
Ishhhhhh dia terlalu tanpa untuk menjadi seorang penjahat ....., batin Ersya sambil berjalan mengikuti langkah pria di depannya.
Benar-benar mirip seperti mafia ...., kemana-mana selalu di ikuti pria-pria besar ...., Ersya melirik pria-pria berjas hitam yang berada di belakangnya.
"Silahkan tuan!" ada lagi yang tidak kalah tampannya, sekertaris Revan. Dia sudah menekan tombol lift yang ada di depannya.
Ahhhh kenapa tiba-tiba aku di kelilingi oleh pria-pria tampan seperti ini ....., Ersya masih terdiam mengamati pria-pria tampan itu.
"Masih mau berdiri di situ atau ikut denganku?" pertanyaan itu berhasil membuatnya sadar, dia pun segera ikut masuk ke dalam lift dan sekretaris Revan kembali menakan tombol turun.
Ersya tidak kalah tinggi, dia cukup tinggi menjadi seorang wanita. Bahkan kalau jadi model pun dia pasti bisa, selain cantik tubuhnya juga seksi, apalagi dengan baju resminya seperti itu di tambah sepatu high heels nya.
Pintu lift kembali terbuka, Sekretaris Revan mundur dua langkah dan membiarkan Div untuk keluar lebih dulu begitu pun dengan Ersya, mereka berjalan menyusuri lobby kantor, dan langkahnya kembali terhenti di depan sebuah mobil.
Wahhhh Rangga juga ikutan keren di sini ....., apa pekerjaan Rangga ini ...., Ersya melihat Rangga yang ada di samping mobil itu menunggu mereka datang.
"Silahkan tuan!" ucap Rangga.
"Masuklah!" Div malah meminta Ersya untuk masuk lebih dulu. Ersya tidak membutuhkan waktu lama langsung masuk.
Setelah Ersya masuk kini gantian Div yang masuk.
Ternyata sekarang yang ikut bersama mereka bukan Sekretaris Revan lagi tapi Rangga, pria itu duduk di depan bersama sopir.
"Kita ke rumah!"
"Baik tuan!"
Ersya menatap Rangga, dan sepertinya Rangga juga sedang memperhatikannya dari kaca kecil yang menggantung di depan.
Hehhh setidaknya ada Rangga yang bisa aku tanyain macam-macam ....
"Selamat ya kamu sudah di terima!" ucap Rangga yang hanya menggerakkan bibirnya tanpa berani mengeluarkan suara.
"Iya ..., dia lagi ngapain sih?" tanya Ersya yang juga hanya menggerakkan bibirnya, untuk Rangga faham dengan gerak bibir Ersya.
"Jangan ganggu kalau bos sedang seperti itu!"
"Kenapa?"
Pria di sampingnya duduk dengan santainya, ia sama sekali tidak merasa jika Ersya ada di sampingnya, pria itu malah sibuk dengan layar datar yang ada di pangkuannya.
"Ga!" ucapnya sambil mendongakkan kepalanya menatap Rangga yang ada di depannya membuat Rangga sedikit terkejut karena dia sedang memberi isyarat pada Ersya agar tidak menggangu pria yang duduk di sampingnya jika sedang serius seperti itu.
"Iya pak!"
"Saya harus ke rumah besar, bisakah nanti kamu yang menggantikan meeting bersama klien dari Surabaya?"
"Bisa pak!"
"Baiklah, setelah ini segera lah berangkat dan saya akan mengirimkan materinya!"
"Baik pak!"
__ADS_1
Ohhh jadi dia sedang bekerja, aku kira dia sedang bermain Twitter atau Instagram ...., batin Ersya sambil menatap pria di samping yang kembali fokus dengan layar datar itu. Mana sempat pria sesibuk dia mainan sosial media, ponsel saja yang bawa asistennya.
Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah besar, Rangga turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Divta dan Ersya.
"Sekarang kali pergilah, Sekretaris Revan sudah memboking tempatnya kamu tinggal datang dan tunggu mereka!"
"Baik pak, kalau begitu saya berangkat sekarang!"
Divta menganggukkan kepalanya. Rangga menatap Ersya dan wanita itu melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya!" ucap Ersya tapi hanya dengan menggerakkan bibirnya saja dan Rangga pun tersenyum lalu masuk kembali ke dalam mobil.
Tangan Ersya masih terus melambaikan tangannya hingga mobil itu menghilang kembali dari balik gerbang membuat Div kesal.
"Perhatian sekali kamu!"
"Bagaimana nggak perhatian, dia temanku!"
"Lupakan!"
Divta pun tidak mau ambil pusing, ia segera berjalan masuk dan di ikuti oleh Ersya, kedatangan mereka langsung di sambut oleh para pelayan.
"Selamat datang tuan, nona!"
"Di mana Iyya?" tanya Div saat tidak menemukan Iyya.
"Nona Iyya sedang tidur siang tuan!"
"Baguslah! Siapkan kamar untuk dia di dekat Iyya, karena mulai sekarang dia menjadi baby sitter baru untuk Iyya!"
"Baik tuan!"
Kalau aku jadi baby sitter, lalu baby sitter yang lama kemana? Atau jangan-jangan dia memecatnya gara-gara gue ....
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak!"
"Hah?"
Dia tahu yang sedang gue pikirkan ya ....
"Hah!" Div menirukan gaya terkejut Ersya.
"Baby sitter yang lama kemana dong kalau ada saya?" tanya Ersya kemudian, ia tidak mau mati penasaran gara-gara memikirkan di mana Div meletakkan baby sitter yang lama.
Mendengar ucapan Ersya, Div pun menghentikan langkahnya di ujung tangga dan menoleh pada wanita di belakangnya.
"Kenapa harus memikirkan orang lain? Pikirkan dirimu sendiri, mengerti!"
Memang kalau dia egois, semua orang yang ada di sekitarnya juga harus egois ...., ada-ada aja dia ....
"Hehhh lagi-lagi kamu memikirkan hal jahat tentang saya ..., memang sejahat itu ya saya di mata kamu, menyedihkan sekali!" gerutu Divta sambil kembali melangkahkan kakinya.
"Lo punya indra ke enam ya?" Ersya benar di buat kesal oleh pria yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Ersya begitu kesusahan membawa kopernya menaiki tangga.
Kali ini Div kembali berhenti di ujung tangga paling atas membuat Ersya hampir saja menabraknya untung dia segera berpegangan dengan pegangan tangga.
"Lo kalau mau berhenti kira-kira dong!"
"Satu lagi!" ucap Div sambil menunjuk ke arah kening Ersya.
"Apa?"
"Saya adalah atasan kamu, saya adalah bos kamu, jadi jangan menggunakan panggilan lo gue di sini, saya tidak suka!"
Banyak banget aturannya ....
"Dan lagi, saya tidak punya indra ke enam, tapi saya harus mempelajari pikiran orang lain dari raut wajahnya, karena saya seorang CEO, mengerti!"
Sombong banget jadi orang ....
Div kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar yang ada di sebelah kiri kamar Iyya. Di lantai dua hanya ada tiga kamar, kamar Div dan kamar Iyya di pisahkan oleh sebuah kamar yang lebih kecil karena kamar itu memang di peruntukkan untuk baby sitter.
"Ini kamar kamu! Dan ini kuncinya!"
Ersya dengan cepat menangkap kunci yang sudah mengambang di udara itu.
"Tapi ingat, walaupun ada kunci jangan pernah sekali-kali mengunci kamar ini!"
"Trus buat apa dong kunci!"
"Buat buka sekarang, ayo cepet buka!"
Issstttttt ...., padahal tadi tinggal buka aja ngapain juga kunci pakek di serahin sama gue ...., batin Ersya sambil memutar gagang kunci.
Klek klek
Akhirnya pintu terbuka setelah memutar gagang kunci dua kali.
"Mana kuncinya?"
"Buat apa?"
"Mau saya buang!"
Ersya pun menyerahkan kuncinya fan dengan cepat Div mengambilnya lalu melempar nya begitu saja ke lantai bawah hingga menimbulkan suara ....
klunting .....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰