Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Di rooftop


__ADS_3

Ersya berjalan kaki menuju ke bahu jalan, ia berencana untuk tidak langsung pulang.


karena rumah tempatnya untuk pulang sudah bukan menjadi tempat yang nyaman.


Ersya memilih untuk menghabiskan malamnya di atas gedung yang biasa ia tempati.


Besok adalah hari pertunangan mantan suaminya. Mungkin saat ini adalah hari paling


menyedihkan untuk Ersya. Ia memilih untuk pergi ke sebuah gedung pencakar


langit, bukan untuk bunuh diri, ia hanya ingin berteriak sekeras-kerasnya agar


semua beban dalam hidupnya hilang.


Untung satpam penjaga gedung itu sudah sangat hafal dengannya karena sakin seringnya ia


melakukan hal itu.


“Kamu ke atas lagi neng?” tanya pak satpam.


“Iya pak, pak bos nya sudah pulang kan?”


“Nggak tahu neng, kayaknya sudah! Sudah sepi banget soalnya!”


Ersya menyerahkan sebungkus kresek di tangannya untuk pak satpam. “Ini apa neng?”


“Tenang


aja pak, itu bukan suap! Itu buat temen bapak jaga aja biar nggak ngantuk,


karena bapak juga baik banget sama aku, siapa tahu aku nanti jatuh dari sana,


bapak kan udah kuat!”


“Ihhh


neng , kalau ngomong yang bener neng, jangan sembarangan!”


“Becanda


pak .., ya udah aku naik dulu ya pak!”


Ersya


dengan rok selutut nya dan juga kemeja putih serta sepatu hak tingginya itu


begitu lincah menaiki tangga. Gedung itu ada sekitas delapan belas lantai dan


Ersya seperti tidak punya lelah menaiki tangga itu.


Kini


ia sudah berdiri di bagian gedung yang paling atas. Ia memegangi lututnya yang


sedikit nyeri. Setelah merasa sudah lebih baik, Ersya pun mulai berjalan kea


rah pinggir atap gedung.


“Aus


banget …!” Ersya mengusap kerongkongannya yang terasa kering.


“Aaaaaaaaa


……!”Ersya sengaja berteriak agar ebban di dalam hidupnya berkurang, ia tidak


peduli jika kerongkongannya yang kering akan semakin kering.


“Aaaaaaa


….!”


“Aaaaaaaa


…..!” teriaknya hingga beberapa kali, tapi sialnya ia tidak menyadari ada orang


lain di tempat itu. Seorang pria berdiri tidak jauh dari tempatnya, karena


rooftop itu gelap jadi Ersya tidak menyadarinya.


Sepertinya


pria itu juga melakukan hal yang sama, terlihat sekali ada botol yang berjejer


di samping tempatnya berdiri dan jugadi tangannya.


“Kenapa


teriak-teriak sih?” tanya pria itu yangmerasa terganggu dnegan teriakan Ersya.


Ersya


begitu terkejut saat menyadari tidak hanya ada dirinya di tempat itu. Ersya


segera menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata pria itu sedang berjalan


mendekat padanya, pria itu membawa sebuah botol.


Ahhh kebetulan sekali aku haus …, batin


Ersya sambil beberapa kali menelan salivanya.


“Kamu


siapa?” Ersya tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena kurangnya


pencahayaan.


“Pemilik


gedung ini!” pria itu mendongakkan kepalanya menatap ke langit, “ kenapa teriak-teriak?


Berisik tahu!”


“Bukan


urusanmu!” Ersya hanya fokus pada botol itu, ingin rasanya segera merebut botol


itu dan meminumnya.


“Akan


jadi urusanku karena kamu teriaknya di atas gedung ku atau jangan-jangan kamu


mau bunuh diri ya?”

__ADS_1


“Enak


aja , gue nggak seputus asa itu hingga ingin bunuh diri Cuma gara-gara cowok!”


“Ohhh


jadi semua gara-gara cowok hingga membuat kamu teriak-teriak seperti orang


gila!”


Ersya


jadi merasa punya teman curhat, ia pun membalik badannya menatap ke arahj


langit yang sama.


“Dia


bukan cuma sekedar cowok, tapi dia mantan suami gue! Dan kamu tahuapa yang


paling parah, kami baru saja bercerai sebulan yang lalu dan besok dia sudah mau


bertunangan dengan wanita lain!”


“Sungguh


menyedihkan!” pria itu menggelengkan kepalanya.


“Jangan


mengasihani gue!”


Pria


itu pun mendekati Ersya yang tampak sangat menyedihkan, “Mau minum?” ucapnya


sambil menyodorkan botolnya yang sudah sangat di incar sedari tadi oleh Ersya.


Ersya


hampir mengambil botol itu tapi ada bau yang aneh, ehhh tunggu, kayaknya ini minuman keras …., batin Ersya.


Tapi baguslah setidaknya dia tidak


tahu apa yang aku bicarakan tadi, dia kan sednag mabuk …


“Kamu


mabuk ya?”


“kalau


aku mabuk, aku nggak mungkin bicara seprti ini sama kamu!” jawab pria itu


dengan begitu pasti.


Memang kalau orang mabuk itu nggak


bakalan sadar dia ngomong apa …, kayaknya dia sudah mabuk berat, batin


Ersya.


“Tapi


itu minuman?” Ersya menunjuk botol itu.


tapi aku nggak mabuk, ini biasa aku lakukan kalau aku lagi sedih!”


Kayaknya minum dikit nggak pa pa


kali ya, haus banget soalnya, ini kan masalahnya kepepet nggak ada minuman


lainnya, dari pada kehausan ….


“Boleh


coba nggak?”


“Kalau


nggak pernah minum nggak usah coba-coba!”


Tapi


tanpa permisi Ersya malam menyambar botol itu dan meminumnya begitu saja, ia


menggelengkan kepanya setelah meneguk habis semua isi botol itu. Ia merasa di


sekitarnya menjadi berputar-putar.


“Kenapa


kepalaku jadi puyeng ya?” Ersya beberapa memukul kepalanya berkali-kali.


“Kamu


mabuk ya?” tanya pria itu, “Wha beneran nih mabuk ni cewek!” gumam Divta lagi.


Bug


Tiba-tiba saja Ersya kehilangan


keseimbangannya hingga tubuhnya hampir saja terjatuh dan untungnya pria itu


dengan sigap menangkap tubuh Ersya.


 "Sial ....!" umpat pria itu saat tubuh Ersya sudah


berada dalam pelukannya.


"Kamu tahu ...., aku sakit


banget ...., aku pengen menangis tapi air mataku sudah terlanjur


mengering!" rancau Ersya sambil menunjuk-nunjuk hidung Divta membuat Divta


beberapa kali menyingkirkan tangan Ersya.


"Kamu ....!" rancau Ersya


sambil menunjuk hidung mancung pria itu, "Kamu tahu ...., dia itu tidak


tampan seperti mu, dia juga tidak punya gedung seperti mu, tapi dia bermimpi


punya gedung tinggi, sangat tinggi!" ucap Ersya sambil menggerak-gerakkan

__ADS_1


tangannya memberi isyarat betapa tingginya gedung itu.


"Dia pasti tidak mencintai


gadis itu ...., dia itu cuma cinta padaku! Kau tahu ...., dia pasti mau menikah


dengan wanita itu karena hartanya ....!"


Ersya terus saja merancau membuat


Div bingung harus melakukan apa. Akhirnya pria matang itu membopong tubuh Ersya


dan membawanya turun dengan menggunakan lift.


"Mas Rizal ...., kamu jahat mas


...!"


"Mas Rizal ....!"


"Mas Rizal ....!"


Selama dalam lift, Ersya terus saja


memanggil nama Rizal.


“Sebenarnya siapa sih Rizal ini …!”


gumam Divta


"Aku bukan mas Rizal mu!


Merepotkan sekali ....!" ucap pria itu kesal.


“Rumah kamu di mana?” tanya pria


itu, tapi tetap saja Ersya tidak menjawabnya. Mulutnya terlalu sibuk


memanggil-manggil nama Rizal.


“Merepotkan saja!”


Divta pun kemudian melakukan


panggilan dengan ponselnya ia harus mencari bantuan, ia menempelkan


aerophonenya di telinga sebelahnya dan mulai melakukan panggilan.


"Hallo tuan!"


"Siapkan mobil di depan!"


"Baik tuan!"


Setelah


selesai melakukan panggilan Divta pun kembali melepas aerophonenya. Hingga akhirnya pintu lift


terbuka, mereka sudah berada di lantai dasar. Anak buah Divta sudah menunggu di


sana, mereka bersiap di sana lengkap dengan mobilnya.


Anak buahnya segera membuka pintu


belakang saat melihat tuannya itu membopong seorang wanita. Divta pun segera memasukkan Ersya ke


dalam mobil dan diam pun menususul duduk di sampingnya. Salah satu anak


buahnya pun ikut masuk ke dalam mobil dengan duduk di balik kemudi.


"Apa kita langsung pulang,


tuan?" tanya anak buahnya.


"Tidak, kita antar dia


dulu!" ucap pria tampan itu. Walaupun sudah terlihat begitu matang, tapi


pria itu semakin tampan saja. Usianya yang matang membuat karismanya semakin


terlihat.


“Kita antar ke mana tuan, nyonya


itu?” tanya anak buahnya lagi.


"Sebentar, aku cari KTP-nya


dulu!” ucap pria itu. Ia mencari sesuatu di tas Ersya.


"Undangan?!" ucap pria


itu, ia melihat undangan itu dan ternyata ada nama Rizal di sana.


"Kasihan sekali dia ...., jadi


ceritanya di tinggal nikah!" gumamnya sambil melihat wajah Ersya yang


sudah terlelap.


Pria tampan itu kembali memasukkan


undangan itu ke dalam tas, ua merogoh benda kecil yang biasanya di gunakan


untuk menyimpan kartu tanda penduduk dan kartu-kartu penting lainnya, ya benda


itu adalah dompet. Sebuah dompet bentuk kotak warna merah tua dengan motif


Teddy bear itu. Pria itu segera mencari apa yangs senang ia cari, kartu nama.


"Ersya, kerja di bank swasta,


lumayan!" ucap pria itu setelah membaca kartu nama Ersya.


“Kita ke alamat rumah ini!” ucap


pria itu sabil menyerahkan sebuah kartu nama kepada anak buahnya.


“Baik, tuan!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2