Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Dia istri saya


__ADS_3

Suasana ruang meeting itu terlihat begitu serius, meeting yang di hadiri lebih dari lima belas orang dan salah satu dari peserta itu adalah Div.


Div menjadi penentu keputusan dalam meeting kali ini, Agra menyerahkan semua keputusan pada Div.


Di tengah meeting terlihat sekretaris Revan membisikkan sesuatu pada Div, wajah Div seketika berubah, tangannya mengepal sempurna.


Tiba-tiba ia berdiri dan membetulkan posisi jasnya yang sebenarnya tidak berantakan,


"Meeting kita lanjut besok!"


Div dengan langkah pasti keluar dari ruang meeting, meninggalkan ruang meeting yang tiba-tiba bergemuruh. Ada beberapa orang yang terlihat lagi dan sebagian lagi terlihat kecewa.


"Maaf atas hal ini, kami janji besok pak Div pasti akan melanjutkan meetingnya, jadi kepada semua peserta meeting bisa meninggalkan ruangan!" ucap sekretaris Revan yang berusaha menjelaskan semampunya.


Div sudah berjalan cepat menuju ke depan gedung, menunggu hingga mobilnya datang.


"Saya pergi sendiri!" ucapnya pada sopir pribadinya.


"Baik tuan!"


Div dengan cepat masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh sopir. Mobil melaju dengan begitu cepat, seakan jika dia terlambat sedikit saja sesuatu yang buruk akan terjadi.


...🍀🍀🍀...


Kini Rizal sudah berhasil melewati masa kritis, Ersya di panggil oleh dokter untuk menemani Rizal karena pria itu terus memanggil namanya.


Langkah Ersya melambat setelah melewati pintu masuk ruang perawatan Rizal, ia merasa bukan di sini tempatnya saat ini, tapi saat melihat tubuh penuh perban itu membuatnya sulit untuk mengabaikan.


Apalagi dia mendengar keterangan dari dokter jika kemungkinan pria yang pernah menjadi suaminya itu mengalami patah tulang kaki, dan harus melakukan pemulihan untuk beberapa bulan kedepan.


"Sya!"


Panggilan itu berhasil membuyarkan lamunannya, Ersya tersenyum dan melanjutkan langkahnya dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Rizal. Pria itu sedang duduk di ranjangnya dengan punggung yang bersandar pada bantal.


"Gimana mas? Sudah enakan? Apanya yang sakit?"


Mendengar pertanyaan yang bertubi dari Ersya itu membuatnya merasa kembali di perhatikan,


"Terimakasih ya!"


"Untuk apa?"


"Karena kamu masih peduli dengan ku!"


Ersya hanya tersenyum, ia sejujurnya ingin sekali tidak peduli dan menganggapnya sebagai orang lain.


"Sya!?"


"Hemmm?"


"Bisa nggak temani aku, jangan tinggalkan aku lagi?"


"Mas?!"


Ersya tidak suka dengan kata-kata itu, seandainya saja kata itu terucap dulu sebelum kata cerai itu terucap mungkin dia akan sangat senang, tapi sekarang?


Sekarang bukan dirinya sendiri prioritasnya, ia memang tidak mencintai siapapun saat ini kecuali Divia, di hati dan pikirannya saat ini hanya Divia dan Divia. Divia adalah hidupnya dan masa depannya.


"Maafkan aku Sya, aku tanpamu benar-benar seperti orang gila Sya, lebih baik aku mati jika harus tanpamu! Aku mohon Sya, kembalilah padaku!"


Ersya hanya terdiam, rasanya luka yang baru saja tertutup tiba-tiba kembali terbuka dan menganga, bibirnya bahkan begitu kelu untuk menjawab.

__ADS_1


"Dia istrinya saya!"


Ucap seseorang yang berada tidak jauh di belakang Ersya, Ersya dan Rizal segera menatap ke arahnya,


"Mas Divta!?"


Ersya segera berdiri dan menoleh kepada Div, pria itu berjalan kearahnya dan menarik pinggang Ersya.


"Dia istri saya, jadi saya yang paling berhak atasnya!"


"Mas!?"


"Tapi dia masih mencintai saya!" ucap Rizal yang tidak mau kalah.


Belum sampai Div kembali menimpali ucapan Rizal, tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk dengan cepat ke dalam ruangan itu dengan derai air mata. Dan melewati mereka begitu saja, berhambur memeluk Rizal,


"Zal, apa yang terjadi sayang ...., kenapa bisa sampai seperti ini?"


"Tidak pa pa ma, Rizal sudah baik-baik saja!?"


Div menarik tubuh Ersya agar sedikit menjauh membiarkan ibu dan ada itu untuk saling berbicara, tapi saat mereka hendak keluar dari ruangan itu, mama Rizal memanggilnya,


"Ersya!"


Ersya segera berbalik, dia menatap Div terlebih dulu untuk meminta ijin, wajahnya memohon agar Div mengijinkannya berbicara sebentar dengan ibunya Rizal.


Div menganggukkan kepalanya pelan dan melepaskan tangan Ersya,


Ersya segera berbalik dan kembali menghampiri ibunya Rizal, memeluknya dengan erat.


"Sayang, bagaimana kabarmu?"


"Saya baik ma!"


"Dia suami baru kamu?" tanyanya tanpa melepaskan pelukannya.


Ersya mengangguk pelan, "Iya ma!"


Ibunya Rizal segera melepaskan pelukannya, lalu kedua tangannya menarik tangan Ersya,


"Semoga di pernikahan kedua kamu, kamu mendapatkan kebahagiaan ya sayang!"


"Terimakasih ma!"


"Maafkan mama atas kesalahan putra mama, dia pasti akan sangat menyesal telah melepaskanmu!?"


"Kenapa mama yang minta maaf, mama tidak salah apapun pada Ersya!"


"Tapi mama sudah gagal membesarkan seorang putra, mama lupa mengajarkan pada putra mama untuk bisa menghargai wanita!"


"Maaf nyonya, saya rasa istri saya sudah tidak ada kepentingan lagi di sini, jadi ijinkan saya membawa istri saya pergi dari sini!"


...🍀🍀🍀...


Kini Ersya dan Divta sudah berada di dalam mobil, Ersya masih terdiam seribu bahasa semenjak keluar dari rumah sakit itu,


Div tidak juga melajukan mobilnya, ia memilih menoleh pada istrinya itu dan berdecak,


"Kenapa? Menyesal saya bawa keluar?"


Pertanyaan dari Div berhasil membuat Ersya mengerutkan keningnya, "Nggak gitu, cuma aku nggak suka aja sama cara kamu! Mama nya Rizal nggak salah apapun sama aku, kenapa kamu kayaknya nggak suka banget sih?"

__ADS_1


"Apa kamu tidak dengar sendiri tadi, dia mengakui kesalahannya jadi jangan memperumit masalahnya, atau jangan-jangan kamu memang belum rela meninggalkan pria itu?"


"Terserah lah sesuka kamu mau ngomong apa!"


Ersya memilih menyandarkan punggungnya dan membuang muka ke arah luar, ia kesal dengan Div,


Kenapa jadi dia yang kesal, seharusnya aku yang marah ....


Div segera melajukan mobilnya dengan cepat membuat Ersya terkejut, dengan reflek dia memegang tangan Div,


"Jangan cepat-cepat!?"


Bukannya memelankan laju mobilnya, dia semakin mempercepatnya. Kali ini Ersya tidak hanya memegangi tangan Div tapi memeluknya begitu erat dengan mata yang terpejam sempurna.


"Aku belum mau mati Div! Berhenti!"


"Panggil dengan benar!?"


"Iya, mas Div, tolong pelankan ...!"


Div tersenyum lalu meminggirkan mobilnya, dia menghentikan mobilnya di bahu jalan yang terlihat sepi, Ersya perlahan membuka matanya dan melepaskan pelukannya.


Srekkkk


Belum juga lepas sempurna tiba-tiba Div menarik kembali tubuh Ersya hingga begitu dekat, bahkan Ersya bisa merasakan hembusan nafas Div, ia juga bisa merasakan detak jantung pria itu yang begitu keras,


"Kamu tahu apa kesalahanmu hari ini?"


"Mengantar mas Rizal ke rumah sakit!"


"Hanya itu?"


Ersya mengerutkan keningnya dan berusaha untuk melepaskan pelukan pria itu, "Apa?"


Cup


Tiba-tiba Div membungkam bibir Ersya dengan bibirnya, Ersya berusaha keras untuk melepaskannya tapi tetap saja tidak bisa.


"Ughhhh ....uhhhh ....!"


Div kembali melepaskan bibirnya saat melihat Ersya sudah hampir kehabisan nafas,


"Hahh hahh hahhhh ....!" Ersya mengambil udara sebanyak-banyaknya.


"Apa perlu aku kasih tahu!?"


Ersya segera mengangguk, ia tidak tahu salahnya apa selain bertemu dengan Rizal,


"Kamu sudah berani pergi tanpa ijin dari ku!?"


"Hahhh ....!?"


Ersya benar-benar tercengang, ia tidak tahu jika itu juga bagian dari kesalahan yang tidak termaafkan.


...Seseorang akan begitu berharga bila berada di tempat yang tepat, tempat orang-orang yang menganggapnya begitu berharga. Dan sebaliknya dia akan tidak berharga jika berada di tempat orang-orang yang tidak bisa menghargainya...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰😘😘


__ADS_2