Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Rahasia Divia


__ADS_3

Setelah memastikan jika Ersya dan Divia masuk ke dalam kamar, kini Div kembali fokus pada Ellen dan nyonya Aruni.


"Saya mengijinkan kalian tinggal di sini karena Ersya, dia pemilik rumah ini sekarang bukan saya atau mama! Jadi jika nanti terjadi apa-apa sama Ersya karena kalian, makan jangan salahkan saya kalau saya akan berbuat lebih pada kalian!"


Mendengarkan gertakan dari Div, nyonya Aruni dan Ellen hanya bisa diam. Div tidak mau lagi ribut dengan mereka, ia pun memilih untuk menyusul yang istri yang sudah berada di dalam kamar bersama sang putri.


Ia tersenyum senang saat melihat Divia dan Ersya tersenyum bahagia sedang bersenda tawa bersama, benar-benar keluarga yang utuh.


Aku bersyukur karena telah menemukanmu, semoga kau juga merasakan hal yang sama dan aku janji tidak akan ada siapapun yang bisa menyakitimu


Div melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan sebelah bahunya di pembatas pintu. Divia yang melihat kedatangan sang Daddy segera menoleh dan tersenyum.


"Daddy!"


Div pun ikut tersenyum dan perlahan menghampiri mereka, ikut duduk di atas tempat tidur.


"Iyya nggak kangen sama Daddy?" Div meregangkan tangannya agar sang putri datang memeluknya.


"Iyya rindu Daddy!" Divia pun segera berhambur memeluk daddynya,


"Daddy juga rindu sama Iyya!" Div mengusap punggung dan kepala sang putri.


"Iyya benar-benar sedih kalau nggak ada Daddy sama mom's di rumah, Oma sana Tante Ellen_!" Divia menghentikan ucapannya seperti ada yang sedang ia sembunyikan dari Daddy dan mom's nya. Ersya yang duduk di depan Div pun jadi tertarik untuk mendengarkan kelanjutan cerita Divia.


"Ada apa? Mereka jahat sama Divia?"


Divia pun menggelengkan kepalanya, "Lalu?" tanya Div lagi.


"Divia hanya tidak suka s Ama Tante Ellen, kapan Tante Ellen pergi dari rumah?"


Div kembali mengusap kepala Divia, "Sebentar lagi sayang!"


"Jangan lama-lama ya dad!"


"Pasti!"


Div mengangkat kedua alisnya seperti bertanya pada Ersya , ia ingin tahu mungkin putrinya itu sempat cerita sesuatu sama sang istri.


Dan ternyata Ersya pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya yang tandanya dia tidak tahu jawabannya.


Divia pun tiba-tiba melepaskan pelukan daddynya, "Dad!"


"Hmm?"


"Iyya boleh ya tidur sama mom's selama Tante Ellen di sini?"


"Kenapa?"


"Iyya mau jagain mom's sama dedek bayi!"


Semakin lama nih puasanya.

__ADS_1


Div pun hanya bisa mengangguk dengan wajah terpaksanya.


"Kalau nggak setiap hari gimana?"


"Harus setiap hari!" Divia sudah berdiri sambil berkacak pinggang sekarang dan menatap daddynya dengan begitu tajam.


"Baiklah, baiklah tuan putri, Daddy menyerah!"


Divia tersenyum lalu berhambur kembali memeluk mom's nya.


Aku kalah lagi ....


Ersya tersenyum melihat wajah pasrah dari suaminya.


...🌺🌺🌺🌺...


Di kamar lain yang ada di rumah itu tampak wajah tegang dari kedua wanita yang beda generasi itu,


"Sebenarnya kamu beneran sakit nggak sih?" nyonya Aruni benar-benar penasaran dengan keadaan Ellen sebenarnya, baru saja tadi saat bersama Div ia mengeluh kesakitan tapi sekarang tiba-tiba biasa saja.


"Menurut Tante?" Ellen malah begitu santai sambil memakan buah-buahan yang sudah di potong kecil-kecil oleh pelayan.


"Jadi kamu tidak sakit?"


"Sakit Tante, tapi kemarin-kemarin, sebenarnya operasinya sudah berhasil dan sekarang sedang penyembuhan, tapi_!"


"Tapi apa?" nyonya Aruni tampak semakin penasaran.


"Divia tidak mungkin mengatakan apa-apa, Tante sudah mengancamnya akan mengirimnya ke asrama kalau sampai ia memberitahukan rencana kita!"


"Pinter banget sih Tante!"


Ellen sekarang bisa tersenyum lega dan dapat dengan santai memakan buah segarnya itu.


...🌺🌺🌺...


Pagi ini Rangga berencana datang ke rumah Div lebih awal karena mendapat berita dari sekretaris Revan kalau mereka sudah pulang.


"Pagi-pagi sudah rapi sekali, mau ke mana?" wanita paruh baya itu sedang sibuk menyiapkan makanan di meja makan.


"Kerja ma, papa sudah berangkat ya ma?"


"Belum, tadi pagi-pagi sekali Rizal ke sini dan ngajak papa kamu lari pagi!"


Mas Rizal ...


"Ada perlu apa dia ke sini?"


"Kamu jangan begitu, dia kan juga saudara kamu! Kasihan, dia kesepian di rumah, kan sudah nggak ada istri, pernikahannya juga gagal!"


Salah dia sendiri ...

__ADS_1


Rangga benar-benar tidak peduli lagi dengan saudara sepupunya itu, ia memilih duduk dan mulai memakan roti selai yang sudah si siapkan mamanya.


"Kata Rizal kamu sedang dekat ya sama kasir minimarket yang ada di depan gang?"


Huks huks huks


Pertanyaan mamanya seketika membuatnya tersedak.


"Hati-hati dong, minumlah!" mama Rangga menyerahkan segelas air untuk Rangga, dan dengan cepat Rangga meneguknya hingga gelas itu kosong.


"Mama ini ngomong apa sih? Mas Rizal itu mengada-ada!"


"Kalaupun iya, mama juga nggak keberatan! Mama takut tahu Ga kalau kamu jadi bujang lapuk!"


"Rangga masih muda!"


"Muda apanya, usia sudah hampir tiga puluh tahun gitu, Felic aja sudah punya anak, masih mau ngarepin dia?"


"Mama pagi-pagi udah ngaco aja!" Rangga pun segera berdiri dari duduknya, "Rangga berangka saja!"


"Kebiasaan kalau di ajak ngomong serius sama mama, main pergi saja!"


Rangga hanya melenggang dan melambaikan tangannya tanpa mau berbalik menatap sang mama.


Tapi sialnya saat ia keluar rumah hendak masuk ke dalam mobilnya, Rizal juga sudah kembali bersama sang papa.


"Papa masuk dulu ya!" papa Rangga menepuk bahu Rizal dan Rangga saat akan meninggalkan mereka.


"Iya paman!" Rizal tersenyum seperti mendapatkan kesempatan yang bagus saat ini.


Sial ...


Rangga terus mengumpat dalam hati, pria yang ia kenal dulu cukup baik dan sekarang seperti begitu berubah.


"Mau berangkat Ga, atau mau ngapeling kasir cantik itu dulu?"


Suka sekali cari gara-gara ...


"Jika tatapanmu itu matahari, sudah meleleh kali aku saat ini!" lagi-lagi Rizal tersenyum tanpa dosa sambil terus menggoda Rangga.


"Sudah lah mas, nggak usah urus hidup Rangga, hidup Rangga sudah tertata, jadi lebih baik urus hidup mas Rizal sendiri yang masih berantakan!" Rangga pun memilih berlalu meninggalkan Rizal dan masuk ke dalam mobil sedangkan Rizal hanya tetap terdiam di tempatnya.


Bersambung


...Jika ingin menilai seseorang, maka nilai diri kita sendiri. Sepantas apa kita menilai kejelekan orang lain, apa kita sudah lebih baik dari dia atau jangan-jangan bahkan kita jauh lebih buruk darinya...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2