Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Keguguran


__ADS_3

Ersya pun segera merogoh tas tangan


kecil berwarna silver itu, ia mencari kontak nomor milik Felic dan melakukan


sambungan telpon.


Hingga beberapa kali Ersya


melakukannya tapi tidak juga tersambung. Dan akhirnya setelah telponnya yang ke


sekian kali akhirnya tersambung juga.


“Hallo …, lo di mana kenapa nggak


muncul-muncul dari dalam, padahal gue udah di luar sejak tadi?” ucap Ersya


panjang lebar sebelum mendengar ucapan dari seberang sana.


“Maaf nona Ersya, ini saya!” ucap di


seberang sana, Ersya kembali melihat layar ponselnya dan memastikan jika ia


menelpon nomor yang benar.


"Wil ...., kamu? Ini beneran


nomor Felic kan? Felic nya di mana?" tanya Ersya, ia mengenali suara siapa


yang menjawab telponnya.


"Iya benar nona ..., ini memang


nomor nyonya Felic!"


"Lalu orangnya di mana?"


"Nyonya Felic di rumah sakit,


nona!"


“Rumah sakit, kenapa?” tanya Ersya


begitu terkejut.


“Nyonya Felic terjebak perkelahian


hingga perutnya terbentur, jadi nyonya di bawa ke rumah sakit oleh tuan


dokter!”


“Astaga ...., kenapa nggak bilang?


Ya udah aku akan ke sana!” ucap Ersya.


Ersya pun segera menutup panggilan


telponnya. Wajahnya yang panik membuat Divta begitu penasaran.


“Gimana? Ada apa?"


“dia sekarang ada di rumah sakit!”


ucap Ersya. Ia terlihat bingung hendak memesan ojek online.


“Udah deh nggak usah pesen ojek, ayo


aku antar aja!” ucap Divta sambil menyambar ponsel Ersya dan memasukkannya ke


dalam saku jasnya.


“Nggak ah …! Kembalikan!” Ersya


merebut kembali ponselnya.


“Nggak usah gengsi, ayo ...!” Divta


pun segera menarik tangan Ersya dan membawanya ke dalam mobilnya ya g memang


sudah siap di depan.


"Masuklah ...!" ucap Divta


sambil membukakan pintu untuk Ersya. Tapi Ersya masih enggan untuk masuk.


"Udah ..., nggak usah ragu, aku


bukan orang jahat!"


Ersya sebenarnya memang masih ragu,


ia belum yakin kalai pria itu baik tapi ia juga butuh tumpangan sekarang. Ia

__ADS_1


harus segera menemui Felic dan melihat keadaannya.


Setelah memastikan Ersya masuk, Divta


pun segera masuk melalui pintu lainnya dan duduk di balik kemudi. Mobil Divta


bergerak meninggalkan tempat pesta. Untung saja jalannya tidak terlalu padat.


"Kita ke mana sekarang?"


tanya Divta setelah mengenakan sabuk pengamannya.


Ersya menoleh padanya, "Ke


rumah sakit!"


Divta menghela nafras kesal, "Iya


...., aku tahu kalau orang sakit di bawa ke rumah sakit, tapi rumah sakitnya


rumah sakit mana?"


"Kenapa jadi kamu sih yang


bawel!" gerutu Ersya.


"Terserah lah ...., mau mu


gimana! Atau jangan-jangan kamu nggak tanya rumah sakitnya mana, iya kan?"


"FrAd Hospital!"


Divta tampak tidak yakin dengan


ucapan Ersya, "Yakin banget kalau di sana!"


"Gimana nggak yakin, wong


suaminya kerjanya di sana!" ucap Ersya sewot sambil mengalihkan tatapannya


ke tempat lain. Akhirnya Divta pun memutuskan untuk menuju ke rumah sakit yang


di tunjuk oleh Ersya.


"Ini gara-gara aku, coba aja


kalau aku nggak ngajak Fe ke acara itu, pasti semua ini nggak akan terjadi


....!" gumam Ersya menyesal. Dia yang sudah membuat sahabatnya itu datang


"Sudah jangan nyalahin diri


sendiri, ini musibah!"


"Tapi aku yang ngotot pengen


dia ikut datang ....!"


“Ribet ya ngomong sama cewek!”


“ya udah nggak usah ngomong kalau


gitu!”


Akhirnya mereka sampai juga di depan


gedung rumah sakit itu. Ersya segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Divta.


Mereka menuju ke IGD. Ia bisa melihat Wilson di depan ruang IGD. Dengan cepat


menghampirinya.


"Wil ...., gimana Felic?"


tanya Ersya.


"Nyonya masih di tangani di


dalam, tuan juga di dalam!"


Divta yang mengenali Wilson segera


terpaku.


"Wilson?"


"Tuan Div!"


"Jadi ..., Fe itu ...?"


"Istri tuan dokter, tuan!"

__ADS_1


Mereka pun menunggu hingga


penanganan Felic selesai. Ersya memilih untuk tetap menunggu hingga Felic


keluar dari ruangan IGD tapi Divta memilih untuk pulang lebih dulu karena


mendapat telpon dari orang rumah jika Iyya tetap tidak mau tidur dan


menunggunya hingga pulang.


“Maaf ya saya nggak bisa menenin


sapek selsesai, saya harus segera pulang!” ucap Dv pada Wilson.


“Iya tuan, nanti saya sampaikan pada


tuan!”


Ersya masih tampak modar mandir di


depan ruangan itu, Divta sengaja tidak berpamitan pada wanita itu.


Divta pun segera pulang ek rumahnya,


dan ternyata sesampai di rumah Iyya baru saja tertidur. Divta meminta


pengasuhnya agar tidak membangunkannya lagi. Divta pun memilih pergi ke kamarnya


sendiri.


Tubuhnya sudah sangat lelah, ia pun


memutuskan untuk segera tidur tanpa mengganti bajunya, bahkan ia tidak


melepaskan jasnya.


***


Setelah penangannannya selesai,


Felic pun di pindahkan ke ruang perawatan masih dalam keadaan tidak sadarkan


diri. Ersya begitu syok saat emngetahui jika sahabatnya itu mengalami


keguguran.


Ersya pun memilih menunggui Felic di


ruang perawatan karena ternyata dokter Frans juga tidak kalah syok dengan apa


yang di alami oleh Felic.


Setelah sekian lama tak sadarkan


diri, akhirnya wanita itu tersadar. Felic mulai membuka matanya, ia melihat


sekelilingnya begitu sepi, ia hanya melihat Ersya yang sedang tertidur di


sampingnya.


Ia merasakan perutnya masih sedikit


nyeri, tangannya terhubung dengan slang infus, tubuhnya terasa begitu lemah


bahkan ia kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.


Ia menggerakkan tangannya yang tanpa


slang infus, ia mengusap perutnya, tapi ada yang aneh di sana, ia merasakan hal


yang berbeda di perutnya, perutnya datar kembali.


"Perutku ....!" ucap Felic


lirih, dengan mengumpulkan kekuatan ia segera bangun dari tidurnya dan kembali


meraba perutnya.


"Anakku ....!"


Ucapan Felic berhasil membuat Ersya


terbangun dari tidurnya. Ia begitu terkejut saat melihat Felic sudah bangun.


"Fe .....!"


Ersya segera memegangi Felic agar


tidak bangun.


Felic begitu syok saat mengetahui

__ADS_1


jika ia sudah keguguran, bahkan ia beberapa kali histeris dan dokyter harus


memberikan suntikan penenang.


__ADS_2