
"Mommmm....!" Ersya begitu terkejut dengan teriakan Divia, ia sampai melepaskan tanah Div dan berlari keluar.
"Ada apa sayang!" tanya Ersya saat melihat putrinya sudah akan menangis.
Ersya berjongkong di depan putrinya lalu menoleh pada Rangga.
"Ada apa Ga?"
Div yang juga sudah berdiri di belakang sang istri membungkukkan badannya mengusap kepala Divia,
"Ada apa sayang?"
"Iyya yula, Iyya hali ini camping! Teman-teman Iyya pasti cudah beyangkat! Iyya di tinggal!"
Div menoleh pada Rangga, "Kamu tahu semuanya?"
"Maaf pak, saya kira Divia memberitahukannya pada anda!"
Hehhhh, terdengar helaan nafas dari Div. Karena terlalu fokus dengan kejadian kemarin di Mall ia sampai melupakan putrinya. Mungkin Divia juga terlalu mengkhawatirkan dengan mommy nya.
"Sekarang bagiamana dong mas?" tanya Ersya. Ia sudah memeluk putrinya itu.
"Tidak pa pa sayang, sekarang Iyya bisa berangkat camping di antar mom sana Daddy, bagaimana?"
Divia segera menghapus air matanya dan tersenyum.
"Benalkah?"
"Iya sayang, jadi jangan nangis lagi, okey!" ucap Daddy Div.
Divia pun menganggukkan kepalanya begitu senang.
Div kembali menegakkan tubuhnya dan menoleh pada Rangga,
"Kamu telpon guru Divia dan tanya di mana lokasi capingnya, kita akan menyusul!"
"Baik pak!"
Kali ini mereka berada dalam satu mobil, Rangga duduk di samping sopir sedangkan mereka bertiga duduk di kursi belakang.
"baju Iyya bagaimana dong dad?"
"Nanti om Rangga akan mengurus semua, yang penting kamu bisa ikut ke sana bersama teman-teman!"
"Yeeeee!"
Ersya terus mengecupi wajah putrinya itu, tidak kebayang berapa lama Divia akan camping pasti dia akan sangat merindukannya nanti.
Rangga di depan sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di telpon, sepertinya guru Divia.
"Ya Bu, maaf karena keterlambatan kami!"
"....!"
"Kami akan menyusul ke lokasi saja Bu, biar yang lain tidak perlu menunggu!"
"....!"
"Kalau boleh tahu di mana ya Bu lokasinya?"
"....!"
"Terimakasih banyak Bu atas infonya, mohon maaf menggangu perjalanan Bu guru!"
"...."
__ADS_1
Rangga kembali menyakukan benda pipih itu ke dalam saku jasnya setelah sambungan telpon terputus.
"Gimana Ga?"
"Mereka sudah ada di jalan pak, tadi sudah berusaha menghubungi bapak tapi ternyata tidak bisa di hubungi!"
"Benarkah?" Div pun segera memeriksa ponselnya dan benar saja, ponselnya lupa di nyalakan setelah semalam ia matikan karena di cas, maka dari itu ia bekerja menggunakan tab miliknya.
"Ahhhh, ternyata belum aku hidupkan!" gumam Div.
Div pun kembali menghadap ke depan menatap Rangga,
"Di mana lokasinya?"
"Ada di sekitar wilayah Bogor perbatasan pak, pihak sekolah akan mengirimkan lokasinya!"
"Baiklah! Minta orang rumah untuk mengirimkan barang-barang yang di gunakan untuk camping Divia ke lokasi itu juga!"
"Baik pak!"
"Dan lagi, minta Rendi untuk mengirim anak buahnya!"
"Baik pak!"
Lagi-lagi pasukan Rendi lah yang terpilih untuk mengawasi Divia selama camping. Karena kemampuan anak buah Rendi tidak bisa di ragukan lagi. Banyak pejabat negara yang sudah memakai anak buah Rendi untuk kepentingan penjagaan.
Setelah perjalanan selama tiga jam akhirnya mereka sampai juga di lokasi. Karena peraturannya melarang orang tua untuk ikut, jadi mereka tidak bisa berlama-lama di lokasi. Setelah menyerahkan Divia pada gurunya, Div dan Ersya pun berpamitan untuk pulang.
"Kamu mau istirahat dulu atau kita langsung saja?" tanya Div pada sang istri.
"Lanjut aja lah mas, percuma juga di sini nggak boleh liat Divia!"
"Kamu nggak capek?"
"Aku kan duduk sedari tadi, ya nggak lah mas!"
Mereka pun kembali melanjukan mobilnya, tapi Ersya segera tersadar akan sesuatu,
"Mas, Rangga nggak ikut pulang?"
"Dia akan pulang kalau orangnya Rendi sudah datang!"
Hehhh iya ...., pria itu rasanya aku tidak asing, dulu sepertinya pernah bertemu sama dia, tapi di mana ya?
"Ada apa?" tanya Div saat melihat sang istri terdiam saat menyebut nama Rendi.
"Rendi ini kerjaannya apa sih mas? Maksudnya apa dia punya sampingan apa gitu?"
"Kenapa?"
"Rasanya dulu ...., dulu sekali aku pernah lihat Rendi deh!"
"Masak sih? Kapan?"
"Nggak tahu, seingatku pas kuliah, eh enggak, pas baru lulus kuliah aku lagi nyari kerja. Tapi di mana ya?"
"Ya nggak salah kalau kamu sering lihat dia, dia memang suka wira-wiri di perusahaan-perusahaan besar! Dia juga punya perusahan sendiri selain bekerja di Finitygroup!"
"Ohhh, mungkin!"
...🍂🍂🍂🍂...
Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka sampai juga di depan rumah sakit FrAd Medika. Rumah sakit besar yang juga berada di bawah naungan finitygroup.
"Sya ...., sudah sampai!"
__ADS_1
Div menepuk pelan pipi sang istri yang sedang tertidur pulas di bahunya.
Wanita yang berstatus istrinya itu mulai menggerakkan tubuhnya, ia membuat perlahan matanya dan mobil ternyata sudah berhenti.
"Sudah sampai ya mas?"
"Hmm!"
Ersya mengucek matanya, melihat penampilannya dari cermi kecil yang ia bawa kemana-mana dan selalu ada di dalam tas kecil miliknya.
"Masih cantik!" ucap Div.
"Ini hancur mas, aku nanti cuci muda dulu deh, masak mau ketemu keponakan penampilannya hancur!"
"Terserah kamu saja!"
Mereka pun memutuskan untuk turun saat sang sopir membukakan pintu mobil.
Ersya sebenarnya ingin sendiri, tapi ternyata Div mengikutinya di belakang.
"Mas kenapa ikut?"
"Takut kamu ilang!"
"Kayak lagu aja!"
"Sudah sana masuk, aku akan menunggumu di luar!"
Ersya hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yang seakan tidak mau jauh dengannya. Ia pun segera masuk ke dalam toilet wanita, merapikan penampilannya di depan cermin besar yang ada di depan toilet.
Setelah memastikan semuanya rapi, Ersya pun segera keluar dan suaminya masih setia di depan toilet wanita.
"Mas ...., masih di sini?"
Div tampak begitu bosan berdiri di tempatnya apalagi sedari tadi wanita yang lalu lalang keluar masuk dari dalam toilet terus memperhatikannya.
"Nggak! Di hotel!" jawabnya kesal, sudah tahu masih berdiri di tempatnya tapi sang istri malah menanyainya macam-macam.
"Apaan sih mas!"
"Lagian, orang di sini masih nanya! Lama sekali di dalam ngapain aja?"
"Mas ..., emang gitu wanita kalau dandan suka lama, makanya tadi aku suruh duluan!" Ersya juga tidak mau di salahkan, ia juga tidak meminta sang suami untuk menunggu.
"Mau tetap debat di sini atau kita temui Felic?"
Kayaknya dia beneran marah nihhhh .....
Div sudah berlalu meninggalkan Ersya dengan langkah cepat. Ersya pun mengejarnya dengan bergelayut manja di lengan sang suami.
"Iya! Jangan marah-marah gitu dong! Senyumnya mana?"
Div berusaha keras untuk menahan senyumnya itu tapi ternyata tidak bisa hingga membuatnya begitu gemas dengan sang istri, ia mencubit hidung Ersya.
"Aihhhhh, sakit mas!" Keluh Ersya sambil memegangi hidungnya yang memerah.
Mereka terlihat begitu mesra berjalan menyusuri loby rumah sakit menuju ke pintu lift.
...Hari ini, kemarin dan seterusnya aku akan selalu bahagian karena bersamamu, Walaupun aku bukan bagian dari masa lalu mu, biarkan aku menjadi bagian dari masa kini mu dan masa depanmu...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...🥰Happy reading 🥰...