
"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana, mengerti!"
"Memang aku mau ke mana!?" Divia hanya menggelengkan kepalanya saat Kim begitu enggan untuk menghampiri pintu.
Kim berjalan cepat ke arah pintu, ia merapikan jasnya dan memastikan penampilannya sempurna dan yang paling utama ia segera mengubah mode wajahnya menjadi mode dingin.
Ia segera menarik handle pintu dan pintu pun terbuka,
"Maaf Mr, menggangu istirahat anda. Kami dari restauran xx, Mr Lee meminta kamu mengantarkan makanan untuk Mr!"
"Iya, bawa masuk!"
"Baik Mr!"
Tiga orang dengan seragam khas rumah makan itu terlihat membawa beberapa bag berisi makanan.
"Permisi nona!" sapa mereka saat melihat Divia di sana juga.
"Letakkan semuanya di atas meja dan kalian boleh pergi!" ucap Kim lagi dengan mode dinginnya.
"Baik Mr!"
Orang-orang itu dengan cepat meletakkan semuanya di atas meja dan segera berpamitan.
Kim segera mengikuti dan menutup kembali pintu itu. Dalam sekejap Kim bisa merubah ekspresi wajahnya saat kembali menatap Divia, senyum hangat itu tiba-tiba muncul lagi padahal beberapa detik lalu ia sudah berhasil membuat karyawan restoran itu buru-buru kabur gara-gara wajah super dingin pria itu.
Mudah sekali merubah mode wajahnya ....., Divia sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya saat Kim berjalan ke arahnya.
"Tahu aja kalau aku lapar!" Divia Dangan cepat duduk di kursi yang ada di meja makan dan membuka satu per satu,
"Ya ampun ...., ini enak-enak semua ...!"
Kim ikut duduk dan menyanggah dagunya Dangan kedua tangan, rasanya bisa menatap Divia tersenyum membuat Kim merasa bahagia.
"Kenapa ngeliatnya gitu amet?" Divia menghentikan kegiatannya membuka bungkus makanan.
Kim begitu imut dengan menatap senyum tipis di bibirnya,
"Karena kamu begitu cantik!"
"Jangan gombal deh!"
"Sejak kapan seorang Kim bisa ngegombal!"
"Ihhhhhhhh!" Divia benar-benar gemas hingga mencubit kedua pipi Kim, "Kenapa jadi manis gini sih!"
"Aughhhh, memang aku Dee!?" keluh Kim sambil mengusap kedua pipinya yang baru saja di cubit oleh Divia.
"Ya abis kamu sama imutnya kalau gitu kayak Dee!"
"Hehhhh, jadi kangen nih sama Dee!" gumam Divia kemudian, rasanya baru kemarin Dee pergi di bawa ibunya tapi rasanya sudah begitu lama. Tidak bisa di pungkiri jika kehadiran Dee benar-benar bisa mengalihkan rasa rindunya pada keempat adiknya. Ia seperti merasa kembali merawat adik-adiknya di waktu kecil.
Kim mengusap kepala divia dengan begitu lembut, "kangen ya?"
"Iya! Nanti deh kalau liburan akan kembali ke indo!"
"Yakin?"
__ADS_1
"Ya yakin dong, dua bulan lagi kan liburan musim dingin!"
"Yakin mau ninggalin aku?"
"Tapi kan cuma satu bulan Kim, abis itu balik lagi ke sini!"
"Sudah makanlah!"
Wajah Kim tiba-tiba berubah menjadi dingin lagi, ia segera memulai makan tidak berniat lagi untuk membahas tentang liburan Divia.
"Kim!?"
"Kita bahas yang lain aja ya!" ucap Kim sambil menggengam tangan Divia.
Divia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak mau suasana yang baik ini berubah menjadi tanggung karena ulahnya.
"Makan yang banyak ya, setelah ini kita bisa mencoba apartemen baru kita!" ucap Kim lagi dengan kelingan mata yang menggoda. Hal itu berhasil membuat Divia menarik tangannya,
Apa maksudnya ...., tapi sepertinya pria itu tidak terlalu memikirkan ucapannya, terbukti dia langsung melahap makanannya begitu saja setalah berpindah ke mangkuk kecilnya.
"Kita?" Divia masih begitu penasaran dengan kata 'kita', karena dari awal perjanjiannya Kim memberikan apartemen itu untuknya sendiri.
"Hmmm!"
"Ini kan khusus buat aku!"
"Yakin aku nggak boleh nginep di sini?"
Wahhhh mau cari perkara nih orang ....., Divia begitu kesal dengan ucapan Kim tapi pria itu hanya tersenyum.
"Nggak, pokoknya nggak boleh!"
"Kok gitu sihhh?!" protes Divia tapi sepertinya Kim tidak peduli.
Setelah puas di apartemen baru Divia, mereka kembali ke rumah karena besok nenek sudah harus berangkat.
"Ya ampun kalian dari mana? Kenapa pulangnya terlambat sekali?" nenek langsung menggenggam tangan Divia terlihat begitu khawatir,
"Anu Nek, itu tadi." Divia bingung harus beralasan apa tapi saat menengok ke arah Kim pria itu dengan santainya berlalu dan memilih duduk di sofa.
Dia keterlaluan, dia yang buat telat kenapa aku yang harus cari jawaban .....
Terlihat nenek masih menunggu jawaban dari Divia, "Tadi ada sedikit urusan tentang tugas kampus Nek!"
"Lalu Kim? Kenapa kalian bisa bersama-sama?"
"Iya, tadi Kim nemenin Nek!"
"Syukurlah!"
Mereka seharusnya jika setelah makan langsung pulang pasti tidak akan terlambat.
Tapi ternyata setelah makan, Kim memilih untuk mengajak Divia kembali melihat-lihat ini apartemennya.
Kim dengan sengaja mengunci Divia di dalam kamar, berdua dengannya.
"Kim apa yang mau kamu lakukan?"
"Kan tadi aku sudah bilang, kita akan mencoba kamar ini!"
__ADS_1
"Jangan macam-macam ya!" Divia memundurkan tubuhnya tapi Kim tidak menyerah, ia terus saja memojokkan Divia hingga mereka Sama-sama terjerembab di atas tempat tidur.
Kim mengungkung tubuh Divia dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menyanggah kepalanya agar bisa menatap wajah Divia dengan jelas.
"Aku ingin menatap wajah mu lebih lama, Vi!"
"Tapi nggak gini juga kan caranya!" Divia berusaha untuk melepaskan diri tapi percuma, satu lengan Kim sudah cukup untuk menahan tubuh mungilnya.
"Aku nyaman kalau kayak gini! Jadi diamlah atau kamu akan membangunkan yang lain juga nanti!" bisik Kim sambil mengarahkan matanya ke bawah.
Astaga ...., dia mikir apa sih .....
Akhirnya Divia memilih untuk diam, Kim menutup matanya sambil menikmati aroma tubuh Divia, menurutnya aroma tubuh Divia benar-benar berhasil jadi candu untuknya, tapi kemudian ia teringat sesuatu tentang pria yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya, dengan cepat ia memiringkan tubuhnya hingga mereka begitu dekat.
"Kim, bukankah kamu dan Lee_?" pertanyaan ambigu Divia berhasil membuat pria itu kembali membuka matanya.
"Ada apa dengan aku dan Lee?"
"Bukankah kalian_?"
Srekkkkk
Dengan cepat Kim langsung menguasai tubuh Divia, ia mengungkung tubuh Divia bawah tubuhnya saat ini.
"Kim, apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin membuktikan kalau juniorku cukup berfungsi!"
"Maksudnya_!"
Kim tersenyum dengan begitu jahil, "Kita bisa memulainya sekarang untuk membuat bayi!"
"Kimmmmmmm!?" teriak Divia.
"Suka sekali berteriak!"
"Jangan macam-macam ya!?" wajah Divia semakin pucat saat Kim mulai mendekatkan bibirnya dan siap untuk melancarkan aksinya.
"Tidak banyak, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bukan pisang makan pisang!" Kim lagi-lagi mendekatkan bibirnya tapi dengan cepat Divia berteriak.
"Aaaa! Baik-baik aku percaya, kamu dan Lee hanya sebatas hubungan kerja!"
Kim menjauhkan tubuhnya dari Divia dengan menyangganya menggunakan kedua tangannya,
"Seharusnya biarkan aku membuktikan!"
"Tidak perlu, aku udah percaya! Jadi sekarang bisa kan turun dari sini?"
"Baiklah, apa boleh buat!?" Kim dengan senyum jahilnya segera melepaskan Divia dan kembali merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
Dia benar-benar menakutkan .....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...