jalanan yang cukup panas.


"Iyya mau ke mana aja, acal cama mom!"


Ersya tersenyum dan kembali menatap Div, "Anak pintar, mom mau ke rumah sakit sebentar buat jenguk temannya mom yang sakit, nggak pa pa kan?"


Divia menganggukkan kepalanya dengan begitu bersemangat, lalau Ersya mendekatkan bibirnya ke telinga Div dan berbisik,


"Dengar kan, Divia tidak masalah!?"


"Terserah!?"


Div hanya mengumpat dalam hati, ia tidak bisa menolak kemauan Divia tapi dia juga tidak bisa membiarkan istrinya bertemu dengan mantan suaminya.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah sakit, Div masih enggan membuka mulutnya.


"Iyya ikut ya mom!?"


Ersya malah mengatupkan bibirnya dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya membuat Divia diam mengerti maksud isyarat dari momnya.


Ersya kembali beralih pada Div yang masih enggan bicara,


"Mas ......, please ....., nggak lama, cuma mau mastiin kalau dia baik-baik saja, itu doang!"


Hehhhh .....


Terdengar helaan nafas dalam dari pria itu, ia menoleh dan menatap tajam Ersya,


"Please ....!"


Ersya kembali mengatupkan kedua tangannya memohon,


Dia benar-benar ingin memeras emosiku ....., batin Div.


"Baiklah, tapi tidak lebih dari tiga puluh menit!"


"Yessss!"


Srekkkkk


Ersya dengan reflek memeluk tubuh Div membuat pria itu terpaku,


"Terimakasih ya mas!"


Cup


Bukan hanya pelukan, tapi kali ini Ersya menambahnya dengan sebuah kecupan di pipi Div.


Dunia Div terasa berhenti sejenak, ia seperti tidak ingin berlalu dengan cepat,

__ADS_1


"Kami akan segera kembali!?"


Ucapan Ersya menyadarkan Div jika wanita di sampingnya sudah turun dan menggandeng tangan putrinya,


"Da da sama daddy!?"


"Bye dad ....!"


Gadis kecil itu melambaikan tangannya yang mungil dan tersenyum padanya begitu manis lalu berlalu bersama Ersya. Div masih terpaku di tempatnya,


"Sial ...., kenapa jadi seperti orang bodoh gini sih ...!?" umpatnya saat menyadari bahkan dia tidak mampu menolak permintaan wanita itu, hatinya tiba-tiba begitu melihat senyum wanita yang telah ia nikahi itu.


Div menghempaskan punggungnya begitu keras ke sandaran kursi yang ada di mobilnya, ia tidak suka dengan perasaannya saat ini, rasanya begitu sesak membayangkan pria di dalam nanti memegang tangan istrinya dan memintanya untuk menemani, atau mungkin akan menyuapinya.


Tapi sepertinya rasa gengsinya masih sangat menang untuk tetap berdiam di dalam mobil.


...🍀🍀🍀...


Kini Ersya dan Divia sudah sampai di depan kamar perawatan atas nama Rizaldi. Belum sampai ia mengutuk pintu kamar itu, dari arah lain terlihat wanita paruh baya sedang berjalan ke arahnya,


"Ersya ....!"


Ersya dan Divia segera menoleh ke sumber suara saat merasa namanya di panggil,


"Mama ...., mama dari mana?"


Wanita itu pun memeluk Ersya, "Mama baru saja menemui dokter!"


"Bagaimana keadaan mas Rizal ma?"


"Kata dokter jika Rizal terus tidak mau makan seperti ini, bukannya sembuh tapi keadaannya semakin memburuk Sya! Tatapannya begitu kosong, tidak mau bicara dan yang keluar dari bibirnya cuma nama kamu Sya! Mama takut_!"


"Tidak akan terjadi apa-apa ma, Ersya yakin mas Rizal kuat!"


Mamanya Rizal baru menyadari jika Ersya tidak sendiri, ia menatap gadis kecil yang bersama mantan menantunya itu, tangan mungilnya terlihat mencengkeram kemeja Ersya,


"Dia?"


Ersya juga melihat ke arah tatapan mama Rizal,


"Kenalkan ma, dia Divia! Putri Ersya!"


Wanita itu mengerutkan keningnya, "Putri?"


"Putrinya mas Div, suami Ersya!"


"Dia cantik sekali, pasti jika semua baik-baik saja, kamu juga punya putri secantik ini ...!"


...Kenapa tidak cukup aku menjadi aku saja, bukan aku yang dengan kekuranganku? Bahkan mama juga mengatakan hal yang sama dengan orang lain, seolah menegaskan jika aku bukan wanita yang sempurna......


Wanita kembali beralih menatap Divia,


"Sayang, ikut oma ya! Biar mama kamu masuk sebentar!"


Divia bukannya melepaskan kemeja Ersya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya dan menggelengkan kepalanya cepat,


"Nggak mau, Iyya mau cama mom!"


Melihat Divia ketakutan, Ersya segera mengusap kepala Divia,

__ADS_1


"Tidak pa pa sayang, tenanglah!"


Ersya kembali menatap mantan mertuanya itu, "Ma, tidak pa pa kan kalau Divia aku ajak?"


Walaupun terlihat keberatan tapi mama Rizal terpaksa mengiyakan.


"Baiklah, masuklah! Mama akan ke luar sebentar untuk mencari makan!"


"Iya ma!"


Ersya pun segera membuka pintu itu, ia melihat pria yang pernah dia cintai itu sedang duduk termenung dengan punggung yang bersandar pada tempat tidur dan bantal, benar tatapannya tampak kosong dan menyedihkan.


"Ayo sayang!"


Tangan Ersya terus menggandeng Divia, membawanya mendekat ke arah Rizal,


"Duduklah sayang!" perintah Ersya tapi Divia menggelengkan kepalanya cepat, ia memilih bersembunyi di belakang Ersya.


"Selamat siang mas!"


Sapaan Ersya seketika membuat pria itu tersadar, ia segera menoleh dan tersenyum pada Ersya,


"Ersya!?"


"Bagaimana keadaan mas Rizal hari ini?"


"Aku tidak akan baik tanpa mi sya, aku sakit ....!" ucap Rizal sambil menarik tangan Ersya, "Aku lebih baik mati Sya, tanpa kamu!"


"Mas jangan berkata seperti itu, mas Rizal harus sembuh! Masa depan mas Rizal masih panjang!"


"Masa depanku kamu sya, hanya kamu!"


Ersya terus berusaha melepaskan genggaman tangan Rizal, tapi tidak bisa, Divia yang masih berdiri di belakang Ersya, memiringkan kepalanya. Ia tidak suka dengan ucapan pria itu, walaupun tidak mengerti maksudnya, tapi ia tahu garis besarnya.


"Om ...., jangan ambil mommy nya Iyya ya!"


Rizal yang menyadari tidak hanya ada mereka berdua saja di tempat itu, "Kamu?"


"Mom Echa milik Iyya, jadi jangan ambil mom Echa lagi ...!"


Ersya memanfaatkan hal itu untuk melepaskan tangannya, setelah berhasil lepas, Ersya pun beralih memeluk putri kecilnya itu,


"Tidak ada yang akan mengambil mom Echa dari Iyya, sayang! Mom Echa hanya milik Iyya, mengerti!"


Mendengar penegasan dari Ersya, Divia terlihat lebih tenang, ia menganggukkan kepalanya cepat.


...Waktu telah mengajarkan banyak hal tentang sebuah perjalanan hidup, kebijaksanaan, pengalaman, sebuah kisah kehidupan, dan mengajarkan pentingnya dirimu dalam hidupku, tapi sayangnya waktu kini sudah meninggalkanku begitu jauh, kamu dengan kehidupan barumu dan aku dengan penyesalan yang begitu dalam ... (Waktu)...


Selamat hari guru untuk semua guru di Indonesia 💪💪💪


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2