
Suasana sarapan
terlihat begitu tenang, sepertinya divta masih sangat marah dengan Ersya karena
wanita itu terus menjadikan kakinya sebagai sasaran empuk.
“daddy berangkat
sayang!” seperti biasa Divta akan mencium kening putrinya dulu sebelum berangkat.
“Daddy nggak pamit cama
Mom Eca?”
“Nggak usah seperti mom
kamu lagi sakit gigi!”
“Mom nggak cakit gigi
dad, mom lajin cikat gigi, ya kan mom!”
“Iya sayang, nggak pa
pa sayang mungkin daddy Iyya yang sakit gigi makanya malas bicara!”
“Ohhh begitu, mungkin
daddy ****** cikat gigi, mom!”
“Issstttt ….!” Div
hanya berdecak, ia pun segera masuk ke dalam mobil meninggalkan Ersya dan
Divia.
***
“Tadi nyonya besar
menghubungi saya, beliau ingin bertemu dengan anda pagi ini!” ucap sekretaris
Revan saat Divta sudah sampai di kantor.
“Maksudnya di rumah
atau di sini?” tanya Divta sambil terus berjalan.
“Di sini pak, sekitar
satu jam lagi, nyonya besar meminta saya mengosongkan jadwal anda beberapa jam
ke depan!”
“baiklah!”
Divta sudah tahu jika
semuanya akan seperti ini, saat berita pernikahannya bergulir sudah pasti nyonya Ratih akan bertindak.
Ia jelas tidak bisa menghindar lagi, apalagi ini menyangkut keluarga besar mereka.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu ruangannya, membuyarkan lamunan Divta.
“masuk!”
Ternyata sekretaris
Revan, tapi ia tidak sendiri. Setelah membukakan pintu begitu lebar, muncul
dari balik pintu itu nyonya Ratih. Divta pun segera berdiri menyambutnya.
“selamat pagi ibu!”
“Selamat pagi Div,
duduklah!”
Mereka pun akhirnya
duduk di sofa besar itu, seseorang sudah mengambilkan minuman untuk mereka.
“Ibu sudah sarapan?”
“Sudah tadi di rumah.”
“Minumlah dulu bu!”
Wanita itu menatap
putra dari istri pertama suaminya itu, ia melihat ada banyak sekali perubahan dari diri pria itu.
Dulu begitu emosian dan meluap-luap sekarang sudah jauh lebih baik.
Semakin dewasa
seseorang, mungkin semakin banyak pertimbangan dalam bertindak. Ia tidak bisa
__ADS_1
lagi mengarahkan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Nyonya Ratih cukup tahu siapa Ersya, wanita yang akan di nikah oleh putra pertma dari suaminya itu.
Wanita yang baru bercerai belum genap satu tahun, tidak punya prestasi yang membanggakan,
memiliki gossip miring tentang ketidak mampuannya menjadi seorang ibu.
“Ibu sudah mendengar
semuanya!”
“Lalu bagaimana pendapat ibu?”
“kamu sudah cukup
dewasa untuk menentukan hidupmu sendiri Div, usia kepala tiga bukanlah waktu di
mana kamu labil menentukan keputusan, ibu tahu kamu melakukan hal itu dengan
pertimbangan yang benar-benar matang!”
“Terimakasih bu!”
“Baiklah, hubungi calon
istrimu dan aku akan menunggunya di butik sebelum makan siang, suruh aja Iyya
juga!”
“Baik bu!”
Nyonya Ratih pun
meminum tehnya sebelum pergi. Setidaknya ia sudah mendapat lampu hijau.
Setelah kunjungan
nyonya Ratih, Divta pun segera mencari ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada
Ersya.
^^^//bersiap-siaplah …,^^^
^^^satu jam lagi Rangga akan menjemputmu dan Divia//^^^
//kemana?//
^^^//Ke butik//^^^
//ngapain?//
^^^//Beli sapi//^^^
^^^//Sudah tahu di butik^^^
^^^ada apaan masih juga nanya ngapain, ya jelas lah kita mau fitting baju pengantin//^^^
//Ohhhhhhh//
Divta pun menyimpan
lagi ponselnya. Ia juga harus segera bersiap-siap. Sebelum ke butik ia masih
harus menghadiri sebuah meeting. Masih keburu jika ia datang satu jam lagi.
Ersya dan Divia sudah
bersiap-siap untuk berangkat ke butik karena desakan dari Div, ia masih tidak
percaya begitu cepatnya dia melepas masa jandanya dan memulai untuk membangun
sebuah hubungan lagi. Ersya dan Divia sudah berdiri di depan rumah saat mobil
Rangga sampai. Seperti biasa, pria dengan wajah tampan dan kalemnya itu akan
segera keluar dan berlari mengitari mobil menghampiri mereka, senyumnya selalu
merekah.
“Siang ga!” sapa Ersya
dengan tangan yang menggandeng tangan Iyya. Wanita itu tampak begitu cantik
dengan atasan tanpa lengan berwarna putih dengan outfit jas berwarna coklat
cerah yang di padukan dengan celana kulot highwaist berwarna nude.
“Siang Sya! Kalian kompak
banget.” Rangga lagi-lagi tersenyum, melihat betapa kece nya dua perempuan beda
generasi itu dengan pakaian yang senada. Divia juga mengenakan atasan putih lengan
di atas siku dan rok pendek di atas lutut berwarna coklat cerah persis seperti
warna jas yang di pakai oleh Ersya.
“Kami memang hayus
ceyayu kompak om langga! Iya kan mom?” ucap Divia sambil mendongakkan kepalanya
__ADS_1
meminta persetujuan dari Ersya.
“Iya dong …, mom
setuju.”
Lagi-lagi Rangga
tersenyum, ia mengagumi sosok wanita yang berada di depannya itu. Wanita tangguh
menurut versi dirinya. Bahkan jika dia yang berada di posisi yang sama seperti
Ersya belum tentu mampu untuk menghadapinya dengan semudah itu.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Rangga.
“Bisa!”
Rangga segera membukakan pintu mobil bagian belakang.
“Ayo masuklah!”
Ersya mengerutkan keningnya, “Kenapa di belakang? Lo bukan sopir kan.”
“Berdasarkan perintah
pak div, saya harus menjaga jarak aman dengan calon istrinya!”
“Maksudnya?”
“Ya saya nggak boleh
dekat-dekat sama kamu, cemburu kali pak Div, ayo masuklah …!”
Ersya tidak bisa menolak lagi, ia pun menuruti perintah Rangga. Iyya tersenyum melihat Rangga mematuhi perintah daddy nya, ia jiga tidak suka kalau mom nya dekat-dekat dengan orang lain.
Apa mungkin Divta cemburu …., cemburu sama siapa? Iyya maksudnya yang nggak boleh
deket-deket sama orang lain ….? Batin Ersya, ia mencoba
mencerna ucapan Rangga. Jika cemburu terhadapnya jelas itu tidak mungkin karena
memang mereka tidak punya hubungan yang spesial, hanya hubungan antara baby
sitter dan CEO, nggak lebih walaupun mereka akan menikah.
Setelah Rangga kembali
masuk, mobil itu mulai melaju. Ersya tidak tahu jika nanti mereka akan bertemu
dengan wanita yang menurut orang-orang yang mengenalnya bisa membuat
orang-orang yang berhadapan dengannya kehilangan nyalinya.
Yang ia tahu nanti ia
hanya akan bertemu dengan pemilik butik dan juga Div. mencocokkan baju
pengantin dan pergi.
Hingga akhirnya mobil
yang mereka tumpangi sampai juga di depan sebuah butik yang cukup besar, terlihat dari gedungnya saja kita sudah bisa menduga jika semua gaun yang ada di dalam butik itu harganya di atas rata-rata.
“Wahhhh …, tempatnya becal mom!” Iyya sampai harus mendongakkan kepalanya keluar sebelum Rangga
membukakan pintu mobilnya, dia begitu mengagumi tempat itu.
“Iya sayang, mom jadi
ragu buat masuk!” entah kenapa rasanya enggan untuk masuk ke butik itu, Ersya
memang sering datang ke butik hanya untuk membeli baju kesehariannya, tapi ia
belum pernah masuk ke dalam butik sebesar itu, bahkan pemilik butik itu sering
wira wiri di depan layar kaca, sudah barang pasti para pelanggannya bukan
orang-orang sembarangan.
Bersambung
NB :
Kalian pasti bertanya-tanya ya, kok tiba-tiba judulnya berubah? Atau kok tiba-tiba covernya berubah juga?
Sengaja ......🤭🤭😁😁
Kenapa?
Karena menurut aku judul yang kemarin kurang komersil, mungkin jika di ganti bisa mendobrak popularitasnya bang Div ya, mudah-mudahan, pokoknya terus minta dukungan dan doa, aku pada mu pokoknya ....
Maaf ya jika kurang suka, tapi kalian bisa koment lebih suka yang kemarin atau yang sekarang pokonya ....
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰