Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Persiapan pernikahan 1


__ADS_3

Suasana sarapan


terlihat begitu tenang, sepertinya divta masih sangat marah dengan Ersya karena


wanita itu terus menjadikan kakinya sebagai sasaran empuk.


“daddy berangkat


sayang!” seperti biasa Divta akan mencium kening putrinya dulu sebelum berangkat.


“Daddy nggak pamit cama


Mom Eca?”


“Nggak usah seperti mom


kamu lagi sakit gigi!”


“Mom nggak cakit gigi


dad, mom lajin cikat gigi, ya kan mom!”


“Iya sayang, nggak pa


pa sayang mungkin daddy Iyya yang sakit gigi makanya malas bicara!”


“Ohhh begitu, mungkin


daddy ****** cikat gigi, mom!”


“Issstttt ….!” Div


hanya berdecak, ia pun segera masuk ke dalam mobil meninggalkan Ersya dan


Divia.


***


“Tadi nyonya besar


menghubungi saya, beliau ingin bertemu dengan anda pagi ini!” ucap sekretaris


Revan saat Divta sudah sampai di kantor.


“Maksudnya di rumah


atau di sini?” tanya Divta sambil terus berjalan.


“Di sini pak, sekitar


satu jam lagi, nyonya besar meminta saya mengosongkan jadwal anda beberapa jam


ke depan!”


“baiklah!”


Divta sudah tahu jika


semuanya akan seperti ini, saat berita pernikahannya bergulir sudah pasti nyonya Ratih akan bertindak.


Ia jelas  tidak bisa menghindar lagi, apalagi ini menyangkut keluarga besar mereka.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruangannya, membuyarkan lamunan Divta.


“masuk!”


Ternyata sekretaris


Revan, tapi ia tidak sendiri. Setelah membukakan pintu begitu lebar, muncul


dari balik pintu itu nyonya Ratih. Divta pun segera berdiri menyambutnya.


“selamat pagi ibu!”


“Selamat pagi Div,


duduklah!”


Mereka pun akhirnya


duduk di sofa besar itu, seseorang sudah mengambilkan minuman untuk mereka.


“Ibu sudah sarapan?”


“Sudah tadi di rumah.”


“Minumlah dulu bu!”


Wanita itu menatap


putra dari istri pertama suaminya itu, ia melihat ada  banyak sekali perubahan dari diri pria itu.


Dulu begitu emosian dan meluap-luap sekarang sudah jauh lebih baik.


Semakin dewasa


seseorang, mungkin semakin banyak pertimbangan dalam bertindak. Ia tidak bisa

__ADS_1


lagi mengarahkan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Nyonya Ratih cukup tahu siapa Ersya, wanita yang akan di nikah oleh putra pertma dari suaminya itu.


Wanita yang baru bercerai belum genap satu tahun,  tidak punya prestasi yang membanggakan,


memiliki gossip miring tentang ketidak mampuannya menjadi seorang ibu.


“Ibu sudah mendengar


semuanya!”


“Lalu bagaimana pendapat ibu?”


“kamu sudah cukup


dewasa untuk menentukan hidupmu sendiri Div, usia kepala tiga bukanlah waktu di


mana kamu labil menentukan keputusan, ibu tahu kamu melakukan hal itu dengan


pertimbangan yang benar-benar matang!”


“Terimakasih bu!”


“Baiklah, hubungi calon


istrimu dan aku akan menunggunya di butik sebelum makan siang, suruh aja Iyya


juga!”


“Baik bu!”


Nyonya Ratih pun


meminum tehnya sebelum pergi. Setidaknya ia sudah mendapat lampu hijau.


Setelah kunjungan


nyonya Ratih, Divta pun segera mencari ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada


Ersya.


^^^//bersiap-siaplah …,^^^


^^^satu jam lagi Rangga akan menjemputmu dan Divia//^^^


//kemana?//


^^^//Ke butik//^^^


//ngapain?//


^^^//Beli sapi//^^^


^^^//Sudah tahu di butik^^^


^^^ada apaan masih juga nanya ngapain, ya jelas lah kita mau fitting baju pengantin//^^^


//Ohhhhhhh//


Divta pun menyimpan


lagi ponselnya. Ia juga harus segera bersiap-siap. Sebelum ke butik ia masih


harus menghadiri sebuah meeting. Masih keburu jika ia datang satu jam lagi.


Ersya dan Divia sudah


bersiap-siap untuk berangkat ke butik karena desakan dari Div, ia masih tidak


percaya begitu cepatnya dia melepas masa jandanya dan memulai untuk membangun


sebuah hubungan lagi. Ersya dan Divia sudah berdiri di depan rumah saat mobil


Rangga sampai. Seperti biasa, pria dengan wajah tampan dan kalemnya itu akan


segera keluar dan berlari mengitari mobil menghampiri mereka, senyumnya selalu


merekah.


“Siang ga!” sapa Ersya


dengan tangan yang menggandeng tangan Iyya. Wanita itu tampak begitu cantik


dengan atasan tanpa lengan berwarna putih dengan outfit jas berwarna coklat


cerah yang di padukan dengan celana kulot highwaist berwarna nude.


“Siang Sya! Kalian kompak


banget.” Rangga lagi-lagi tersenyum, melihat betapa kece nya dua perempuan beda


generasi itu dengan pakaian yang senada. Divia juga mengenakan atasan putih lengan


di atas siku dan rok pendek di atas lutut berwarna coklat cerah persis seperti


warna jas yang di pakai oleh Ersya.


“Kami memang hayus


ceyayu kompak om langga! Iya kan mom?” ucap Divia sambil mendongakkan kepalanya

__ADS_1


meminta persetujuan dari Ersya.


“Iya dong …, mom


setuju.”


Lagi-lagi Rangga


tersenyum, ia mengagumi sosok wanita yang berada di depannya itu. Wanita tangguh


menurut versi dirinya. Bahkan jika dia yang berada di posisi yang sama seperti


Ersya belum tentu mampu untuk menghadapinya dengan semudah itu.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Rangga.


“Bisa!”


Rangga segera membukakan pintu mobil bagian belakang.


“Ayo masuklah!”


Ersya mengerutkan keningnya, “Kenapa di belakang? Lo bukan sopir kan.”


“Berdasarkan perintah


pak div, saya harus menjaga jarak aman dengan calon istrinya!”


“Maksudnya?”


“Ya saya nggak boleh


dekat-dekat sama kamu, cemburu kali pak Div, ayo masuklah …!”


Ersya tidak bisa menolak lagi, ia pun menuruti perintah Rangga. Iyya tersenyum melihat Rangga mematuhi perintah daddy nya, ia jiga tidak suka kalau mom nya dekat-dekat dengan orang lain.


Apa mungkin Divta cemburu …., cemburu sama siapa? Iyya maksudnya yang nggak boleh


deket-deket sama orang lain ….? Batin Ersya, ia mencoba


mencerna ucapan Rangga. Jika cemburu terhadapnya jelas itu tidak mungkin karena


memang mereka tidak punya hubungan yang spesial, hanya hubungan antara baby


sitter dan CEO, nggak lebih walaupun mereka akan menikah.


Setelah Rangga kembali


masuk, mobil itu mulai melaju. Ersya tidak tahu jika nanti mereka akan bertemu


dengan wanita yang menurut orang-orang yang mengenalnya bisa membuat


orang-orang yang berhadapan dengannya kehilangan nyalinya.


Yang ia tahu nanti ia


hanya akan bertemu dengan pemilik butik dan juga Div. mencocokkan baju


pengantin dan pergi.


Hingga akhirnya mobil


yang mereka tumpangi sampai juga di depan sebuah butik yang cukup besar, terlihat dari gedungnya saja kita sudah bisa menduga jika semua gaun yang ada di dalam butik itu harganya di atas rata-rata.


“Wahhhh …, tempatnya becal mom!” Iyya sampai harus mendongakkan kepalanya keluar sebelum Rangga


membukakan pintu mobilnya, dia begitu mengagumi tempat itu.


“Iya sayang, mom jadi


ragu buat masuk!” entah kenapa rasanya enggan untuk masuk ke butik itu, Ersya


memang sering datang ke butik hanya untuk membeli baju kesehariannya, tapi ia


belum pernah masuk ke dalam butik sebesar itu, bahkan pemilik butik itu sering


wira wiri di depan layar kaca, sudah barang pasti para pelanggannya bukan


orang-orang sembarangan.


Bersambung


NB :


Kalian pasti bertanya-tanya ya, kok tiba-tiba judulnya berubah? Atau kok tiba-tiba covernya berubah juga?


Sengaja ......🤭🤭😁😁


Kenapa?


Karena menurut aku judul yang kemarin kurang komersil, mungkin jika di ganti bisa mendobrak popularitasnya bang Div ya, mudah-mudahan, pokoknya terus minta dukungan dan doa, aku pada mu pokoknya ....


Maaf ya jika kurang suka, tapi kalian bisa koment lebih suka yang kemarin atau yang sekarang pokonya ....


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2