
Iyya bangun lebih pagi, ia tidak
mendapati daddy nya di kamarnya. Iyya pun segera turun dari tempat tidurnya dan
mencari dady nya di kamar.
Iyya tersenyum senang saat melihat
daddy nya sedang tidur pulas. Dengan sedikit berlari Iyya menyusul daddy nya
naik ke atas tempat tidur. Ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh daddy
nya dan mecubit hidung dady nya.
Bukannya bangun, Div malah
mengeratkan pelukannya pada putrinya itu,
"Dad ....., dad ...., bangunnnn!"
Divia mencium pipi daddy nya.
"Sayang ...., princess nya aku,
selamat pagi!"ucap Div tanpa membuka matanya, tampak sekali dia sangat
mengantuk.
"Pagi dad ...., banguunnnn!”
ucap Iyya sambil mencubit hidung daddy nya.
“Daddy masih mengangtuk sayang …!”
“Ayo bangun dad …, Iyya mau ketemu cama calon mommy Iyya
...!"
Eketika mata Div terbuka, ia pun
segera bangun dan membawa mendudukkan Iyya di depannya,
"Calon mom ....?"
Iyya pun segera berdiri tepat di
depan Div, "Dad ...., Iyya iyat tadi malam dad cama mom Iyya, Iyya
pokoknya pengen cetemu cama calon mommy nya Iyya!"
Ahhh
iya Ersya …, jadi Iyya melihatnya semalam!
Brrttttt brrrrttttt brrrrttttt
Tiba-tiba ponsel yang ada di adlam
saku jasnya bordering,
“Sebentar sayang, ada telpon!”
Divta pun segera merogoh saku jas
yang masih melekat di tubuhnya. Ia begitu terkejut saat mendapati ponsel lain
di saku jasnya. Ponsel dengan casing warna pink jelas bukan miliknya.
“Dad …, itu poncel ciapa?”
Divta pun teringat jika semalam
belum sempat mengembalikan ponsel Ersya.
“Ini, ini punya Mom Eca!”
“Mom Eca?”
“Iya sayang, ya udah daddy mandi
dulu ya, daddy harus mengemablikan ponsel ini!”
“Iyya ikut!”
“Baiklah …, Iyya mandi juga ya!”
Iyya pun dengan cepat turn dari atas
tempat tidur, ia segera keluar dari kamar daddy nya dan mencari pengasuhnya
untuk meminta di mandikan.
“Encus …, Iyya mau mandi cepat, Iyya
mau ketemu cama mom Eca!”
Divta pun segera bangun dari tempat
tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah siap, Divta pun segera menemui Iyya yang
juga sudah selesai bersiap-siap. Divta segera membawa Iyya ke mobil dan mulai mengendarai
mobilnya menuju ke rumah sakit.
Setelah sampai dir umah sakit, Div
pun meminta Iyya untuk menunggu di tempat bermain.
“Kenapa Iyya di cimni, mana mom Eca?”
“Maaf ya Iyya sayang, Iyya nunggu di
sini dulu biar daddy panggilkan mom Eca dulu! nggak pa pa ya sayang?”
"Iyya pengen ikut ....!"
"Jangan sayang ...., Iyya ingat
uncle dokter yang keren itu? Istrinya sedang sakit, mom Eca lagi nungguin,
kasian nanti tante Fe nya kalau Iyya berisik di sana!"
__ADS_1
"Dad janji bawa mom Eca ke cini
kan?"
"Iya ...., daddy janji
...!"
"Ya udah ...., daddy tingga
sebentar ya, jangan keman-mana sebelum dady kembali, okey!"
“Okey dad!”
Setelah mendapat ijin dari Iyya,
Divta pun langsung menuju ke ruangan Felic tapi ia hanya mendapati Ersya dan
Felic di sana.
"Selamat siang!"
"Pak Divta!"
"Divta!"
Dua wanita itu menoleh padanya.
Divta membawakan satu keranjang buah yang ia beli di toko buah tadi.
"Bagaimana keadaanmu?"
tanya Divta setelah meletakkan keranjang buah itu di atas nakas. Ersya sudah
berdiri dan membiarkan Divta gantian duduk.
"Sudah lebih baik!"
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan
hal itu ....!" ucap Divta karena terlihat sekali saat ini Felic sedang
tertekan. Ia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, wajahnya datar dan
pucat. Menangis pun sudah tidak sepetinya sehari semalam ia tidak berhenti
menangis.
Divta mengedarkan pandangannya, tapi
tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.
pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat
mengembeng di pelupuk mata.
“Dia tidak lagi kemari setelah Felic
sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.
“Emang tuh anak ya, harus di kasih
pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.
Divta mengedarkan pandangannya, tapi
tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.
pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat
mengembeng di pelupuk mata.
“Dia tidak lagi kemari setelah Felic
sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.
“Emang tuh anak ya, harus di kasih
pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.
Divta menghampiri dokter Frans di ruangannya.
Tanpa mengetuk pintu, ia segera masuk. Ia bisa melihat pria itu sedang
menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
“Frans ...!” ucap Divta sambil
berdiri menatap dokter Frans begitu kesal.
Dokter Frans segera mendongakkan
kepala nya dan tersenyum. Ia pun berdiri.
"Eh bang …, duduklah…!” ucap
dokter Frans.
Tapi bukannya duduk, Divta malah
berjalan menghampiri dokter Frans.
"Ada apa bang?" tanya
dokter Frans bingung karena melihat wajah marah dari Abang sahabatnya itu.
Divta bukannya menjawab, ia malah
menarik kerah bajunya.
“Bang …, apa yang abang lakukan?”
tanya dokter Frans bingung. Tangan dokter Frans memegang tangan Divta berusaha
melepaskannya tapi ternyata tangan Divta lebih kuat dari tangannya.
“Aku hanya ingin mengajari orang
yang tidak tahu diri ini!” ucap Divta kesal sembari terus mengeratkan
tangannya, rahangnya juga sudah sangat mengeras, terlihat sekali jika kali ini
__ADS_1
pria itu tidak main-main.
Bukkkkk
Sebuah pukulan mendarat di pipi
dokter Frans hingga membuat tubuh dokter Frans tidak seimbang hingga menabrak
kursi di belakangnya.
Tubuh dokter Frans pun
tersungkur di lantai. Ia memegangi pipinya yang ngilu karena pukulan dari
Divta.
Divta kembali menarik kerah baju
dokter Frans kembali
"Dan ini ...., untuk sakit yang
di rasakan istri kamu, bahkan sakitnya lebih sakit dari ini!" ucap Divta
dan kembali memukulnya dokter Frans hingga beberapa kali.
"Ayo bangun ...., bangunlah
jika kau punya kekuatan, tapi jangan pernah menyakiti seorang wanita gara-gara
ego mu itu!"
"Ayo bangun!"
Tapi dokter Frans tidak berniat
untuk bangun, ia tetap memilih duduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya
yang mengeluarkan darah, wajahnya sekarang sudah penuh dnegan lebam, tapi sakit
yang ia rasakan di wajah dan tubuhnya sekarang tidak lebih sakit dari hatinya,
hatinya sedang mengering saat ini.
Dokter Sifa yang kebetulan di luar
ruangan itu, mendengar keributan di dalam, ia pun segera masuk dan memeriksa
apa yang sedang terjadi.
Melihat Divta memukuli dokter Frans,
dokter Sifa pun segera menghampiri mereka.
"Dokter …!"
"Tuan Divta …!”
Teriak dokter Sifa, ia pun berlari
mendekati dua pria itu.
"Tuan Divta, apa yang
terjadi?" tanya dokter Sifa tapi Divta tidak juga menjawab begitupun
dengan dokter Frans.
“Bang maafkan saya!” ucap dokter
Frans lirih.
"Maaf itu bukan padaku! Tapi
untuk istrimu!" ucap Divta kemudian, ia pun merapikan kembali jasnya dan
mendekati dokter Frans lagi. Dokter Sifa sudah bersiap-siap jika saja ada
pemukulan lagi, ia akan memanggil pihak keamanan.
“Itu hanya pukulan kecil tidak
sebanding dengan pukulan yang sudah kamu buat untuk istri kamu!”
“Bang …, dia sudah membuat anakku
tidak selamat, andai dia mau mendengarkan ucapan ku,
andai dia tidak datang di acara itu,
semua ini tidak akan terjadi!” ucap dokter Frans yang masih merasa tidak
ikhlas. Ia masih begitu terluka dengan kehilangan buah hatinya.
“Itu cuma andai …, dan tidak akan
terjadi! Jika kamu terluka, istri kamu lebih terluka! Ingat dia yang mengadung
bukan kamu! Jangan menyalahkan dia dengan apa
yang terjadi, karena dia juga tidak
mau ini terjadi!” ucap Divta lalu berlalu begitu saja meninggalkan dokter Frans
dan dokter Sifa.
Setelah Divta meninggalkan ruangan
itu, dokter Sifa pun menghampiri dokter Frans.
"Dokter tidak pa pa? Biar saya
obati luka dokter ya!"
“Tidak usah, tidak perlu! Pergilah …!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰