Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
PoV Div 3


__ADS_3

Waktu makan malam seharusnya menjadi waktu yang paling menyenangkan untukku. Tapi beberapa Minggu terakhir rasanya seperti hambar, putri kecilku tidak berceloteh seperti dulu. Istriku juga tampak tidak begitu nyaman karena mama selalu membanggakan Ellen di depannya.


Selesai makan malam, aku pun meminta Ersya untuk ke kamar dulu dan aku akan menemani Divia sampah tertidur, awalnya aku kira dia akan terus tidur bersama kami tapi ternyata itu hanya berlangsung selama satu Minggu saja, tiba-tiba malam itu Divia memutuskan untuk kembali tidur di kamarnya sendiri setelah pergi mengambil air minum padahal dia yang paling ngotot untuk tidur bersama.


"Sayang, mau Daddy temenin sampai tidur atau sebentar saja?" tanyaku pad putri kecilku yang sudah bersiap untuk tidur, rasanya tidak rela jika membiarkan putriku lebih dekat dengan Randi, pria yang di panggil ayah oleh putriku.


"Daddy tidur saja, Divia tidak pa pa!" entah sejak kapan bahkan aku tidak menyadarinya, putriku sudah bisa menyebut namanya sendiri dengan benar. Putriku sudah mulai tumbuh sekarang.


"Daddy temani ya!"


"Jangan, temani mom's saja!"


"Baiklah kalau begitu cepatlah tidur dan Daddy bisa lebih cepat menemani mom's!"


Putri kecilku memang penurut, dia segera memejamkan matanya. Walaupun aku tahu jika dia belum tidur aku mengecup keningnya, membetulkan letak selimutnya dan mematikan lampu kamar menggantinya dengan lampu tidur.


Aku pun beranjak dari tempat tidurnya, tidak lupa aku merogoh sesuatu dari saku celanaku. Sebuah kamera pengintai, aku sengaja tidak memasang cctv di kamar Divia. Aku meletakkan kamera pengintai kecil hanya seukuran ujung jari diantara boneka Divia yang tertata rapi di lemari kaca. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengambilnya dan memastikan sesuatu.


Ersya sudah menungguku di atas tempat tidur, aku tahu dia saat ini sedang cemas. Aku pun perlahan naik ke atas tempat tidur dan menyusulnya, ku usap perutnya yang sudah lebih berisi, seharusnya Minggu ini dia adakan acara tiga bulanan tapi rasanya masih enggan. Rasa was-was pasti ada dan ini sangat menggangu.


"Mas!" panggilnya saat aku menempelkan kepalaku di perutnya.


"Hmmm!" jawabku tanpa berniat untuk mengangkat kepalaku.


"Divia_!" aku tahu dia seorang ibu, pasti merasakan sesuatu yang aneh pada putrinya. Aku pun sama, tapi aku tidak mau membuat Ersya semakin cemas dengan mengatakan bahwa memang ada yang tidak beres dengan Divia.


"Sayang, jangan memikirkan yang tidak-tidak, aku tadi baru saja bertanya dan dia bilang memang akhir-akhir ini ada begitu banyak tugas dan dia kesulitan untuk mengerjakannya, gurunya juga mengatakan seperti itu!"


"Tapi tadi Rangga bilang_!"


"Rangga kan hanya mendengar dari gurunya, sudah jangan pikirkan macam-macam, pikirkan anak kita! Segeralah tidur!" aku beranjak dari posisiku dan membantu Ersya untuk menatap tidurnya. Walaupun belum besar tapi aku tahu dia pasti juga sudah merasakan sedikit kesulitan dalam beberapa hal. Termasuk sulit tidur dengan nyenyak.


Lenganku yang sebenarnya tidak terlalu kekar karena akhir-akhir ini aku jarang olah raga, hanya sama istriku aku berolah raga. Lengan ini selalu siap aku jadikan bantal untuknya, pelukan hangat juga akan membuatnya semakin nyaman saat tidur.

__ADS_1


Kami terdiam cukup lama, aku kira dia bahkan sudah tertidur, tapi ternyata dia masih memikirkan sesuatu,


"Mas, tadi pergi ke mana?"


Karena kata dokter, ibu hamil memang emosinya kadang naik turun. Mood tiba-tiba berantakan tanpa sebab tapi dengan cepat bisa berubah. Sepertinya karena melihat sikap Divia, moodnya sedikit terganggu hari ini jadi sudah pasti akan sensitif. Yang bisa ku lakukan hanya berhati-hati saat bicara.


"Hanya menemui teman lama!" jawabku santai.


"Cowok apa cewek?" pertanyaan ini sudah bisa aku duga, dia pasti akan memberondongiku dengan banyak pertanyaan.


"Cowok?"


"Yakin cowok?"


"Iya sayang, tidak sengaja tadi pagi bertemu di jalan trus dia minta waktu untuk membicarakan usahanya yang mau bangkrut, minta saran dari aku! Kan kasihan kalau nggak di bantu!" sedikit berbohong tidak pa pa kan, lagi pula aku juga tidak melakukan kesalahan.


"Kasihan sekali temannya, kalau sudah punya istri pasti hidupnya akan sedikit lebih susah, bantulah sebisa mas Div ya! Nggak enak hidup susah mas, kita di beri kelebihan harta memang seharusnya membantu yang membutuhkan!"


"Iya pasti sayang, dia tadi juga ngotot traktir aku minuman dingin, padahal aku sudah memaksanya untuk tidak usah memesan. Tapi dia begitu berterimakasih padaku, lain kali kalau dia sudah berhasil aku sudah berjanji untuk gantian mentraktirnya!"


"Hanya minuman?"


"Iya!"


"Dia pasti sudah sangat menderita mas!"


"Pasti!" sambil menanggapi ucapan Ersya, otak ini tak bisa beralih dari memikirkan ekspresi datar dari Rendi, sudah pasti dia menderita dengan pikirannya sendiri, kasihan sekali Rendi.


Tidak ada tanggapan dari Ersya lagi, saat aku intip ternyata matanya sudah terpejam. Nafasnya juga teratur, dia sudah benar-benar tertidur.


Ku akhiri malam ini dengan mengecup keningnya dan ikut terlelap dalam dekapannya. Aku harus mempersiapkan sesuatu yang luar biasa untuk esok hari, tentunya dengan bantuan yang tanpa aku minta.


Ada rasa syukur karena di sekelilingku banyak sekali orang yang menyayangi keluarga kecilku, walaupun siapapun juga tahu bagaimana latar belakang hidupku.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Pagi ini aku sudah berada di kamar Divia, mengambil benda kecil yang semalam sempat aku letakkan di sana. Semenjak Ersya menyukai aroma sampoku seperti buah-buahan aku jadi lebih suka memakai sampai Divia. Sekalian pinjam samponya sekalian aku memastikan Divia baik-baik saja.


"Dad, ngapain di sini?" putriku itu terlihat was-was. Bukan seperti putriku biasanya, seperti berada dalam tekanan seseorang.


"Daddy mau pinjam sampo Divia, boleh kan? Mom's suka kalau Daddy pakek sampo Divia!"


Gadis kecilku itu terlihat memakai handuk dan sebuah handuk kecil yang mengalung di bahunya, dengan cepat ia menutupnya, seperti bernafas lega, "Ambilah dad, dan segera keluar dari kamarku, aku harus ganti baju!"


"Kalau mau ganti baju, ya ganti baju saja, Daddy bisa membantumu!"


"Divia sudah besar dad, jadi Divia mau ganti baju sendiri!"


"Encus kemana?" aku tidak melihat baby sitter anakku.


"Aku nggak mau ada encus lagi, aku sudah bukan baby, Daddy!"


Ahhh, apa iya putriku secepat itu tumbuh besar. Dia bahkan tidak mau aku bantu memakai seragamnya.


"Baiklah, Daddy ambil samponya dulu ya!"


Aku berlalu menuju ke kamar mandi putriku, dan bergegas keluar kembali agar putriku tidak merasa aku menggangu privasinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2