
Divia bingung harus memulai pertanyaannya dari mana, yang pasti saat ini ia sedang tidak rela jika Dee sampai di serahkan pada mamanya.
Kim itu appa macam apa, bisa-bisanya ia akan membiarkan Dee pergi darinya, bahkan Daddy tidak segitunya. Ingat banget dulu bahkan saat ayah Rendi ingin menemuiku, Daddy yang selalu menghalanginya ....
Sambil memijit Divia terus saja menggerutu dalam hati, sepertinya nenek menyadari segala ekspresi yang di tunjukkan oleh Divia sedari tadi, ia hanya bisa tersenyum dan mulai bertanya,
"Vi?!"
"Iya Nek, apa ada yang salah?"
"Seharusnya nenek yang bertanya seperti itu, apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"
Hahhh, jadi nenek tahu .....
Divia kali ini tidak bisa berbohong lagi, bagaimanapun dia juga ingin tahu jawabannya.
"Nek, sebenarnya tadi Divia mendengar pembicaraan nenek dengan Kim, maafkan Vi sudah kurang ajar! Vi menyesal!"
Nenek itu hanya tersenyum hingga menunjukkan begitu banyak keriputan di wajahnya,
"Tidak pa pa, nenek tidak marah. Sekarang jelaskan apa yang membuatnya begitu kesal dengan pembicaraan kami?"
Merasa mendapatkan kesempat, Divia pun melontarkan semua yang kekecewaannya, tentang Kim dan tentang wanita itu.
"Nek, Dee masih sangat kecil, dia pasti kesal jika di lempar ke sana, di lempar ke sini, ia hanya butuh kasih sayang yang utuh sebagai sepasang keluarga. Jika nona Yee Ri memang menyayangi Dee, kenapa dia dulu memutuskan untuk meninggalkan Kim, bahkan meninggalkan bayi kecilnya? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Kim juga, sebegitu bersemangatnya dia melepaskan Dee, jelas-jelas Dee darah dagingnya. Seharusnya seorang ayah akan melindungi anaknya bagaimanapun caranya, bukan malah menyerahkan pada orang yang jelas-jelas sudah menelantarkan Dee!"
Mendengar Divia begitu menggebu-nggebu dalam mengutarakan pendapatnya, sang nenek hanya tersenyum. Ia mulai memahami apa yang baru saja di pahami oleh Divia.
"Nenek kok malah tersenyum sih?" Divia sedikit kecewa dengan tanggapan sang nenek yang seakan membenarkan sikap Kim.
"Baiklah, bagiamana kalau kamu ambilnya album foto yang ada di laci sebelah sana!" nenek menunjuk sebuah lemari dengan lagi yang berjejer di bawahnya.
"Ada di paling ujung!"
Divia pun melakukan apa yang di perintahkan sang nenek, ia mendekati laci itu dan membukanya, mengambil buku album foto dengan sampul berwarna coklat terdapat motif bunga di atasnya.
"Bawa ke sini, kita lihat Sama-sama!"
__ADS_1
Divia pun melakukan seperti instruksi sang nenek, ia membawa buku album foto itu dan duduk di samping sang nenek.
Sang nenek pun mulai membuka lembaran pertama, terlihat keluarga yang begitu harmonis, ibu, ayah, dan dua anak laki-lakinya,
"Lihatlah, ini ayah Kim, dan di sampingnya ibu Kim, dia orang Indonesia, dulu saat Kim kecil atau saat libur sekolah Kim kerap berkunjung ke Indonesia walaupun pernikahan ayah dan ibu Kim tidak baik-baik saja. Dan ini yang ada di sebelah Kim adalah kakak laki-lakinya, namanya Jim."
Tampak kakak laki-lakinya Kim terpaut usia yang cukup jauh dengan Kim, sekitar sepuluh tahunan.
Jadi Kim punya saudara? Dia juga keturunan Indonesia, pantas saja dia tahu apa yang aku bicarakan ....
Nenek mulai membuka halaman selanjutnya, masih berisi keluarga yang bahagia, hingga Kim remaja tampak tidak ada lagi foto sang ayah,
"Ayah Kim?" Divia yang penasaran akhirnya bertanya pada sang nenek.
Kemudian nenek kembali ke halaman sebelumnya yang sepertinya tadi sengaja ia lewati,
"Ini adalah foto yang di ambil di hari pemakaman ayah Kim! Ayah Kim meninggal karena kecelakaan!"
"Benarkah sebuah kecelakaan?" Divia tentu tahu, tidak semua kecelakaan itu murni sebuah kecelakaan biasa dalam kehidupan keluarga seperti Kim.
Nenek menggelengkan kepalanya dan Divia sudah tahu meskipun tidak di jelaskan, itulah kenapa sampai saat ini ia tidak protes jika Daddy nya begitu protektif padanya dan keluarganya.
"Nggak pa pa nak, nenek sudah baik-baik saja sekarang. Semenjak hari ini ibu Kim memutuskan untuk meninggalkan Korea, tapi karena Jim harus menjadi penerus jadi ibunya hanya bisa membawa Kim."
"Jadi Kim tinggal di Indonesia?" Divia benar-benar terkejut mengetahui hal ini.
Nenek pun mengangguk, "Iya, tapi tidak lama. Hanya sekitar lima tahun!"
"Kenapa?"
"Lima tahu setelah ayah Kim pergi, kakak Kim juga menyusul. Kejadiannya juga sama seperti yang menimpa ayahnya. Beruntung saat itu istrinya bisa di selamatkan, tapi ia mengalami trauma yang cukup berat!"
"Saat itu Kim masih berusia dua puluh satu tahun, tapi ia harus mengemban tugas untuk mempertahankan perusaahan yang mulai kehilangan kepercayaan dari pada pemegang saham, karena kegigihannya ia berhasil mengembalikan citra baik perusahaan hingga saat ini!"
"Di usia Kim yang masih sangat muda, bahkan dia harus mengurus kakak iparnya yang mengalami trauma, apalagi sang kakak ipar tengah mengandung saat itu. Hal itu seperti sebuah kado bagi Kim, ia seperti melihat kakaknya dalam diri anak yang masih dalam kandungan kakak iparnya!"
"Tunggu deh Nek!" dari sini sepertinya Divia mulai menyimpulkan sesuatu, "Jadi maksudnya anak itu adalah Dee?"
__ADS_1
"Iya!"
"Jadi Dee bukan anak kandung Kim dengan wanita itu?" Divia merasa ada perasaan senang sekaligus sedih yang kini menjalar dalam dirinya, ia bingung harus bagaimana sekarang, antara senang karena ternyata Kim tidak ada hubungan dengan wanita itu dan sedih karena sudah pasti ia tidak bisa mempertahankan Dee di sisinya.
Nenek menggelengkan kepalanya, "Sudah malam, tidurlah!"
"Tapi nek, kan ceritanya belum selesai!"
"Kan bisa lain waktu, tidurlah. Nenek juga mau istirahat!"
Walaupun sedikit kecewa tapi Divia juga tidak bisa memaksa. Ia segera turun dari tempat tidur nenek dan menutup tubuh sang nenek dengan selimut,
"Selamat malam, Nek!"
"Selamat malam!"
Tidak lupa Divia juga mematikan lampu kamar nenek dan meninggalkannya.
Ia berjalan perlahan menuju ke kemar Kim, mau menolak bagaimanapun sekarang kamarnya di sana, ia perlahan membuka pintu kamar, lampu kamar terlihat sudah di matikan hanya menyisakan lampu tidur.
Kim sudah terlelap di atas tempat tidur, ia bisa melihat wajah Kim dari sorot lampu tidur,
Divia memilih duduk di sofa, dan kembali menatap wajah itu, terlihat begitu tenang saat tertidur.
Banyak sekali pikiran yang hinggap di otaknya saat ini saat melihat wajah Kim yang sekarang,
Dia sudah memendam semuanya sendiri, ia berusaha agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri di saat semua orang yang ia sayangi pergi, bahkan jika aku membayangkan hal itu, aku tidak akan sanggup ....
Daddy, aku jadi merindukanmu .....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...