Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (70. Sekretaris pribadi)


__ADS_3

Pria dingin itu akhirnya sampai juga di ruangan seorang psikiater. Tampak pria dengan jas putihnya itu memandangi wajah Lee yang terlihat bingung.


"Masalahnya apa? Sepertinya Mr Lee baik-baik saja?"


"Saya merasa jantung saya suka berdebar dan tiba-tiba keringat dingin."


"Saat apa?"


"Saat dia ada di dekat saya!"


"Dia?"


"Gadis penggangu itu."


Tiba-tiba pria yang ada di depan Lee itu malah tersenyum. "Kenapa anda tersenyum?"


"Sepertinya Mr Lee salah datang ke sini."


"Maksudnya?"


"Seharusnya anda datang kepada gadis itu dan menyatakan perasaan anda padanya."


"Perasaan?"


"Kalau seperti itu gejalanya, sepertinya anda sedang jatuh cinta sama gadis itu."


Yang benar saja, sepertinya aku salah datang ke sini ...., Lee malah menyalahkan sang psikiater. "Beri saja saya obatnya, jangan membuat saya semakin pusing."


"Tapi sungguh mr, obat yang paling manjur itu ya gadis itu. Tapi jika Mr Lee memaksa, saya akan memberi beberapa vitamin saja."


"Terserah kamu!"


Sepeninggal dari tempat itu, Lee jadi kepikiran dengan yang dikatakan oleh psikiater yang menurutnya aneh itu.


"Mana mungkin aku jatuh cinta sama dia." gumamnya. Kali ini ia memilih jalan kaki, itu hal yang selalu ia lakukan saat perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


Hingga tiba-tiba hujan turun, beruntung tidak jauh dari tempatnya ada halte bus. Lee pun dengan cepat berlari ke halte untuk berteduh.


Hujan turun cukup lebat, hingga membuat jasnya sedikit basah, ia mengibas-kibaskan air yang masih menempel di jasnya dengan kedua tangannya, hingga tiba-tiba seseorang juga berlari ke arah halte dan ikut berteduh di sana. Lee terpaku melihatnya, gadis yang belakangan ini menggangu pikirannya, gadis itu tengah melakukan hal yang sama dengannya, berusaha menyingkirkan air yang menempel di baju dan rambutnya yang sedikit bergelombang.


Mata Lee terpesona melihatnya, hingga ia matanya tidak berkedip. Gadis itu menyadari pria yang tengah menatapnya itu,


"Mr Lee, anda di sini juga?"


"Hmmm!" dengan cepat Lee mengendalikan perasaannya, "Iya tadi kehujanan."

__ADS_1


Lee memilih mundur dan duduk di kursi panjang berbahan besi itu, ia menatap ke arah derasnya hujan. Tapi Yura malah dengan asiknya memainkan tangannya di balik hujan. Senyum Yura itu lagi-lagi berhasil menarik perhatian Lee. Rasanya begitu senang bisa melihat senyum Yura yang seperti itu.


"Mr Lee, sini. Asik main air hujan!" Yura tiba-tiba melambaikan tangannya membuat Lee tidak mampu menolaknya, ia seperti terhipnotis di buatnya. Ia ikut berdiri kembali dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Yura.


Meskipun kini tangannya tengah memainkan air hujan tapi tatapan matanya tidak beralih pada senyum Yura.


Kenapa dia begitu cantik?


Tanpa sadar Lee mengagumi wanita itu. Hingga cukup lama mereka bermain air, setelah puas mereka pun kembali duduk.


"Mr Lee, kemana mobilnya?" Yura heran karena pria itu bisa terjebak hujan bersamanya sedangkan dia punya mobil yang tidak perlu takut untuk kehujanan.


"Aku sengaja meninggalkannya. Aku sedang ingin jalan kaki."


"Ohhh!" Yura tidak punya topik pembicaraan lagi karena sedari tadi hanya dia yang bertanya, pria dingin itu sama sekali tidak punya inisiatif untuk bertanya padanya.


Hingga udara dingin tiba-tiba menyusup ke bajunya yang setengah basah membuat Yura merasa kedinginan. Ia mengusap lengan atasnya agar sedikit menyalurkan udara panas ke tubuhnya.


Srekkkk


Tapi tiba-tiba sebuah jas menutup tubuhnya, saat ia menoleh ternyata Lee yang melakukannya. Kini mata mereka saling bertemu dengan tangan Lee yang masih memegangi jas yang menutupi tubuh Yura.


"Mr Lee!?"


"Kamu kedinginan, pakai saja." Lee segera menyingkirkan tangannya dan mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Berbeda dengan Yura, ia masih terpaku menatap pria di sampingnya. Pria dingin itu, ia tidak menyangka akan melakukan itu padanya.


Yura malah terlihat bingung dengan perubahan sikap yang di lakukan oleh Lee. Pria yang biasanya selalu saja membuatnya kesal tiba-tiba membuatnya merasa istimewa.


...***...


Pagi ini saat Divia datang ke ruangannya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan meja kerjanya yang tidak ada.


"Kenapa ini? Kenapa mejaku tidak ada?"


Yura yang di tanya hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena kemarin saat ia meninggalkan ruangan itu meja Divia masih ada, "Kemarin masih ada! Apa jangan-jangan ini karena _!"


Belum sampai Yura menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba senior Yoo datang, "Ada apa?"


"Selamat pagi senior Yoo!"


"Selamat pagi!"


"Apa senior Yoo memindahkan meja Vi?" tuduhan Yura langsung tertuju pada senior Yoo karena memang dari beberapa hari ini hanya mereka bertiga yang ada di ruangan itu. Dua rekan lainnya sedang ada pekerjaan di luar kantor.


"Hahh!?" tapi senior Yoo malah terlihat terkejut. Hingga ia memastikan sendiri dan benar meja kerja Divia sudah tidak ada di tempatnya, "Siapa yang memindahkannya?"

__ADS_1


"Jadi senior Yoo tidak memindahkannya?" tanya Divia. Ia pun mulai memikirkan tentang Kim, hingga tiba-tiba wanita yang menerima mereka kerja di sana memasuki ruangan mereka.


"Selamat pagi semuanya!" sapanya, wanita yang selalu berpenampilan rapi dengan tubuh sedikit berisi itu untuk kesekian kalinya masuk ke ruangan mereka.


"Selamat pagi Miss!" Miss adalah panggilan akrab untuk wanita itu.


"Maaf karena saya tidak memberitahu dari awal, karena Presdir Kim membutuhkan sekretaris pribadi, maka untuk sementara saya memilih nona Divia untuk jadi sekretaris pribadi Presdir Kim."


"Tapi Miss, kan sudah ada Mr Lee!?" protes Divia. Ia tahu ini hanya akal-akalan dari Kim saja agar mereka terus bersama.


"Mr Lee harus mengurus segala urusan Presdir Kim di kantor pusat selama Presdir Kim di sini!"


"Lagian ngapain juga dia di sini, bikin ribet aja." gumam Divia lirih menggunakan bahasa Indonesia hingga tidak ada yang mengerti ucapannya.


"Mari nona, saya antar ke ruangan Presdir Kim."


"Tidak perlu Miss, saya bisa ke sana sendiri."


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu."


Sepeninggal wanita itu, kini Yura dan Divia hanya bisa saling pandang. Sedangkan senior Yoo tidak mengatakan apapun, ia memilih duduk di tempatnya dan mulai melakukan pekerjaannya.


Sebenarnya senior Yoo sudah merasakan patah hati bahkan sebelum bunganya benar-benar mekar. Jika harus bersaing dengan Presdir Kim, jelas ia sudah kalah. Apalagi kemarin ia melihat Divia pulang bersama dengan Presdir Kim, awalnya ia pikir mungkin karena Presdir Kim melakukan itu karena berterimakasih dengan Divia. Tapi hari ini membuatnya sadar jika mungkin Presdir juga menaruh hati terhadap Divia.


Jika saingannya Presdir Kim, bahkan sebelum memulai perang pun semua orang juga akan tahu siapa pemenangnya.


"Kasihan senior Yoo!" gumam Yura pelan.


"Kenapa?" tanya Divia yang merasa tidak ada masalah dengan senior Yoo.


"Jadi kamu tidak sadar kalau senior Yoo suka sama kamu?"


"Hahh, masak sih?"


"Masih nggak percaya aja, sudah sama. Nanti bayi besarmu keburu ngamuk-ngamuk!"


"Hehhhhh!" Divia hanya bisa menghela nafas, pasti Kim akan menggodanya terus sepanjang hari jika mereka berada dalam satu ruangan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2