Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kekesalan Div


__ADS_3

Iyya bangun lebih pagi, ia tidak


mendapati daddy nya di kamarnya. Iyya pun segera turun dari tempat tidurnya dan


mencari dady nya di kamar.


Iyya tersenyum senang saat melihat


daddy nya sedang tidur pulas. Dengan sedikit berlari Iyya menyusul daddy nya


naik ke atas tempat tidur. Ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh daddy


nya dan mecubit hidung dady nya.


Bukannya bangun, Div malah


mengeratkan pelukannya pada putrinya itu,


"Dad ....., dad ...., bangunnnn!"


Divia mencium pipi daddy nya.


"Sayang ...., princess nya aku,


selamat pagi!"ucap Div tanpa membuka matanya, tampak sekali dia sangat


mengantuk.


"Pagi dad ...., banguunnnn!”


ucap Iyya sambil mencubit hidung daddy nya.


“Daddy masih mengangtuk sayang …!”


“Ayo bangun dad …,  Iyya mau ketemu cama calon mommy Iyya


...!"


Eketika mata Div terbuka, ia pun


segera bangun dan membawa mendudukkan Iyya di depannya,


"Calon mom ....?"


Iyya pun segera berdiri tepat di


depan Div, "Dad ...., Iyya iyat tadi malam dad cama mom Iyya, Iyya


pokoknya pengen cetemu cama calon mommy nya Iyya!"


Ahhh


iya Ersya …, jadi Iyya melihatnya semalam!


Brrttttt brrrrttttt brrrrttttt


Tiba-tiba ponsel yang ada di adlam


saku jasnya bordering,


“Sebentar sayang, ada telpon!”


Divta pun segera merogoh saku jas


yang masih melekat di tubuhnya. Ia begitu terkejut saat mendapati ponsel lain


di saku jasnya. Ponsel dengan casing warna pink jelas bukan miliknya.


“Dad …, itu poncel ciapa?”


Divta pun teringat jika semalam


belum sempat mengembalikan ponsel Ersya.


“Ini, ini punya Mom Eca!”


“Mom Eca?”


“Iya sayang, ya udah daddy mandi


dulu ya, daddy harus mengemablikan ponsel ini!”


“Iyya ikut!”


“Baiklah …, Iyya mandi juga ya!”


Iyya pun dengan cepat turn dari atas


tempat tidur, ia segera keluar dari kamar daddy nya dan mencari pengasuhnya


untuk meminta di mandikan.


“Encus …, Iyya mau mandi cepat, Iyya


mau ketemu cama mom Eca!”


Divta pun segera bangun dari tempat


tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah siap, Divta pun segera menemui Iyya yang


juga sudah selesai bersiap-siap. Divta segera membawa Iyya ke mobil dan mulai mengendarai


mobilnya menuju ke rumah sakit.


Setelah sampai dir umah sakit, Div


pun meminta Iyya untuk menunggu di tempat bermain.


“Kenapa Iyya di cimni, mana mom Eca?”


“Maaf ya Iyya sayang, Iyya nunggu di


sini dulu biar daddy panggilkan mom Eca dulu! nggak pa pa ya sayang?”


"Iyya pengen ikut ....!"


"Jangan sayang ...., Iyya ingat


uncle dokter yang keren itu? Istrinya sedang sakit, mom Eca lagi nungguin,


kasian nanti tante Fe nya kalau Iyya berisik di sana!"

__ADS_1


"Dad janji bawa mom Eca ke cini


kan?"


"Iya ...., daddy janji


...!"


"Ya udah ...., daddy tingga


sebentar ya, jangan keman-mana sebelum dady kembali, okey!"


“Okey dad!”


Setelah mendapat ijin dari Iyya,


Divta pun langsung menuju ke ruangan Felic tapi ia hanya mendapati Ersya dan


Felic di sana.


"Selamat siang!"


"Pak Divta!"


"Divta!"


Dua wanita itu menoleh padanya.


Divta membawakan satu keranjang buah yang ia beli di toko buah tadi.


"Bagaimana keadaanmu?"


tanya Divta setelah meletakkan keranjang buah itu di atas nakas. Ersya sudah


berdiri dan membiarkan Divta gantian duduk.


"Sudah lebih baik!"


"Tapi wajahmu tidak menunjukkan


hal itu ....!" ucap Divta karena terlihat sekali saat ini Felic sedang


tertekan. Ia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, wajahnya datar dan


pucat. Menangis pun sudah tidak sepetinya sehari semalam ia tidak berhenti


menangis.


Divta mengedarkan pandangannya, tapi


tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.


pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat


mengembeng di pelupuk mata.


“Dia tidak lagi kemari setelah Felic


sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.


“Emang tuh anak ya, harus di kasih


pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.


Divta mengedarkan pandangannya, tapi


tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.


pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat


mengembeng di pelupuk mata.


“Dia tidak lagi kemari setelah Felic


sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.


“Emang tuh anak ya, harus di kasih


pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.


Divta menghampiri dokter Frans di ruangannya.


Tanpa mengetuk pintu, ia segera masuk. Ia bisa melihat pria itu sedang


menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


“Frans ...!” ucap Divta sambil


berdiri menatap dokter Frans begitu kesal.


Dokter Frans segera mendongakkan


kepala nya dan tersenyum. Ia pun berdiri.


"Eh bang …, duduklah…!” ucap


dokter Frans.


Tapi bukannya duduk, Divta malah


berjalan menghampiri dokter Frans.


"Ada apa bang?" tanya


dokter Frans bingung karena melihat wajah marah dari Abang sahabatnya itu.


Divta bukannya menjawab, ia malah


menarik kerah bajunya.


“Bang …, apa yang abang lakukan?”


tanya dokter Frans bingung. Tangan dokter Frans memegang tangan Divta berusaha


melepaskannya tapi ternyata tangan Divta lebih kuat dari tangannya.


“Aku hanya ingin mengajari orang


yang tidak tahu diri ini!” ucap Divta kesal sembari terus mengeratkan


tangannya, rahangnya juga sudah sangat mengeras, terlihat sekali jika kali ini

__ADS_1


pria itu tidak main-main.


Bukkkkk


Sebuah pukulan mendarat di pipi


dokter Frans hingga membuat tubuh dokter Frans tidak seimbang hingga menabrak


kursi di belakangnya.


Tubuh dokter Frans pun


tersungkur  di lantai. Ia memegangi pipinya yang ngilu karena pukulan dari


Divta.


Divta kembali menarik kerah baju


dokter Frans kembali


"Dan ini ...., untuk sakit yang


di rasakan istri kamu, bahkan sakitnya lebih sakit dari ini!" ucap Divta


dan kembali memukulnya dokter Frans hingga beberapa kali.


"Ayo bangun ...., bangunlah


jika kau punya kekuatan, tapi jangan pernah menyakiti seorang wanita gara-gara


ego mu itu!"


"Ayo bangun!"


Tapi dokter Frans tidak berniat


untuk bangun, ia tetap memilih duduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya


yang mengeluarkan darah, wajahnya sekarang sudah penuh dnegan lebam, tapi sakit


yang ia rasakan di wajah dan tubuhnya sekarang tidak lebih sakit dari hatinya,


hatinya sedang mengering saat ini.


Dokter Sifa yang kebetulan di luar


ruangan itu, mendengar keributan di dalam, ia pun segera masuk dan memeriksa


apa yang sedang terjadi.


Melihat Divta memukuli dokter Frans,


dokter Sifa pun segera menghampiri mereka.


"Dokter …!"


"Tuan Divta …!”


Teriak dokter Sifa, ia pun berlari


mendekati dua pria itu.


"Tuan Divta, apa yang


terjadi?" tanya dokter Sifa tapi Divta tidak juga menjawab begitupun


dengan dokter Frans.


“Bang maafkan saya!” ucap dokter


Frans lirih.


"Maaf itu bukan padaku! Tapi


untuk istrimu!" ucap Divta kemudian, ia pun merapikan kembali jasnya dan


mendekati dokter Frans lagi. Dokter Sifa sudah bersiap-siap jika saja ada


pemukulan lagi, ia akan memanggil pihak keamanan.


“Itu hanya pukulan kecil tidak


sebanding dengan pukulan yang sudah kamu buat untuk istri kamu!”


“Bang …, dia sudah membuat anakku


tidak selamat, andai dia mau mendengarkan ucapan ku,


andai dia tidak datang di acara itu,


semua ini tidak akan terjadi!” ucap dokter Frans yang masih merasa tidak


ikhlas. Ia masih begitu terluka dengan kehilangan buah hatinya.


“Itu cuma andai …, dan tidak akan


terjadi! Jika kamu terluka, istri kamu lebih terluka! Ingat dia yang mengadung


bukan kamu! Jangan menyalahkan dia dengan apa


yang terjadi, karena dia juga tidak


mau ini terjadi!” ucap Divta lalu berlalu begitu saja meninggalkan dokter Frans


dan dokter Sifa.


Setelah Divta meninggalkan ruangan


itu, dokter Sifa pun menghampiri dokter Frans.


"Dokter tidak pa pa? Biar saya


obati luka dokter ya!"


“Tidak usah, tidak perlu! Pergilah …!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2