
Akhirnya mereka sampai juga di depan pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari kantor finitygroup. Sebenarnya mall ini juga termasuk salah satu bagian finitygroup yang beberapa tahun lalu menjadi proyek besar mereka.
Div segera memarkirkan mobilnya di basement mall. Kali ini ia tidak menggunakan jasa pengawal untuk memarkirkan mobilnya atas syarat yang di minta Ersya. Ia ingin menjadikan hari ini menjadi hari mereka bertiga. Ia tidak tahu saja jika mama mertuanya sedang merenacanakan hal lain yang bisa membuatnya malu.
"Ayo sayang!" ajak Ersya pada putri kecilnya. Mereka selalu tampil luar biasa dengan outfit yang senada, begitu kompak.
"Mom cantik lual biacaaa....!"
"Iyya juga!"
Suasana hangat ini yang sebenarnya di inginkan oleh Div semenjak dulu. Semenjak mamanya bercerai dengan ayahnya semua kehangatan itu hilang, kebahagiaan yang di berikan oleh sang mama hanya seperti kebahagiaan semu yang hilang tanpa kenangan.
Div berjalan di belakang mereka, seperti sebuah tameng yang siap melindungi dua orang yang begitu berarti di hidupnya.
dreetttttt dreetttttt drettttt
Ponsel Div berdering membuatnya terpaksa menghentikan langkah. Ersya yang menyadari jika suaminya itu berhenti pun mengajak Divia untuk ikut berhenti, mereka menunggu di kursi tunggu yang ada di salah satu lorong mall.
Div terlihat menempelkan benda pipihnya itu di daun telinganya,
"Hallo, ada apa ma?"
"Kamu di mana?"
"Kami di depan outlet makanan cepat saji, mama sudah sampai belum?"
"Baiklah, kami akan menyusul kalian!"
Div tampak mengerutkan keningnya, "Kami?"
"Jangan kemana-mana!"
Div tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya karena mamanya lebih dulu mematikan ponselnya.
"Ada apa mas?"
Ersya sudah berjalan menghampiri nya saat melihat suaminya terdiam dengan menggenggam ponselnya.
"Tidak pa pa, mama meminta kita menunggu di sini!"
"Ohhh!"
Ersya pun kembali menghampiri Divia yang sudah memegang es krim di tangannya, entah sejak kapan Ersya membelikannya. memang di dekat mereka ada penjual es krim.
Div kembali menyakukan ponselnya dan menyusul mereka.
"Dad, mau?" tanya Divia sambil menyodorkan satu contong es krim dari tangannya.
"Boleh?"
Divia menganggukkan kepalanya dan lebih menyodorkannya lagi. Div pun tersenyum dan menerimanya.
"Enak!" gumamnya saat rasa lembut eskrim mulai meleleh di lidahnya.
"Mom yang memilihkan untuk Iyya, ini kata mom laca balu ....!"
Div pun menoleh pada istrinya yang masih berdiri di tempatnya,
__ADS_1
"Memang mom paling mengerti memanjakan kita!" ucapnya lirih sambil melirik istrinya itu.
Ersya hampir saja tersedak dengan es krimnya dan menatap tajam pada suaminya itu, ia cukup tahu apa yang di maksud.
Mereka menunggu nyonya Aruni hingga es krim mereka habis,
"Itu mereka!" ucapan seseorang menyadarkan Ersya yang kebetulan sedang membuang bungkus es krim milik mereka tadi tidak jauh dari tempat mereka makan es krim tadi.
Ersya dengan reflek menoleh, ia hafal suara siapa itu. Nyonya Aruni berjalan mendekati Div dan Divia bersama seseorang.
"Ellen!" gumamnya.
Div segera berdiri saat melihat kedatangan mamanya dan Ellen.
"Oma ...., Oma cama ciapa?" tanya Divia saat melihat ada orang asing yang ada di samping Omanya.
"Kenalkan Ellen, ini putri Div! Namanya Divia!" ucap nyonya Aruni memperkenalkan Divia pada Ellen.
Ellen tersenyum, "Hai Divia, kamu cantik sekali!"
Divia bukannya menjawab malah menyembunyikan dirinya di balik tubuh Div,
"Maaf ya Ellen, Divia memang suka malu-malu kalau ketemu sama orang asing!"
"Nggak pa pa Tante, biasa aja, dia manis sekali ...!"
"Mama kok bisa sama Ellen?" tanya Div dengan nada dinginnya.
"Iya Div, tadi mama memang sudah janjian sama Ellen, mama rasa kalau rame-rame pasti lebih menyenangkan!" ucap nyonya Aruni dengan santainya.
Ersya yang masih termenung di tempatnya hanya bisa mengepalkan tangannya kesal,
Ersya pun merapikan penampilannya dan berjalan melenggang menghampiri mereka,
"Hai ma ...!" sapa Ersya dan langsung mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari nyonya Aruni.
Ia pun kembali berjalan dan menghampiri suaminya lalu melingkarkan tangannya di lengan suaminya, ia tersenyum manja pada suaminya itu, "Maaf ya mas, tadi lama! Gimana kita belanja sekarang?"
Dia pintar juga , baiklah kita lanjutkan permainan kita baby ...., batin Div. Div yang mendapatkan perlakuan berbeda dari istrinya tersenyum puas.
"Bagaimana ma, tetap mau bergabung dengan kita atau mama mau belanja sendiri dengan nona Ellen?" tanya Ersya lagi pada mertuanya itu.
"Kita memang mau belanja bareng, iya kan Ellen?"
"Iya Tante!"
Dasar ulet bulu ...., nggak tahu malu sekali ...., batin Ersya kesal melihat gaya Ellen yang sok cantik dengan gaya anggunnya.
Tujuan pertama mereka adalah toko baju, mereka memasuki toko yang sama.
"Div kamu jaga Divia ya, biar Ersya sama Ellen pilihin baju buat mama!" ucap nyonya Aruni.
Div merasa ragu, pasti mamanya punya acara terselubung untuk mengerjai istrinya, tapi Ersya menganggukkan kepalanya mengatakan kalau dia akan baik-baik saja.
"Iyya sama Daddy dulu ya!"
"Iyya ikut mom!"
__ADS_1
"Cuma bentar kok sayang! Iyya bisa ikuti mom dari belakang sama.daddy, iya kan dad?"
"Iya sayang!"
Ersya pun akhirnya bergabung dengan nyonya Aruni dan Ellen setelah mendapatkan persetujuan dari suami dan putrinya.
Mereka menuju ke berjajar baju yang terpajang di toko itu, ternyata Div dan Divia tidak tega meninggalkan mom Echa sendiri. Mereka tetap mengikutinya di belakang.
"Pilihkan baju untukku ya!" ucap nyonya Aruni pada Ellen dan Ersya. Baik Ellen dan Ersya pun sama-sama mencarikan untuknya.
Hanya dalam beberapa menit kemudian, mereka berdua pun menunjukkan baju yang berbeda, nyonya Aruni bergaya memilih tapi Ersya sudah tahu baju siapa yang akan di pilih oleh ibu mertuanya itu.
Sial ...., aku pasti kena nih ...., umpat Ersya dalam hati. Ia melihat baju yang di pilih Ellen lebih bagus dari yang di tunjukkan oleh dirinya.
"Memang ya pendidikan seseorang itu menunjukkan selera orang juga! Kalau orangnya berkelas baju yang di pilih juga pasti berkelas!" ucap nyonya Aruni sambil memilih baju yang di pegang oleh Ellen.
"Bukan begitu Tante, memang kebetulan baju ini ada di dekat saya, kalau Ersya ada di posisi saya sekarang mungkin dia juga mengambil baju yang saya ambil Tante, it's just a matter of position, Tante ...! Jangan di besar-besar kan!"
Dia benar-benar bermuka dua ....
"Kamu ini ya, sudah pintar, baik pula! Beruntung sekali yang akan menjadi suamimu kelak!" puji nyonya Aruni.
"Tante, too much praise!"
"I am serious!"
Mereka meninggalkan Ersya begitu saja seolah dirinya tidak ada,
"Ahhh ...., dua manusia rubah yang bergabung! Sungguh melelahkan!" keluh Ersya.
Dari kejauhan Div dan Divia hanya menatap tidak percaya,
"Mom kalah lagi Dad!" ucap Divia sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Hmmm!"
"Kita hayus membantu mom kan Dad!?"
"Hmmm!"
"Cali cala agal dapat cekol catu kocong!"
"Siap tuan putri!"
..."Kamu mungkin tidak hebat, tapi kamu luar biasa di hati aku. ...
...Aku mencintaimu tanpa syarat...
... dan kamu menerimaku tanpa ralat. Aku sederhana tanpamu, ...
...tapi menjadi istimewa di hati kamu, terimakasih karena cinta yang kau buat menciptakan bahagian yang terkuat"...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...