Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mantan Istri


__ADS_3

Felic


sudah tidak lagi bekerja sebagai office girl, suaminya sudah melarangnya untuk


bekerja. Lagi pula suaminya adalah pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta,


lalu apa kata orang jika ia masih nekat untuk bekerja sebagai office girl.


Suami Felic sampai membeli sebagian besar saham bank swasta tempat mereka


bekerja gara-gara Felic sempat nekat untuk tetap bekerja.


Akhirnya


Felic pun bingung sendiri karena semua orang di kantor memperlakukannya


berbeda, ia di istimewakan, bahkan tidak di perbolehkan menyentuh apapun tapi


ia tetap di gaji, membuat felic tidak enak hati sendiri dan memutuskan


mengundurkan diri.


Semenjak


Felic tidak bekerja, Ersya jadi semakin kesepian saja, apalagi dengan masalah


yang menderanya.


Ersya meregangkan otot-ototnya saat pekerjaannya sudah hampir selesai, hari ini dia


terlihat begitu sibuk karena banyak


berkas pencairan yang harus ia tangani.


“Mau ngafe ….!” Gumamnya “Ahhhhh …, tapi belum selesai! Males juga sih tapi kalau


sendiri!”


“Felic


lagi ngapain ya …, ngafe sama dia ja deh, nyonya pasti nggak pernah sibukkan?!”


Ersya


pun segera mengambil ponselnya, ia mengetikkan sebuah pesan kepada sahabatnya


itu.


//Fe …, jalan yuk! Sebentar lagi pekerjaanku selesai, gimana kalau dua jam lagi kita


ketemu? Di kafe biasa//


Ersya


pun mengirimkan pesannya, ia menunggu hingga mendapat balasan dari sahabatnya


itu.


“Kok


nggak bales-bales sihhhh ….!” Gumamnya lagi.


“lama


banget …!”


Akhirnya


Ersya memutuskan kembali melanjutkan pekerjaannya yang memang baru beberapa


lagi. Kalau pekerjaannya selesai, ia bisa pulang lebih awal.


Ting


Sebuah


nada pesan masuk, dengan cepat Ersya beralih dari pekerjaannya dan mengintip


ponselnya yang ada di samping beberapa berkas yang terbuka di depannya.


“Felic


…!”


Dengan


cepat Ersya mengambil ponselnya dan meletakkan bolpoinnya. Ia membuka pesan


itu.


//ok


…, aku sekarang berangkat ya, sampai jumpa di tempat biasa//


Ersya


pun dengan cepat membalas pesan itu dan mengirimkannya.


//Siap


….//


Setelah


mengirimkan balasan, Ersya pun segera kembali fokus dengan pekerjaannya agar


segera selesai dan dapat dengan cepat menyusul Felic.


***


Di

__ADS_1


tempat lain terlihat Felic sudah keluar dari rumahnya. Ia di temani pengawal


pribadinya yang di tugaskan khusus untuk menjaga Felic.


Felic


pun segera masuk ke dalam mobil, saat Wilson pengawal pribadinya sudah


membukakan pintu mobil untuknya.


Wilson


segera berlari mengitari mobilnya dan masuk dari pintu lainnya yang ada di


depan dan duduk di balik kemudi.


Mobil


yang di tumpangi Felic sudah melaju memecah ramainya jalan Jakarta, sepertinya


memang tidak ada ceritanya jalan Jakarta sepi. Felic sudah menunjukkan alamat


yang akan di tuju.


Hingga


mereka sampai di depan sebuah kafe yang memang tidak terlalu mewah tapi


lokasinya dekat dengan tempat kerja Ersya.


“Wil


…, tunggu di sini saja ya!” ucap felic saat turun dari mobil, “atau kamu bisa


pergi dulu kemana gitu!”


“Maaf


nyonya, tapi Tuan tidak mengijinkan saya meninggalkan nyonya sedetikpun!”


“Apa


kah itu berarti lo mau dudk satu tempat dengan gue?”


“tidak


begitu nyonya, saya akan dudul di tempat lain yang jaraknya jauh tapi masih


bisa melihat nyonya!”


“Ok


lah gue ijinin!”


Dari


pada terus berdebat dengan Wilson, Felic memilih segera masuk ke dalam kafe dan


mencari tempat duduk, ia paling tidak suka keramaian makanya ia memilih untuk


tapi juga sangat nyaman untuk bisa mengawasi semua pengunjung masuk.


Wilson


pun membuktikan ucapannya, ia duduk di jarak aman dari Felic tapi masih bisa


memperhatikan gerak-gerik Felic.


Felic


memesan satu gelas minuman dingin karena di luar sangat panas. Saat di dalam ia


seperti baru saja jalan-jalan di gurun pasir dan ngadem di kutub utara. Jauh banget


ngayalnya.


Sesekali


memainkan ponselnya, memang tidak baru-baru banget tapi entah sejak kapan suami


kayanya itu tiba-tiba mengganti ponsel bututnya tanpa seijin pemiliknya.


Feli


terus menjepretkan camera ke wajahnya sendiri, ia jadi punya kebiasaan narsis


dengan selvi dan mengunggahnya ke media sosial miliknya.


Setelah


puas bermain ponsel, Felic lebih memilih meletakkan ponselnya di atas meja. Untuk


membunuh rasa bosannya menunggu Ersya, Felic memilih memperhatikan sekitar saja


sambil sesekali menatap jalan masuk. Tapi matanya tertuju pada seseorang yang


berada di privat room sepertinya karena di sana hanya ada satu buah meja.


Walaupun begitu Felic bisa melihat semuanya karena dindingnya berbahan kaca


transparan. Jaraknya juga tidak jauh dari tempat duduknya.


“Mereka


cipika cipiki…., keterlaluan sekali mereka …!”


Felic


segera bangun dari duduknya dan mengambil gelasnya yang masih terisi penuh


dengan minuman dan berjalan mendekati ke ruangan itu.

__ADS_1


“Gue


harus bikin perhitungan nih sama mereka!”


Felic


mempercepat langkahnya dan berhenti di belakang mereka, “hey .., kalian!”


teriak Felic membuat dua orang itu menoleh pada felic dan dengan cepat air yang


berada di dalam gelas beralih ke wajah mereka.


Byuuuuuuurrrrrrr


Seorang


wanita paruh baya yang sepertinya seorang sosialita dengan barang-barang


branded yang melekat di tubuhnya begitu terkejut dengan kedatangan Felic dan


ikut berdiri. Apa lagi dengan kedatangan Felic yang tiba-tiba saja mengguyur


dengan segelas minuman dingin.


“Lo


siapa? Kenapa tiba-tiba melakukan ini sama kami?” tanya seorang wanita muda,


wajahnya sedikit mengingatkannya pada seseorang.


Rizal


masih terdiam dengan kedatangan Felic, ia sangat mengenal Felic tentunya


makanya dia diam. Felic sahabat istri nya yang akan segera menjadi mantan dalam


berepa hari ke depan.


“Mas


Rizal, bisa jelaskan padaku semua ini? Ada apa ini?” ucap Felic meminta jawaban


pada pria yang bernama Rizal itu.tapi Rizal masih terlihat terdiam, ia bingung


harus emnjelaskan bagaimana, tidak mungkin ia mengatakan pada sahabat istrinya


itu jika gadis yang bersamanya adalah pacarnya, calon tunangannya setelah ia


bercerai.


“Mas


…, siapa dia? Kenapa menyerang kita?” tanya gadis itu sambil mengusap wajah dan


bajunya yang basah kuyup gara-gara ulah Felic, usianya terlihat jauh lebih


muda.


“Bukan


siapa-siapa, sayang …!” ucap Rizal itu sambil mengusap wajah wanita cantik itu


karena basah oleh air minum Felic. Hal itu membuat Felic begitu terkejut, ia


merasa tidak salah dengar dnegan ucapan suami sahabatnya itu.


“Sayang


…?” Felic seperti kehilangan kata-kata, dia kenal baik pria di depannya itu,


“heh


heh heh …!” Felic tertawa hambar, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia


dengar. Felic hanya bisa memegangi dadanya yang terasa penuh, ingin sekali


rasanya mencakar wajah pria di depannya itu saat ia memanggil sayang pada


wanita itu.


“Jelaskan


pada kami, Rizal! Siapa dia?” tanya wanita paruh baya itu, ia pun akhirnya ikut


bicara. Sejenak Felic menatap wanita itu. Ia benar-benar seperti pernah melihat


wanita itu, dia punya kemiripan dengan seseorang. Mata nya itu begitu sama,


tapi siapa? Gadis di depannya juga memiliki mata yang sama.


“Dia


teman Ersya, tante!”


“Benarkah?


Dia teman mantan istrimu?” nyonya itu, maksudnya wanita paruh baya itu mendekat


pada Felic dan memperhatikan penampilan Felic.


“Mantan???”


Felic benar-benar terkejut dengan kata mantan, sejak kapan? Kenapa sahabatnya


itu tidak cerita?


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2