
Pagi ini suasana rumah yang awalanya begitu tenang itu sekarang sepertinya ada pencipta kegaduhan.
Nenek yang kekanak-kanakan itu seperti sengaja mencari masalah saja.
"Ma ada apa sih pagi-pagi sudah ribut kayak gini?"
Div yang selesai berolah raga segera menghampiri mamanya di dapur.
"Ini Div, sudah aku bilang tadi mama nggak suka nasi goreng di kasih bawang goreng! Tapi istri kamu masih ngeyel, lagian ngapain sih dia di dapur bukannya ini bukan pekerjaannya?"
Ersya hanya mengangkat kedua bahunya saat suaminya itu menatapnya.
"Mama yang buat masalah!" ucap Ersya tanpa mengeluarkan suara.
Hehhh, Div menghela nafas.
"Ma, Div sama Divia suka nasi goreng buatan Ersya! Kalau mama nggak suka mending minta koki buat masakin mama!"
"Kamu kok gitu sih Div!" protes nyonya Aruni.
"Tadi mama sendiri kan yang bilang, di dapur bukan pekerjaan Ersya! Jadi ya sudah lah ma nggak usah di bikin ribut, Ersya khusus buat masakin aku sana Divia!"
"Kamu nih ya ...!" ucap nyonya Aruni kesal lalu berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Divia yang melihat dari balik meja dapur mengeluarkan sedikit kepalanya lalu mengacungkan kedua jempol ya pada mom Echa.
Div yang baru menyadari jika putrinya itu berada di sana begitu terkejut, "Divia ...? Kamu di sini?"
"Iya dad, Oma benal-benal cepelti nenek cihil!" ucap Divia dengan polosnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"husstttt!" Ersya segera meletakkan jarinya di depan bibir, "Iyya nggak boleh gitu ah ngomongnya!"
Div yang sebenarnya ingin segera mandi pun memutuskan untuk duduk lebih dulu, duduk berseberangan dengan Divia sedangkan Ersya kembali melanjutkan memasaknya.
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah di dapur?" tanya Div pada putrinya itu.
"Iyya yapal dad, cemayam Iyya nggak makan banyak! Oma bawel!" ucap Divia sambil mengerucutkan bibirnya.
Div mengerutkan keningnya, seingatnya setelah di pijit oleh Ersya mamanya itu tertidur, "Memang Oma apain Iyya?"
"Mau Iyya bicikin nggak?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Daddy Div.
Div pun mengangguk cepat sambil melirik Ersya yang terlihat sibuk, ia segera mendekatkan daun telinganya agar putrinya itu dengan mudah membisikkan sesuatu.
"Oma mau pelgi ke Kamal Daddy dan mom cemalem, Iyya menahannya di Kamal Iyya campai teltidul!" bisik Divia.
Div pun tersenyum lalu mengusap kepala putrinya itu, "Anak pintar!"
Ersya yang menyadari telah tertinggal sesuatu segera menoleh ke arah ayah dan anak itu,
__ADS_1
"Kalian membicarakan apa tanpa mom?"
"Yahacia, iya kan dad?"
"Hmmm!" Div menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau tidak mau cerita jangan harap mom akan buatkan kalian masakan yang enak!" ancam Ersya lalu berlalu pergi meninggalkan ayah dan anak itu saat semua pekerjaannya selesai. Ia sedang pura-pura ngambek.
Div dan Divia saling berpandangan, "Mom marah sayang!" ucap Div.
Hehhh, Divia menepuk keningnya sambil berkacak pinggang. Menghela nafas,
"Mom jadi gampang ngambek!"
"Bisa gawat sayang, ya sudah gini aja! Iyya segera siap-siap buat sekolah dan Daddy juga akan membujuk mom Echa, bagaimana? Setuju enggak?"
"Cetuju dad!"
Div pun segera turun dari kursi ya lalu berputar mengelilingi meja dapur dan menurunkan putrinya menuntunnya mengajak nya menuju ke kamar.
"Daddy ke kamar dulu ya!"
"Hemmm, cemangat dad!"
"Semangat!" ucap Div sambil menunjukkan tangannya dengan posisi semangat.
Div pun segera menuju ke kamarnya, ia tahu istrinya itu pasti sedang menyiapkan baju kerjanya.
Kini Ersya sudah bersiap untuk mengantar Divia sekolah bersama dengan Div dalam satu mobil.
Sopir sudah menunggu mereka di depan.
"Tunggu aku!"
Teriak seseorang menghentikan langkah mereka, nyonya Aruni sudah rapi dengan dressnya.
"Mama mau ke mana?" tanya Div yang melihat mamanya sudah rapi. Padahal ini masih hari kedua mamanya menghirup udara bebas.
"Lihatlah, baju mama sudah usam semua, mama mau belanja!" ucapnya sambil menunjukkan bajunya yang sebenarnya masih terlihat bagus. Pasalnya tadi pagi-pagi sekali sekretaris Revan sudah datang untuk menyerahkan kartu atm khusus untuk nyonya Aruni karena semalam ia sudah meneror sekretaris Revan agar segera membuatkannya untuk dirinya.
"Mama bisa pergi sendiri kan?" tanya Div yang memang mengerti arti tatapan istrinya.
"Nggak enak kalau belanja nggak ada temannya lagian mama juga mau ke salon juga, masak mama nggak ada yang di ajak ngobrol!"
"Biasanya dulu juga sendiri, memang Div yang menemin?!"
"Istri kamu kan cuma ngantar Divia, setelah itu kan nggak ngapa-ngapain, kenapa nggak temenin mama belanja saja?"
Melihat suaminya tidak bisa mengatasi mamanya, akhirnya Ersya harus bertindak. Ia sedikit tahu ceritanya dari Ara semalam saat ia menelpon dan mengabarkan jika dirinya mau ke rumah besar untuk mengantarkan oleh-oleh milik ibu Ratih, tapi tanpa sengaja ia membahas mertuanya itu dan Ara sedikit memberi gambaran dan rencananya ia ingin tahu detailnya nanti saat sampai di rumah besar.
__ADS_1
"Maaf ma, tapi Ersya ada urusan lain setelah mengantar Divia!" ucap Ersya menanggapi, ia berencana untuk mengantar oleh-oleh ke rumah besar, mengantarkan oleh-oleh untuk nyonya Ratih.
"Memang kamu mau ke mana?"
Ersya menunjukkan sebuah paperbag yang ada di tangannya, "Ersya mau antar ini!"
"Memang di antar ke mana?" tanya nyonya Aruni penasaran.
"Nih ada tulisannya ma!" ucap Ersya sambil menunjuk sebuah sticky note yang menempel di permukaan paper bag yang ia bawa, nyonya Aruni terlihat mengeja tulisan itu,
"Ibu Ratih!" ejanya, "Jadi buat Ratih?"
Wajahnya seketika berubah masam.
"Iya ma! Ada oleh-oleh sedikit buat ibu Ratih, kan nggak enak kalau nggak bawa oleh-oleh, soalnya habis jalan-jalan ma!" ucap Ersya sengaja memanas-manasi ibu mertuanya itu.
Hehhhh, terlihat nyonya Aruni menghela nafas. Ingin sekali melarang menantunya itu untuk pergi ke sana tapi ia bingung harus mengatakan apa.
"Baiklah, mama pergi sendiri saja!" ucap nyonya Aruni lalu berlalu begitu saja dan masuk ke mobil lainnya yang juga sudah siap.
Divia menarik baju Ersya membuat Ersya memiringkan tubuhnya mendekatkan telinganya ke arah Divia,
"Ada apa sayang?"
"Mom hebat!" ucap Divia sambil tersenyum puas.
"TOS dulu dong sayang!" ucap Ersya sambil mengajak Divia TOS karena berhasil membuat ibu mertuanya itu tidak mengikuti mereka
"Ayo berangkat!" ajak Daddy Div sambil membukakan pintu untuk putrinya itu. Seperti biasa mereka akan berada di mobil yang sama dan sopir di mobil lainnya di belakang.
Ersya duduk di samping kemudi, di samping Daddy Div.
"Sudah siap sayang?" tanya Ersya sambil menoleh ke belakang memastikan jika putrinya sudah duduk dengan nyaman dan memakai sabuk pengamannya.
"Sudah mom!"
Div mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah. penjaga gerbang sudah siap membukakan pintu saat mobil mereka berjalan melewatinya.
...Belajar untuk menjaga hati akan membuatmu lebih memahami siapa yang pantas untuk dihargai dalam hati, ...
...bukan bagaimana kita memprioritaskan seseorang...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰