
Ersya pun segera merogoh tas tangan
kecil berwarna silver itu, ia mencari kontak nomor milik Felic dan melakukan
sambungan telpon.
Hingga beberapa kali Ersya
melakukannya tapi tidak juga tersambung. Dan akhirnya setelah telponnya yang ke
sekian kali akhirnya tersambung juga.
“Hallo …, lo di mana kenapa nggak
muncul-muncul dari dalam, padahal gue udah di luar sejak tadi?” ucap Ersya
panjang lebar sebelum mendengar ucapan dari seberang sana.
“Maaf nona Ersya, ini saya!” ucap di
seberang sana, Ersya kembali melihat layar ponselnya dan memastikan jika ia
menelpon nomor yang benar.
"Wil ...., kamu? Ini beneran
nomor Felic kan? Felic nya di mana?" tanya Ersya, ia mengenali suara siapa
yang menjawab telponnya.
"Iya benar nona ..., ini memang
nomor nyonya Felic!"
"Lalu orangnya di mana?"
"Nyonya Felic di rumah sakit,
nona!"
“Rumah sakit, kenapa?” tanya Ersya
begitu terkejut.
“Nyonya Felic terjebak perkelahian
hingga perutnya terbentur, jadi nyonya di bawa ke rumah sakit oleh tuan
dokter!”
“Astaga ...., kenapa nggak bilang?
Ya udah aku akan ke sana!” ucap Ersya.
Ersya pun segera menutup panggilan
telponnya. Wajahnya yang panik membuat Divta begitu penasaran.
“Gimana? Ada apa?"
“dia sekarang ada di rumah sakit!”
ucap Ersya. Ia terlihat bingung hendak memesan ojek online.
“Udah deh nggak usah pesen ojek, ayo
aku antar aja!” ucap Divta sambil menyambar ponsel Ersya dan memasukkannya ke
dalam saku jasnya.
“Nggak ah …! Kembalikan!” Ersya
merebut kembali ponselnya.
“Nggak usah gengsi, ayo ...!” Divta
pun segera menarik tangan Ersya dan membawanya ke dalam mobilnya ya g memang
sudah siap di depan.
"Masuklah ...!" ucap Divta
sambil membukakan pintu untuk Ersya. Tapi Ersya masih enggan untuk masuk.
"Udah ..., nggak usah ragu, aku
bukan orang jahat!"
Ersya sebenarnya memang masih ragu,
ia belum yakin kalai pria itu baik tapi ia juga butuh tumpangan sekarang. Ia
__ADS_1
harus segera menemui Felic dan melihat keadaannya.
Setelah memastikan Ersya masuk, Divta
pun segera masuk melalui pintu lainnya dan duduk di balik kemudi. Mobil Divta
bergerak meninggalkan tempat pesta. Untung saja jalannya tidak terlalu padat.
"Kita ke mana sekarang?"
tanya Divta setelah mengenakan sabuk pengamannya.
Ersya menoleh padanya, "Ke
rumah sakit!"
Divta menghela nafras kesal, "Iya
...., aku tahu kalau orang sakit di bawa ke rumah sakit, tapi rumah sakitnya
rumah sakit mana?"
"Kenapa jadi kamu sih yang
bawel!" gerutu Ersya.
"Terserah lah ...., mau mu
gimana! Atau jangan-jangan kamu nggak tanya rumah sakitnya mana, iya kan?"
"FrAd Hospital!"
Divta tampak tidak yakin dengan
ucapan Ersya, "Yakin banget kalau di sana!"
"Gimana nggak yakin, wong
suaminya kerjanya di sana!" ucap Ersya sewot sambil mengalihkan tatapannya
ke tempat lain. Akhirnya Divta pun memutuskan untuk menuju ke rumah sakit yang
di tunjuk oleh Ersya.
"Ini gara-gara aku, coba aja
kalau aku nggak ngajak Fe ke acara itu, pasti semua ini nggak akan terjadi
....!" gumam Ersya menyesal. Dia yang sudah membuat sahabatnya itu datang
"Sudah jangan nyalahin diri
sendiri, ini musibah!"
"Tapi aku yang ngotot pengen
dia ikut datang ....!"
“Ribet ya ngomong sama cewek!”
“ya udah nggak usah ngomong kalau
gitu!”
Akhirnya mereka sampai juga di depan
gedung rumah sakit itu. Ersya segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Divta.
Mereka menuju ke IGD. Ia bisa melihat Wilson di depan ruang IGD. Dengan cepat
menghampirinya.
"Wil ...., gimana Felic?"
tanya Ersya.
"Nyonya masih di tangani di
dalam, tuan juga di dalam!"
Divta yang mengenali Wilson segera
terpaku.
"Wilson?"
"Tuan Div!"
"Jadi ..., Fe itu ...?"
"Istri tuan dokter, tuan!"
__ADS_1
Mereka pun menunggu hingga
penanganan Felic selesai. Ersya memilih untuk tetap menunggu hingga Felic
keluar dari ruangan IGD tapi Divta memilih untuk pulang lebih dulu karena
mendapat telpon dari orang rumah jika Iyya tetap tidak mau tidur dan
menunggunya hingga pulang.
“Maaf ya saya nggak bisa menenin
sapek selsesai, saya harus segera pulang!” ucap Dv pada Wilson.
“Iya tuan, nanti saya sampaikan pada
tuan!”
Ersya masih tampak modar mandir di
depan ruangan itu, Divta sengaja tidak berpamitan pada wanita itu.
Divta pun segera pulang ek rumahnya,
dan ternyata sesampai di rumah Iyya baru saja tertidur. Divta meminta
pengasuhnya agar tidak membangunkannya lagi. Divta pun memilih pergi ke kamarnya
sendiri.
Tubuhnya sudah sangat lelah, ia pun
memutuskan untuk segera tidur tanpa mengganti bajunya, bahkan ia tidak
melepaskan jasnya.
***
Setelah penangannannya selesai,
Felic pun di pindahkan ke ruang perawatan masih dalam keadaan tidak sadarkan
diri. Ersya begitu syok saat emngetahui jika sahabatnya itu mengalami
keguguran.
Ersya pun memilih menunggui Felic di
ruang perawatan karena ternyata dokter Frans juga tidak kalah syok dengan apa
yang di alami oleh Felic.
Setelah sekian lama tak sadarkan
diri, akhirnya wanita itu tersadar. Felic mulai membuka matanya, ia melihat
sekelilingnya begitu sepi, ia hanya melihat Ersya yang sedang tertidur di
sampingnya.
Ia merasakan perutnya masih sedikit
nyeri, tangannya terhubung dengan slang infus, tubuhnya terasa begitu lemah
bahkan ia kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.
Ia menggerakkan tangannya yang tanpa
slang infus, ia mengusap perutnya, tapi ada yang aneh di sana, ia merasakan hal
yang berbeda di perutnya, perutnya datar kembali.
"Perutku ....!" ucap Felic
lirih, dengan mengumpulkan kekuatan ia segera bangun dari tidurnya dan kembali
meraba perutnya.
"Anakku ....!"
Ucapan Felic berhasil membuat Ersya
terbangun dari tidurnya. Ia begitu terkejut saat melihat Felic sudah bangun.
"Fe .....!"
Ersya segera memegangi Felic agar
tidak bangun.
Felic begitu syok saat mengetahui
__ADS_1
jika ia sudah keguguran, bahkan ia beberapa kali histeris dan dokyter harus
memberikan suntikan penenang.