Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Di tempat yang tepat


__ADS_3

...**Kamu adalah tempatku pulang, karena aku nyaman bersamamu. Jika nanti tidak bisa ku kuasai hatiku maka bantu aku untuk mengingat kembali cintamu...


...🌹Happy reading 🌹**...


Mendengar ucapan suaminya, Ersya lagi-lagi tidak bisa menahan air matanya agar tidak turun. Ia bahkan menangis sesenggukan, seperti sebuah keajaiban yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.


Div lagi-lagi mengusap punggung istrinya agar kembali tenang, ia tidak meminta istrinya untuk berhenti menangis karena ia tahu air mata itu sudah sangat lama ia tahan agar tidak keluar.


Hingga benar-benar Ersya berhenti menangis barulah Div melepaskan pelukannya.


Div membantu Ersya mengusap sisa air matanya yang masih ada di pipinya,


"Bagaimana sekarang? Sudah jauh lebih baik?" tanyanya pada sang istri.


Dan Ersya pun menganggukkan kepalanya, bibirnya juga mulai tersenyum.


"Jadi benar aku hamil mas?" tanya Ersya lagi dan Div pun menganggukkan kepalanya dengan begitu pasti.


Ersya pun mengusap perut ratanya sambil tersenyum, "Seperti mimpi mas!"


"Kamu belum percaya?" tanya Div lagi memastikan.


"Bagaimana aku tidak percaya mas, jika yang mengatakannya kamu!"


Div tersenyum dan mengusap puncak kepala sang istri. Ia tahu jika istrinya itu begitu kuat.


Lagi-lagi Ersya mengusap perutnya yang masih rata, seperti ingin segera merasakan kehidupan yang ada di dalam perutnya,


"Ada kahidupan di sini mas! Dan dia nanti akan bergerak seperti baby Zoe, ingat nggak mas aku seneng banget pas pegang perut Fe kalau baby Zoe bergerak! Rasanya gemas!"


"Nanti kamu juga akan merasakannya!"


Ersya pun beralih menatap suaminya, "Terimakasih ya mas!"


"Untuk apa?"


"Jika bukan mas Div, Ersya ini bukan apa-apa!"


Div menarik bahu Ersya dengan pasti, "Dengarkan aku, kamu ada karena dirimu sendiri, kamu adalah kamu yang aku cinta dan Divia cinta! Kamu berarti buat kami, jangan pernah menganggap dirimu tidak berharga tanpa aku atau siapapun, kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini bagi aku dan Divia!"


"Mas Div cinta banget ya sama aku?"


kali ini nada pertanyaan Ersya sudah tidak sesendu tadi membuat Div tersadar jika dia sudah mengungkapkan semuanya.


"Isssttttt!" keluhnya sambil melepaskan tubuh Ersya, "Istirahatlah, aku akan cari makanan, lapar!" ucap Div kemudian dan berdiri dari duduknya.


"Aku juga mau makan!" ucap Ersya membuat Div kembali menoleh padanya.


"Nggak usah minta yang aneh-aneh, aku sudah minta koki khusus untuk membuatkan makanan untukmu!"


"Yang benar saja mas, aku pengen sate!"


"Baiklah, aku akan meminta pada kokimu untuk membuatkannya dan mengirimnya ke sini yang sesuai dengan resep dokter!"


"Nggak mau, aku maunya yang di_!"


"Iya, atau tidak sama sekali!" ancam Div karena dia tahu jika istrinya itu paling suka di ancam.

__ADS_1


"Iya!"


Div pun tersenyum lalu berbalik meninggalkan Ersya, ia memang belum makan sedari tadi siang karena terlalu cemas memikirkan keadaan sang istri.


...🍂🍂🍂...


Di tempat lain, Rangga yang sedang mengantar Divia akhirnya sampai di rumah juga.


"Mom benelan tidak pa pa ya, om?"


Rangga yang baru saja mematikan mesin mobilnya segera menoleh pada Divia,


"Mom Echa pasti jauh lebih baik dari sebelumnya, dia pasti senang karena setelah ini bisa memberikan adik untuk Iyya!"


"Daddy janji, kalau mom sudah bangun, Daddy akan menelpon Iyya, tapi Iyya sampai di lumah Daddy belum menelpon Iyya!?"


"Mungkin dokter sedang tidak mengijinkan Mom Echa buat bicara dulu kan baru bangun! Baiklah jangan sedih, om Rangga akan temenin Iyya sampai Iyya selesai makan, bagaimana?"


Divia pun menganggukkan kepalanya. Rangga memang sudah sangat dekat dengan Divia karena Divia sedari kecil sering di titipkan pada Rangga walaupun Rendi sering protes karena merasa jika sekarang Divia lebih dekat dengan Rangga dari pada dirinya.


"Ayo turun!" ucap Rangga saat ia sudah berada di depan pintu mobil siap menangkap tubuh mungil Divia.


Kedatangannya langsung di sambut oleh kepala pelayan.


"Selamat datang nona muda, tuan Rangga! Biar saya bawakan barang-barang nya!"


Rangga pun menyerahkan koper milik Divia,


"Terimakasih!" ucapnya saat kepala pelayan membawakan koper kecil itu masuk.


"Apa nyonya besar tidak di rumah?" tanyanya pada kepala pelayan.


"Nyonya besar sedari pagi sudah pergi tuan!"


"Apa dia mengirimkan pesan akan pergi ke mana?"


"Tidak, sepertinya pergi arisan bersama teman-teman nyonya!"


"Ohhh, oh iya minta pelayan untuk menyiapkan makana untuk nona Divia ya!"


"Baik tuan!"


Rangga pun mengajak Divia ke kamarnya, meminta baby sitter nya untuk membantu mengganti baju Divia.


...🍂🍂🍂...


Kini Rangga sudah menemani Divia di ruang makan.


"Makan yang banyak ya!"


Divia menganggukkan kepalanya walaupun terlihat begitu malas makan. sepertinya Divia tidak akan tenang sebelum mengetahui keadaan mommy nya.


Hingga suara ponsel Divia akhirnya berdering,


"Daddy Div!" ucap Rangga lirih dan dengan cepat menggeser tombol hijau.


Divia begitu senang melihat wajah daddy-nya yang memenuhi layar tab nya.

__ADS_1


"Daddy!"


"Sedang apa sayang?"


"Makan, di temenin om Langga!"


"Anak pintar!"


"Mom mana?"


Div pun mengalihkan layarnya ke wajah istrinya.


"Hai sayang!" ucap Ersya sambil melambaikan tangannya, walaupun wajahnya masih terlihat pucat tapi ada senyum di bibir Ersya.


"Mom, Iyya khawatil cama mom Echa!"


"Mom nggak pa pa sayang, maaf ya sayang untuk beberapa hari ini mom tidak bisa temenin Iyya, ia baik-baik ya sama encus!"


"Iya, tidak pa pa asal mom sehat lagi, dedek bayi juga sehat!"


"Iya sayang, mom akan jagain dedek bayinya Iyya, jadi Iyya juga harus jaga diri Iyya ya!"


"Iyya cayang mom!"


"Mommy juga!"


Ersya pun mengalihkan ponsel suaminya, ia tidak mau menangis di depan putrinya. Rasanya masih sangat rindu dengan putrinya tapi terpaksa harus berpisah untuk beberapa hari lagi sampai keadaannya benar-benar baik.


"Iyya, Daddy mau bicara dengan om Rangga dulu boleh?"


Divia pun menganggukkan kepalanya dan memberikan tab nya pada Rangga,


"Daddy ingin bicara cama om Langga!"


Rangga pun mengambilnya dan membawanya sedikit menjauh dari Divia.


"Iya pak?"


"Besok pagi-pagi sekali langsung jemput Divia ke sekolah, saya akan menemani Ersya sampai dia benar-benar boleh pulang!"


"Baik pak, pak Div jangan khawatir saya akan menjaga Divia dengan baik!"


"Terimakasih!"


Sambungan telpon pun kembali terputus dan Rangga kembali menghampiri Divia yang terlihat lebih bersemangat makannya di bandingkan tadi pagi.


Ternyata benar Sya, kamu akan di hargai jika berada di tempat yang tepat, semoga tidak ada lagi yang berusaha untuk menyakitimu ...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2