
Hari-hari Ersya dihabiskan begitu banyak di rumah Div. Ia merawat Iyya dengan begitu baik, bahkan Iyya sangat nurut dengan Ersya.
Walau hanya sebagai baby sitter Iyya, Ersya begitu menikmati perannya sebagai mom bohongang untuk Iyya.
Tidak terasa satu bulan sudah ia tinggal sebagai baby sitter.
"Kenapa dia selalu ada di depanku setiap hari!" gerutu Div karena setiap kali keluar dari kamarnya yang ia lihat selalu saja Ersya.
"Kalau nggak suka liat saya, titip saja matanya, iya kak Iyya?"
"Iya Dad ...., kenapa daddy jadi libet cekali!!" keluh Iyya sambil memegangi keningnya dengan begitu imut.
"Terserahlah ....!"
Div memilih untuk berlalu begitu saja melewati Ersya dan Iyya. Ia harus segera sarapan karena setelah ini ada meeting penting.
Mereka sudah berada di meja makan, menikmati sarapan mereka.
"Iyya sayang, nanti om Rangga akan datang menjemput Iyya, jadi Iyya siap-siap ya!" ucap Div sambil menikmati sarapannya.
Iyya menghentikan mengunyah makanannya dan menatap daddy nya, "Kita mau ke mana dad?"
"Unty Nadin melahirkan, jadi kita bisa menjenguknya nanti di rumah sakit!"
"Boyeh Iyya ajak mom Eca kan dad?"
Div mendongakkan kepalanya menatap wanita yang duduk di samping putrinya dengan seragam khas baby sitter itu.
Tidak pa pa kali ya ...., lagian sudah menjadi rahasia umum kalau dia calon istriku ...., hehhhh tidak pernah terbayangkan sebelumnya ...., batin Div. Wanita di depannya sebenarnya sangat cantik tapi bukan kriterianya sebagai seorang istri. Ia membayangkan istri yang lembut dan penyayang bukan wanita yang bar bar seperti dia.
"Baiklah, tapi suruh dia dandan, daddy nggak mau malu nanti!" ucap Div dingin bukan pada Ersya tapi pada putri kecilnya iyu walaupun tujuannya pada wanita itu.
Setelah selesai sarapan, seperti biasa. Iyya pasti akan mengantar mereka sampai ke depan rumah.
"Daddy berangkat dulu ya sayangnya daddy!" ucap Div sambil mencium kening Iyya.
"Dad ...., di tv kalau belangkat keja, bukan cuma cium Iyya, mom juga halus di cium!" ucapan polos Iyya berhasil membuat Ersya maupun Div tertegun dan hanya saling pandang.
"Jangan Iyya, mom kan tadi belum mandi, jadi pasti bau!" ucap Ersya memberi alasan.
"Iya sayang, bagaimana nanti kalau baunya nempel di wajah daddy, daddy nggak mau mandi lagi!" ucap Div merasa menang sambil tersenyum jahil pada Ersya.
"Begitu ya dad!"
"Iya sayang, ya sudah daddy berangkat ya!"
Div segera masuk ke dalam mobil saat Rangga membukakan pintu mobil, ia sudah menyiapkan semua kegiatan yang harus di lakukan oleh Div hari ini dan menyerahkannya pada Div.
...**""**...
Siang ini Rangga sudah kembali ke rumah. Ersya dan Iyya juga sudah bersiap-siap. Ersya tidak lagi memakai baju ala baby sitter nya.
"Hai om Langga!" teriak Iyya yang di gandeng oleh Ersya.
__ADS_1
"Iyya ...., lama nggak ke kantor ya, sudah ada temannya ya di rumah?" tanya Rangga sambil berjongkok di depan Iyya.
"Iyya cekalang cudah punya mom, jadi Iyya nggak kesepian lagi!"
"Bagus ...., anak pintar!"
Rangga beralih menatap Ersya, temannya itu begitu bahagia sekarang, tidak seperti terakhir kali bertemu.
"Bagaimana di sini?" tanya Rangga sambil mengamati pakaian Ersya.
"Baik, Iyya baik banget sama gue!"
"Pak Div?"
"Kalau itu jangan di tanya!"
"Hehhh sudah ku duga, yang sabat aja sebenarnya pak Div orang yang baik!"
"Om om ....,!" Iyya menarik jas Rangga membuat Rangga beralih menatap gadis kecil itu.
"Jangan menggoda mom Eca, dia momnya Iyya!"
"Iya ..., om tahu, ya sudah kita berangkat sekarang?!"
"Iya!" Iyya begitu bersemangat.
Ersya pun membantu Iyya masuk ke dalam mobil, mereka semua duduk di kursi depan bersama Rangga yang mengemudikan mobilnya.
Iyya terus saja berceloteh dan tidak memberi kesempatan pada Rangga maupun Ersya saling mengobrol.
"Pokoknya om Langga nggak boyeh ngomong cama mom Eca!"
"Dasar posesif!" gumam Ersya sambil mengusap gemas kepala mungil Iyya.
Rangga hanya tersenyum melihat kelakuan Iyya yang memang tidak jauh berbeda dengan daddy nya.
Walaupun baru mengenal Div beberapa tahun terakhir ini, Rangga sudah cukup tahu bagaimana sifat dari bosnya itu.
Akhirnya mobil itu sampai juga di depan kantor finity group. Pria angkuh itu sudah berdiri di sana dengan wajah kesalnya. Rangga tahu mereka saat ini sedang terlambat.
"Kenapa lama sekali?" tanya Div saat Rangga turun,
"Maaf pak, tadi jalanan cukup macet!"
"Kan sudah saya bilang, berangkat lebih awal!" Div masih tidak mau kalah.
"Maaf pak!"
Div pun menatap bangku depan, matanya menajam saat melihat Ersya dan Iyya duduk depan.
"Kenapa mereka duduk di depan sama kamu?" tanya Div kemudian yang terlihat sangat tidak suka.
Hahhh sama kan dengan putrinya, posesif ...
__ADS_1
"Maaf pak, ini tidak akan terjadi lagi!"
Kemudian kapala Iyya keluar dari dalam mobil melalui jendela kaca.
"Dad ...., kenapa lama cekayi?" teriak Iyya membuat Div dan Rangga menoleh padanya. Div sampai lupa jika putrinya masih duduk di dalam.
"Baiklah sayang, bentar ya!"
Div pun segera berlari mengitari mobil dan duduk di tempat Rangga duduk tadi, ia memakai sabuk pengamannya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya kembali.
Mobil itu meninggalkan Rangga yang masing berdiri di tempatnya.
"Kayaknya pak Div cocok sama Ersya!" gumamnya tapi ia tidak sadar di belakangnya masih ada seseorang.
"Siapa yang cocok?" Dengan cepat Rangga menoleh, ia kenal suara siapa yang terdengar begitu berat itu.
"Sekretaris Revan, kamu masih di sini?"
"Iya ...., kamu pikir saya di mana?"
"Hahhhh, jangan kaku gitu lah sekretaris! Kamu juga suka kan kalau pak Div dapat jodoh?"
"Bukan urusan kamu!"
Sekertaris Revan segera meninggalkan Rangga begitu saja.
"Issstttttt, dasar kepala batu, belum tahu aja dia rasanya jatuh cinta gimana! Liat aja ntar kalau pak Div jatuh cinta, dia sendiri yang repot!" gerutu Rangga sambil berjalan ke lawan arah, walaupun posisi mereka hampir sama tapi mereka memiliki ruangan yang berbeda.
Di dalam mobil terlihat Div masih terus diam membuat Iyya heran, tidak biasanya daddy nya itu akan jadi pendiam jika bersamanya. Iyya sampai harus memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah daddy nya.
"Daddy cakit gigi ya?" tanya Iyya kemudian.
"Hemmm?" Div yang kurang konsentrasi sedikit terkejut dengan pertanyaan Iyya, "Enggak, daddy baik-baik saja!"
"Tapi kenapa daddy diam? Apa kayena ada mom Eca? Mom Eca cantik ya Dad?"
"Bukan! Daddy hanya sedikit lelah saja sayang!"
"Hehhh ...., cayang cekayi, padahal tadi om Langga belucaha menggoda mom Eca, untung ada Iyya di cini!"
Seketika Div menoleh pada Iyya dan Ersya.
Bersambung
...Tidak banyak yang tahu kapan cinta itu akan datang, tapi dia tahu saat cinta itu datang di mana ia harus melekatkannya, ...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1