
"Maaf ya Sya!"
Terlihat sekali kalau sahabatnya itu sedang begitu merasa bersalah. Ersya mendongakkan kepalanya menengadah ke atas, seperti sebuah kepasrahan.
Hehhhh,
Ersya menghela nafas seakan-akan membuang semua kesulitan dalam hidupnya. Ia berusaha untuk tetap menjadi Ersya yang tersenyum dalam keadaan apapun. Ini bukan apa-apa, masih banyak yang lebih sakit yang orang lain tidak tahu.
"Ini bukan salah Lo, Fe! Jangan khawatir gue nggak pa pa, hanya butuh waktu untuk menata semuanya kembali!"
"Gue tahu Sya, Lo bukan wanita lemah! Apapun itu, Lo bisa lalui semuanya dengan baik!"
"Terimakasih ya Fe!"
Ersya memutuskan untuk berdiri dari duduknya,
"Boleh nggak gue ketemu sama dia, gue pengen tanya sesuatu!"
"Kamu yakin?" Felic merasa ragu, ia tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu sendiri dalam kesulitan. Dan lagi, suasana hati Ersya saat ini sedang tidak baik, Tisya juga sedang tidak baik-baik saja.
"Lo kenal gue Fe, gue memang keras, bar bar, tapi gue tidak akan menyerang orang yang sedang sakit!"
"Gue percaya sama lo!"
Felic pun akhirnya memberitahu ruangan tempat Tisya di rawat.
Banyak sekali hal yang ingin di tanyakan kepada wanita yang telah merebut suaminya itu, tapi ternyata tidak ada yang bersama pria itu. Apa yang sebenarnya di inginkan? Apa hanya ingin melihat keluarganya hancur? Kenapa sekarang dia malah dengan pria lain? Lalu hubungan mereka yang dulu, hubungan apa?
Ersya berjalan cepat menuju ke ruang yang sudah di tunjukkan oleh Felic, tapi tiba-tiba langkahnya melambat saat berada di depan kamar itu, terlihat dari jarak lima meter ada tulisan di atas pintu, Flamboyan 4.
Di antara deretan kamar VIP dengan berbagai kamar dengan nama nomor yang berbeda.
Hehhh,
Ersya menghela nafas saat tangannya sudah memegang handle pintu.
Ceklek
Pintu perlahan terbuka membuat wanita yang penuh luka di tangan dan wajahnya menatap ke arah Ersya.
Wajah wanita itu semakin bertambah pucat saat melihat siapa yang berada di depan pintu.
"Kamu!?"
Ersya menambah langkahnya, seperti sedang menghitung langkah. Satu, dua, tiga, empat dan lima, sampai. Ersya berdiri tepat di ujung tempat tidur pasien hanya berjarak setengah meter.
Wanita yang awalnya setengah tidur kini menjadi duduk sempurna dengan kaki yang ia gantung ke bawah sebelah.
"Kamu kenapa ke sini?" tanyanya lagi saat pertanyaannya yang satu tadi tidak di jawab.
__ADS_1
Ersya masih tetap diam, ia menatap pada wanita itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sebenarnya bukannya apa, dia hanya sedang menatap begitu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
"Kamu mau menakutiku ya?" jelas wanita itu semakin khawatir apalagi mereka punya pengalaman yang buruk sebelumnya.
"Jangan macam-macam ya, kalau kamu mendekat selangkah lagi aku akan berteriak!" ucap wanita itu saat Ersya kembali berjalan mengitari tempat tidur dan mendekat ke arahnya.
Tiba-tiba Ersya memiringkan senyumnya, membuat wanita Yang ada di atas tempat tidur itu semakin panik, hampir saja ia menekan tombol panggilan darurat tapi tangan Ersya segera meraihnya.
"Takut banget sama gue!"
"Lepasin tangan saya, jangan macam-macam ya kamu!" ancam wanita itu lagi pada Ersya.
Ersya lagi-lagi hanya tersenyum, rasanya lucu menakuti seseorang yang pernah menyakitinya.
"Memang gue mau apain Lo, dasar bocah!"
Ersya pun melepaskan tangan Tisya dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Tisya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada.
Tisya bisa bernafas lega sekarang, setidaknya nyawanya tidak berakhir hari ini.
"Menurut Lo, apa yang bakal Lo lakuin saat ketemu sama wanita yang sudah merebut suami Lo dalam ruangan yang sama dan hanya berdua kayak gini?" tanya Ersya.
Tisya sepertinya sedang berpikir keras,
Kalau aku pasti akan mencekiknya dan memotong-motongnya jadi bergedel ...., batin Tisya.
"Apa kira-kira gue harus nglakuin itu juga ya?" tanya Ersya seakan-akan ia bisa membaca pikiran Tisya. Sebenarnya bukan membaca, lebih tepatnya semua wanita ingin melakukan hal itu saat bertemu dengan wanita yang sudah merebut suaminya.
"Terimakasih ya!"
Tisya tersentak, ia sampai memundurkan tubuhnya tidak percaya mendengarkan ucapan Ersya. Baru kali ini ia bertemu sama wanita yang malah berterimakasih saat suaminya dirampas wanita lain.
"Iya! Terimakasih!" ucap Ersya lagi memberi penegasan pada ucapan sebelumnya.
"Kamu gila atau apa sih?" tanya Tisya tidak percaya.
"Menurutmu?"
"Entahlah, mungkin saya yang halusinasi karena kejadian semalam!" Tisya menyerah sendiri. Ia hampir saja merebahkan kembali tubuhnya dan menganggap kedatangan Ersya hanyalah bagian dari imajinasinya.
"Gue belum selesai bicara!"
"Bodoh ....!"
"Terimakasih karena Lo udah buka mata hati gue, gue tidak lagi buta karena cinta! Lo tunjukin ke gue kalau dia bukan pria yang pantas untuk di pertahankan!"
Kini Tisya kembali bangun dan menatap Ersya, ia memastikan kalau kata-kata itu benar-benar keluar dari bibir wanita itu.
"Aku nggak lagi berhalusinasi ya?"
__ADS_1
"Seharusnya Lo bersyukur karena gue nggak potong-potong Lo jadi bubur, gue malah ngasih penghargaan sama Lo ...! Dan bersyukur lagi Lo nggak jadi juga sama dia, Lo dapat pria sebaik Wilson, selamat ya!"
Bukan hanya berterimakasih, tapi wanita yang sudah ia sakiti juga mengucapkan selamat. Tisya sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Brakkkkk
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar membuat mereka beralih menoleh ke pintu dan ternyata di depan pintu itu ada dua pria yang sedang terlihat ngos-ngosan, terlihat dari nafasnya yang naik turun.
"Mas, ngapain?" tanya Ersya.
"Kak, kenapa lari-lari?" Tisya juga melayangkan pertanyaan pada kakak laki-laki nya itu.
Dua pria itu dengan cepat menghampiri Ersya dan Tisya.
"Kalian tidak pa pa kan?" tanya Div yang menatap bergantian pada Ersya dan Tisya.
"Memang kami kenapa?" tanya Ersya.
"Kalian tidak melakukan ini?" tanya dokter Frans sambil mempraktekan tangannya dengan posisi menajamkan cakar.
Issstttt, Ersya berdesis. "Memang gue macam apa? Nggak gitu juga kali!"
Hehhhh, terdengar helaan nafas bersamaan dua pria itu, sepertinya begitu lega.
...🍂🍂🍂...
Kini Ersya dan Div sudah berada di dalam mobil. Mobil sudah melaju meninggalkan gedung rumah sakit. Mereka harus segera ke kantor karena setelah ini Div ada meeting penting yang sudah tertunda semenjak pagi.
"Mas, tadi ngapain sih lari-lari?" tanya Ersya, ia belum sempat menanyakannya tadi.
"Aku kira kamu akan baku hantam sama adiknya Frans!"
"Enak aja, emang aku anak kecil apa!"
"Ya siapa tahu, pas di acara pertunangan itu aja kamu hampir duel sama dia!"
"Itu dulu, aku belum tahu kalau ini memang takdir terbaik yang aku punya! Aku bersyukur tahu mas ketemu kamu!"
Div menarik kepala Ersya dan meletakkannya di dada bidangnya. Ia mengusap puncak kepala Ersya dengan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegang stir.
...Dulu aku sempat bertanya pada Tuhan dengan takdir pahit yang diberikan-Nya untukku, tapi sekarang aku tahu maksud dari takdir itu. Dia ingin mempertemukan aku dengan yang terbaik untuk hidupku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...🥰Happy reading 🥰...